Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Sebelum Badai
Hujan malam itu tidak deras, hanya gerimis yang membuat jalanan Yorknew berkilau seperti kulit ular basah. Raito dan Mira duduk di balkon kecil penginapan mereka—balkon yang sebenarnya cuma tonjolan beton sempit dengan pagar karat, tapi cukup untuk melihat lampu-lampu kota yang berkedip di kejauhan seperti mata serangga raksasa.
Raito memegang cangkir teh yang sudah dingin, uapnya sudah lama hilang. Dia tidak minum, hanya memutar-mutar cangkir di tangan seperti mencari jawaban di dasarnya.
Mira bersandar di pagar, memandang ke bawah. Suaranya pelan, hampir tenggelam dalam derau hujan. “Besok malam kita ke arena bawah tanah. Kalau menang, kita dapat kesempatan bicara dengan Harlan. Kalau kalah… kita mungkin nggak pulang.”
Raito tidak langsung jawab. Dia menatap cangkirnya lagi. “Aku nggak takut kalah di ring. Aku takut kalau menang pun, jawabannya nggak seperti yang aku harapkan.”
Mira menoleh. “Maksudmu?”
“Eclipse Stone. Kalau batu itu benar bisa buka portal… apa aku harus kembali? Apa aku harus tinggalkan semua ini?” Dia mengangkat tangan kiri, membiarkan Inner Light muncul pelan—cahaya kuning pucat yang sekarang terasa lebih redup dari biasanya, seperti lilin yang hampir habis. “Aku mulai terbiasa dengan dunia ini. Dengan kamu. Dengan orang-orang seperti Gon yang pernah aku lihat sekilas. Kalau aku pergi… apa artinya semua perjuangan ini?”
Mira diam lama. Hujan menetes dari atap ke pagar, menciptakan ritme kecil yang menyedihkan.
“Aku juga pernah punya pilihan seperti itu,” katanya akhirnya. “Dulu, setelah perang, aku bisa pulang ke desa kecil di pinggir pantai. Punya rumah, kebun, hidup tenang. Tapi aku pilih jalan lain. Karena kalau aku pulang, aku akan terus ingat orang-orang yang aku tinggalkan di medan perang. Yang mati karena aku selamat. Jadi aku terus bergerak. Supaya rasa bersalah itu nggak pernah berhenti mengingatkanku bahwa aku masih hidup.”
Raito menatapnya. “Kamu nggak pernah menyesal?”
“Setiap hari,” jawab Mira tanpa ragu. “Tapi penyesalan itu beda dengan penyesalan karena nggak mencoba. Yang terakhir lebih sakit.”
Raito menutup mata. Cahaya di tangannya padam pelan.
“Aku nggak mau pulang kalau itu berarti aku tinggalkan kamu sendirian melawan Shadow Serpent.”
Mira tersenyum kecil—senyum yang jarang sekali muncul, hampir malu-malu. “Kamu terlalu cepat bilang ‘kita’. Aku nggak butuh penjaga, Raito. Aku butuh teman yang nggak lari saat keadaan buruk.”
Raito membuka mata. “Aku nggak akan lari.”
Mereka diam lagi. Hujan semakin reda, meninggalkan udara yang dingin dan segar.
Setelah beberapa menit, Mira bicara lagi, nada lebih ringan. “Besok malam kamu harus pakai Hatsu baru. Gelombang cahaya kemarin itu kuat, tapi menguras terlalu banyak. Kita perlu versi yang lebih hemat energi. Coba namain dulu—supaya kamu lebih mudah fokus.”
Raito mengangguk. “Aku pikir… ‘Dawn Pulse’. Seperti denyut fajar yang pelan tapi pasti.”
Mira mengangkat alis. “Puitis. Bagus. Coba sekarang.”
Raito berdiri. Dia tarik napas dalam, fokus ke dada. Bukan meledakkan cahaya besar seperti kemarin, tapi membiarkannya mengalir pelan seperti denyut nadi. Cahaya kuning pucat muncul di sekitar tubuhnya—tipis seperti kabut pagi, hangat tapi tidak menyilaukan. Dia gerakkan tangan—kabut itu ikut bergerak, membentuk perisai kecil di depan telapak.
Mira mendekat, menyentuh kabut itu dengan jari. “Hangat. Dan… stabil. Ini bisa jadi pertahanan pasif kalau kamu latih terus. Nggak perlu keluarkan sekaligus.”
