"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGADUAN RESMI : KUBU ALEXANDER TERPOJOK
Pagi itu, suasana di gedung dewan kerajaan sangat tegang sampai terasa mencekik. Para anggota dewan berkumpul dalam pertemuan darurat yang dipanggil secara resmi oleh Pangeran Cassian. Ruang dewan yang biasanya terlihat megah dan sangat tenang, kini penuh dengan bisikan gelisah dan tatapan yang sangat was-was.
Di barisan depan, duduk Cassian dengan Victoria, Seraphina, Duke Henry, Duke Harrison, dan Duchess Margaret di belakangnya sebagai saksi pendukung. Di sisi lain ruangan, Pangeran Alexander duduk dengan Duke Blackwood dan beberapa pendukung konservatifnya yang setia. Wajah Alexander terlihat sangat tenang dan penuh arogansi, seolah tidak ada satu hal pun yang perlu dikhawatirkan.
Lord Chancellor Edmund, kepala dewan yang sudah sangat tua dan bijaksana dengan rambut putih, mengetuk palu kayu untuk membuka sidang secara resmi.
"Sidang dewan dimulai. Pangeran Cassian telah meminta pertemuan darurat untuk menyampaikan pengaduan yang sangat serius. Silakan, Yang Mulia Pangeran Cassian."
Cassian berdiri dengan sangat tegap. Meski ada perban putih di pipinya dari luka kemarin yang masih segar, posturnya penuh dengan kepercayaan diri dan tekad yang kuat.
"Para anggota dewan yang sangat terhormat, saya berdiri di sini hari ini untuk melaporkan kejadian yang sangat serius yang terjadi semalam. Saya dan beberapa pendukung saya diserang oleh sekelompok pembunuh bayaran saat pulang dari pertemuan terbuka di alun-alun pusat."
Ruangan langsung dipenuhi gumaman terkejut dan suara bisikan yang semakin keras.
"Ini tuduhan yang sangat serius, Yang Mulia," ujar Lord Chancellor dengan nada yang penuh kehati-hatian. "Apakah Anda punya bukti yang cukup kuat?"
"Saya punya bukti yang sangat kuat dan tidak bisa dibantah." Cassian memberi isyarat dengan tangan, dan dua ksatria berbaju zirah membawa masuk seorang pria yang tangan dan kakinya dirantai dengan berat. Salah satu penyerang yang berhasil ditangkap semalam.
"Ini adalah salah satu penyerang yang berhasil ditangkap oleh ksatria Duke Raphael yang kebetulan datang menyelamatkan kami tepat waktu. Pria ini sudah mengaku dengan jelas bahwa dia dibayar dengan uang yang sangat banyak oleh Duke Blackwood untuk menyerang kami."
Semua mata langsung tertuju pada sosok pria yang wajahnya berubah sangat pucat dalam sekejap itu.
"Bohong besar!" teriak Duke Blackwood sambil berdiri dengan gerakan kasar. "Ini fitnah keji! Aku tidak pernah menyewa pembunuh bayaran!"
"Benarkah?" Cassian menatap dengan sangat tajam. "Kalau begitu kenapa pria ini bisa menyebutkan dengan detail pertemuan kalian di kediaman-mu tiga hari yang lalu? Kenapa dia bisa mendeskripsikan ruang kerja pribadimu dengan sangat detail? Bahkan tahu tentang lukisan mawar merah yang tergantung di belakang meja kerja-mu yang tidak pernah dilihat orang lain?" Cassian membeberkan fakta dengan bertubi-tubi.
Duke Blackwood sontak bergeming, keringat mulai mengalir deras di dahinya yang pucat.
Lord Chancellor menatap penyerang dengan serius. "Apakah benar kamu dibayar oleh Duke Blackwood untuk melakukan penyerangan ini?"
Penyerang itu mengangguk dengan sangat ragu dan takut. "Benar, Yang Mulia. Duke Blackwood membayar kami lima ratus keping emas untuk menyerang rombongan Pangeran Cassian. Dia bilang cukup membuat mereka ketakutan, tidak perlu sampai membunuh. Tapi kalau ada perlawanan keras, kami diizinkan untuk melakukan apa pun yang diperlukan."
"Pembohong yang sudah dibayar!" Alexander akhirnya angkat bicara dengan suara yang keras. "Pria ini jelas sudah dibayar dengan sangat mahal atau diintimidasi dengan brutal untuk memberikan kesaksian palsu!"
