NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Raya duduk di ujung tempat tidur, tangannya menggenggam erat hasil USG yang baru saja ia terima. Matanya menatap layar kecil itu, memperlihatkan gambar janin mungil yang tengah tumbuh dalam rahimnya. "Perempuan."

Ia menarik napas panjang. Hatinya gelisah. Bukan karena ia kecewa, tidak. Baginya anak adalah anugerah tapi karena ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Keluarga suaminya menginginkan anak laki-laki, penerus garis keturunan, pewaris nama besar mereka.

"Apa mereka akan menerimanya?" batinnya bertanya, meski jauh di lubuk hatinya, ia tahu jawabannya.

Malam itu, di meja makan, suasana begitu sunyi. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Raya mencoba menghabiskan makanannya dengan tenang, tetapi tatapan tajam dari mertuanya, Bu Rina, membuatnya sulit menelan.

Setelah meneguk teh hangatnya, Bu Rina akhirnya membuka suara.

"Jadi, bagaimana hasilnya?" suaranya tenang, tapi ada nada otoritas yang tak bisa diabaikan.

Raya melirik ke arah suaminya, Dafa, yang hanya sibuk dengan makanannya, seolah tak peduli. Dengan hati-hati, ia menjawab, "Perempuan, Ma."

Seketika suasana berubah mencekam. Sendok di tangan Bu Rina diletakkan dengan keras di atas meja. Wajahnya yang tadi tenang kini berubah tegang.

"Perempuan?" Bu Rina mengulang kata itu dengan nada jijik. "Tidak! Keluarga ini tidak membutuhkan anak perempuan! Kau pikir kau sedang bermain-main, Raya?"

Raya mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan gejolak di dadanya. "Saya tidak bermain-main, Ma. Anak ini adalah anugerah, laki-laki atau perempuan tetap darah daging Dafa."

Dafa akhirnya menoleh, tapi bukan dengan ekspresi penuh dukungan, melainkan wajah yang penuh kejengkelan.

"Kau tidak mengerti, Raya. Aku butuh anak laki-laki. Keluarga ini butuh penerus."

"Oh, jadi sekarang kau menyalahkanku?" Raya menatapnya tajam. "Sejak kapan jenis kelamin bayi ditentukan oleh seorang ibu? Harusnya kau belajar biologi dulu sebelum bicara omong kosong seperti ini."

Dafa mendengus, tapi sebelum ia bisa menjawab, suara lain masuk ke dalam percakapan.

"Sudah kubilang sejak awal, perempuan seperti dia tidak cocok jadi bagian keluarga ini," suara itu datang dari Lestari, adik perempuan Dafa. Ia menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi puas, seolah sudah lama menunggu saat ini.

Raya berdecak sinis. "Oh, jadi sekarang kau juga ikut bicara? Lucu sekali, mengingat kau sendiri adalah seorang perempuan. Harusnya kau yang paling mengerti betapa sakitnya diperlakukan tidak adil hanya karena jenis kelamin."

Lestari mendelik. "Aku beda! Aku ini dari darah asli keluarga Hartawan. Kau hanya menumpang nama!"

"Menumpang?" Raya terkekeh pelan.

"Menarik. Aku pikir, aku sudah cukup banyak berkorban untuk keluarga ini. Aku mendukung Dafa, aku mengurus rumah ini, aku melakukan semua tugas seorang istri. Dan sekarang, hanya karena anakku perempuan, aku dianggap tidak berguna?"

Bu Rina menghentakkan tangannya ke meja, wajahnya merah padam. "Cukup! Kau tidak layak bicara banyak di rumah ini. Jika kau masih punya harga diri, kau harus pergi!"

Raya menegang, tapi matanya tetap tajam. "Saya pergi? Kenapa saya yang harus pergi? Ini rumah saya juga. Saya istri yang sah!"

Dafa menghela napas panjang dan akhirnya berdiri. "Raya, aku tidak mau berdebat. Kita cerai. Aku akan menikah lagi dan mencari istri yang bisa memberiku anak laki-laki."

Raya membeku. Dadanya terasa sesak. Tapi ia tidak akan menangis di hadapan mereka. Tidak.

Ia bangkit, menatap Dafa dengan sorot mata penuh kemarahan. "Kau pikir aku akan menangis dan memohon padamu? Tidak, Dafa. Kau bukan pria sehebat itu."

Dafa mengepalkan tangannya. "Jangan membangkang, Raya."

