"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 DI PERSIMPANGAN CINTA DAN ADAT
Hari-hari setelah percakapan penuh makna itu terasa semakin dewasa. Tidak ada perubahan dramatis, tidak ada janji besar yang diumbar, tetapi ada ketenangan yang tumbuh di antara kami. Aku dan Nisa sama-sama memahami bahwa perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling siap.
Pagi-pagiku tetap dimulai dengan rutinitas yang sama. Suara mesin motor bekasku masih menjadi irama pembuka hari. Aku membersihkannya dengan telaten, memastikan semuanya dalam kondisi baik. Entah mengapa, setiap kali memutar kunci dan mendengar mesin menyala halus, aku merasa seperti sedang menghidupkan tekadku sendiri.
Di kantor, tanggung jawabku semakin bertambah. Proyek yang kupimpin sukses, dan atasanku mulai memberiku kepercayaan lebih besar. Suatu siang, beliau berkata, “Kalau kamu terus konsisten seperti ini, bukan tidak mungkin kamu akan naik posisi tahun depan.”
Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Tapi di balik itu, pikiranku langsung tertuju pada masa depan. Kenaikan posisi berarti kestabilan yang lebih baik. Kestabilan berarti kesiapan.
Sore hari tetap menjadi waktu favoritku. Membeli cemilan sebelum pulang sudah seperti ritual wajib. Kali ini aku membawa donat dan beberapa gorengan hangat. Sesampainya di rumah, mama menyambutku dengan senyum lembutnya dan secangkir teh manis yang selalu pas rasanya.
“Kamu kelihatan makin serius sekarang,” kata mama suatu sore.
Aku tertawa kecil. “Serius bagaimana, Ma?”
“Serius memikirkan hidup.”
Aku hanya tersenyum. Mama memang selalu bisa membaca perubahan kecil dalam diriku.
Hubunganku dengan Nisa pun semakin stabil. Kami mulai berbicara tentang nilai-nilai hidup, tentang bagaimana kami memandang pernikahan, tentang peran suami dan istri dalam keluarga. Percakapan itu tidak selalu ringan, tetapi selalu jujur.
Suatu malam, Nisa berkata, “Aku ingin jika suatu saat menikah, pernikahan itu menjadi tempat bertumbuh. Bukan hanya tempat singgah.”
Kalimat itu membuatku berpikir dalam. “Aku juga ingin seperti itu,” jawabku. “Bukan sekadar bersama, tapi saling menguatkan.”
Beberapa minggu kemudian, aku memberanikan diri untuk berbicara lebih konkret. Aku mengatakan padanya bahwa jika dalam beberapa waktu ke depan semuanya tetap baik, aku ingin datang secara resmi ke rumahnya bersama keluargaku.
Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Aku menghargai niatmu. Tapi pastikan kamu benar-benar siap. Bukan hanya siap secara perasaan, tapi juga tanggung jawab.”
Aku mengangguk meski ia tidak bisa melihatku. “Aku akan memastikan itu.”
Sejak saat itu, fokusku semakin tajam. Aku menyusun rencana keuangan dengan lebih serius. Mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Bahkan mulai mempertimbangkan mencari penghasilan tambahan kecil-kecilan.
Motor bekasku tetap menjadi saksi perjalanan panjang ini. Suatu hari, saat aku mengantarkan Nisa pulang setelah kegiatan kampus, ia memegang jaketku sedikit lebih erat karena angin malam cukup kencang.
“Terima kasih ya sudah selalu ada,” katanya pelan.
Aku tersenyum. “Terima kasih juga sudah mau berjalan pelan-pelan bersamaku.”
Hidup memang tidak selalu mulus. Di kantor, pernah ada tekanan besar saat target mendekati tenggat waktu. Aku pulang lebih larut dari biasanya. Tubuh lelah, pikiran penuh.
Namun begitu sampai rumah dan mencium aroma masakan kakak serta melihat mama tersenyum sambil menyodorkan teh manis, rasa lelah itu perlahan mencair.
Malam itu, Nisa mengirim pesan sederhana: “Jangan lupa istirahat. Kamu bukan robot.”
Aku tersenyum membaca itu. Perhatian kecil seperti itu terasa besar artinya.
Waktu terus berjalan. Hubungan kami semakin matang. Tidak lagi sekadar tentang rasa suka, tetapi tentang visi bersama. Tentang bagaimana kami ingin membangun keluarga yang hangat seperti yang kurasakan di rumahku.
