Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penebusan Dosa
Fariz menatap tangannya. Luka di telapak yang sudah mulai mengering. Darah yang mengalir dari sini sudah masuk ke dalam sistem yang ia tidak sepenuhnya mengerti.
"Bapak sengaja menjauhkanmu dari Kyai Salman."
Sucipto bicara. Suaranya gemetar. Mata berkaca-kaca.
"Karena Bapak takut kalau kamu belajar lebih dalam, maka desa ini akan kembali seperti dulu. Kacau. Miskin. Penuh penyakit."
Ia menundukkan wajah.
"Bapak egois, Nak. Bapak lebih memilih keselamatan keluarga daripada kebenaran."
Fariz mengambil kertas kedua dari peti.
Membuka lipatan.
Membaca.
"Sucipto,
Aku merasakan sesuatu yang tidak beres akhir-akhir ini.
Tubuhku melemah tanpa sebab. Mual setiap pagi. Kepala pusing yang tidak hilang meski sudah berdoa dan minum obat.
Aku curiga ada yang mencoba menghentikanku. Tapi siapa, aku tidak tahu.
Jika aku tidak sempat mengajarkan anakmu, cari seseorang.
Di desa dengan mata air kesuburan. Desa Tirta Mulya. Di kaki Gunung Lawu.
Di sana ada seseorang yang sangat aku hormati. Namanya Mbah Kreyang. Ia adalah guruku. Ia tahu lebih banyak tentang Kerajaan Kalaputih daripada aku.
Jika yang terkecil sudah bangkit, maka yang terbesar tidak lama lagi akan menyusul.
Lindungi anakmu. Dengan apa pun.
Jangan biarkan darahnya jatuh ke tangan yang salah.
Salman."
"Tubuhku melemah tanpa sebab. Mual setiap pagi."
Fariz membaca kalimat itu berulang-ulang.
Kyai Salman diracun.
Dan ia tidak tahu siapa pelakunya.
Tapi sekarang Fariz tahu. Atau setidaknya bisa menebak.
Darma Wijaya.
Atas perintah Ratu Kalaputih.
Untuk menghilangkan ulama suci sebelum darahnya bisa diambil. Untuk memastikan Dewi Rengganis tidak bangkit sepenuhnya.
Tapi kenapa?
Kenapa Ratu Kalaputih ingin mencegah Dewi Rengganis bangkit kalau mereka dari kerajaan yang sama?
Lalu Fariz mengerti.
Karena Ratu Kalaputih takut.
Takut disaingi. Takut digantikan. Takut kehilangan kekuasaan.
Kalau Dewi Rengganis bangkit sepenuhnya, Ratu Kalaputih tidak akan jadi apa-apa. Hanya pelayan. Hanya yang terkecil.
Tapi sekarang Ratu Kalaputih sudah hilang.
Dan darah Fariz yang ia minum kemarin... jatuh ke mana?
Fariz merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggung.
Kalau darah itu jatuh ke tanah. Ke tempat Dewi Rengganis terkubur.
Maka setengah syarat sudah terpenuhi.
Yang kurang hanya darah ulama suci.
Darah Kyai Salman yang sudah tidak bisa diambil lagi.
"Maafkan Bapak, Nak."
Sucipto menangis. Air mata jatuh membasahi pipi yang sudah tidak lagi muda.
"Bapak menyesal."
Ia menatap Fariz dengan mata yang penuh penyesalan.
"Bapak ingin kembali kepada Tuhan, Nak. Bapak ingin bertaubat. Tapi Bapak tidak tahu bagaimana caranya setelah semua yang Bapak lakukan."
Fariz menatap ayahnya. Lalu memeluknya.
"Bapak sudah kembali, Pak. Bapak sudah selamat. Itu yang penting."
Sucipto menangis lebih keras. Memeluk Fariz erat.
Dari luar, Ratna dan Aisyah mendengarkan. Keduanya hanya bisa saling menatap. Tidak tahu harus bicara apa.
Tapi ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Sesuatu yang lebih lembut. Lebih mengerti.
Mereka sama-sama kehilangan sesuatu kemarin malam. Tapi juga mendapatkan sesuatu.
Kesempatan untuk mulai lagi.
SIANG HARI — WARGA DATANG
Fariz baru saja keluar dari kamar saat mendengar suara dari luar.
Keras. Marah.
Ia membuka pintu.
Di depan rumah, belasan warga berkumpul. Wajah mereka merah. Mata tajam. Tangan mengepal.
Di depan mereka, seorang pria paruh baya yang Fariz kenal. Pak Wahyu. Salah satu warga yang paling vokal di desa.
"Fariz! Keluar!"
Teriaknya keras.
Fariz keluar. Rahman mengikuti di belakang.
"Ada apa, Pak Wahyu?"
"Kamu yang bikin semua ini kacau!"
Pak Wahyu menunjuk Fariz dengan jari gemetar.
"Sejak semalam, sawah kami jadi kering! Air di sumur berkurang! Tanaman mulai layu!"
Warga lain mengangguk. Menambahkan keluhan mereka sendiri.
"Pak Kades juga sudah tidak punya ilmu lagi! Kami coba datangi tadi pagi, tapi rumahnya kosong! Dia kabur!"
"Kamu harus tanggung jawab, Fariz! Kamu yang putus perjanjian! Kamu yang bikin desa ini jadi begini!"
