NovelToon NovelToon
Hatiku Di Gondol Sang Duda

Hatiku Di Gondol Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Duda
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Mereka berjalan beberapa langkah ke tepi bukit. Dari sana terlihat desa kecil dengan atap-atap rumah berjejer rapi.

Langit siang itu biru bersih.

“Kalau sore, mataharinya langsung jatuh di situ,” kata Raka sambil menunjuk ke arah barat.

Nadira berdiri di sampingnya.

“Kamu sering ke sini sendiri?”

“Iya.”

“Ngapain?”

“Diam.”

Nadira tertawa kecil.

“Kamu memang aneh.”

Raka tersenyum.

“Mungkin.”

Angin meniup rambut Nadira lagi. Kali ini ia tidak berusaha merapikannya.

Hening terasa nyaman.

Percakapan yang Tidak Terduga

“Nadira,” panggil Raka pelan.

“Iya?”

“Kamu bahagia di Jakarta?”

Pertanyaan itu membuat Nadira terdiam. Ia tidak langsung menjawab.

“Bahagia… atau sibuk?” lanjut Raka pelan.

Nadira menoleh padanya.

“Kenapa tanya begitu?”

“Karena dari cerita Tante, kamu selalu terlihat kuat. Tapi waktu di rumah sakit… kamu terlihat takut.”

Nadira menarik napas dalam.

“Saya memang takut.”

“Takut apa?”

“Takut kalau selama ini saya terlalu jauh.”

Raka mengangguk pelan.

“Kadang kita pergi bukan karena tidak sayang,” katanya, “tapi karena ingin jadi lebih baik.”

Nadira menatap hamparan sawah di depan.

“Dan kalau ternyata yang kita cari ada di rumah?”

Raka tidak langsung menjawab.

“Kalau memang begitu, berarti kamu tidak pernah benar-benar pergi.”

Kalimat itu membuat dada Nadira terasa hangat.

Ajakan yang Lebih Jujur

Beberapa menit berlalu.

“Nadira,” panggil Raka lagi.

“Iya?”

“Saya tidak ingin terburu-buru.”

Nadira menoleh pelan.

“Tapi saya juga tidak ingin hanya jadi ‘kenalan’ yang datang saat Mama sakit.”

Jantung Nadira berdetak lebih cepat.

“Maksud kamu?”

Raka menatapnya langsung.

“Saya ingin mengenal kamu lebih jauh. Bukan karena Tante dan Om. Tapi karena saya memang ingin.”

Angin berhembus di antara mereka. Nadira merasa pipinya menghangat.

Raka tersenyum tipis.

“Iya,” katanya tenang. “Kita memang baru kenal beberapa hari. Tapi perasaan ingin mengenal seseorang tidak selalu butuh waktu lama untuk muncul.”

Nadira menelan ludah pelan.

“Dan kamu yakin itu bukan karena orang tua kita yang terlalu semangat?”

Raka menggeleng.

“Kalau hanya karena itu, saya tidak akan ajak kamu ke sini.”

Hening sejenak. Angin berhembus lebih kencang, membuat ujung kerudung Nadira berkibar pelan.

“Saya tahu kamu perempuan yang mandiri,” lanjut Raka. “Kamu sudah hidup sendiri di Jakarta hampir tujuh tahun. Kamu punya dunia sendiri.”

Nadira menatapnya.

“Dan kamu tidak takut masuk ke dunia itu?” tanyanya.

Raka tersenyum.

“Saya tidak mau masuk untuk mengubahnya.”

Jawaban itu membuat Nadira sedikit terdiam.

“Lalu?”

“Saya hanya ingin berjalan di sampingnya. Kalau kamu izinkan.”

Deg. Kalimat itu sederhana, tapi terasa begitu dalam.

Nadira memalingkan wajahnya sebentar, menatap hamparan sawah yang mulai bergerak lembut tertiup angin.

“Aku belum tahu mau tinggal di sini atau kembali ke Jakarta,” katanya jujur.

“Tidak apa-apa,” jawab Raka cepat. “Saya tidak meminta keputusan hari ini.”

“Kalau aku pergi lagi?”

Raka terdiam sesaat.

“Kalau itu pilihan terbaik untukmu, saya akan menghargainya.”

“Kedengarannya mudah.”

“Tidak mudah,” Raka tersenyum kecil. “Tapi memaksa juga bukan caranya.”

Nadira menatapnya lagi, kali ini lebih lama.

“Kenapa kamu setenang itu?”

