NovelToon NovelToon
Senja Di Ruang Kelas

Senja Di Ruang Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila Kim

Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Dua Dunia

Pagi itu, Rizky tiba di sekolah dengan mata sembab. Semalaman ia tak bisa tidur, memikirkan apa yang terjadi di rumah Ima. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Ima tanpa hijab, dengan rambut terurai, selalu muncul. Sensasi sentuhan Ima masih melekat di kulitnya.

"Lo kayak habis begadang semalam," sapa Wira begitu melihatnya di parkiran. "Jangan bilang lo main game terus."

Rizky menggeleng malas. "Nggak bisa tidur aja."

Wira menatapnya curiga. "Lo yakin cuma itu?"

Rizky tak menjawab. Ia berjalan menuju kelas dengan langkah gontai. Wira mengikuti di belakang, mulutnya komat-kamit tapi tak bersuara.

Sepanjang pelajaran pertama, Rizky tak bisa konsentrasi. Matanya terus melirik jam. Jam pemberian Ima. Setiap kali melihatnya, ia teringat senyum Ima saat memasangkannya di pergelangan tangannya.

Pukul 09.30, istirahat pertama tiba. Rizky baru saja mau ke kantin saat ponselnya bergetar.

"Ke belakang lab. Cepat."

Rizky menelan ludah. Ia melihat sekeliling, memastikan tak ada yang memperhatikan, lalu berjalan ke arah belakang.

Di tempat yang sama seperti kemarin, Ima sudah menunggu. Hari ini ia memakai seragam putih abu-abu, rok panjang, dan hijab krem. Wajahnya segar, berbeda dengan Rizky yang kusut.

"Kamu kok kelihatan capek?" tanya Ima begitu Rizky mendekat.

Rizky mengangkat bahu. "Nggak bisa tidur."

Ima tersenyum. Ia mendekat, merapikan kerah baju Rizky dengan lembut. "Mikir-in Ima?"

Rizky mengangguk pelan.

Ima tertawa kecil. "Manis banget." Ia menatap Rizky lekat. "Ima juga mikirin kamu semalaman."

Tanpa bisa ditahan, Rizky meraih pinggang Ima dan menariknya ke dalam pelukan. Ima sedikit terkejut, tapi lalu tersenyum dan membalas pelukan itu.

"Hati-hati, Sayang," bisik Ima. "Bisa kelihatan."

"Tempat ini sepi," Rizky berbisik di telinga Ima. "Cuma kita berdua."

Ima melepas pelukan, menatap Rizky. Ada kilat nakal di matanya. "Kamu pengen apa, sih?"

Rizky tak menjawab dengan kata-kata. Ia menunduk dan mencium Ima. Ciuman pagi yang hangat, masih bercampur rasa pasta gigi.

Ima membalasnya sebentar, lalu melepas. "Stop, stop. Nanti Ima lupa diri."

Rizky tersenyum. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa segar.

"Nanti pulang sekolah, mampir lagi ya?" bisik Ima. "Ima masakin kamu makan siang."

Rizky mengangguk. "Iya."

"Udah, masuk dulu. Jangan bareng Ima."

Mereka berpisah. Rizky kembali ke kelas dengan langkah lebih ringan. Wira yang sudah duduk di bangku langsung menatapnya tajam.

"Lo dari mana lagi?"

"Ke toilet."

"Toilet belakang lab?" Wira menyipitkan mata. "Gue lihat lo dari jendela, jalan ke arah sana. Toilet kan di sebelah kantin."

Rizky terdiam. Wira menghela napas panjang.

"Zky, gue mohon. Jangan terlalu jauh. Masih bisa mundur."

"Gue nggak mau mundur."

"Lo nggak mau atau nggak bisa?"

Rizky menatap Wira. "Dua-duanya."

Wira menggeleng pasrah. "Gue udah ngingetin lo berkali-kali. Kalau nanti lo jatuh, jangan salahin gue."

---

Pulang sekolah, Rizky langsung meluncur ke rumah Ima. Ia sudah hapal jalannya sekarang. Belok kanan setelah lampu merah, lurus sampai perempatan, lalu masuk gerbang perumahan.

