NovelToon NovelToon
Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:22.4k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.

​Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.

​Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.

​"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Jawaban Menohok

​​Tawa Harper meledak seketika. Bukan tawa pelan yang ditahan-tahan, melainkan tawa renyah yang menggema di seluruh sudut ruang kerja raksasa itu. Suaranya terdengar sangat meremehkan, seolah pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh bosnya adalah lelucon paling konyol yang pernah dia dengar seumur hidup.

​Dominic langsung menegakkan tubuhnya. Pria itu menarik wajahnya menjauh dari Harper dengan rahang mengeras. Rasa percaya dirinya yang setinggi langit baru saja menabrak tembok beton tebal.

​"Apa yang lucu?" tuntut Dominic dengan nada kesal. Matanya memicing tajam menatap sekretarisnya yang masih menyisakan senyum geli di sudut bibir. "Pertanyaanku sangat serius. Kebanyakan wanita akan langsung menarik rambut Vanessa kalau berada di posisimu tadi."

​Harper menggelengkan kepalanya pelan, masih dengan sisa tawa yang tertahan. Wanita itu kembali memutar kursinya menghadap layar komputer, mulai mengetikkan barisan perintah baru untuk memulihkan data perusahaan yang sempat lumpuh.

​"Cemburu?" Harper membeo kata kata Dominic dengan nada mengejek. "Kau berharap aku cemburu pada wanita yang bedaknya luntur kena keringat sendiri? Tolong jangan bercanda, Dom. Otakku sedang dipakai untuk memikirkan kode enkripsi rumit, jangan paksa aku memikirkan hal-hal receh seperti itu."

​"Itu bukan hal receh!" bantah Dominic keras kepala. Dia menggebrak meja kerjanya pelan, berusaha menarik kembali perhatian Harper. "Vanessa itu ancaman nyata bagi wanita mana pun. Dia punya segalanya. Dan dia terang-terangan mengklaim aku di depan matamu. Wajar kalau kau merasa terancam."

​Harper menghentikan ketikannya sejenak. Dia mendongak, menatap Dominic dengan ekspresi luar biasa datar.

​"Dengar baik baik, Tuan CEO," ucap Harper tenang namun sangat tajam. "Aku punya standar yang sangat tinggi dalam memilih pasangan hidup. Dan percaya padaku, kau sama sekali tidak masuk ke dalam daftar kriteria pria idamanku."

​Wajah Dominic memerah padam. Egonya benar benar tercabik-cabik mendapat penolakan mentah-mentah seperti itu. Wanita mana pun di luar sana pasti akan bertekuk lutut memohon perhatiannya, tapi sekretaris barbar ini malah membuangnya seperti barang rongsokan.

​"Standar tinggi?" Dominic mendengus kasar, membalas tatapan Harper dengan tatapan merendahkan. "Standar setinggi apa yang kau maksud? Kau mencari pangeran berkuda putih dari negeri dongeng? Atau kau mencari pria miskin penjual bunga, yang rela memberimu puisi cinta setiap pagi, tapi tidak bisa membelikanmu rumah layak?"

​"Aku mencari pria waras," jawab Harper telak.

​Dominic terdiam, mulutnya sedikit terbuka namun tidak ada kata yang keluar.

​"Aku mencari pria yang bisa mengurus dirinya sendiri," lanjut Harper tanpa ampun. Tangannya kembali menari di atas keyboard mekanik. "Pria yang tidak tantrum seperti balita hanya karena suhu kopinya meleset satu derajat. Pria yang tahu cara menghargai orang lain tanpa harus melempar tumpukan uang ke wajah mereka. Pria yang tidak memecat karyawannya hanya karena alasan feng shui atau suara napas yang berisik."

​"Aku melakukan semua itu untuk menjaga standar kualitas perusahaanku!" bela Dominic cepat.

​"Kau melakukan semua itu karena kau punya masalah pengendalian emosi yang sangat parah," balas Harper santai. "Bagiku, bekerja denganmu selama lima tahun ini sudah cukup menguras seluruh cadangan kesabaranku. Kalau aku sampai menjalin hubungan romantis denganmu, kurasa aku akan berakhir di rumah sakit jiwa dalam waktu kurang dari sebulan."

