NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Oliver Kembali

Seorang pemuda berkaca mata bening terlihat melangkah takut-takut di rooftop SMA Starlight.

Mati-matian dia mengumpulkan niat dan keberanian sejak tadi, namun semuanya langsung buyar ketika matanya menangkap Oliver lagi tidur di kursi kayu panjang.

"Oliver!" panggilnya takut-takut.

Demi Tuhan, dia mau pensiun aja jadi ketua kelas setelah ini.

"Ngapain lo ke sini?"

"A-anu, lo di suruh ngumpulin tugas makalah sama bu Retno."

"Gue nggak mau," jawabnya dingin.

Ansori makin merinding sekarang. Pasalnya, sudah tiga Minggu penuh, sikap Oliver benar-benar berubah. Dia makin sadis dan tak terkendali.

"Tapi kan Oliv-"

"Pergi!"

"Bu Retno suruh kumpulin-nya sekarang."

"GUE BILANG PERGI!" bentak Oliver langsung berdiri dan menarik kerah Ansori kasar, "Kalau gue udah bilang pergi, itu artinya lo harus pergi. Ngerti?" tanyanya tajam.

"I-iya-iya, gue ngerti." Ansori mengangguk ketakutan.

"Anjing!" umpat Oliver mendorong tubuhnya kasar.

Mood Oliver semakin buruk sekarang, membuatnya memilih turun ke bawah.

Rahangnya mengeras samar, tatapannya tajam terkesan dingin dan angkuh. Dia melangkah di koridor yang ramai, membuat semua orang memberikan jalan.

Brak!

Bahunya tidak sengaja di tabrak seseorang, membuat junior itu membelalak.

Oliver berhenti dan mengerling tajam.

"Ma-maaf kak Oliver! Aku nggak-"

BUGH!

Kepalan tangan Oliver mendarat keras ke rahang siswa itu, membuat murid-murid menjerit kaget.

"Punya mata nggak lo?" bentaknya.

"Ampun kak, ampun! A-aku minta maaf!"

"Bangsat!" umpatnya mendorong siswa itu kasar.

Wajah semua orang pias-menatap ngeri cowok itu.

"Oliver, stop!" Vicky berlari, menahan lengannya.

"NGGAK USAH SENTUH GUE!" sentaknya kasar dan berlalu pergi.

Orang-orang mulai sibuk bisik-bisik.

Vicky diam sebentar dengan mata memerah, sebelum akhirnya menyusul Oliver yang menaiki tangga menuju ke gedung IPS.

"Oliver!"

"Apa lagi? Belum puas lo udah rusak semuanya?" tanyanya dingin.

Setetes air mata jatuh di pipi Vicky, "Aku minta maaf buat-"

"Terlambat anjing. Gue udah kehilangan cewek gue sekarang."

Oliver menatap Vicky tajam.

"Asal lo tau, gue nyesel banget karena pernah nerima lo dulu."

Vicky mendongak, menatap Oliver dengan perasaan terluka.

"Jadi kamu nyesel terima aku?"

Oliver tersenyum sinis, "Menurut lo? Lo harus tau, kalau dari awal gue terima lo itu karena gue nolong lo biar nggak malu. Tapi lo bener-bener rusak dunia gue dan bikin satu-satunya cewek yang gue cinta pergi gitu aja."

Air mata Vicky mengalir begitu saja. Ingatannya di lempar pada kejadian setahun lalu, saat dia menyatakan suka ke Oliver di sebuah kafe, di depan banyak orang.

"Jadi kamu lakuin itu bukan karena sayang aku?"

"Menurut lo?" tanyanya tajam, "Lo tau sendiri, sejak awal gue nggak tertarik sama lo. Tapi saat gue mulai sayang Aqqela, lo justru bikin semuanya berantakan tau nggak. Lo bener-bener memuakkan."

"Aku-"

"Jangan ganggu gue lagi setelah ini! Bahkan setelah Aqqela pergi dari gue, gue nggak akan peduli sama lo. Kita selesai," katanya dan berbalik pergi.