"Kalau begitu bagaimana menjelaskan ini?" Cassian mengeluarkan sebuah surat dengan stempel keluarga Blackwood yang jelas terlihat. "Ini surat dari Duke Blackwood kepada pemimpin serikat pembunuh bayaran di distrik timur. Kami menemukan surat ini saat menggeledah rumah penyerang yang berhasil ditangkap. Surat ini dengan sangat jelas menyebutkan pekerjaan untuk mengintimidasi lawan-lawan politik."
Cassian menyerahkan surat itu kepada Lord Chancellor yang membacanya dengan wajah yang semakin serius dan terkejut.
"Ini memang stempel asli Duka Blackwood," ujar Lord Chancellor dengan nada yang sangat shock.
Duke Blackwood terlihat seperti mau pingsan di tempat. Alexander menatap tangan kanannya dengan tatapan penuh kemarahan yang tertahan.
"Duke Blackwood," panggil Lord Chancellor dengan suara yang keras dan penuh otoritas yang tidak bisa dibantah. "Apakah Anda mengakui atau menyangkal tuduhan yang sangat serius ini?"
Duke Blackwood berdiri dengan tubuh yang gemetar keras. Dia melirik Alexander yang menatapnya dengan mata dingin, seolah berkata dengan jelas jangan berani-beraninya libatkan aku dalam masalah ini.
"Saya... saya..." Blackwood tergagap dengan sangat jelas.
"Jawab dengan jelas dan tegas!"
"Saya mengaku!" akhirnya Duke Blackwood runtuh total. "Saya yang menyewa mereka! Tapi saya melakukan itu semua untuk kepentingan kerajaan! Pangeran Cassian dan pendukungnya mencoba merusak stabilitas dengan ide-ide radikal mereka yang berbahaya!"
"Ide radikal?" Seraphina tiba-tiba berdiri dengan meradang. "Kami hanya memperjuangkan pendidikan yang setara dan layanan kesehatan yang lebih baik! Bagaimana itu bisa disebut radikal?"
"Wanita tidak seharusnya berbicara di dewan!" bentak salah satu Duke tua yang mendukung Alexander dengan sangat keras.
"Wanita punya hak untuk berbicara di mana saja!" balas Duchess Margaret yang juga berdiri dengan penuh kemarahan. "Inilah alasan kenapa kami mendukung Pangeran Cassian dengan sepenuh hati! Karena dia percaya pada kesetaraan yang sejati!"
Ruangan menjadi sangat kacau dengan berbagai suara yang saling bertumpang tindih dan saling berteriak.
"Ketertiban! Ketertiban!" Lord Chancellor mengetuk palu berkali-kali dengan keras. "Sidang ini masih berlangsung! Semua duduk sekarang!"
Setelah ruangan kembali tenang meskipun masih penuh ketegangan, Lord Chancellor menatap Alexander dengan serius.
"Pangeran Alexander, apakah Anda mengetahui tentang rencana Duke Blackwood ini?
Alexander berdiri dengan sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang tangan kanannya baru saja mengaku percobaan pembunuhan.
"Saya sama sekali tidak tahu tentang rencana bodoh Duke Blackwood ini. Dia bertindak sendiri tanpa seizin saya sama sekali. Dan saya sangat menyesalkan tindakan bodohnya yang mencemarkan nama baik kami."
"Bohong besar!" teriak Catharina yang tidak bisa menahan diri lagi. Dia berdiri dari tempat duduknya dengan gerakan cepat. "Maaf, Yang Mulia Lord Chancellor, tapi saya harus bicara sekarang."
"Lady Catharina, ini bukan tempatmu untuk..."
"Izinkan dia berbicara," potong Cassian dengan tegas. "Dia adalah salah satu korban serangan itu. Dia punya hak penuh untuk memberikan kesaksian."
Lord Chancellor terdiam cukup lama, lalu mengangguk dengan pelan. "Baiklah. Lady Catharina boleh memberikan kesaksiannya."
Catharina melangkah ke depan dengan penuh percaya diri meski hatinya berdegup sangat kencang.
"Yang Mulia para anggota dewan, saya ingin menyatakan bahwa serangan semalam bukan insiden yang terpisah. Ini adalah bagian dari pola intimidasi yang sangat sistematis terhadap pendukung Pangeran Cassian. Beberapa hari yang lalu, saya sendiri diserang dengan kampanye fitnah di surat kabar, mencoba merusak reputasi saya dengan tuduhan palsu perselingkuhan. Itu juga datang dari kubu Pangeran Alexander."
"Kamu punya bukti untuk tuduhan seserius itu?" Sentak Alexander dengan nada yang sangat dingin dan mengancam.