Fariz terdiam. Menatap warga-warga yang marah itu.
Ia mengerti kemarahan mereka. Mengerti ketakutan mereka.
Tapi ia juga tahu kebenaran.
"Pak Wahyu. Bapak-bapak, Ibu-ibu."
Fariz bicara dengan suara yang tenang tapi tegas.
"Kesuburan yang Bapak-Ibu lihat selama ini bukan nyata. Itu semua bagian dari ilusi. Dari perjanjian yang mengorbankan nyawa orang lain."
"Tapi setidaknya kami bisa makan! Setidaknya kami tidak kelaparan!"
Pak Wahyu memotong.
"Sekarang apa? Kamu mau tanggung jawab kalau kami semua mati kelaparan?"
Fariz menarik napas.
"Aku akan cari cara. Aku akan cari orang yang bisa bantu kita. Tapi bukan dengan perjanjian seperti dulu."
"Cari di mana? Siapa yang mau bantu desa terkutuk seperti ini?"
Fariz menatap surat Kyai Salman yang masih ia pegang.
Desa Tirta Mulya. Mbah Kreyang.
"Aku tahu seseorang. Guru dari Kyai Salman. Aku akan pergi menemuinya. Mencari tahu bagaimana cara melindungi desa ini tanpa harus mengorbankan siapa pun."
Warga terdiam. Menatap satu sama lain.
"Berapa lama?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku akan pergi besok pagi. Secepat mungkin."
Pak Wahyu menatap Fariz cukup lama. Lalu mengangguk pelan.
"Kalau kamu tidak kembali dalam sebulan dengan solusi, jangan harap kamu bisa tinggal di desa ini lagi."
Ancaman yang jelas.
Fariz mengangguk. "Aku mengerti."
Warga perlahan bubar. Kembali ke rumah masing-masing dengan wajah yang masih marah tapi sedikit lebih tenang.
Rahman menatap Fariz. "Iz, kamu serius mau pergi?"
"Aku harus. Ini satu-satunya cara."
Fariz menatap surat Kyai Salman lagi.
"Aku harus cari tahu tentang Dewi Rengganis. Tentang Kerajaan Kalaputih. Dan aku harus belajar cara melindungi desa ini sebelum terlambat."
Ia menatap Rahman.
"Kamu mau ikut?"
Rahman tersenyum. "Tentu saja. Kamu pikir aku akan biarkan kamu pergi sendirian?"
Fariz tersenyum balik. Lalu menatap ke dalam rumah. Ke arah Aisyah yang berdiri di ambang pintu.
"Aisyah, kamu—"
"Aku ikut."
Aisyah memotong. Suaranya tegas.
"Aku tidak punya alasan untuk tinggal di sini lagi. Ayah sudah pergi. Rumah kosong. Dan aku ingin... aku ingin menebus kesalahan Ayah. Dengan membantumu."
Fariz menatapnya cukup lama. Lalu mengangguk.
"Baiklah. Kita akan bertiga."
MALAM HARI — PERSIAPAN
Fariz duduk di teras rumah. Menatap langit malam yang gelap.
Tidak ada bintang. Hanya awan tebal yang menutupi.
Udara semakin dingin. Lebih dingin dari kemarin. Seperti ada sesuatu yang berubah di desa ini. Sesuatu yang tidak bisa dilihat tapi terasa.
Ia memegang surat Kyai Salman di tangan.
"Jika yang terkecil sudah bangkit, maka yang terbesar tidak lama lagi akan menyusul."
Ratu Kalaputih sudah hilang. Tapi Dewi Rengganis...
Ia merasakan sesuatu. Seperti ada yang mengawasi dari kegelapan. Seperti ada yang menunggu.
Dari dalam tanah. Dari tempat yang dalam.
Dewi Rengganis belum sepenuhnya bangkit. Karena hanya punya setengah syarat. Hanya darah keturunan. Tidak ada darah ulama suci.
Tapi setengah sudah cukup untuk membuat ia sadar. Untuk membuat ia lapar.
Dan kalau ia menemukan cara untuk mendapatkan darah ulama suci...
Fariz tidak mau membayangkan.
Pintu terbuka. Sucipto keluar. Berjalan pelan dengan tongkat.
Duduk di samping Fariz.
"Kamu serius mau pergi?"
"Iya, Pak."
"Berbahaya, Nak. Kamu tidak tahu apa yang ada di luar sana."
"Lebih berbahaya kalau aku diam di sini, Pak. Dewi Rengganis akan bangkit. Cepat atau lambat. Dan kalau aku tidak siap, semua orang akan mati."
Sucipto terdiam. Menatap langit yang gelap.
"Bapak bangga padamu, Nak."
Suaranya pelan. Tapi jelas.
"Bapak tidak pernah bilang ini sebelumnya. Tapi Bapak bangga. Kamu lebih berani dari Bapak. Lebih kuat."
Fariz menatap ayahnya. Lalu tersenyum.
"Terima kasih, Pak."
Mereka duduk berdua dalam diam. Menatap kegelapan yang semakin pekat.
Besok, Fariz akan pergi. Ke tempat yang tidak ia kenal. Untuk mencari orang yang tidak pernah ia temui.
Tapi ia tidak sendirian.
Ia punya Rahman. Punya Aisyah. Punya warisan dari Kyai Salman. Dan punya iman yang sudah terbukti kuat.
Itu cukup.
Harus cukup.