Raya tersenyum miring. "Aku tidak membangkang. Aku hanya tidak sebodoh yang kalian kira."

Ia lalu menatap Bu Rina dengan ekspresi penuh keberanian. "Kalian boleh membuangku, tapi ingat, anak ini tetap darah daging keluarga kalian. Dan suatu hari nanti, kalian akan melihat siapa yang sebenarnya tidak berguna dalam keluarga ini."

Dengan langkah tegap, Raya berjalan ke kamarnya untuk mengambil barang-barangnya.

Malam semakin larut saat Raya melangkah menuju pintu rumah itu, meninggalkan semua yang telah ia perjuangkan selama ini. Matanya panas, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Ia menolak terlihat lemah di hadapan mereka.

Namun, baru saja ia menginjak ambang pintu, suara tawa bahagia terdengar dari luar. Raya menghentikan langkahnya, menoleh dengan dahi berkerut.

Seorang wanita masuk, perutnya membuncit hampir sama besar dengan Raya. Wajahnya cantik, penuh percaya diri, dengan senyum lebar yang menghangatkan hati siapa pun-kecuali hati Raya yang kini bergejolak hebat.

"Selamat datang, sayang!" suara Bu Rina penuh kehangatan, nada yang belum pernah Raya dengar ditujukan padanya.

Wanita itu tersenyum manis sebelum menatap Raya dengan tatapan merendahkan. Seolah ia sudah menang sejak awal.

Dafa melangkah maju, tangannya menggenggam tangan wanita itu dengan lembut, seakan tak ada yang lebih berharga di dunia ini selain dirinya. "Raya, kenalkan... ini Laras. Istriku."

Dunia Raya seakan berhenti berputar. Matanya membelalak, dada sesak, tapi bukan karena kesedihan-melainkan amarah yang membara.

"Istrimu?" suaranya bergetar, tapi bukan karena lemah. Matanya menyipit tajam. "Jadi, ini alasan sebenarnya kau ingin menceraikanku?"

Bu Rina tersenyum puas. "Tentu saja. Apalagi Laras sedang mengandung anak laki-laki. Penerus keluarga Hartawan yang sesungguhnya."

Raya mengalihkan pandangannya ke Dafa, menatap suaminya, tidak. Lebih tepatnya mantan suaminya dengan penuh kebencian. "Kau menikahinya di belakangku?"

Dafa tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. "Kami sudah menikah siri. Tidak lama lagi, pernikahan kami akan sah setelah perceraian kita selesai."

Raya tertawa kecil, sinis dan penuh ejekan. "Jadi kau mengkhianatiku, menikah diam-diam, lalu menunggu waktu yang tepat untuk membuangku? Cerdas juga."

Laras mendekat, menyeringai. "Kau harusnya bersyukur, Raya. Sekarang kau bisa pergi tanpa perlu merasa bersalah. Lagipula, Dafa pantas mendapatkan yang lebih baik."

Raya menatap wanita itu dari atas ke bawah. "Kau yakin kau lebih baik? Jangan terlalu percaya diri. Kau baru memulai apa yang telah aku jalani selama bertahun-tahun. Semoga kau kuat."

Wajah Laras menegang, tapi Bu Rina segera menimpali. "Sudah cukup. Pergilah, Raya. Kau bukan siapa-siapa lagi di sini."

Raya menarik napas dalam, lalu mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. Matanya bersinar penuh keyakinan. "Aku memang bukan siapa-siapa lagi di rumah ini. Tapi dengarkan baik-baik..." Ia menatap mereka satu per satu dengan tajam, suaranya penuh kebanggaan.

"Meski anakku perempuan, dia akan tumbuh menjadi seseorang yang jauh lebih hebat daripada anak laki-laki yang kalian banggakan. Aku akan memastikan itu."

Wajah Bu Rina memerah karena amarah. Dafa mengepalkan tangannya, dan Laras menatap Raya dengan penuh kebencian.

Tapi Raya? Raya hanya tersenyum, penuh percaya diri.

Tanpa ragu, ia membalikkan badan dan melangkah keluar dari rumah itu. Bukan dengan kesedihan, melainkan dengan kebanggaan.

Hujan menyambutnya saat ia melangkah ke dunia baru. Tapi kali ini, ia tidak takut. Ia akan bertahan. Ia akan menang.

Dan suatu hari, mereka akan menyesali semua ini.

