𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 6 - KHARISMA YANG TAK TERUCAP
Hari berikut nya, Pagi datang dengan udara yang masih menyisakan sisa hujan semalam. Di sekolah pusat kota, suasana terasa berbeda. Beberapa siswa laki-laki berkumpul di lorong dekat kelas XII.
"Dia datang nggak hari ini?" tanya salah satu dari mereka.
"Datang. Tadi gue lihat di parkiran sepeda," jawab yang lain.
"Gila sih. Itu anak tiap jalan kayak model majalah."
"Bukan model. Kayak… bos muda." Mereka tertawa kecil.
Rizuki berjalan melewati mereka tanpa menyadari obrolan itu. Atau mungkin menyadari—namun memilih tak peduli. Langkahnya tetap sama. Tenang. Terukur, dan elegan. Sehingga memancarkan aura tersendiri hingga membuat yang melihatnya terpana. Seragamnya rapi. Rambut wolfcut hitamnya tersisir alami. Mata birunya lurus ke depan.
Beberapa siswi di kelas sebelah menoleh.
"Itu dia," bisik salah satu dari mereka.
"Kalau dia senyum sekali aja pasti langsung viral," sahut yang lain.
Namun Rizuki tidak pernah tersenyum sembarangan.
Ia duduk di bangkunya, membuka buku, dan mengabaikan dunia di sekitarnya. Namun pikirannya—sekali lagi—tidak sepenuhnya berada di halaman buku. di Halte tua, saat Hujan. dan Suara tawa kecil Vhiena.
Ia menutup buku pelan. "Fokus," gumamnya.
Jam kedua pelajaran kosong. Beberapa siswa berkumpul di belakang kelas. "Gue denger Bu Alena suka merhatiin Rizuki," kata salah satu siswa dengan nada bercanda. "Ah masa sih? Guru matematika itu?"
"Iya...Apa Lo nggak lihat cara dia ngomong sama Rizuki beda sendiri."
Tepat saat itu, suara sepatu hak pelan terdengar dari lorong. Bu Alena—guru matematika muda yang dikenal cantik dan elegan—masuk ke kelas.
"Selamat pagi." terdengar suara Bu alena yang lembut itu.
"Pagi, Bu," jawab kelas serempak.
Tatapan Bu Alena sekilas berhenti pada Rizuki. "Rizuki, bisa temui saya di ruang guru setelah pelajaran selesai?" katanya lembut. Beberapa siswa saling pandang.
Rizuki mengangguk singkat. "Baik, Bu."
Di ruang guru yang lebih sepi, Bu Alena berdiri dekat jendela. "Kamu tahu kenapa saya memanggilmu?" tanyanya.
"Tentang tugas kemarin?" jawab Rizuki datar.
Bu Alena tersenyum tipis. "Bukan. Saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Kamu selalu terlihat… jauh."
Rizuki menatapnya sopan. "Saya baik-baik saja, Bu."
"Kamu punya potensi besar. Jangan terlalu menutup diri. Dunia bukan hanya soal angka."
Rizuki terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun baginya, dunia memang lebih dari angka. Hanya saja, tidak ada yang tahu seberapa besar dunia yang ia tanggung.
"Terima kasih atas perhatiannya," jawab rizuki dengan tenang.
Bu Alena menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Namun Rizuki tetap menjaga jarak profesional. Ia pamit dan keluar.
Di sisi timur kota, Vhiena juga menjalani hari yang tidak kalah sibuk.
Ayu dan Lala kembali menggoda.."Si payung hitam nggak muncul lagi?" tanya Ayu.
"Diam kamu," jawab Vhiena sambil tersenyum malu.
"Kamu kelihatan beda loh sekarang," kata Lala memperhatikan.
"Beda gimana?" tanya vhiena dengan pipi yang agak memerah.
Ayu dan lala saling memandang "Kayak lagi nunggu sesuatu." ucap lala dan ayu bersamaan.
Vhiena pura-pura kesal. "Aku nunggu bel pulang." Namun saat bel benar-benar berbunyi, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia tidak tahu kenapa.
Sore itu tidak hujan.
Langit cerah, jalanan basah memantulkan cahaya senja. Rizuki berjalan sendirian seperti biasa. Namun hari ini, tanpa sadar, ia memperlambat langkahnya ketika mendekati perempatan yang sama.
Ia tidak melihat siapa pun. Dan ia tidak tahu apakah ia merasa lega… atau kecewa..Di sisi lain, Vhiena juga melintasi jalan berbeda hari itu. Tanpa bertemu. Namun keduanya tetap membawa bayangan satu sama lain.
Malam datang lagi. Rizuki duduk di apartemennya. Dua ponsel di meja. Ponsel bisnis berisi laporan. Ponsel pribadi tetap sunyi. Ia menatap layar kosong beberapa detik. "Tidak perlu terburu-buru," katanya pelan.
Di kamar Vhiena, ponsel juga tergeletak di meja. Ia menatap jendela. "Besok mungkin," bisiknya.
Hari itu berlalu tanpa pertemuan. Namun perasaan yang tumbuh justru semakin jelas. Tanpa janji atauTanpa status. Hanya dua orang… yang mulai menyadari, bahwa hujan bukan satu-satunya alasan jantung mereka berubah. Mereka menutup hari ini dengan pikiran yang sama-sama tidak jelas arah nya. Diantara berharap atau hanya sekedar angin yang berlalu.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/