Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya karena takut tidak diterima atau di anggap tidak serius dalam akademik.
Karena, sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter di masa depan dan mengambilan pelajaran tentang kedokteran.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memperdalam bakatnya dalam bidang seni...?
••《 Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!》••
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author tidak sesuai dengan sejarah..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. menyambut ujian semester
"Selamat untuk kalian berdua, oh ya Gilang jangan sakiti Hasna karena dia gadis yang baik, jika kamu tidak mencintainya lagi kembalikan dia secara baik kepadaku." Ucap Inara membuka kesunyian di ruangan tersebut.
"Kamu seperti orang tua Hasna aja tapi Terimakasih karena sudah merestui hubungan kami, dan aku janji tidak akan menyakitinya jika itu terjadi kalian boleh melakukan apapun kepadaku." Ucap Gilang sungguh-sungguh.
"Tidak boleh ingkar janji karena aku sudah merekam semuanya." Ucap Aira sambil memperlihatkan rekaman diponselnya.
Hasna sangat terharu ternyata dia tidak salah memilih teman, sepertinya Inara, Naura dan Aira, mereka sangat baik kepadanya.
Setelah tiba waktunya mereka mulai belajar bersama terutama Inara yang paling banyak belajar, karena dia yang bintang utamanya yang harus di perhatikan.
Untung saja di cerdas kalau tidak, mungkin sudah berbulan-bulan kenzo mengajarinya tidak akan dapat.
Setelah Kenzo menjelaskan salah satu materi, Inara disuruh mengerjakan lembaran soal yang diberiakan guru kepadanya, sesuai jadwal yang telah di tentukan.
"Apakah kamu sudah paham, kalau sudah kerjakan soal ini lebih dahulu." Ucap Kenzo memberikan soal latihan kepada Inara.
"Iya aku sudah mengerti." Ucap Inara sambil mengerjakan soal tersebut, saat Inara mengerjakan soal Kenzo ia juga membaca buku pelajaran,
karena bukan Inara saja yang butuh belajar dirinya juga butuh untuk menyambut ujian semester juga ujian akhir.
Sedangkan yang lainnya juga bekerjakan soal mereka lebih lambat dari Inara, karena itu Kenzo tidak memperhatikan mereka, lagian mereka juga sudah mempelajari materi ini dari guru.
••••
Waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba, hari ini adalah hari pertama Inara dan yang lainnya melaksanakan ujian semester satu.
"Inara, apakah kamu sudah bersiap nak Kenzo sudah datang." Panggil Bunda Dewi dari luar kamar Inara.
Inara sejak pagi belum keluar dari kamarnya, bunda Dewi mengira ia belum siap atau belum bangun, karena itu ia menjemputnya ke kamarnya.
"Iya, bunda aku sudah siap." Ucap Inara ia keluar dari kamarnya lalu turun kebawah bersama Bunda Dewi.
Dibawah Kenzo sudah menunggu dia ikutan sarapan bersama keluarga Inara, tetapi mereka belum mulai sarapan karena menunggu inara terlebih dahulu.
"Akhirnya datang juga, sang artis yang kita tunggu, entah apa yang dia lakukan di kamar!." Ucap Varel kepada Inara dengan kesal, ia sudah lapar tetapi tidak di inginkan oleh bunda untuk makan lebih dahulu.
"Ada apa denganmu? Jika mau makan ya makan aja, mengapa sewot." Balas Inara kepada Varel lalu ia duduk dekat bunda nya.
"Ayo mulai sarapan, keburu telat bukankah kalian ujian hari ini dan kasihan nak Kenzo menunggu dari tadi." Ucap Bunda Dewi kepada mereka berdua.
Inara mengambil makanan untuk Kenzo lalu untuk dirinya.
"Bang Ken ini untukmu, silahkan makan.!" Ucap Inara sambil memberikan piring makanan kepada Kenzo.
"Terimakasih, kamu juga segera makan kita hampir telat." Ucap Kenzo lagi.
Varel hanya cemberut sambil makan, ia mengabaikan kakaknya itu sambil mengejeknya.
"Malas aku melihat kalian! Uni aku peringati ya, jangan terlalu berlebihan nanti sakit hati!." Ucap Varel lagi kepada inara ia hanya tidak ingin kakaknya terhanyut dengan kedekatannya dengan Kenzo.
