Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Panggil Aku ... Sayang
Bab 13
Lisa masih misuh-misuh karena ulah Cecep. Ia kesal karena pria itu jelas-jelas tidak tahu malu datang kemari mengajaknya pergi. Asoka menenangkan dan mengatakan sudah aman. Berada dalam ruang pemeriksaan dengan pintu yang sengaja tidak ditutup agar tidak timbul fitnah.
"Dok." Membuat kedua insan itu menoleh ternyata Rama yang datang. “Lo kenapa?”
Lisa hanya menggeleng lalu menjelaskan kalau tadi Cecep datang. Rama mengangguk dan lega karena ada Asoka yang melindungi Lisa.
“Mau pulang apa gimana? Gue sama Yuli mau ke mini market,” ujar Rama lagi.
“Pulang aja."
“Ram, siapa piket sore ini?” Asoka melipat laptopnya dan memasukan ke dalam ransel.
“Dokter Agus dok, udah di belakang dia. Gue jalan ya, kalau mau nitip telpon aja.”
Lisa mengangguk lalu ikut beranjak dari sana dan bersiap pulang. Di rumah sudah ada Sapri sedang rebahan di depan tv. Setelah berganti seragam dengan setelan rumahan, celana training dan kaos lalu merebah di ranjang membuka ponsel.
...Tim pencari kitab suci🤸...
Yuli Imut : Gaes, ada yang mau nitip makan gak? Atau apa gitu
Beni Ganteng : Kalean nggak mau masak lagi kayak semalam, lumayan ramah di perut dan di kantong meski nggak seenak masakan chef Juna
Yuli Imut : nggak Bang, lagi mager
S4pri : saya nggak mbak, tadi sudah makan
Asoka Harsa : Titip ya
Yuli Imut : Berapa bungkus, dok
Rama P. : Halah, pake nanya. Nggak mungkin 1 dong, udah pasti double. Apalagi bebeb masih sawan abis digodain encep
Beni Ganteng : Apa kades nggak ada kerjaan ya seneng banget mampir ke puskes. Besok coba tanya dok, mana tahu dia amb3yen Cuma malu mau konsulnya
Rama P : Pe4 lo bang
S4pri : Titip yang lain boleh ?
Yuli Imut : Apaan
S4pri : Cewek mbak, yang bisa diajak SAH
Beni Ganteng : Dimana Yuli bisa beli yang begituan. Ada-ada aja kau ini
Asoka Harsa : Kalau ada sepertinya boleh juga
Rama P. : Nakal ya, si teteh mau dikemanakan. Nanti digusur si Encep dok
Lisa : Ogah amat, kasih kucing aja si encep
Asoka masih berada di puskes dan bersiap pulang. Tersenyum membaca obrolan di grup. Namun, mendadak senyumnya pudar manakala ada notif pesan lain dari nomor tidak dikenal.
...0812987xxxx...
Hai, dok.
Aku Marina.
“Ck, dari mana dia dapat nomor gue.” Malas menjawab, Asoka mengabaikan pesan itu lalu bergegas pulang. Hanya ada Sapri di rumah, itupun sudah tertidur ditonton oleh TV yang menayangkan FTV. Yang dia tahu Beni masih ada di puskes bersama Ujang.
Setelah berganti pakaian, Asoka membawa tablet dan ponsel. mengetuk pintu kamar Lisa dan Yuli. “Sa,” panggilnya pelan.
Sapri masih terlelap bahkan suara dengkurannya bersahutan dengan suara tv.
“Bentar,” sahut Lisa dari dalam.
Asoka menuju sofa dan menunggu gadis itu di sana sambil fokus dengan gadget.
“Kenapa dok?” Lisa menempati sofa tunggal.
Asoka melirik lalu menepuk sofa di sampingnya, mau tidak mau Lisa berpindah tempat.
“Bantu aku kirim laporan untuk hari ini dan besok ya,” titah Asoka menyerahkan tabletnya pada Lisa dan menjelaskan link serta laporan yang harus dikirim ke rumah sakit. Gadis itu mengangguk paham.
“Besok, beres tugas aku langsung jalan. Temui dosen untuk bimbingan.”
“Balik kapan dok?” tanya Lisa tanpa menolehkan pandangan dari layar tablet.
