Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Serangan Balik Senja
Jalanan di area Cipularang mulai berkelok dan menanjak tajam. Di satu sisi ada tebing tinggi, di sisi lain jurang hijau yang bikin ngeri-ngeri sedap. Mesin mobil menderu halus, menaklukkan tanjakan dengan tenaga yang stabil banget—persis kayak pemiliknya yang selalu ingin terlihat memegang kendali penuh atas segala hal.
Gue menyandarkan kepala ke jok kulit yang empuk. Efek kafein dari Caramel Macchiato pemberian Genta tadi mulai bekerja. Gue ngerasa punya keberanian ekstra yang biasanya terpendam di bawah tumpukan naskah revisi. Gue melirik Genta dari sudut mata. Pria itu masih fokus, jemarinya mencengkeram setir dengan ritme tenang. Tapi gue tahu, di balik kacamata itu, otaknya lagi kerja keras menyembunyikan sesuatu.
Oke, Pak Genta. Mari kita lihat seberapa tebal tembok yang Bapak bangun, batin gue penuh rencana nakal.
Gue merogoh HP. Dengan gerakan yang sengaja dibuat santai, gue buka aplikasi NovelToon. Gue tahu HP Genta ada di dashboard, tepat di depan mata dia, siap buat gue kasih "serangan kejutan".
Senja_Sastra: Kaka’s, lo tahu nggak? Kejutan yang gue ceritain tadi beneran kejadian. Si Monster ini baru aja beliin gue kopi kesukaan gue. Secara spesifik! Sampai ke takaran foam-nya dia tahu. Gue syok banget. Apa jangan-jangan dia sebenernya naksir gue ya? Menurut lo, gue harus gimana nih? Apa gue harus mulai GR atau tetep waspada sama jebakan mautnya?
Klik. Kirim.
Gue menahan napas. Mata gue nggak beralih dari tangan Genta yang lagi pegang kemudi.
Satu detik... dua detik...
Bzzzt!
Getaran HP di dashboard itu kedengaran jelas banget di kabin yang sunyi. Gue melihat dengan mata kepala gue sendiri gimana tangan kiri Genta yang tadinya sangat tenang, tiba-tiba berkedut. Jari-jarinya tampak sedikit gemetar, cuma sedetik sebelum dia kembali berusaha menstabilkan genggamannya.
Genta nggak langsung menyambar HPnya. Dia tetap menatap lurus ke depan, tapi rahangnya mengeras. Gue bisa lihat urat di leher Genta menegang pas dia menelan ludah dengan susah payah.
Tiba-tiba, lampu sen kiri menyala. Tanpa aba-aba, Genta memutar setir dan membawa mobil menepi di jalur darurat, tepat di bawah jembatan besar. Terdengar ban mobil bergesekan dengan kerikil di pinggir jalan sebelum akhirnya berhenti total.
Gue pura-pura kaget, wajah gue dibuat sepolos mungkin. "Lho, kenapa berhenti lagi, Pak? Ban kita bocor? Atau Bapak mau muntah gara-gara bau kopi manis saya?"
Genta menarik napas panjang, sangat panjang sampai pundaknya ikut naik. Dia nggak menoleh. Tangannya meraih HP di dashboard dengan gerakan yang sedikit terlalu cepat buat ukuran orang yang lagi santai.
"Ada... gangguan sinyal GPS," dalih Genta. Suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya, ada getaran tipis yang dia coba tekan. "Sinyalnya nggak akurat di area tanjakan ini. Saya harus... mengatur ulang rutenya."
"Oh, gitu ya, Pak? Padahal perasaan jalannya cuma lurus aja ke depan," sindir gue sambil menahan tawa yang hampir yang meledak di tenggorokan.
Gue memperhatikan Genta. Dia nggak lagi lihat peta. Jemarinya bergerak lincah di atas layar. Cahaya dari layar itu memantul di kacamatanya, mem emosi di matanya, tapi gue bisa merasakan aura panas yang memancar dari kursi pengemudi.
Nggak lama, HP di tangan gue bergetar.