Inara hanya mengabaikan ejekan dari Varel, ia tahu maksud Varel tapi ia hanya punya kesempatan sekarang untuk dekat dengan Kenzo.
Bila tiba masanya dia sakit hati, itu urusan nanti yang penting dia jalani hidup dengan baik sebelum masa itu tiba.
Sedangkan Kenzo tidak tahu apa maksud dari ucapan Varel, jadi dia hanya mengabaikannya sambil lanjut makan.
Tidak lama setelah itu mereka selesai sarapan bersama, Varel berangkat bersama ayahnya karena mereka searah.
Sedangkan Kenzo bersama Inara menuju kesekolah mereka ia membawa motor sedikit kencang terpaksa inara memegang pinggang Kenzo untuk pegangan.
Mereka sampai di sekolah dengan tepat waktu, Inara langsung masuk ke ruangan ujian begitu pula dengan Kenzo.
Setelah sampai di ruangan Naura, Aira, Hasna sudah datang mereka berempat seruangan.
"Apa yang kalian lakukan." Ucap Inara melihat teman-temannya sibuk mencatat sesuatu di kaki mereka di balik kaus kakinya.
"Membuat contekan, ku dengar ujian hari ini sangat sulit, banyak rumus yang masuk kami belum mengingat dengan baik rumus-rumus yang telah kita pelajari." Ucap Aira dengan santai.
"Apa kamu tidak ingat yang kita pelajari selama ini! Jadi selama belajar kelompok kalian ngapain aja?." Ucap Inara lagi.
"Kita ngapain ya." Ucap Naura kepada Aira juga Hasna, sedangkan Hasna hanya mengangkat bahunya karena dia tidak ikutan membuat contekan, dia sudah bertekad untuk ujian jujur semester ini, untuk menguji kemampuannya.
"Jangan tanya Hasna dia hanya sibuk pacaran, ayo lanjut buat catatan kecilnya keburu pengawas ujian masuk." Ucap Aira sambil menarik Naura melanjutkan aksi mereka.
"Meski sibuk pacaran kami belajar ya, Gilang juga termasuk siswa prestasi dia mengajariku, tidak seperti kalian saat belajar hanya bergosip." Balas Hasna kepada mereka.
"Hehe ." Mereka hanya tertawa lalu mengabaikan Inara dan Hasna mereka melanjutkan membuat contekan.
"Terserah kalian! Jika kalian dapat melihatnya atau tidak itu tergantung keberuntungan kalian, karena yang mengawas kita hari ini guru b.inggris." ucap Inara lalu ia duduk di bangku nya.
"Benarkah." Ucap mereka mulai cemas, tidak lama setelah itu guru pengawas masuk sambil membawa soal dan lembaran jawaban yang masih kosong.
"Selamat pagi! Apakah sudah siap ujian." Ucap guru pengawas, ada yang menjawab belum ada yang sudah.
"Siap tak siap! Kalian harus menjalaninya hari ini, itu kesalahan kalian mengapa tidak mempersiapkan diri dihari sebelumnya." Kata guru itu lalu ia membagikan soal dan lembaran jawaban.
"Di atas meja kalian hanya boleh pensil, penghapus, soal ujian dan lembaran jawaban, selain itu silahkan kumpulkan kedepan." Ucap Guru pengawas lagi.
"Jika ketahuan mencontek, tidak ada kesempatan kedua untuk kalian, ujian kalian langsung gagal." Tambahnya lagi.
"Dan satu lagi? Mungkin kalian belum tahu setiap ruangan ujian sudah dipasang cctv untuk memantau kalian, maka....!" Ucap Guru pengawas lagi sambil menunjukan dimana letak cctv.
"Tidak ada kesenpatan untuk kita." Ucap Aira kepada Naura, lalu ia kembali menghapus contekannya.
Mereka berdua saling pandang sambil tersenyum lalu melihat kearah bangku Inara, sepertinya mereka merencanakan sesuatu.
"Apa yaang kalian lihat." Ucap Inara sambil menutup lembaran jawabannya.
"Nanti berbagi ya, aku traktir makan dikantin sepuasnya." Ucap Aira kepada Inara sambil membujuknya.
"Bagaimana caranya? Aku tidak mau ketahuan bisa hancur reputasiku menjadi siswi terbaik selama ini." Ucap Inara lagi.
Lalu mereka membuat kode bagaimana cara memberitahu jawaban kepada mereka berdua, inara setuju tetapi ada syaratnya.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?