Raito tersenyum kecil. “Rasanya… lebih ringan. Seperti nggak harus memaksakan.”
Mira mengangguk. “Itu bagus. Besok malam kamu nggak perlu jadi matahari. Cukup jadi fajar—cukup terang untuk melihat jalan, tapi nggak membakar diri sendiri.”
Mereka kembali masuk kamar. Raito berbaring di tempat tidur, tapi tidak langsung tidur. Dia memandang langit-langit yang retak-retak.
“Mira?”
“Hm?”
“Kalau besok aku kalah… apa kamu akan tetap lanjut cari batu itu tanpa aku?”
Mira diam lama. Lalu jawab pelan. “Kalau kamu kalah, aku akan bawa kamu pulang dulu. Hidup lebih penting daripada batu apa pun.”
Raito menoleh. “Tapi Eclipse Stone—”
“Eclipse Stone bisa dicari lagi. Kamu cuma satu.”
Kata-kata itu menggantung di udara seperti kabut hangat yang baru saja Raito ciptakan.
Raito menutup mata. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, dia tidur tanpa mimpi buruk. Hanya mimpi samar tentang fajar yang pelan menyingsing di atas hutan yang dulu dia terbangun—hutan yang sekarang terasa seperti rumah kedua.
Pagi harinya, mereka latihan ringan di lapangan kecil belakang penginapan. Raito fokus mempertahankan Dawn Pulse lebih lama—kabut cahaya itu sekarang bisa bertahan hampir lima menit tanpa menguras terlalu banyak. Mira menguji dengan lempar batu kecil; batu itu memantul saat menyentuh kabut, seperti kena bantalan tak terlihat.
Sore menjelang, mereka bersiap. Raito mengenakan jaket gelap baru yang Mira beli kemarin—bukan untuk gaya, tapi untuk sembunyikan luka dan pisau kecil yang sekarang selalu dia bawa di ikat pinggang.
Sebelum keluar, Mira berhenti di pintu. “Raito.”
Raito menoleh.
“Apa pun yang terjadi malam ini… jangan pakai cahaya untuk bunuh. Pakai untuk lindungi. Itu yang bikin cahaya-mu beda dari Nen orang lain.”
Raito mengangguk. “Aku janji.”
Mereka melangkah keluar ke malam Yorknew yang basah.
Arena bawah tanah terletak di bawah gedung pabrik tua yang sudah ditinggalkan. Pintu masuknya adalah lubang got yang disembunyikan dengan papan besi berkarat. Di dalam, tangga spiral menurun ke ruangan besar berbentuk oval—lantai beton retak, dikelilingi tribun kayu reyot yang penuh orang berpakaian gelap. Lampu sorot kuning dan merah berkedip, menciptakan bayang-bayang yang hidup.
Suasana jauh lebih gelap dari Heavens Arena. Tidak ada aturan resmi, tidak ada wasit netral. Hanya penonton yang berteriak, taruhan uang tunai, dan bau darah lama yang menempel di udara.
Harlan—pedagang Eclipse Stone—duduk di tribun VIP kecil yang ditinggikan. Dia pria tua kurus dengan janggut putih tipis, mata sipit seperti sedang menghitung untung rugi sepanjang hidupnya. Di sampingnya, dua pengawal berbadan besar.
Wasit arena—pria bertato ular di leher—berdiri di tengah ring. “Pertarungan malam ini: Raito vs ‘Iron Fang’ dari Shadow Serpent! Pemenang dapat kesempatan bicara dengan Harlan. Kalah… ya, kalian tahu.”
Penonton berteriak. Iron Fang naik ke ring: pria berotot besar, rambut dicukur, gigi tajam seperti anjing liar. Aura-nya kasar, Enhancement murni—tangan kanannya sudah dibungkus besi seperti sarung tangan tinju.
Raito naik ke ring. Dia tidak bicara. Hanya mengaktifkan Dawn Pulse pelan—kabut cahaya tipis membungkus tubuhnya seperti napas pagi.
Peluit berbunyi.
Iron Fang langsung maju seperti kereta barang. Tinju besinya mengayun ke kepala Raito. Raito menghindar, kabut cahaya membuat gerakannya lebih ringan. Dia balas dengan pukulan ke perut—tinju dibungkus aura Enhancement kecil. Iron Fang hanya terhuyung sedikit, lalu tertawa.
“Anak kecil main lampu-lampu?”