​Dominic mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh. Napasnya memburu cepat. Dia sangat membenci kenyataan bahwa argumen Harper terdengar sangat logis dan sulit dibantah. Tapi Dominic Vance pantang mengakui kekalahan.

​"Kau pembohong besar, Harper," desis Dominic. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, bertumpu pada kedua lengannya di atas meja. Matanya mengunci pergerakan mata Harper. "Kau bilang aku bukan tipemu, tapi kau tahu persis kebiasaanku. Kau tahu ukuran dasiku, kau hafal tentang alergiku, kau tahu bagaimana cara menenangkan amarahku hanya dengan satu kalimat. Kau bahkan rela memakan omonganmu sendiri dan menyelamatkan perusahaanku hari ini."

​"Itu namanya insting bertahan hidup seorang karyawan," sahut Harper tidak peduli. "Kalau perusahaanmu bangkrut, aku tidak akan mendapat pesangon. Dan kalau amarahmu tidak ditenangkan, kau akan memecahkan barang-barang mahal di ruangan ini. Aku cuma menjalankan tugasku agar aku bisa cepat pulang dan tidur nyenyak."

​"Kau peduli padaku," tekan Dominic dengan nada memaksa. "Kau tidak akan mau bertahan selama lima tahun menghadapi semua sikapku kalau kau tidak punya perasaan apapun padaku. Mengakulah."

​Harper akhirnya memutar kursi sepenuhnya menghadap Dominic. Dia menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangan di depan dada, lalu menatap pria tampan di depannya itu dengan pandangan mengasihani.

​"Kau benar benar butuh terapi psikologis, Dom. Tingkat narsistikmu sudah mencapai level membahayakan. Dunia ini tidak berputar mengelilingimu. Aku bertahan lima tahun di sini murni karena gajinya sangat besar dan aku butuh uang untuk melunasi cicilan apartemen mewahku. Sekarang semuanya sudah lunas. Makanya aku mau mengundurkan diri. Sederhana kan?"

​"Kau tidak akan ke mana mana!" geram Dominic.

​"Kita lihat saja nanti. Aku masih punya banyak daftar kandidat orang gila yang siap menghancurkan sisa kewarasanmu di sesi wawancara besok." Harper menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan.

​Dominic memejamkan mata, mencoba menenangkan darahnya yang kembali mendidih. Dia sadar berdebat dengan Harper saat ini tidak akan menghasilkan kemenangan apa pun. Wanita es ini terlalu pintar mengontrol emosinya. Dia tidak akan terpancing oleh provokasi murahan. Dominic harus mencari cara lain untuk meruntuhkan pertahanan Harper.

​"Terserah apa katamu," ucap Dominic akhirnya. Pria itu menegakkan tubuhnya kembali. "Tapi kau tidak bisa membohongi matamu sendiri. Suatu hari nanti, aku pasti akan membuatmu mengakui bahwa kau sama sekali tidak bisa hidup tanpaku."

​"Dalam mimpimu yang paling liar," balas Harper tanpa beban.

​Wanita itu kembali menghadap layar komputernya. Ketegangan di antara mereka mulai sedikit mereda, digantikan oleh suara ketukan keyboard yang konstan. Dominic berbalik badan, berniat kembali ke sofa untuk merebahkan tubuhnya yang mendadak terasa lelah akibat rentetan kejadian hari ini.

​Ting.

​Sebuah suara notifikasi yang sangat ceria memecah keheningan ruangan.

​Suara itu berasal dari ponsel pintar milik Harper yang tergeletak di atas meja kerja, tepat di sebelah tumpukan map dokumen. Layar ponsel tersebut menyala terang, menampilkan sebuah jendela pesan singkat yang muncul di bagian paling atas.