"Oliver-"

"JANGAN GANGGU GUE!" bentaknya benar-benar murka membuat Vicky langsung menciut, "Lo budeg? Jangan muncul lagi! Jaga jarak dari gue! Sampai kapan pun, cewek yang gue sayang cuma Aqqela. Ngerti lo?"

Oliver langsung menaiki tangga, meninggalkan Vicky yang merunduk menangis pelan dengan dada sesak.

***

Oliver duduk di bangku kelas yang paling pojok dengan wajah murung. Pemuda itu merunduk melihat layar ponsel dan men-scrool galeri yang memperlihatkan foto-foto dirinya bersama Aqqela.

Cantik.

Oliver menggigit bibir, menyentuh wajah Aqqela di layar ponselnya.

"Aku kangen banget sama kamu!"

Oliver tersenyum miris, "Kamu ada dimana sekarang?"

Memorinya kini seakan tergerak, menjadi lensa kamera.

Tepatnya ke satu tahun lalu, saat dia menemukan NatusaAqqela untuk pertama kalinya.

Oliver menuruni tangga sambil membawa payung biru di tangan. Alisnya terangkat melihat seorang siswi berdiri di koridor, melihat hujan yang membasahi lapangan olahraga.

"Jatuh cinta itu, saat kita merelakan orang yang kita sayang bersama orang yang dia sayang demi kebahagiaannya," kata Aqqela membaca tulisan di HP-nya. Dia menghela napas, "Pedih, lur."

Oliver mengusap pangkal hidungnya, menahan tawa, menatap gadis yang jadi pasangannya saat MOS waktu itu, sebagai raja dan ratu.

"Lo nggak pulang?" tanya Oliver.

Aqqela menoleh, "Eh?"

Dia mengerjap-ngerjap menatap teman se-angkatan-nya, yang terkenal bandel sejak awal MOS itu.

"Gue nggak bisa ke parkiran, soalnya nggak bawa payung."

"Mau bareng ke parkiran?"

"Boleh?"

"Boleh." Oliver melepaskan jaketnya dan memakaikan ke tubuh Aqqela yang tersentak, "Pakai!"

"Eh, tapi ini kan punya elo."

"Lagi dingin banget. Pakai aja!" Oliver mengangkat payungnya, "Ayo!" Dia menggenggam tangan Aqqela.

Aqqela meringis lebar dan bergabung ke payungnya, "Makasih, ya!"

Anak-anak yang sedang menunggu hujan reda jadi membulatkan mata melihat Oliver bersama Aqqela kini melangkah menyebrangi lapangan bersama.

Oliver tersenyum samar, "Lo Aqqela, kan?"

Aqqela mengangguk, "Kok tau?"

"Kita jadi raja dan ratu MOS waktu itu. Jelas gue tau."

"Oh, iya lupa." Aqqela tertawa pelan dan menoleh ke Oliver, bersamaan dengan Oliver yang merunduk.

Pemuda itu tersentak, memandang dekat wajah Aqqela dengan rambut gadis itu di terpa angin dan tetesan air hujan.

Dia melebarkan mata, merasa terpana.

"Makasih banyak, ya! Gue hari ini ada jadwal les sore soalnya. Untung ada elo hehe," katanya cengengesan.

Oliver mengalihkan wajah. Senyumnya membuat Oliver gugup. Tapi dia terkejut saat ponselnya ber-denting.

Dia berhenti sejenak dan melihat chat masuk dari ayahnya.

Papa: Sidang putusan mama kamu besok.

Kalau dia terbukti salah, kamu ikut tinggal sama papa.

Rahang Oliver mengeras begitu saja.

***

Fattah melangkah memasuki lapangan olahraga dan mendekati teman-temannya yang lagi mengobrol di kursi pinggir lapangan sambil tertawa-tawa riang.

Bahkan Noel menabok-naboki Mattew saking ngakaknya.

"Kenapa si Noel girang amat mukanya?" tanya Fattah duduk di samping Jefan.

"Mattew niatnya mau bujuk Catu yang lagi ngambek, bawain balon dan boneka ke rumahnya, eh malah di usir bapaknya AHAHAHAHAHAH!"

Noel kembali tertawa ngakak.

"Nggak usah di bahas njing," gerutu Mattew.