Ima membuka pintu dengan celemek daster. Rambutnya diikat ekor kuda, beberapa helai terlepas di pipi. Wajahnya sedikit berkeringat.

"Masuk, masuk. Ima lagi masak."

Rizky masuk. Aroma masakan tercium dari dapur. Ia mengikuti Ima ke dapur, duduk di kursi kecil sambil melihat Ima menggoreng ikan.

"Bantuin, nggak?" tanya Ima sambil tersenyum.

"Bantuin apa?"

"Ini, iris bawang."

Rizky berdiri dan mengambil pisau. Ima mengajarinya cara memegang pisau yang benar, dan lagi-lagi sentuhan itu membuat Rizky melayang.

Mereka memasak bersama seperti pasangan suami istri. Ima sesekali menyuapi Rizky masakan yang dicobanya. Rizky tertawa canggung.

"Ini enak," puji Rizky mencicipi sayur asem.

"Makannya banyak, biar gemuk." Ima mengelus rambut Rizky.

Selesai makan, mereka pindah ke ruang tamu. Ima merebahkan kepalanya di pangkuan Rizky sambil menonton televisi. Tangan Rizky mengusap rambut Ima yang kini tak berhijab.

"Kamu tahu," Ima memulai, "Ima suka banget momen kayak gini. Tenang. Damai."

"Suami Ima nggak pernah kayak gini?"

Ima diam sejenak. "Dia sibuk. Kalau di rumah pun, lebih banyak main HP. Atau tidur. Ima kayak... nggak ada."

Rizky menghela napas. Ia tak tahu harus berkata apa.

"Maaf kalau Ima terlalu banyak curhat," Ima berkata pelan.

"Nggak apa. Saya senang Ima cerita."

Ima menengadah menatap Rizky. Matanya berkaca-kaca. "Kamu baik banget, Rizky."

Rizky tersenyum. "Saya juga senang ada Ima."

Ima bangkit dan mencium Rizky. Ciuman panjang yang penuh makna. Tangan Ima meraih tangan Rizky dan membimbingnya ke tubuhnya. Rizky merespons dengan lembut.

Tapi kali ini, tak ada yang menghentikan mereka.

Ciuman itu makin dalam. Tangan-tangan mulai menjelajah. Ima melepas daster dan hanya tinggal dalam pakaian dalam. Rizky menahan napas melihat tubuh Ima yang putih dan berisi, dengan goyang yang menggoda.

"Kamu yakin?" bisik Ima.

Rizky mengangguk, suaranya serak. "Yakin."

Ima tersenyum dan menarik Rizky ke kamar.

---

Sore itu, di kamar Ima, Rizky kehilangan masa remajanya.

Ima membimbingnya dengan sabar. Mengajarinya apa yang harus dilakukan. Bagaimana menyentuh. Bagaimana mencium. Bagaimana memberi dan menerima kenikmatan.

Rizky seperti belajar lagi dari awal. Semua yang ia tahu dari film-film dewasa ternyata berbeda dengan kenyataan. Ima mengajarinya bahwa bercinta bukan hanya soal fisik, tapi juga soal perasaan.

"Perlahan, Sayang," bisik Ima di telinganya. "Rasakan."

Dan Rizky merasakan. Segalanya.

Saat semuanya berakhir, mereka berbaring dalam pelukan. Ima mengusap dada Rizky dengan jari-jarinya. Rizky mengecup puncak kepala Ima.

"Kamu hebat," bisik Ima.

Rizky tersenyum malu. "Ima yang ngajarin."

Ima tertawa kecil. "Iya, Ima emang guru yang baik."

Mereka tertawa bersama.

Tapi di balik tawa itu, Rizky tak sadar bahwa ia sedang melangkah di tepi jurang. Dan Ima dengan senang hati menuntunnya.

---

Satu minggu berlalu. Rutinitas Rizky berubah drastis. Pagi sekolah, siang ke rumah Ima, sore pulang, malam chatting dengan Ima sampai tidur. Nilainya mulai turun karena jarang belajar. Wira sudah tak banyak bicara, hanya sesekali melontarkan tatapan iba.