Kaka’s: Jangan kepedean dulu, Senja. Mungkin dia cuma kasihan lihat muka lo yang pucat gara-gara laper di jalan. Atau mungkin dia cuma nggak mau lo pingsan di mobilnya dan bikin repot. Orang kaku kayak dia biasanya cuma bertindak berdasarkan efisiensi, bukan perasaan.
Gue membaca pesan itu dengan senyum miring. Pengecut, batin gue. Gue pun langsung mengetik balasan dengan cepat.
Senja_Sastra: Tapi cara dia ngasihnya itu beda, Kaka's. Ada sesuatu di matanya yang nggak bisa dia bohongin. Lagian, kenapa dia harus tahu detail takaran kopi gue kalau nggak beneran perhatian?
Gue kirim pesan itu dan kembali memperhatikan Genta. Pria itu tampak membaca balasan gue. Dia terdiam cukup lama, nggak bergerak, seolah-olah waktu di dalam mobil itu berhenti berputar. Udara di dalam kabin mendadak terasa tipis banget. Suara kendaraan yang melaju kencang di jalur kanan terdengar samar, tertutup sama gemuruh detak jantung gue sendiri.
Tiba-tiba, Genta meletakkan HPnya kembali ke dashboard, kali ini dengan posisi layar menghadap ke bawah. Dia memutar tubuhnya, menatap gue secara langsung.
Gue tersentak. Selama ini gue sering melihat Genta menatap gue dengan pandangan merendahkan atau marah, tapi kali ini beda. Intensitasnya luar biasa. Mata di balik kacamata itu tampak gelap, dalam, dan dipenuhi sama kegelisahan yang sangat manusiawi. Nggak ada lagi sosok "Monster Kantor" yang arogan di sana. Yang ada cuma seorang pria yang tampak tersudut oleh kata-katanya sendiri.
"Aruna," panggil Genta pelan. Suaranya serak, mengirimkan sensasi aneh ke tengkuk gue.
"I-iya, Pak?" Gue mendadak gugup. Keberanian gue yang tadi meluap-luap tiba-tiba surut.
"Seandainya..." Genta menggantung kalimatnya. Dia mendekatkan tubuhnya sedikit, bikin aroma khas kayu jatinya dan sisa kopi Americano-nya memenuhi indra penciuman gue. "Seandainya tebakanmu di... naskahmu itu benar. Seandainya pria yang kamu anggap monster itu bener-bener punya perasaan. Apa kamu bakal membalasnya? Atau kamu cuma bakal menjadikannya bahan tertawaan di plot ceritamu?"
Gue terpaku. Gue merasa kayak lagi ditelanjangi sama pertanyaan itu. Ini bukan lagi soal aplikasi atau akun anonim. Ini nyata. Jarak kami begitu dekat sampai gue bisa melihat pantulan wajah gue yang merah padam di lensa kacamata Genta.
HP Genta yang di taruh terbalik di dashboard bergetar lagi. Ada juga sebuah notifikasi balasan dari Kaka's yang nggak gue sadari masuk ke HP gue.
Kaka’s: Tapi kalau emang dia beneran naksir lo... apa lo bakal sanggup nerima dia apa adanya, lengkap sama semua kekakuannya?
Gue menatap layar HP, lalu menatap mata Genta yang menunggu jawaban dengan kegelisahan yang memuncak. Di tanjakan Cipularang yang sunyi itu, gue sadar kalau gue nggak cuma lagi memancing seekor serigala, tapi gue baru saja masuk ke dalam perangkap yang gue buat sendiri.
"Saya..." suara gue tercekat. "Saya nggak tahu, Pak. Tergantung apakah dia berani lepas topeng atau nggak."
Genta nggak memutuskan kontak mata. Dia perlahan kembali ke posisi duduknya, menyalakan mesin mobil dengan gerakan yang lebih mantap. "GPS sudah kembali normal," ucapnya dingin, seolah percakapan intim tadi nggak pernah terjadi. "Kita lanjutkan perjalanan. Jangan main ponsel terus, nanti kamu mual."
Mobil kembali melaju. Tapi gue tahu, ketenangan Genta saat ini cuma pura-pura. Di balik kemudi itu, Genta lagi bertarung sama detak jantungnya sendiri yang jauh lebih keras daripada bunyi mesin mobil.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