"Eh-eh nyet, 11 IPA 1 jam-nya olahraga ya?" heboh Noel.

"Hm?" Fattah mengangkat sebelah alis dan menoleh, melihat gerombolan murid 11 IPA 1 memasuki lapangan.

"CATU, DAPAT SALAM RINDU DARI MATTEW!" teriak Noel, membuat Catu yang berjalan bersama Aqqela jadi menoleh.

Mattew membelalak malu dan menabok kepalanya, "Setan lo!"

"Sayang, semangat olahraga-nya!" seru Jefan pada Aya.

"CIAAAAAAAAA!" sorak anak-anak 11 IPA 1 kompak, sementara Aya sudah salah tingkah bukan main.

"Woi-woi diem, Aya salting," kata Aqqela tertawa puas.

"Enggak, ihh. Ck, Aqqela..." rengek Aya dengan wajah memanas sambil memeluk lengan Aqqela malu-malu.

"Catu, kalau olahraga, sekalian lari-lari di hatiku dong," seru Mattew membuat Catu membelalak.

"WOOOOOO!!" Anak-anak bersorak rusuh, sementara Catu membuang muka sebal.

"Ayo baris, kita pemanasan!" seru Arsen.

Noel dan lainnya masih tertawa-tawa membuat Fattah menoleh sengit.

"Sssstt diem, njing!" Decak Fattah kembali menatap Aqqela yang pemanasan di sebelah Catu.

"Uhuy cuit-cuit," goda Mattew.

Noel ikut merapat, "Heh, image kita tuh harus tetap classy dalam mencintai wanita. Kayak gue nih," katanya sombong, lalu melihat ke kumpulan anak 11 IPA 1, "AQQELA!"

Aqqela yang sedang mengikuti gerakan pemanasan Arsen jadi menoleh kaget.

"Jangan pemanasan terus, dong! Manasin hati akunya kapan? Dingin nih, tidak ada penghuninya."

"PIWIT-PIWIT!" Mattew menambahi.

"Itu lebih norak goblok," umpat Jefan, "Bikin malu lo."

"Bangsat!" kata Fattah menabok kepalanya membuat Noel cengengesan.

"Orang gila." Aqqela melengos tidak peduli. Sementara Fattah menatapnya dengan bibir tersenyum kecil sejak tadi.

"Udah baikan?" sindir Jefan.

"Udah lah," balasnya membuat yang lain mendelik.

"Halah, bentar lagi juga minggat lagi si Aqqela," kata Noel sok tau.

Fattah mendengus jengkel, "Kali ini gue bakalan lebih sabar ngadepin dia," katanya sungguh-sungguh.

"Cuih, nggak percaya gua," kata Mattew serius, membuat Fattah memutar bola matanya.

"AQQELA, DI CARIIN FATTAH. I LOVE YOU KATANYA," seru Noel membuat Fattah membelalak.

Aqqela menoleh bingung.

"Kyaaaaa!" Sorak Mattew, "Aqqela, kata Fattah lo cantik," godanya membuat Fattah semakin mengumpat.

"Iya anjir, tadi dia bilang mau nembak elo, tapi takut, soalnya lo galak," kompor Noel.

"Za, nggak usah percaya!" panik Fattah menyikut temannya sebal.

"AIGUUUUUUU!!" goda Aya, Catu, Vania dan anak-anak cewek 11 IPA 1 meleleh kompak.

"Loh Fat, cewek lo beneran ganti? Kemarin katanya sama Vanilla?" kata Jefan tanpa dosa.

"Qell, jangan mau sama Fattah, ceweknya banyak," kata Mattew membuat Fattah menendangnya.

"Nggak usah fitnah anjing!"

"Loh-loh, kok panik, bos? E CIEEEE TAKUT AYANGNYA SALAH PAHAM CIEEE!" goda Noel.

Aqqela sendiri mengalihkan wajahnya mencoba tenang.

"E CIEEEEEEE!" Aya, Catu dan Vania memepet telinga Aqqela menggodai.

"Apa, sih?" Decak Aqqela sebal.

"Eh-eh, kok guru olahraganya pak Edo?