​Langkah Dominic terhenti seketika. Posisi pria itu masih sangat dekat dengan meja kerja. Tanpa sengaja, mata tajamnya langsung menangkap tulisan yang tertera di layar ponsel Harper sebelum layarnya kembali meredup.

​Sebuah pesan masuk dari aplikasi bernama TemanKencan.

​Nama pengirimnya tertera dengan sangat jelas: Dokter Hewan Ryan.

​Isi pesannya terbaca sempurna oleh mata Dominic: Hai Harper, aku sudah memesan meja di restoran Italia favoritmu untuk Sabtu ini. Tidak sabar bertemu denganmu lagi. Bawa senyum manismu, ya.

​Udara di dalam ruang kerja raksasa itu mendadak terasa membeku. Suhu ruangan seolah turun drastis menembus angka minus.

​Dominic mematung di tempatnya berdiri. Kepalanya menoleh patah patah ke arah ponsel tersebut, lalu beralih menatap wajah Harper yang baru saja mengulurkan tangan untuk mengambil benda pipih itu.

​Rahang Dominic mengeras sempurna. Urat-urat di lehernya bermunculan. Matanya menyipit tajam, memancarkan aura permusuhan yang luar biasa pekat. Rasa percaya diri yang baru saja dia kumpulkan kembali hancur berkeping keping melihat bukti nyata di depan matanya.

​"Siapa pria sialan bernama Ryan itu?" tanya Dominic dengan suara sangat pelan, rendah, dan penuh selidik curiga.

.

1
Muft Smoker
Dom ,, kelakuan mu emnk udh kelewat batas ,,
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Kostum Unik
Cuma di novel ini loh karakter cewek gk bego gk penakut gk gentar cm krn ktm lawan nya cowok.. Di novel mana pun mau gmn hbt nya karakter cewek ttp aja mereka melempem pada akhir nya...
Muft Smoker: betul kak ,,
dsini semua tokoh perempuan ny bnr2 nunjukin Kalo mereka bnr2 ras terkuat di bumi ,,
total 2 replies
Naviah
percayalah Dom, sikapmu ini bukanya bikin Harper suka sama kamu tapi bikin menjauh, arogansi mu udah over dosis
Naviah
perlu priksa mata Dominic ya Harper, ban nya gak kenapa napa tapi dibilang bocor🤣
Kostum Unik
Astaghfirullah DomDom.. Kamu mmg udah keterlaluan. Lambemu pengen ku gerus pake ulekan
Naviah
gak habis fikir ban bocor? 🤣
Rlyn
tarik nafas Harper 🤭🤣
Savana Liora: 😄🤭🤭🤭🤭🤣🙏
total 1 replies
Kostum Unik
Sabar sabar sabar ini bulan puasa... Gk ada kan manusia modelan DomDom.. Pasti gk ada. Cuma ada di cerita ini kan kak Savana... /Sob/
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭
total 1 replies
Kostum Unik
Luar biasa emg Harper ini. Sabar nya bukan main sm si ogep DomDom
Savana Liora: 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Naviah
astaga tikus got sebesar anak kucing kena fitnah🤣
Naviah
ya pintar dalam bisnis tapi mines dalam percintaan 🤣
ms. S
dom.. cemburu buta
Muft Smoker
kak Savana ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
This Is Me
Kak Savana, bisa gak nih Harper lepas aja dari Dom. Sekali ini tokoh cowoknya sakit jiwa beneran. Kasian Harper
Savana Liora: lupa ya kalo judulnya pawang.

kayak pawang ular 🤣🤣
total 3 replies
Maria Lina
hellooo sapa lo pacar bukan istri ap lgi.herper bkn budok lo tau dsr ego lo
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
Maria Lina
hellooo sapa lo pacar bukan istri ap lgi.herper bkn budok lo tau dsr ego lo1
Sastri Dalila
si dom² ada aja usaha nya
Savana Liora: namwnya jg usaha 🤣🤣
total 1 replies
Sastri Dalila
si dom²😂😂
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Kostum Unik
🤣🤣🤣 Harper kalau nanti dia cinta dan bucin sama kau. Itu anugerah apa musibah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!