NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setahun di Garis Pantai

Waktu adalah pencuri yang paling sunyi. Tanpa terasa, kalender di dinding kamar rawat telah berganti berkali-kali hingga angka tahun pun bergeser. Musim hujan telah lewat, berganti kemarau yang gersang, lalu kembali lagi ke rintik hujan yang dingin.

Sudah hampir satu tahun.

Kamar itu kini terasa lebih seperti rumah bagi Aira daripada kos kecilnya. Di sudut meja, tumpukan surat dari teman-teman sekolah—yang kini sebagian besar sudah lulus dan mulai menempuh bangku kuliah—masih tertata rapi. Aira mengambil satu amplop biru muda yang warnanya sudah agak memudar.

"Kara... ini surat dari Genta. Dia bilang di kampusnya sekarang susah sekali cari kantin yang enak. Dia kangen ditraktir kamu," ucap Aira, mencoba menjaga nadanya tetap ceria.

Aira mulai membaca baris demi baris, namun di pertengahan kalimat, suaranya tercekat. Tenggorokannya terasa panas. Ingatannya mendadak ditarik kembali ke percakapan di lorong rumah sakit kemarin sore bersama Ibu Kara.

“Aira... Dokter bilang, jika dalam satu tahun tidak ada perkembangan signifikan, kemungkinan Kara untuk bangun akan semakin... tipis. Sarafnya mulai mengalami atrofi meskipun kita sudah melakukan terapi maksimal.”

Kalimat itu terngiang-ngiang seperti lonceng kematian yang dipalu berulang kali. Aira menatap wajah Kara. Masih sama. Sangat damai, namun sangat jauh. Kulitnya terasa lebih dingin dari biasanya, dan tubuhnya tampak lebih ringkih di balik selimut putih itu.

Tes.

Satu tetes air mata jatuh tepat di atas surat Genta, memudarkan tulisan tinta di sana.

"Kara... kamu curang," bisik Aira, suaranya pecah menjadi isakan. "Katanya kamu mau belajar huruf 'A' karena itu namaku. Tapi kenapa kamu malah betah sekali di sana? Apa di dunia sana terlalu terang sampai kamu lupa kalau di sini masih gelap kalau nggak ada kamu?"

Aira menelungkupkan kepalanya di samping lengan Kara, membiarkan tangisnya tumpah setelah setahun penuh ia mencoba menjadi karang yang kuat. Bahunya terguncang hebat.

"Dokter bilang... waktu kita hampir habis. Mereka mulai bicara soal kemungkinan melepaskan alat-alat ini suatu saat nanti. Tapi aku nggak siap, Kara. Aku nggak akan pernah siap."

Aira meremas sprei tempat tidur itu dengan frustrasi. Rasa sakitnya bukan lagi soal takut akan "kutukan", tapi takut akan perpisahan yang permanen.

"Bangun, Matahariku... Tolong, sekali saja. Aku janji nggak akan minta apa-apa lagi. Aku cuma mau kamu tahu kalau samudera ini sudah sangat lelah menunggumu di cakrawala sendirian. Aku mau kamu tahu kalau aku... aku rida sama semuanya, tapi aku mohon, jangan pergi dengan cara seperti ini."

Di dalam kesunyian kamar yang hanya diisi oleh suara mesin ventilator yang monoton, tangisan Aira terdengar sangat memilukan. Ia terus menggenggam tangan Kara yang kaku, berharap ada keajaiban yang tersisa dari jutaan doa yang telah ia terbangkan ke langit selama 365 hari terakhir.

***

Di tengah isak tangis yang menyesakkan itu, Aira merasa seolah seluruh energinya telah terkuras habis. Ia masih menelungkupkan kepalanya di sisi ranjang, membiarkan air matanya membasahi sprei dan sebagian lengan baju pasien yang dikenakan Kara.

"Aku sudah membacakan semuanya, Kara," bisik Aira di sela napasnya yang tersengal. "Ratusan surat, ribuan teori fisika, semua doa yang aku tahu... Aku bahkan sudah menceritakan setiap warna senja yang aku lihat tanpa kamu selama setahun ini. Tolong... jangan biarkan ini jadi percakapan satu arah terakhir kita."

Keheningan kembali menyelimuti. Hanya suara bip... bip... yang setia menemani.

Namun, di tengah keputusasaan yang hampir mencapai puncaknya, Aira merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah sensasi hangat yang sangat tipis merambat di punggung tangannya.

Awalnya, ia mengira itu hanya imajinasinya—atau mungkin sisa air matanya sendiri yang mengalir. Namun, sensasi itu terasa nyata. Ada sebuah tekanan kecil, sangat lemah, hampir tidak terasa, namun polanya konsisten.

Satu tekanan...

Dua tekanan...

Aira perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah tangan Kara yang berada dalam genggamannya.

Jari telunjuk Kara tidak lagi kaku. Jari itu bergerak—bergetar kecil, seolah sedang berjuang keras melawan gravitasi yang selama setahun ini membelenggunya. Jari itu menekan telapak tangan Aira dengan pola yang tidak beraturan, namun terasa penuh tenaga yang dipaksakan.

"Ka-kara?" suara Aira tercekat di tenggorokan.

Ia menahan napas, tidak berani bergerak sedikit pun karena takut gerakan sekecil apa pun akan memutus "koneksi" itu. Ia memperhatikan wajah Kara. Kelopak mata yang selama setahun terpejam rapat itu kini tampak bergetar hebat. Ada gerakan kecil di bawah kelopak mata itu, seolah bola matanya sedang mencari jalan keluar dari kegelapan.

"Kara, ini aku... ini Aira. Kamu dengar aku?" Aira berbisik tepat di depan wajah Kara, jantungnya berpacu seolah ingin melompat keluar.

Mulut Kara sedikit terbuka, tenggorokannya mengeluarkan suara serak yang sangat pelan, sebuah erangan yang terkubur oleh selang pernapasan. Dan di saat itulah, jari telunjuk Kara kembali bergerak di atas telapak tangan Aira.

Kali ini, Aira menyadari sesuatu. Gerakan jari itu bukan sekadar kejang otot. Jari Kara bergerak membentuk pola titik-titik di telapak tangan Aira.

Titik satu.

Aira tersentak. Ia teringat latihan Kara setahun yang lalu. Braille.

"A..." bisik Aira tak percaya. "Itu huruf A, kan Kara? Nama aku?"

Sebagai jawaban, genggaman tangan Kara yang semula lemas, tiba-tiba mengencang—meski hanya untuk satu detik sebelum kembali terkulai. Namun satu detik itu sudah lebih dari cukup bagi Aira.

Matahari itu tidak padam. Dia tidak sedang pergi jauh. Dia hanya sedang tersesat di lorong gelap dan baru saja menemukan tangan Aira sebagai penuntunnya untuk kembali ke permukaan.

Aira tidak lagi menangis karena sedih. Ia menekan tombol panggilan darurat berkali-kali dengan tangan gemetar, sementara bibirnya tak henti-henti membisikkan syukur.

"Terima kasih, Tuhan... Terima kasih sudah membiarkan dia pulang."

1
nini
suka banget novel ini. Pilhan kata2nya unik tapi menarik dan biqin penasaran. Novel yg beda dgn yg lain. semoga ada karya baru lagi. semangat kakak 😊
𝓝𝓲𝔃𝓪𝓻𝓪𝓪: terimakasii, sehat-sehat yaaa 🤗🤗
total 1 replies
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!