Biasanya pak Sofyan, kan?" seru Jefan menatap guru muda yang baru datang.

"Pak Sofyan nggak datang kali, makanya di gantiin pak Edo," balas Mattew dan mendecak tak senang, "Kenapa dah itu guru kalau ada murid pemanasan, pasti sengaja ke belakang? Sengaja kali mau lihat pantatnya murid?"

"Tau sendiri tuh guru emang mesum," balas Noel.

"Ayo-ayo, kita langsung penilaian basket," seru pak Edo.

Fattah memperhatikan Aqqela yang lagi tertawa pelan bersama Dani-teman sekelasnya sambil menunggu giliran penilaian.

Fattah mendecak geram.

"DAN!" serunya membuat Dani menoleh kaget, "Lo mau gue kandangin?"

"Eh?" Dani mengerjap-ngerjap dan menoleh ke Aqqela yang mendelik juga.

Dani meringis dan buru-buru pergi, "Sorry Qell, pawang lo serem."

Aqqela menoleh sengit ke Fattah yang mendengus masa bodoh.

"Aw, mulai cemburuuu," goda Noel.

"Ayo, sekarang giliran Aqqela!" seru pak Edo tersenyum.

Aqqela mengambil alih bola basket yang di lemparkan Vania padanya. Dia men-dribble bola itu sesaat.

"Heh, diem!" kata Fattah fokus menonton.

Noel dan lainnya merapat, ikut menonton.

"Yang ceria, dong! Kan ada gue," celatuk Fattah membuat Aqqela ternganga.

"GAS TERUS FATT!" kata Noel membuat Fattah tertawa puas dan ber-tos ria dengan Jefan.

"YOK, GOCEK TERUS! JANGAN KASIH KENDOR BOS," kata Mattew.

Fattah sudah tersenyum-senyum melihat wajah kesal Aqqela.

"Diem deh lo!" kata Aqqela sebal.

"Langsung cetak poin Ca, nggak usah malu gue tonton!" kata Fattah.

"Idih," ucapnya sewot sambil men-dribble bola itu, memulai penilaian.

Aqqela cukup pandai mencetak tiga poin dalam empat kali percobaan.

Namun tawa Fattah luntur saat pak Edo memanggil gadis itu mendekat.

"Kamu gabung di tim basket sekolah, ya! Mau, kan?" kata pak Edo membuat Aqqela tersentak saat tangannya di genggam pria itu dan di usap-usap lembut.

Aqqela berusaha menepis-karena risih, namun pria itu justru semakin gencar melakukan tindakannya.

"Pak, ini di lanjut nggak?" seru Arsen sengaja.

"Sebentar, dong! Sabar!" omelnya, lalu menatap Aqqela, "Gimana? Kamu ada nomor HP?

Nanti bapak ajarin sendiri biar lebih private."

Pak Edo mengerling nakal menatap tubuh Aqqela, "Badan kamu seksi buat jadi atlet," bisiknya.

Aqqela membelalak dan mengeraskan rahang.

"BRENGSEK!!"

BUGH!!

Semua orang tersentak kaget saat Fattah tiba-tiba menarik lengan pak Edo dan melayangkan pukulan keras ke rahang gurunya itu, hingga pria itu tersungkur ke lapangan.

Wajah semua orang pias-melihat kekalapan Fattah.

"Fattah, kamu apa-apaan?" bentak pak Edo.

Fattah menarik kerah pria itu dan melayangkan pukulan keras ke pelipisnya.

"Gue hargain lo jadi guru, tapi nggak usah kurang ajar bangsat!"

BUGH!!!

Kepalan tangan Fattah mendarat keras ke rahang pak Edo.

Keadaan makin histeris tidak terkendali, dengan murid-murid berlari mendekat mencoba memisahkan, termasuk Arsen.

"ISTIGHFAR BOS, YA ALLAH!" Rancau Noel lebay.

"Tahan woi, tahan!"

"FATT KALEM WOI, MASIH PAGI!" Mattew menarik-nariknya mundur.

"Fattah, udah!" Aqqela menarik lengannya untuk mundur.

Tatapan Fattah menatap nyalang guru itu, "Lo sentuh Aqqela lagi, habis lo sama gue!" ancamnya membuat pak Edo menelan ludah.

