Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6 Jejak yang terhapus
Sisa aroma whisky dan parfum maskulin milik Rahman seolah masih tertinggal di udara apartemen Sekar, meskipun fajar sudah mulai mengintip dari balik gedung-gedung beton Jakarta.
Sekar duduk di tepi tempat tidurnya, masih mengenakan gaun hitam semalam yang kini tampak kusut. Matanya sembab, namun ada binar dingin yang mulai mengeras di sana.
Sentuhan kasar dan ciuman penuh keputusasaan dari Rahman semalam bukan lagi sebuah bentuk cinta baginya, melainkan sebuah segel pengkhianatan.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah orang tuanya. Setiap kali ia menarik napas, ia merasakan sesak oleh kebohongan keluarga Wijaya.
Di atas meja rias, flashdisk dari Alvin berkilau terkena cahaya matahari pagi. Benda kecil itu terasa seberat gunung. Di dalamnya terdapat kehancuran Rahman, kehancuran Tuan Wijaya, dan mungkin kehancuran Sekar sendiri.
Namun, Sekar tidak tahu bahwa di luar sana, ada mata lain yang telah merekam setiap pergerakan yang terjadi di apartemennya semalam.
Di sebuah hotel butik tidak jauh dari sana, Viona berdiri di depan jendela besar dengan ponsel di telinganya. Wajahnya yang biasanya cantik dan penuh senyum kini tampak pucat karena amarah yang tertahan.
Di atas meja di sampingnya, sebuah tablet menampilkan foto-foto hasil jepretan orang suruhannya.
Rahman masuk ke gedung apartemen Sekar dengan langkah gontai, dan Rahman yang keluar beberapa jam kemudian dengan wajah hancur dan kemeja yang tidak lagi rapi.
"Kau yakin dia tidak keluar sampai jam tiga pagi?" suara Viona bergetar, dingin dan tajam.
"Yakin, Nona. Pak Rahman terlihat sangat emosional saat keluar," jawab suara di seberang telepon.
Viona mematikan sambungan telepon itu dengan kasar. Ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. "Anak pungut itu... dia benar-benar berani bermain api denganku," desisnya.
Bagi Viona, Rahman bukan sekadar calon suami. Rahman adalah kunci untuk mengamankan posisi keluarganya yang mulai goyah karena hutang-hutang ayahnya yang tersembunyi.
Pertunangan ini adalah penyelamatnya, dan ia tidak akan membiarkan seorang dokter bedah yang "diambil dari jalanan" merusak segalanya.
Jika Sekar ingin bermain kotor dengan menggunakan daya tarik masa lalunya pada Rahman, maka Viona akan membalas dengan cara yang akan melenyapkan Sekar, tidak hanya dari hidup Rahman, tapi dari dunia medis selamanya.
Viona meraih tas tangannya. Ia tahu ke mana ia harus pergi pagi ini. Bukan ke butik, bukan ke salon, melainkan ke Rumah Sakit Wijaya—tempat di mana ia akan menaburkan benih kehancuran dr. Sekar.
Sekar tiba di rumah sakit dengan wajah yang dipoles make-up sedemikian rupa untuk menutupi kelelahan jiwanya.
Ia berharap bisa tenggelam dalam tumpukan dokumen pasien dan jadwal operasi. Namun, suasana di departemen bedah terasa berbeda pagi ini.
Beberapa perawat yang biasanya menyapanya dengan ramah, mendadak menundukkan kepala atau berbisik-bisik saat ia lewat.
Suster Maya, perawat senior yang kemarin mengaguminya, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan penghakiman.
"Selamat pagi, Suster Maya. Ada apa dengan jadwal hari ini?" tanya Sekar mencoba bersikap normal.
"Dokter Sekar... ada tamu di ruangan Anda. Beliau sudah menunggu sejak satu jam yang lalu," jawab Suster Maya dengan suara rendah.
Sekar mengerutkan kening. Ia melangkah menuju ruangannya, dan jantungnya berdegup kencang saat melihat siapa yang duduk di kursinya, sedang menyesap kopi dengan anggun.
"Viona? Apa yang kamu lakukan di sini?"
Viona berbalik, memberikan senyum yang paling manis namun paling palsu yang pernah dilihat Sekar. "Oh, Sekar. Aku hanya ingin membawakanmu sarapan. Kudengar kamu sangat sibuk semalam... sampai tidak sempat pulang ke rumah utama, kan?"
Sekar menutup pintu ruangannya rapat-rapat. "Jangan berputar-putar, Viona. Katakan apa maumu."
Viona berdiri, berjalan perlahan mengelilingi meja kerja Sekar. Ia menyentuh jas putih Sekar yang tergantung di dinding dengan ujung kuku merahnya yang tajam. "Aku hanya ingin memperingatkanmu, Dokter. Aku tahu Rahman datang ke apartemenmu semalam. Aku tahu betapa berantakannya dia saat keluar dari sana."
Sekar terdiam, mencoba menjaga wajahnya tetap datar. "Dia datang untuk urusan keluarga. Sesuatu yang tidak perlu kamu ketahui."