Suatu sore, aku duduk sendirian menatap motor yang terparkir rapi. Aku teringat pertama kali membelinya, bagaimana aku merawatnya dengan penuh tanggung jawab. Semua butuh proses. Tidak instan.
Begitu juga dengan hubungan ini.
Aku masuk ke dalam rumah dan duduk bersama mama. Dengan suara pelan tapi mantap, aku berkata, “Ma, kalau semuanya berjalan baik, aku ingin serius melangkah.”
Mama menatapku lama, lalu tersenyum penuh haru. “Kalau itu pilihanmu dan kamu siap, mama akan mendukung.”
Malam itu, aku mengirim pesan pada Nisa.
“Aku sudah bicara pada mama.”
Beberapa menit kemudian ia membalas, “Aku juga akan bicara pada orang tuaku.”
Aku menatap layar ponsel dengan perasaan campur aduk antara haru dan tegang. Ini bukan lagi sekadar cerita manis. Ini adalah langkah nyata.
Di dalam hati, aku berdoa agar semua berjalan baik. Agar niat baik kami dipermudah. Agar perjalanan yang dimulai dari satu pesan sederhana itu benar-benar berakhir pada sesuatu yang diridai.
Aku merebahkan diri malam itu dengan rasa syukur yang dalam. Dari motor bekas yang kurawat sepenuh hati, kantor yang penuh kehangatan, keluarga yang selalu mendukung, hingga seorang perempuan bernama Nisa yang hadir membawa harapan—semuanya terasa seperti rangkaian takdir yang indah.
Dan aku tahu, ini bukan akhir cerita.
Ini baru bab berikutnya.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Suatu malam, setelah aku memberanikan diri menceritakan lebih detail tentang Nisa—tentang keluarganya, latar belakangnya, dan keyakinannya—wajah mama berubah pelan. Tidak marah, tidak membentak, tetapi ada keseriusan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Kalian beda agama?” tanya mama pelan.
Aku mengangguk. Tenggorokanku terasa kering.
“Dan dia bukan orang Batak?”
Aku kembali mengangguk.
Mama terdiam cukup lama. Suasana ruang tengah mendadak hening. Hanya suara jam dinding yang terdengar berdetak pelan.
“Raymond,” ucap mama akhirnya, “mama bukan tidak suka dengan dia. Mama yakin dia perempuan baik. Tapi perbedaan agama itu bukan hal kecil. Dan soal suku… sejak dulu mama berharap kamu mendapatkan istri yang satu adat, satu budaya, supaya lebih mudah ke depannya.”
Kata-katanya tidak keras, tapi terasa berat. Aku tahu mama berbicara bukan karena benci, melainkan karena kekhawatiran.
“Kita ini orang Batak,” lanjutnya. “Adat kita kuat. Pernikahan bukan cuma soal dua orang, tapi dua keluarga besar. Mama ingin menantu yang mengerti adat kita, bahasa kita, kebiasaan kita.”
Aku menunduk. Di satu sisi, aku mengerti kekhawatiran mama. Aku lahir dan besar dalam keluarga yang memegang adat dengan kuat. Di sisi lain, perasaanku pada Nisa tidak bisa begitu saja kuabaikan.
“Aku tahu ini tidak mudah, Ma,” kataku pelan. “Tapi aku juga tidak ingin mengorbankan seseorang hanya karena perbedaan.”
Mama menghela napas panjang. “Mama hanya tidak ingin kamu menyesal nanti.”
Malam itu, aku masuk ke kamar dengan hati yang jauh lebih berat dibanding hari-hari sebelumnya. Untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa cinta tidak hanya diuji oleh jarak atau waktu, tetapi juga oleh keyakinan dan akar budaya yang sudah tertanam sejak lahir.
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Aku duduk di tepi kasur, menatap layar ponsel tanpa benar-benar melihat isinya. Pesan terakhir dari Nisa masih terbuka—tentang rencana pertemuan keluarga yang sebelumnya terasa penuh harapan. Kini, semuanya seperti menggantung di udara.
Aku menarik napas dalam-dalam. Dalam hidupku, aku selalu diajarkan untuk menghormati orang tua. Terutama mama. Ia membesarkanku dengan penuh perjuangan, mengajarkanku arti kerja keras, tanggung jawab, dan menjaga adat sebagai orang Batak. Apa pun yang ia katakan, pasti berangkat dari rasa sayang.
Namun kali ini, hatiku berada di persimpangan.
