NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Us

---

Pukul 02.30 dini hari, Griya Asri tertidur lelap.

Lampu-lampu rumah sudah padam satu per satu sejak pukul 22.00. Angin malam berhembus pelan, membawa kesejukan yang membuat tidur semakin nyenyak. Di rumah nomor 7, Mario tidur dengan posisi miring, satu tangan terkulai di atas kasur, yang lain secara refleks melingkar di perut Jane—kebiasaan yang sudah ia lakukan selama sembilan bulan terakhir.

Jane terbangun dengan perasaan aneh.

Ada sensasi basah di antara kakinya. Ia mengerjapkan mata, mencoba memahami apa yang terjadi. Masih setengah sadar, ia berpikir mungkin ini hanya mimpi basah—tapi ia sudah tidak mimpi basah sejak remaja.

Lalu sensasi itu datang lagi. Lebih jelas. Lebih nyata.

Jane duduk, tangannya meraba-raba tempat tidur di bawahnya. Basah. Bukan keringat, bukan air seni. Ini berbeda.

"Mas..." bisiknya, mencoba membangunkan Mario.

Mario hanya bergumam, tidak bangun.

"MAS!" Jane mengguncang bahu suaminya lebih keras.

Mario tersentak, hampir jatuh dari ranjang. "APA? APA? ADA APA?"

Jane menatapnya dengan mata sedikit panik. "Mas... kayaknya... air ketubanku pecah."

Mario membelalak. Semua rasa kantuk hilang dalam sekejap. Ia duduk tegak, menatap Jane dengan ekspresi campur aduk antara panik, senang, dan takut.

"Air ketuban? Beneran? Lo yakin?"

"Iya, Mas. Basah." Jane menunjuk tempat tidur. "Ini."

Mario melihat genangan basah di sprei. Jantungnya berdegup kencang. Ini dia. Hari yang ditunggu-tunggu selama sembilan bulan. Tapi kenapa rasanya seperti mimpi buruk?

"S-s-sakit, Sayang?" tanyanya gagap.

"Belum, Mas. Tapi airnya terus keluar."

Mario mengambil napas panjang. Ia ingat semua yang sudah dipelajari dari buku, dari diskusi dengan Endy dan Elgi, dari kelas prenatal yang mereka ikuti. Tenang. Jangan panik. Ikuti prosedur.

"Oke, oke. Aku tenang. Lo tenang." Mario berbicara pada diri sendiri. "Tasnya udah siap. Kontak rumah sakit udah ada. Kita harus... kita harus..."

"Telepon siapa?" Jane mengingatkan.

"Telepon! Iya, telepon!" Mario meraih ponselnya dengan tangan gemetar. "Rumah sakit dulu? Atau grup dulu?"

"Grup dulu, Mas. Biar mereka tahu."

---

Mario membuka grup WhatsApp "Siap Siaga" dengan jari gemetar. Ia mengetik pesan secepat kilat.

Mario: DARURAT! Air ketuban Jane pecah!

Dalam hitungan detik, grup yang biasanya sunyi di malam hari langsung hidup.

Elgi: GUE BANGUN! SIAP!

Endy: Langsung ke rumah sakit. Kami nyusul.

Leon: ON MY WAY!

Irene: Jane, sabar ya! Kita datang!

Soo Young: Bawa tasnya, jangan lupa dokumen.

Jisoo: JAN! TUNGGU AKU!

Mario tidak sempat membalas. Ia berlari ke kamar mandi mengambil handuk, lalu membantu Jane berganti pakaian. Tangannya gemetar, tapi ia berusaha setenang mungkin.

"Sayang, lo bisa jalan nggak?"

"Bisa, Mas. Santai." Jane justru lebih tenang dari Mario. "Lo yang panik."

"Iya, iya. Aku usahain tenang."

---

Tiga menit kemudian, lampu-lampu di seluruh Griya Asri menyala.

Endy keluar rumah dengan jaket asal-asalan, langsung menuju rumah nomor 7. Elgi menyusul sambil memakai kaos, rambut masih berantakan. Leon berlari dari rumah nomor 5, kameranya sudah siap—kebiasaan dokumenter yang tidak bisa dihilangkan.

Irene, Soo Young, Jisoo, dan Chaeyoung juga keluar, meskipun mereka tidak bisa ikut ke rumah sakit. Tapi mereka siap membantu apa pun yang diperlukan.

"MARIO! BANTU APA?" teriak Endy dari depan pagar.

Mario membuka pintu, Jane di sampingnya sudah siap dengan jaket. "Om, tolong jagain rumah. Kami langsung ke RS."