"APA-APAAN INI?"

Suara pak Bondan-guru ter-galak sepanjang abad kini terdengar.

***

Aqqela berkali-kali melirik ke pintu ruang kepala sekolah-barangkali Fattah sudah keluar.

Pertengkaran Fattah dan pak Edo mendadak jadi trending topic di SMA Taruna Jaya Prawira.

Bahkan, bagian depan ruang kepala sekolah sudah di penuhi murid-murid yang kepo. Terlebih saat dari jendela, mereka melihat pak Edo nyerocos memberi pembelaan dengan berapi-api.

Karena perbuatannya juga, orang tua Fattah di panggil ke sekolah.

Ceklek!!!

Fattah keluar ruangan, membuat Aqqela menghampiri cepat.

"Gimana hasilnya? Elo nggak di drop out, kan?"

Fattah menoleh kaget, "Kok lo di sini?"

"Ck, ya panik, lah. Kan elo kayak gitu karena gue juga."

"Dia nggak sampai parah, kan?" tanyanya serak.

Aqqela tertegun sesaat, "Enggak kok." Dia menggerakkan bola mata agak canggung, "Makasih, ya!"

"Kenapa?"

"Gue nggak mau di bilang nggak tau diri dengan ngomong, 'harusnya elo nggak usah berantem, cuma buat belain gue'. Jadi gue bilang makasih. Sebenarnya tadi udah mau gue tendang, tapi keduluan elo."

Fattah terkekeh pelan.

"So, elo di hukum apa?"

"Di skors Seminggu."

"Wah, selamat, ya!"

Fattah mendelik, "Kok selamat?"

"Pasti lo seneng karena bisa rebahan satu Minggu."

"Yeee sembarangan!" Fattah mengacak-acak poni cewek itu, membuat murid yang memenuhi depan ruang kepala sekolah jadi meleleh envy.

Ceklek!

Pintu kembali terbuka, menampilkan orang tua Fattah.

Aqqela tersentak, membuat Fattah segera menarik lengannya agar gadis itu bersembunyi di belakangnya.

Jordan menipiskan bibir menatap putranya dengan hembusan napas lelah.

"Maaf, pi!" ucapnya.

Pria itu tersenyum dan mengusap kepala Fattah yang mendongak, "Kenapa cuma kamu tonjok doang? Harusnya kamu banting aja sekalian guru mesum kayak begitu."

Aqqela ikut membelalak, agak kaget.

"Kamu itu loh, ngajarin anak kamu nggak pernah bener," omel Amanda, lalu menatap Fattah, "Fattah, lain kali kamu jangan gitu lagi! Langsung lapor sama guru, kasih bukti foto atau apa. Kalau kayak gini, kamu yang rugi."

Fattah mengangguk, "Iya, mi."

Amanda menatap gadis yang bersembunyi di belakang Fattah dan tersenyum geli, "Itu, ya?" godanya.

Fattah meruntuk jadi malu, dengan pipi memanas.

"Hm." Dia mengangguk pelan.

"Sayang, sini!" Amanda menarik lengan Aqqela, membuat gadis itu tersentak dan menempelkan pipinya ke lengan Fattah-mengintip kecil.

"Loh, kamu yang di bawa sama Fattah waktu itu, kan?" tanya Amanda.

Aqqela mengangguk, "Maaf, tante! Gara-gara aku, Fattah jadi-"

"Eh, nggak papa. Namanya juga belain orang yang di sayang, wajar kok," kata Amanda membuat Aqqela mendelik.

"Ck, apaan sih, mi. Orang aku nggak sayang," elak Fattah kesal membuat Aqqela melirik sinis.

"Ah, masa?" goda sang ayah.

Amanda terkekeh dan mengusap kepala Aqqela, "Kapan-kapan main ke rumah lagi, ya!"

"Iya tante." Aqqela melirik ke Jordan yang menatapnya dingin.

"Apa kamu lihat-lihat?" tanya Jordan datar membuat Aqqela sembunyi di belakang tubuh Fattah lagi.

"Pi, nggak usah nakutin dia, deh!" decak Fattah tak senang.