“Mungkin minggu sore, seselesainya saja. Mau titip sesuatu?”
Lisa menggeleng pelan. Mana mungkin dia jawab, mau ikut sambil menye-menye. Hubungan mereka belum sejauh itu dan ada yang harus dipastikan lagi terkait panggilan sayang pagi tadi.
“Dok.”
“Hm.”
Nyatanya tatapan Asoka masih menoleh pada Lisa dan saat gadis itu menoleh mereka beradu tatap.
“Tadi pagi ….”
“Kenapa tadi pagi?”
“Hm, dokter panggil aku … sayang,” serunya lirih. “Maksudnya gimana?”
Wajah Lisa sudah merona, malah pikirannya berkecamuk. Harusnya dia tidak bertanya itu, mana tahu Asoka malah menuduhnya baper. Tapi salah Asoka juga kenapa bikin anak gadis baper.
“Nggak boleh panggil sayang?”
“Ya bukan gitu, harusnya Dokter Oka bilang sayang ke pacarnya dong masa ke aku.”
“Aku sayangnya ke kamu, gimana?”
Boleh terbang nggak sih. Lisa berasa sedang melambung dengan ribuan kupu-kupu, ini Asoka maksudnya nembak atau gimana ya. Nggak romantis, tapi sukses bikin hati kejet-kejet kayak orang ayan. Mengulum senyum, Lisa mengalihkan pandangan dan menunduk. Tangannya mencengkram erat tablet milik Asoka.
“Ada yang marah aku panggil kamu sayang?”
“Nggak, nggak ada.” Menggeleng cepat, khawatir Asoka salah paham.
“Jadi, aman dong aku panggil kamu sayang.”
“iya aman, tapi ya itu tadi … pacarnya dokter Oka marah gimana? Aku nggak mau disebut pelakor.”
Asoka tersenyum, tangannya terulur mengacak rambut Lisa. “Aku nggak ada pacar, kalau ada nggak mungkin deket-deket sama anak gadis. Nah ini, lagi di progres biar bisa jadi pacar.”
Lisa tersenyum. Demi apa wajahnya pasti sudah merah, masih mengulum senyum dan menunduk.
“Di luar jam kerja, jangan panggil dokter.”
“Terus panggil apa?” tanya Lisa dan kali ini memberanikan diri untuk menoleh. Sorot mata Asoka yang teduh dan dalam, bisa menghanyutkannya atau mungkin tenggelam di sana.
“Apa aja, kayak aku tadi boleh.” Asoka mendekatkan wajahnya. “Sayang,” bisiknya.
Terdengar deru mesin motor, refleks Lisa langsung mendorong dad4 Asoka agar menjauh.
“Ya udah coba yang tadi, kirim laporan hari ini. Data dan fotonya ada disitu.”
Lisa akhirnya bisa mengalihkan fokus dari wajah Asoka meski jantungnya masih berdebar tidak karuan. Semoga saja Asoka tidak mendengar itu. Nyatanya Asoka malah kembali mendekat dan tangannya merangkul bahu Lisa.
“Klik yang yang biru,” ujarnya dan terdengar langkah kaki serta salam dari Yuli.
“Eh, eh, lagi ngapain,” ujarnya mendapati Lisa dan Asoka di kursi tamu meski langsung berlalu dan terkekeh.
Rama ikut masuk membawa kantong plastik dengan isi yang penuh serta goody bag berlabel salah satu minimarket yang sering dijumpai.
“Beuh, dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Tangan, awas tangan merambat ke yang lain.”
Asoka cuek, fokus mengajarkan bagaimana mengirim laporan harian ke rumah sakit. Lisa sudah pasti tidak konsen, mendadak menjadi murid yang sulit mencerna penjelasan sang guru. Bagaimana tidak, tangan Asoka yang berada di bahu serta posisi yang begitu dekat. Kalau ia menoleh, mungkin wajah mereka akan bersentuhan.
“Paham?”
“Nggak.”
Rama yang berada di ruang tengah mendengar percakapan itu karena hanya berjarak beberapa langkah tanpa pintu. “Lisa mendadak jadi bol0t.”
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur
mau telp damkar biar bersih otak dan pikiran encep di cuci pake damkar🤭