"Urus Jane dulu! Rumah aman!" Endy membuka pagar. "Elgi, lo anter mereka. Mobil lo lebih gede."

"SIAP!" Elgi sudah siap dengan mobilnya.

Leon datang membawa tas perlengkapan Jane. "Ini, Mario. Tasnya. Aku ambil dari kamar."

"Makasih, Leon." Mario menerima tas itu.

Jisoo memeluk Jane cepat. "Jan, hati-hati. Doain ya. Semoga lancar."

"Iya, Kak. Doain."

Irene menangis, entah kenapa. "Jane... aku... aku..."

"Mba Irene, jangan nangis dulu. Nanti aku kabarin." Jane tersenyum, menepuk bahu Irene.

Soo Young mengelus perut Jane. "Semoga sehat, ya. Baby-nya juga."

Chaeyoung memotret momen itu dengan ponselnya. "Buat kenang-kenangan!"

Leon mengangkat kamera. "I'll document everything!"

---

Jane dan Mario naik ke mobil Elgi. Irene menutup pintu mobil dengan hati-hati.

"Elgi, bawa pelan-pelan tapi cepet!" pesan Irene.

"Siap, Bos!"

Mobil melaju meninggalkan Griya Asri. Di belakang, para sahabat melambai-lambaikan tangan, meski tidak terlihat dalam gelap.

Di dalam mobil, Mario memegang tangan Jane erat. "Sayang, gimana perasaan lo?"

"Deg-degan." Jane tersenyum. "Tapi seneng. Akhirnya."

"Iya, akhirnya." Mario mencium punggung tangan Jane. "Lo kuat, ya. Aku di samping lo."

"Lo jangan panik."

"Aku usahain."

Elgi menyetir dengan konsentrasi tinggi. "Jan, kalau mules, bilang, ya. Gue bisa ngebut kalau perlu."

"Iya, Gi. Belum mules. Masih aman."

Mereka melaju di jalanan yang sepi. Jakarta pukul 03.00 dini hari sangat berbeda dengan Jakarta siang hari. Jalanan lengang, lampu-lampu jalan masih menyala, dan sesekali hanya ada beberapa kendaraan lewat.

---

Pukul 03.30, mereka tiba di rumah sakit. Tim medis sudah siap menyambut. Jane langsung dibawa ke ruang bersalin, sementara Mario mengurus administrasi.

Elgi membantu Mario mengisi formulir, menemani ke sana kemari. Mario masih gemetar, sampai Elgi harus menenangkannya.

"Bro, tenang. Jane kuat. Lo juga harus kuat."

"Iya, Gi. Makasih."

"Sama-sama. Lo fokus di sini, gue urus sisanya."

Setelah administrasi selesai, Mario diizinkan masuk ke ruang bersalin. Elgi menunggu di luar, sambil mengabari grup.

Elgi: Jane udah masuk ruang bersalin. Mario dampingi. Doain lancar.

Irene: Ya Allah, tegang banget. Doa kami semua.

Endy: InsyaAllah lancar. Jane kuat.

Soo Young: Semoga sehat ibu dan bayi.

Jisoo: Ya Allah, Jan... semoga lancar.

Chaeyoung: Kami semua nunggu kabar baik!

Leon: Praying for Jane and the baby!

---

Di ruang bersalin, proses berjalan lambat tapi pasti. Jane mengalami kontraksi, Mario di sampingnya terus memberi semangat.

"Sayang, lo hebat. Tarik napas... hembuskan..."

Jane mencengkeram tangan Mario keras-keras. "Mas... sakit..."

"Iya, Sayang. Tapi lo kuat. Lo bisa."

Dokter dan bidan sibuk di sekeliling mereka. Monitor menunjukkan detak jantung janin yang kuat dan teratur.

"Bu Jane, bukaannya sudah 8. Sebentar lagi," kata dokter.

Jane mengangguk lemah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Mario mengelap kening Jane dengan handuk kecil.

"Sayang, bentar lagi. Kita lihat anak kita."

Jane tersenyum meski wajahnya pucat. "Mas, janji ya, lo nggak akan ninggalin aku."

"Janji. Sampai kapan pun."

---

Dua jam kemudian, pukul 05.45, suara tangisan bayi memecah kesunyian ruang bersalin.

Dokter mengangkat bayi mungil itu, membersihkannya, lalu meletakkannya di dada Jane.

Jane menangis. Tangis haru yang tidak bisa dibendung. "Ya Allah... anakku..."