"Lo tahu nggak, kata gurumu kamu sering bolos jam pelajaran?" Wira bertanya suatu hari.

Rizky mengangkat bahu. "Gue urusin nanti."

"Lo urusin gimana? Lo pikir Bu Ima bakal bantu lo biar naik kelas?"

Rizky tersentak. Selama ini ia tak memikirkan itu.

"Gue cuma ngomong apa adanya, Zky. Hubungan lo sama dia itu... nggak sehat. Buat lo. Buat dia. Buat semuanya."

Rizky membisu. Sebenarnya ia tahu Wira benar. Tapi bagaimana cara berhenti?

Ponselnya bergetar. Lagi-lagi dari Ima.

"Rindu. Kapan ke sini?"

Rizky menatap layar itu. Lalu mengetik balasan: "Nanti sore."

"Lo balas lagi," Wira berkata pasrah. "Gue nggak bisa ngapa-ngapain. Tapi ingat, Zky. Semua yang lo lakukan ada konsekuensinya."

Rizky memasukkan ponsel ke saku. "Gue tahu."

"Lo tahu, tapi lo tutup mata."

Malam itu, saat Rizky berada di rumah Ima lagi, ia menanyakan sesuatu yang sejak lama mengganggunya.

"Ima, kalau kita ketahuan gimana?"

Ima, yang sedang mengelus dadanya, berhenti. Ia menatap Rizky lekat. "Kenapa tanya gitu?"

"Gue... mikirin aja. Takut."

Ima menghela napas. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela. "Ima juga takut, Sayang. Tapi Ima nggak bisa berhenti."

Rizky duduk di sampingnya. "Gue juga."

Ima menoleh. "Kalau sampai ketahuan, Ima yang tanggung jawab. Ima yang bakal dihukum. Bukan kamu."

"Tapi gue nggak mau Ima kenapa-napa."

Ima tersenyum getir. "Manis banget." Ia mengusap wajah Rizky. "Makanya kita harus hati-hati. Sangat hati-hati."

Malam itu, mereka bercinta dengan lebih lembut. Lebih penuh perasaan. Seolah-olah ini bisa jadi yang terakhir.

---

Dua minggu berlalu. Suami Ima akan pulang besok.

Rizky dan Ima menghabiskan sore terakhir bersama. Ima memasak makanan kesukaan Rizky. Mereka makan malam ditemani lilin. Lalu bercinta di setiap sudut rumah yang memungkinkan.

"Ini yang terakhir sampai dia pergi lagi," bisik Ima di sela-sela.

"Kapan dia pergi lagi?" tanya Rizky.

"Seminggu lagi."

Rizky menghela napas. Seminggu. Tujuh hari tanpa Ima. Tanpa sentuhan Ima. Tanpa ciuman Ima.

"Ima akan kangen kamu," bisik Ima.

"Gue juga."

Malam itu, Rizky pulang dengan perasaan hampa. Ia menatap jam tangannya. Jam pemberian Ima. Janji diam-diam di antara mereka.

Di kost, Wira sudah menunggu. "Lo dari rumahnya?"

Rizky mengangguk.

Wira menghela napas. "Suaminya pulang besok, kan? Kabar udah tersebar di grup guru."

Rizky tak kaget. "Iya."

"Lo bakal bertahan seminggu?"

Rizky mengangkat bahu. "Harus."

Wira duduk di sampingnya. "Zky, gue nggak akan ngomelin lo lagi. Tapi tolong, jaga diri lo baik-baik. Jangan sampai ada yang curiga."

Rizky menatap Wira, terharu. "Makasih, Ra."

"Udah, lo istirahat. Muka lo kayak mayat hidup."

Wira pergi. Rizky merebahkan diri di kasur. Ponselnya bergetar.

"Selamat malam, Sayang. Jaga diri. Ima sayang kamu."

Rizky membalas: "Ima sayang kamu juga."

Ia memejamkan mata. Seminggu tanpa Ima. Bisa kah ia bertahan?

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!