Amanda tertawa geli, "Maaf ya Aqqela! Suami tante emang galak, tapi aslinya baik kok. Jangan takut!"

Aqqela mendengus tak habis pikir.

Kenapa ibunya Fattah yang sebaik itu, harus ber-jodoh dengan ayahnya Fattah yang seperti harimau hutan?

***

"AQQELA!" Panggil Aya heboh.

Catu dan Vania ikut menoleh, melihat Aqqela baru berpisah di koridor dengan Fattah yang memasuki kelasnya, 11 IPS 1.

"Woi, gimana tadi, gimana? Anjir Qell, puas banget gue lihat pak Edo babak belur," cerocos Vania mendekat.

"Gue nggak nyangka beneran, kalau Fattah bisa se-nekat itu. Langsung di bogem mentah-mentah anjayyy. Merinding gue," kata Catu.

"SAMA," heboh Aya.

"Tuh anak kadang-kadang emang agak sinting," kata Aqqela tak habis pikir.

"Tenang Qell, kerjaan dia aja keluar masuk BK.

Aman-aman," kata Vania.

"Tapi keren tau Qell, gue sampai ngayal kalau itu gue yang di belain, udah kayak di FTV-FTV gitohhh," rengek Aya super lebay.

"Lagian pak Edo emang terkenal mesum dari dulu. Rumornya pernah pacaran sama kak Chaquita, kan?" kata Catu di angguki yang lain.

Aqqela menipiskan bibir, dengan kepala tanpa sengaja terdongak ke atas-tepatnya ke koridor lantai 3 yang bisa dia lihat dari koridor lantai 2.

"Eh?"

Aqqela tersentak. Matanya memicing melihat sosok pemuda berwajah blesteran yang tak asing baginya.

"Kenapa, Qell?"

"Itu!" Aqqela menunjuk cowok yang sedang berdiri sambil menumpukan tangannya ke pembatas besi bersama dua temannya, "Dia siapa?"

Vania mengeryit, "Yang mana?"

"Yang tengah."

"Oh, yang bule itu? Dia kak Luken."

"Lu-can-ne dodol."

"Bacanya Luken bodoh," balas Vania sewot ke Aya.

"Lucanne?" Aqqela mengeryit.

"Kenapa? Cakep, ya?" tanya Catu menggoda, lalu merangkulnya dan membawa gadis itu pergi, "Dia itu mantan ketua OSIS periode sebelumnya.

Sebelum lengser di ganti sama Arsen."

"Oh..." Aqqela manggut-manggut.

"Nah, kak Lucanne itu salah satu mostwanted-nya sekolah, elo wajib tau. Selain pintar, ya karena cakep juga, sih. Apalagi doi blesteran Indonesia Belanda, cuy."

"Kenapa nanyain? Suka?" tanya Aya.

"Ck, apa sih lo gosip aja," cibir Aqqela membuat temannya tertawa.

Sementara Aqqela tidak sadar, walaupun mengobrol bersama dua temannya, mata hazelitu berkali-kali melirik ke arahnya yang menjauh.

***

Pagi itu, SMA Taruna Jaya Prawira sudah di sibukkan menerima tamu para atlet-atlet basket muda berbakat dari berbagai sekolah, karena hari ini turnamen Basket Se-Jawa-Bali resmi di laksanakan, dengan SMA Taruna Jaya Prawira di dapuk sebagai tuan rumahnya.

Selain memang di juluki sekolah olahraga, SMA Taruna Jaya Prawira memiliki gedung olahraga besar dan fasilitas yang lengkap.

Terlihat, bus-bus dari berbagai sekolah sudah berjajar rapi di halaman besar SMA Taruna Jaya Prawira dengan para guru sekolah menyambut kedatangan mereka dengan hangat, bersama para murid.

Dan sekarang, bus dari SMA Starlight terlihat memasuki halaman sekolah.

"Buset, gue nggak nyangka kalau penyambutannya se-meriah ini," celoteh Jimmy melihat jendela bus sekolahnya yang baru masuk halaman.

"Gue berasa kayak Presiden anjir," kata Diego semangat.

"Lebay lo berdua!" umpat Oliver.