Mario juga menangis. Ia mencium kening Jane, lalu mencium pucuk kepala bayi mungil itu.

"Ini anak kita, Sayang." Suaranya bergetar. "Ini anak kita."

Bayi itu berhenti menangis saat diletakkan di dada Jane. Matanya terbuka sedikit, menatap ibunya untuk pertama kalinya.

"Selamat, Bu, Pak. Bayinya perempuan, sehat, berat 3,2 kg, panjang 49 cm." Dokter tersenyum. "Selamat menjadi orang tua."

Jane dan Mario menangis bersama. Tangis bahagia yang tak terlukiskan.

---

Di luar ruang bersalin, Elgi sudah menunggu dengan cemas. Begitu pintu terbuka dan Mario keluar dengan mata sembab, Elgi langsung bertanya.

"GIMANA?"

Mario tersenyum lebar. "Sehat, Gi. Bayinya perempuan."

Elgi berteriak kegirangan. "ALHAMDULILLAH!" Ia memeluk Mario erat. "Selamat, Bro! Selamat!"

Mario balas memeluk. "Makasih, Gi. Makasih udah anter, udah bantu."

"Sama-sama. Gue telepon yang lain, ya!"

Elgi: ALHAMDULILLAH! JANE MELAHIRKAN! BAYI PEREMPUAN! SEHAT!

Grup "Griya Asri" langsung ramai.

Irene: YA ALLAH! SELAMAT!

Endy: Alhamdulillah, selamat!

Soo Young: Senangnya! Selamat ya!

Jisoo: JAN! SELAMAT! AKU JADI BIBI!

Chaeyoung: WAAAA! SELAMAT!

Leon: CONGRATULATIONS! A BABY GIRL!

Amora (diketik Jisoo): Amora punya adek cece! Asik!

---

Pukul 08.00 pagi, seluruh Griya Asri sudah bangun dan bersukacita. Mereka berkumpul di taman, berdoa dan bersyukur. Spanduk kecil bertuliskan "SELAMAT DATANG, PUTRI KECIL" digantung di taman.

Irene menyiapkan nasi kuning dan telur—tradisi syukuran. Soo Young membuat kue tradisional Korea. Jisoo membawa buah-buahan. Chaeyoung dan Leon sibuk mendekorasi taman dengan balon merah muda.

Sore harinya, Mario pulang sebentar untuk mengambil beberapa perlengkapan. Ia disambut oleh seluruh tetangga di taman.

"Gimana Jane?" tanya Irene.

"Sehat, Mba. Capai, tapi seneng."

"Ini, bawain nasi kuning buat Jane." Irene menyodorkan bungkusan. "Bilang, ini syukuran dari kita semua."

Mario menerima dengan haru. "Makasih, Mba. Makasih semuanya."

"Namanya siapa?" tanya Soo Young.

Mario tersenyum. "Hannah. Hannah Irene."

Irene menangis lagi. "Ya Allah... beneran?"

"Iya, Mba. Hannah Irene. Doa kami, semoga dia jadi anak yang dikasihi, seperti Mba Irene yang selalu ngasihi kami."

Irene memeluk Mario. "Makasih, Mas. Makasih banyak."

Semua terharu. Leon mengabadikan momen itu dengan kameranya.

Sore itu, di Griya Asri, ada anggota baru dalam keluarga pilihan mereka. Hannah Irene. Putri kecil yang lahir dari cinta, dikelilingi oleh orang-orang yang sudah siap menyayanginya.

---

Malam harinya, Jane dan Hannah sudah berada di ruang rawat. Mario duduk di samping mereka, tak berhenti tersenyum.

"Mas, lihat, dia senyum," bisik Jane.

"Bayi baru lahir belum bisa senyum, Sayang. Itu cuma refleks."

"Biarin. Aku anggap dia senyum." Jane membela.

Mario tertawa. "Iya, iya. Dia senyum."

Mereka mengamati bayi mungil itu dengan takjub. Hidungnya mungil, rambutnya sedikit, tangannya mengepal kecil.

"Mas, kita jadi orang tua."

"Iya, Sayang. Jadi orang tua."

"Lo siap?"

"Udah siap dari sembilan bulan lalu."

Mereka tertawa pelan, takut membangunkan Hannah.

Di luar kamar, para sahabat sudah bergantian menunggu. Irene dan Elgi, Soo Young dan Endy, Jisoo dan Amora, Chaeyoung dan Leon. Mereka semua ada di sana, di ruang tunggu, siap membantu apa pun yang diperlukan.

Keluarga pilihan. Cinta yang tak terbatas.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!