Hujan turun semakin deras. Jalanan basah, dan angin malam berembus menusuk kulit. Tapi Raya terus melangkah, menyeret koper kecilnya di trotoar yang mulai tergenang air. Tangannya yang gemetar memegang perutnya yang membuncit, melindungi satu-satunya harta yang tersisa dalam hidupnya.

Air matanya bercampur dengan hujan. Tapi ia tidak berhenti. Tidak akan!

"Aku harus kuat. Aku harus bertahan."

Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, bukan hanya karena tubuhnya yang kelelahan, tetapi juga karena luka yang baru saja ditorehkan oleh orang-orang yang seharusnya mencintainya.

Di kejauhan, sebuah mobil hitam mewah melaju perlahan. Di dalamnya, seorang pria muda duduk di kursi belakang, menatap kosong ke luar jendela.

Matanya yang tajam dan dingin seolah memancarkan aura kekuasaan. Arya Atmajaya, satu-satunya pewaris keluarga terkaya di kota itu.

Malam ini, pikirannya dipenuhi beban.

Tuntutan keluarganya semakin membuatnya frustrasi. Ayah dan ibunya ingin seorang cucu, tetapi ia bahkan tak pernah dekat dengan wanita mana pun.

Tiba-tiba, matanya menangkap sosok di pinggir jalan.

Seorang wanita-basah kuyup, menyeret koper, dengan perut besar yang terlihat jelas dari balik pakaiannya yang basah.

Arya mengerutkan dahi, menatapnya dengan seksama. Ada sesuatu dalam cara wanita itu berjalan, dalam sorot matanya yang penuh tekad meski tubuhnya terlihat kelelahan.

"Kasihan sekali... wanita hamil di tengah hujan seperti ini." gumamnya pelan.

Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya.

Mata Arya menyipit, bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil yang penuh arti.

"Hentikan mobilnya."

Sopirnya terkejut, tapi segera menuruti perintah.

Mobil berhenti tepat di depan Raya, membuat wanita itu refleks mundur selangkah. Jendela kaca perlahan turun, memperlihatkan seorang pria tampan dengan tatapan tajam.

"Kau mau ke mana?" suaranya dalam dan tegas.

Raya menatapnya penuh curiga, tubuhnya masih gemetar kedinginan. "Bukan urusanmu."

Arya tersenyum kecil, seolah menikmati ketidakpercayaan Raya. "Aku hanya ingin membantu. Jangan salah paham."

Raya masih diam, tidak langsung bereaksi. Pengalaman pahitnya membuatnya tak mudah mempercayai orang lain, terutama pria asing dalam mobil mewah.

Arya seolah bisa membaca pikirannya. "Aku bukan orang jahat. Jika aku ingin berbuat buruk padamu, aku tidak akan repot-repot berhenti di tengah hujan seperti ini."

Raya tetap waspada, tapi tubuhnya semakin lemah. Pilihannya hanyalah terus berjalan tanpa arah, atau menerima bantuan pria ini. Dengan ragu, ia akhirnya masuk ke dalam mobil, duduk dengan tubuh kaku dan penuh kewaspadaan.

Beberapa saat hening. Hanya suara hujan yang menemani mereka.

Arya melirik ke arah Raya, lalu bertanya dengan suara datar, "Di mana suamimu?"

Raya mengalihkan pandangannya ke luar jendela, mencoba menahan emosi yang kembali menggelora di dadanya. "Aku baru saja diusir. Suamiku mencampakkanku karena aku mengandung anak perempuan."

Arya tidak terkejut, malah tersenyum tipis. "Begitu ya... Menarik."

Raya menoleh cepat, menatap pria itu dengan penuh kecurigaan. "Apa maksudmu?"

Alih-alih menjawab, Arya justru menatapnya lebih dalam, seolah sedang menilai sesuatu.

Lalu, dengan santai, ia berkata, "Aku punya tawaran untukmu."

Raya mengernyit. "Tawaran?"

Arya bersandar ke kursi, senyum misteriusnya masih belum hilang. "Aku butuh seorang istri. Kau butuh tempat untuk bertahan. Kenapa kita tidak bekerja sama?"

Mata Raya membelalak. "Apa?!"

Arya tetap tenang. "Pikirkan baik-baik. Ini bukan sekadar bantuan biasa. Ini adalah sebuah perjanjian."

Mobil terus melaju di tengah hujan, meninggalkan pertanyaan besar di benak Raya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!