Oliver sebenarnya kurang minat datang kemari. Percuma, dia tidak akan bertemu Aqqela, karena gadis itu masih menghilang.

Satu persatu atlet dan tim cheerleaders mulai menuruni bus.

"Ayo, Oliv!" ajak Jimmy.

"Wait!" Oliver yang memakai earphone putihnya, sibuk menaruh ransel ke bahu kanannya dan segera turun menyusul yang lain.

Keadaan langsung histeris seketika.

"KYAAAAAAAA OLIVER!"

"WO-WO-WO, OPPAAAAA!!!"

"Ganteng banget woi, buset dah! Notice aku!"

"Oliv, tanggung jawab! Ginjal gue bergetar."

Oliver melangkah tidak peduli melewati barisan gadis-gadis itu menuju ke GOR sekolah bersama tim dari sekolahnya, karena upacara pembukaan di mulai jam 8.

"Oliv, Oliver! Itu Aqqela, kan?" tunjuk Diego heboh, tepat ketika mereka memasuki gedung olahraga SMA Taruna Jaya Prawira.

Oliver yang tadinya murung, jadi tersentak dan menatap ke arah yang di tunjuk Diego.

"Mana?"

"Itu!"

Matanya se-perkian detik melebar melihat Aqqela memakai jas OSIS warna navy, terlihat sibuk berdiri di tengah lapangan bersama Arsen-ketua OSIS mengatur persiapan turnamen.

Sebagai seksi olahraga, Aqqela memang yang super sibuk di sini, apalagi ini project pertamanya sejak bergabung di OSIS Taruna Jaya.

"Cakra, podium-nya kurang ke tengah, deh! Sama cek sound system-nya juga, takutnya eror!" seru Aqqela lantang.

Cakra dan anggota OSIS lain segera mengatur.

"Gimana? Udah oke, kan?" tanya Cakra.

"Oke, sip. Kayaknya udah semua deh, Sen."

Aqqela merunduk melihat ke arah meja dada di tangannya.

Cowok berwajah kalem itu merunduk melihat catatan Aqqela, "Yakin nggak?"

"Iya. Bola, lapangan, ring, podium buat pembukaan, udah semua. Kita cuma tinggal absen buat atlet-atlet yang udah datang sama yang belum."

Alis Arsen terangkat, "Terus papan skor-nya udah lo cek?"

"Oh iya, aduh. Sorry-sorry! Gue kelupaan," katanya cengengesan.

Arsen terkekeh pelan, "Sana cek!" suruhnya kalem.

"Oh oke, bentar, ya!" katanya berbalik badan dan langsung tersentak kaget, membuat Arsen mengeryit-ikut menoleh.

Tubuh Aqqela se-perkian detik membeku. Matanya membulat melihat Oliver berlarian cepat dan terengah memasuki lapangan GOR, membuat orang-orang di tribun terkejut kaget.

Kaki Aqqela mundur beberapa langkah, masih syok, sebelum akhirnya berbalik badan dan melangkah pergi.

"Aqqela...!" Oliver menarik tangannya cepat-mencegah gadis itu pergi dan langsung menyentakkan tubuh Aqqela ke arahnya tanpa basa-basi dan memeluknya erat dari belakang.

Aqqela melebarkan mata saat tubuhnya di peluk dari belakang dan di dekap erat, dengan wajah pemuda itu di letakkan di bahunya, membuat semua atlet dari berbagai sekolah membulatkan mata-syok tak menyangka melihat kejadian seperti ini.

"Semuanya bisa kita omongin pelan-pelan! Bukan begini caranya, Qell! Nggak dengan kamu langsung pergi dari aku."

Aqqela berusaha menepis pelukan cowok itu, tetapi Oliver kian kuat merengkuhnya.

"Aku sayang sama kamu! Please, don't go again!"

Yang satu murid baru, yang terkenal cantik dan pintar di SMA Taruna Jaya Prawira.

Yang satu lagi bosgeng utama SMA Starlight yang terkenal sebagai ketua club motor XLOVENOS dengan wajah tampan dan banyak penggemar.

Keduanya sukses menjadi pusat perhatian.

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!