"Urusan keluarga sampai jam tiga pagi dengan kemeja terbuka?" Viona tertawa sinis.
"Jangan menganggapku bodoh, Sekar. Kamu mungkin punya otak jenius untuk membedah orang, tapi kamu sangat amatir dalam menyembunyikan perselingkuhan."
"Kami tidak berselingkuh!" bentak Sekar.
"Dunia tidak akan peduli pada kebenaran, Sekar. Dunia hanya peduli pada apa yang mereka lihat," Viona mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan melemparkannya ke meja.
"Ini adalah salinan pengaduan etika yang akan masuk ke dewan kedokteran dan dewan direksi rumah sakit ini sore nanti. Isinya? Dugaan hubungan tidak profesional antara kepala bedah dan CEO, ditambah dengan bukti foto-foto semalam. Bayangkan apa yang akan terjadi pada karier 'Tangan Dingin' kebanggaan Jerman ini jika skandal ini meledak?"
Sekar menatap amplop itu dengan ngeri. "Kamu gila. Ini akan merusak reputasi Rahman juga! Dia tunanganmu!"
"Rahman adalah seorang pria, Sekar. Di dunia bisnis ini, skandal seperti itu hanya akan dianggap sebagai 'kekhilafan sesaat'. Dia akan dimaafkan. Tapi kamu? Seorang wanita, anak angkat yang menggoda kakaknya sendiri? Kamu akan habis. Kamu akan kehilangan izin praktikmu. Kamu akan menjadi sampah masyarakat," Viona mendekatkan wajahnya ke telinga Sekar, membisikkan ancaman yang paling mengerikan.
"Pergilah dari Jakarta. Kembali ke Berlin sekarang juga, atau aku akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa memegang pisau bedah lagi di mana pun di dunia ini."
Setelah Viona pergi, Sekar jatuh terduduk di kursinya. Ruangan itu mendadak terasa sangat sempit. Ancaman Viona bukan sekadar gertakan sambal.
Di keluarga seperti Wijaya, menyingkirkan orang yang dianggap sebagai "noda" adalah hal biasa.
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka kembali. Kali ini Alvin yang muncul. Ia melihat wajah Sekar yang pucat pasi dan amplop di atas meja.
"Dia baru saja dari sini, kan? Viona?" tanya Alvin prihatin. Ia melangkah mendekat dan duduk di depan Sekar.
Sekar hanya mengangguk lemah. "Dia tahu segalanya, Alvin. Dia akan menghancurkan karierku."
Alvin meraih tangan Sekar yang dingin. "Itulah sebabnya kamu harus bertindak lebih dulu, Sekar. Berikan aku data uji coba klinis dari server pusat rumah sakit ini hari ini. Begitu data itu dipublikasikan, keluarga Wijaya akan terlalu sibuk menyelamatkan diri dari penjara untuk bisa mengurus skandal kecilmu. Viona tidak akan punya kekuatan apa pun jika Rahman dan Tuan Wijaya jatuh."
Sekar menatap Alvin. "Tapi itu berarti aku juga mengkhianati rumah sakit ini. Aku bersumpah untuk menyembuhkan orang, bukan menghancurkan institusi tempatku bekerja."
"Institusi ini dibangun di atas mayat orang tuamu, Sekar!" suara Alvin meninggi, memancing emosi terdalam Sekar.
"Apa kamu akan membiarkan pembunuh orang tuamu menang hanya karena kode etik yang mereka sendiri tidak pernah patuhi?" imbuhnya.
Sekar menatap flashdisk di tangannya, lalu menatap amplop ancaman dari Viona. Ia merasa seperti sedang berdiri di tengah persimpangan jalan yang kedua-duanya menuju jurang.
Di satu sisi, ada Rahman—pria yang menciumnya dengan keputusasaan semalam, pria yang mungkin melindunginya dengan cara yang salah, namun tetaplah pria yang menyembunyikan darah orang lain. Di sisi lain, ada Viona yang siap menghancurkan harga dirinya sebagai wanita dan dokter. Dan di depannya, ada Alvin yang menawarkan balas dendam yang manis namun penuh risiko.
"Lakukan, Sekar," bisik Alvin. "Hancurkan mereka sebelum mereka menghancurkanmu."
Sekar menarik napas panjang. Ia mengambil kunci server rumah sakit dari laci mejanya. Getaran di tangannya menghilang, digantikan oleh ketenangan yang dingin dan mematikan.
"Bantu aku masuk ke ruang arsip digital sore ini, Alvin," kata Sekar, suaranya kini terdengar seperti dr. Sekar yang sedang melakukan operasi paling rumit dalam hidupnya. "Jika mereka ingin bermain dengan api, aku akan memastikan mereka terbakar sampai ke akarnya."
Malam ini, Jakarta tidak akan lagi sama. Dendam manis Nona Marine—nama kecil yang hanya diketahui orang tuanya—kini mulai menyusun simfoni kehancurannya sendiri.