Dia menyerang lagi—kombinasi pukulan berat yang membuat udara berdentum. Raito bertahan, Dawn Pulse menyerap sebagian kekuatan, tapi setiap benturan tetap terasa seperti ditabrak palu. Rusuknya yang sudah pernah retak mulai terasa lagi.
Penonton berteriak semakin keras. “Habisi dia! Bikin cahayanya padam!”
Raito mundur ke pagar ring. Dia tarik napas dalam. Kabut cahaya di sekitarnya mulai berdenyut lebih cepat—seperti detak jantung. Dia ingat kata Mira: “Jangan jadi matahari. Jadilah fajar.”
Dia maju pelan. Iron Fang tertawa, maju juga. Saat jarak tinggal dua meter, Raito angkat tangan kanan. Bukan ledakan besar—hanya denyut cahaya pelan yang menyebar seperti riak air.
Dawn Pulse berubah: bukan perisai, tapi gelombang kecil yang mengalir ke arah Iron Fang. Gelombang itu menyentuh aura kasar pria itu—dan seperti air yang menyiram api, aura Enhancement Iron Fang mulai redup, gerakannya melambat seketika.
Iron Fang terkejut. “Apa ini—?!”
Raito maju cepat. Pukulan lurus ke dada. Iron Fang menangkis, tapi lambat. Pukulan kedua mengenai rahang. Iron Fang terhuyung. Raito tidak berhenti—tendangan rendah ke lutut, lalu pukulan terakhir ke perut.
Iron Fang jatuh berlutut. Dia mencoba bangun, tapi aura-nya sudah retak parah. Dia menggeleng, lalu angkat tangan. “Aku… menyerah.”
Penonton terdiam sejenak, lalu sorak sorai meledak—bukan sorakan biasa, tapi campuran kagum dan takut.
Harlan berdiri dari tribun VIP. Matanya menyipit, tapi tersenyum.
“Menarik. Datang ke sini, anak muda. Kita bicara.”
Raito turun dari ring. Mira menyusul dari tribun, wajahnya penuh kelegaan tapi juga kekhawatiran.
Di ruang belakang kecil, Harlan duduk sendirian. Eclipse Stone ada di meja di depannya—batu bulat hitam dengan garis cahaya retak di dalamnya, seperti bintang yang terperangkap di malam.
“Kamu menang,” kata Harlan. “Tapi batu ini bukan untuk dijual begitu saja. Aku butuh bukti bahwa kamu layak. Bukan bukti kekuatan—bukti niat.”
Raito duduk di depannya. “Aku ingin pulang. Itu niatku.”
Harlan menggeleng. “Banyak orang bilang begitu. Tapi kebanyakan mati di portal. Karena niat mereka tercemar—keserakahan, dendam, ketakutan. Portal hanya terbuka untuk yang niatnya murni. Atau… untuk yang rela mengorbankan sesuatu yang paling berharga.”
Raito menatap batu itu. Cahaya di dadanya berdenyut pelan, seolah merespons keberadaan batu.
“Apa yang harus aku korbankan?” tanya Raito.
Harlan tersenyum tipis. “Itu yang harus kamu tentukan sendiri. Kalau kamu siap, batu ini akan memberitahu. Kalau tidak… batu ini akan membunuhmu.”
Raito diam lama. Lalu dia berdiri.
“Aku belum siap malam ini. Tapi aku akan kembali. Dan saat itu, aku akan tahu apa yang harus dikorbankan.”
Harlan mengangguk. “Aku tunggu. Tapi ingat—Shadow Serpent juga mengincar batu ini. Mereka akan datang lebih cepat dari yang kamu kira.”
Raito dan Mira keluar dari arena bawah tanah.
Di luar, hujan sudah berhenti. Langit Yorknew terlihat sedikit lebih cerah—atau mungkin hanya perasaan Raito saja.
Mira berjalan di sampingnya. “Kamu nggak ambil batu itu sekarang?”
Raito menggeleng. “Belum waktunya. Aku harus pastikan dulu… apa yang aku rela tinggalkan.”
Mira tidak bertanya lebih lanjut. Mereka berjalan pulang dalam diam.
Di dalam dada Raito, cahaya berdenyut pelan—seperti fajar yang masih ragu menyingsing, tapi sudah mulai terang.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Raito tidak takut pada kegelapan di depan.
Dia takut pada apa yang harus dia lepaskan untuk mencapai cahaya yang lebih besar.