Raka tertawa pelan.

“Karena saya percaya, kalau memang jalannya, tidak akan ke mana.”

Hening lagi. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Nadira merasa tidak tertekan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada paksaan. Hanya sebuah ajakan yang disampaikan dengan dewasa.

“Apa yang kamu harapkan dariku?” tanya Nadira pelan.

“Kesempatan,” jawab Raka tanpa ragu. “Untuk mengenalmu. Untuk melihat apakah kita bisa saling berjalan.”

Nadira menarik napas panjang.

“Kamu tahu aku orangnya keras kepala?”

“Saya sudah dengar.”

“Kamu tahu aku sulit percaya?”

“Saya bisa belajar sabar.”

“Kamu tahu aku mungkin akan kembali bekerja jauh dari sini?”

“Saya tahu.”

Nadira terdiam.

“Dan kamu tetap mau?”

Raka mengangguk pelan.

“Selama kamu tidak menutup pintunya.”

Kali ini Nadira benar-benar tersenyum. Senyum yang bukan karena candaan, bukan karena menggoda, tapi karena hatinya mulai membuka celah kecil.

“Baik,” katanya akhirnya.

Raka menunggu kelanjutannya.

“Kita kenal pelan-pelan.”

Tatapan Raka berubah lebih hangat.

“Terima kasih.”

“Tapi,” Nadira mengangkat satu jari, “jangan berharap aku langsung berubah jadi perempuan rumahan yang siap nikah bulan depan.”

Raka tertawa pelan.

“Saya juga tidak sedang cari yang buru-buru.”

“Bagus.”

Mereka berdiri berdampingan lagi, menatap desa di bawah sana. Langit mulai sedikit bergeser, awan bergerak perlahan.

Untuk pertama kalinya, Nadira tidak merasa sedang dipaksa memilih antara karier dan keluarga. Ia merasa sedang diberi ruang. Dan mungkin, itulah yang selama ini ia butuhkan.

“Kalau Mama tahu kita ke sini, pasti beliau senyum-senyum sendiri,” kata Nadira tiba-tiba.

Raka tersenyum.

“Mungkin.”

“Dan Abah pasti pura-pura tidak tahu apa-apa.”

“Kemungkinan besar.”

Mereka tertawa bersama.

Beberapa menit kemudian Raka berkata pelan,

“Kita pulang? Nanti Mama khawatir.”

Nadira mengangguk.

Saat mereka berjalan kembali ke motor, langkah Nadira terasa lebih ringan dibanding saat datang tadi. Ia belum jatuh cinta, tapi ia tidak lagi menutup hati. Dan itu sudah menjadi awal yang berbeda.

Motor melaju pelan menuruni bukit kecil itu. Kali ini Nadira tidak terlalu menjaga jarak seperti tadi berangkat. Tangannya memegang ringan sisi jaket Raka agar tidak kehilangan keseimbangan. Angin siang terasa hangat.

Di tengah perjalanan, Raka sedikit menoleh.

“Tidak menyesal ikut ke sini?”

“Belum,” jawab Nadira cepat.

“Belum?”

“Kalau nanti menyesal, saya kasih tahu.”

Raka tertawa kecil.

Beberapa anak kecil melambaikan tangan saat mereka melewati jalan desa. Nadira membalas lambaian itu tanpa sadar.

“Kamu terlihat berbeda” kata Raka pelan.

“Berbeda bagaimana?”

“Lebih… santai”

Nadira tidak menjawab. Tapi dalam hati ia mengakui, ia memang merasa lebih ringan.

Motor berhenti di depan rumah. Mama sudah duduk di teras ditemani Abah, seperti sudah menunggu.

Nadira langsung turun.

“Kok di luar, Mah? Anginnya kencang”

Mama tersenyum tipis.

“Menunggu anaknya yang pergi lama”

“Baru sebentar…”

Abah berdiri santai.

“Sebentar menurut kamu, lama menurut orang tua”

Raka melepas helm dan menyalami Abah.

“Maaf kalau kelamaan, Om”

“Tidak apa-apa,” jawab Abah dengan senyum yang sulit ditebak.

Mama menatap Nadira dari atas sampai bawah.

“Panas?” tanyanya.

“Lumayan.”

“Bahagia?”

Nadira langsung tersedak kecil.

“Mah!”

Raka menahan senyum.

Mama tertawa pelan.

“Mama cuma tanya”

Nadira masuk ke dalam rumah lebih dulu, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai menghangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!