"Saya punya bukti yang sangat lengkap. Wartawan yang menulis artikel fitnah itu ternyata adalah karyawan surat kabar yang dimiliki oleh sepupu Anda, Count Richard. Dan dia sudah mengaku bahwa cerita itu dipesan dari atas, dengan pembayaran yang sangat besar dan menggiurkan."
Catharina mengeluarkan pernyataan tertulis bersumpah dari wartawan tersebut dengan tanda tangan dan stempel notaris.
"Ini bukan hanya tentang politik, para anggota dewan. Ini tentang apakah kita mau pemimpin yang menggunakan intimidasi, kekerasan, dan pembunuhan karakter untuk mendapatkan kekuasaan? Atau kita mau pemimpin yang menang berdasarkan kemampuan dan visi yang jelas?"
Beberapa anggota dewan terlihat terpengaruh oleh kata-kata Catharina yang penuh kekuatan.Lalu Duke Harrison berdiri untuk mendukung dengan penuh semangat.
"Lady Catharina benar sekali. Polanya sangat jelas dan tidak bisa diabaikan. Sejak Pangeran Cassian mulai kampanye, ada peningkatan sangat drastis dari insiden intimidasi terhadap pendukungnya. Beberapa pedagang yang secara terbuka mendukung Cassian tiba-tiba mendapat inspeksi pajak yang sangat mencurigakan. Beberapa bangsawan yang menghadiri pertemuan terbuka Cassian mendapat ancaman anonim yang juga mengerikan."
Duchess Margaret juga berdiri dengan wajah yang serius. "Dan tidak hanya intimidasi politik. Saya secara pribadi menerima surat yang sangat menganggu yang mengancam kehormatan putri saya kalau saya terus mendukung Pangeran Cassian. Surat itu tidak bertanda tangan tapi stempelnya sangat jelas dari rumah tangga Pangeran Alexander."
Alexander terlihat mulai sangat defensif. "Itu semua bisa dipalsukan dengan mudah!"
"Bisa," ujar Duke Henry sambil berdiri dengan tenang. "Tapi ketika ada puluhan insiden dengan pola yang persis sama, pada titik tertentu kita harus berhenti bilang kebetulan dan mulai melihat ini sebagai konspirasi yang terorganisir."
Lord Chancellor terlihat sangat terbebani. Dia menatap dokumen-dokumen dan bukti-bukti yang menumpuk sangat tinggi di mejanya.
"Ini adalah tuduhan yang jelas sangat serius terhadap seorang pangeran. Dewan perlu waktu untuk menyelidiki dengan sangat menyeluruh."
"Waktu adalah kemewahan yang tidak bisa kita miliki," ujar Cassian dengan tegas. "Raja, ayah kita sedang sekarat. Dalam hitungan hari, kerajaan akan membutuhkan Raja baru. Dewan harus memutuskan sekarang: apakah kalian mau Raja yang metodenya sudah terbukti penuh kekerasan dan tidak etis? Atau kalian mau memberi kesempatan kepada alternatif yang lebih baik?"
"Alternatif yang tidak berpengalaman dan terlalu idealis?" tanya salah satu Duke tua yang pro-Alexander dengan nada meremehkan.
"Alternatif yang benar-benar peduli pada rakyat dan bersedia mendengarkan," koreksi Victoria yang berdiri dengan tegas. "Saya sudah mempelajari sistem pemerintahan di berbagai kerajaan. Dan satu pola yang sangat konsisten: kerajaan yang berkembang pesat adalah kerajaan di mana penguasa bertanggung jawab kepada rakyat, bukan penguasa yang memerintah dengan ketakutan."
"Wanita muda tidak seharusnya mengajari dewan tentang pemerintahan!" bentak Duke tua itu lagi dengan sangat keras.
"Kenapa tidak?" tanya Victoria dengan nada yang sangat menantang. "Karena saya wanita? Atau karena saya muda? Atau karena kata-kata saya mengancam pandangan dunia Anda yang sudah sangat ketinggalan zaman?"
Beberapa anggota dewan yang lebih muda tertawa, tapi langsung berhenti saat mendapat tatapan sangat tajam dari anggota senior.
Lord Chancellor kemudian mengetuk palu lagi dengan sangat keras. "Cukup! Dewan akan istirahat untuk bermusyawarah. Kami akan berkumpul dan kembali lagi dalam dua jam dengan keputusan yang final."
Dan dengan itu, persidangan diberhentikan sementara. Sebelum berbalik, Alexander menatap Cassian dan orang-orang yang mendukungnya dengan sangat tajam.
"Dasar orang-orang bodoh, kalian akan mendapatkan akibatnya karena telah berani menentang seorang Alexander! "
*****
BERSAMBUNG