Keesokan paginya, rutinitas tetap berjalan. Aku membersihkan motor seperti biasa, tetapi gerakanku terasa lebih lambat. Mesin tetap menyala halus, angin pagi tetap menyentuh wajahku, namun pikiranku penuh.
Di kantor, suasana tetap hangat. Rekan-rekanku bercanda seperti biasa. Atasanku memuji progres proyek yang hampir selesai. Tapi di balik senyumku, ada beban yang belum terurai.
Siang itu, Nisa mengirim pesan.
“Bagaimana respon mamamu?”
Jantungku berdegup pelan. Aku tidak ingin berbohong, tapi juga tidak ingin membuatnya terluka.
“Ada kekhawatiran,” tulisku akhirnya. “Tentang perbedaan agama dan suku.”
Balasannya tidak langsung datang. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
“Aku mengerti,” jawabnya kemudian. “Aku sudah menduga itu mungkin terjadi.”
Aku membaca pesan itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak marah. Tidak menyalahkan. Hanya mengerti.
“Kita memang berbeda,” lanjutnya. “Dan perbedaan agama itu bukan hal kecil. Aku tidak ingin kamu terjebak di antara aku dan keluargamu.”
Kalimat itu seperti menusuk pelan. Ia memikirkan posisiku, bukan hanya dirinya.
“Aku tidak merasa terjebak,” balasku. “Aku hanya sedang mencari jalan terbaik.”
Malam harinya, aku kembali duduk bersama mama. Suasana tidak tegang, tapi serius.
“Ma,” kataku pelan, “kalau memang perbedaan itu ada, apakah tidak ada cara untuk menyikapinya dengan bijak?”
Mama menatapku lama. “Raymond, mama tidak melarang kamu berteman. Tapi untuk menikah, itu berbeda. Agama itu pondasi. Kalau pondasinya tidak sama, rumahnya bisa goyah.”
Aku terdiam. Kata-kata mama bukan tanpa alasan. Aku tahu beliau memikirkan masa depan, bukan sekadar hari ini.
“Tapi perasaan juga bukan hal kecil, Ma,” ujarku pelan.
Mama tersenyum tipis. “Karena itu mama bilang, pikirkan dengan kepala dingin. Jangan hanya dengan hati.”
Malam itu aku kembali ke kamar dengan pikiran yang semakin berat. Aku membuka Instagram, melihat foto Nisa yang tersenyum di salah satu kegiatan kampusnya. Senyum itu yang dulu memberiku keberanian mengirim salam kenal. Senyum itu pula yang kini mengajarkanku tentang realitas.
Beberapa hari kami jarang berbicara panjang. Bukan karena menjauh, tapi karena sama-sama merenung. Aku lebih banyak berdoa, meminta petunjuk. Aku tidak ingin mengambil keputusan tergesa-gesa.
Suatu sore, setelah pulang kerja dan memarkirkan motor seperti biasa, aku duduk lebih lama di sampingnya. Motor itu telah menemaniku melewati banyak fase—dari sekadar rutinitas kantor hingga perjalanan menjemput harapan. Kini ia menjadi saksi kebimbanganku.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Nisa.
“Aku ingin kita bicara langsung.”
Kami bertemu di tempat yang sama seperti pertama kali. Tidak ada senyum ceria seperti biasanya, tetapi juga tidak ada air mata. Hanya dua orang dewasa yang mencoba memahami kenyataan.
“Aku tidak ingin menjadi alasan kamu berselisih dengan keluargamu,” katanya pelan.
“Aku juga tidak ingin menyerah begitu saja,” jawabku jujur.
Ia tersenyum kecil, lesung pipitnya tetap muncul meski matanya terlihat sendu. “Kadang cinta bukan soal bertahan, tapi soal memilih yang paling membawa kebaikan.”
Aku menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, aku merasakan betapa beratnya menjadi dewasa.
Kami sepakat untuk tidak mengambil keputusan saat emosi sedang tinggi. Kami akan memberi waktu—untuk berpikir, untuk berdiskusi dengan keluarga, untuk benar-benar memahami konsekuensinya.
Perjalanan pulang malam itu terasa lebih sunyi. Angin yang biasanya menyegarkan kini terasa dingin. Namun di dalam hati, aku tahu satu hal: apa pun yang terjadi nanti, kisah ini telah mengajarkanku arti cinta yang tidak egois.
Dan mungkin, ujian inilah yang akan menentukan arah sebenarnya dari perjalanan kami.