Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mine, Di Ponsel Suamiku
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu. Nadira bersikap seperti biasa saat bersama Ardian. Senyumnya tetap terpasang, suaranya tetap lembut.
Langit di luar perlahan menggelap. Cahaya jingga yang sempat menyelinap di sela jendela meredup, digantikan lampu-lampu rumah yang menyala satu per satu.
Nadira sudah berada di ruang tamu, tak lama suara langkah terdengar dari arah pintu. Nadira langsung bangkit, bibirnya terangkat, langkahnya menyambut pria yang ia tunggu sejak tadi.
“Mas,” ucapnya lembut. “Aku senang Mas pulang cepat akhir-akhir ini.”
“Itu karena kamu terus mendesakku dan merengek,” jawab Ardian datar.
Nadira terkekeh kecil. Ia berbalik, mengambil segelas air dari meja kecil, lalu menyodorkannya.
“Minum dulu, Mas. Masih hangat.”
Ardian tak langsung menerimanya. Tatapannya jatuh pada gelas itu beberapa detik sebelum akhirnya mengambilnya.
“Kenapa kamu pakai baju seperti itu?” tanya Ardian.
Nadira menunduk, memperhatikan gaun yang ia kenakan, lalu kembali mengangkat wajahnya. Tatapannya lembut, nyaris memohon.
“Mas,” katanya pelan, “Ibumu selalu ingin punya cucu. Apa sebaiknya kita mencoba lebih sering?”
Ia melangkah sedikit lebih dekat. “Kita jarang sekali bersama. Kamu terlalu sibuk.”
Mata Nadira berbinar, harapannya bergetar di sana.
“Tapi aku—”
Jari telunjuk Nadira terangkat, menyentuh bibir Ardian. Isyarat diam.
“Umurku hampir kepala tiga,” lanjutnya lirih. “Kamu bahkan sudah kepala tiga, Mas. Apa kamu gak mau punya anak? Atau gak mau seperti teman-teman kamu?”
Tangannya naik, mengusap rahang Ardian perlahan. Nadira menatap wajah suaminya dalam-dalam.
Tubuh Ardian mendadak bergerak aneh. Napasnya berubah. Tangannya naik mengusap tengkuk, keringat tipis muncul di pelipisnya.
Nadira memiringkan kepala. “Mas?” suaranya turun, khawatir. “Kamu kenapa?”
Tatapan Ardian menajam. “Apa yang kamu masukkan ke minuman itu, Nadira?”
Ada jeda singkat.
“Oh, hanya obat perangsang, Mas. Sedikit saja. Yang ini katanya memang lebih kuat. Aku kira butuh waktu.”
Wajah Ardian mengeras. Tanpa berkata apa pun, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ruang tamu begitu saja.
“Mas!” panggil Nadira. Ia menyusul dengan langkah cepat.
Namun langkah Ardian tak melambat.
Di dalam kamar, Nadira melihat Ardian hampir masuk ke kamar mandi. Tanpa berpikir panjang, ia memeluk tubuh pria itu dari belakang. Tangannya gemetar, dadanya naik turun tak beraturan.
"Kenapa Mas?” tanya Nadira, nadanya gemetar, lalu melepas pelukannya dan menatap Ardian lekat. “Kenapa mas memilih buat menuntaskannya sendiri?”
Ia mendorong Ardian, hingga Pria itu mundur beberapa langkah.
“Lima tahun Mas, bukan pernikahan seumur jagung. Tapi setelah menikah, ini yang aku dapatkan.” Nadira tersenyum getir, lalu kembali melanjutkan, “Aku seperti gak ada bergunanya Mas, di sindir oleh Ibu kamu karena aku gak bisa hamil, aku— Mph.”
Tubuhnya menegang saat sebuah benda membungkam bibirnya.
Ardian menjauh sedikit. Tatapannya datar. “Bukankah ini yang kamu mau, Nadira?” ucapnya dingin. “Baik. Kita lakukan. Aku akan memberimu seorang anak.” Ia berhenti sejenak. “Setelah itu, jangan lagi mendesakku.”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, menghantam dada Nadira.
Ia hendak bicara, tapi tubuhnya didorong hingga terjatuh ke atas kasur. Punggungnya menyentuh sprei, pandangannya bergetar menatap sosok di atasnya. Ardian membuka kancing kemejanya perlahan, lalu mencondongkan tubuh, membuat ruang Nadira terasa sempit.
“Mas…” suaranya nyaris tak terdengar.
'Bukan cara seperti ini yang aku inginkan.' Tangannya mencengkeram seprai.
Pada akhirnya, air mata Nadira lolos begitu saja.
...
'Pada akhirnya, berakhir dingin. Tak ada kata-kata cinta, semuanya hambar. Dan tatapan dingin yang Mas Ardian berikan setelah melakukannya.'
Nadira menghela napas, suara pintu kamar mandi tertutup. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kasur, lalu menatap langit-langit kamar itu dan sesekali menghela napas.
Kling.
Nadira menoleh, ponsel Ardian baru menyala, tapi ia melihat nama tertera di sana.
'Mine.'
Jantungnya berdetak cepat, ia meraih ponsel itu untuk memastikan penglihatannya tidak salah, namun saat ponsel itu sudah ada di tangannya, sebuah tangan mengambil alihnya.
Nadira mendongak, “Mas...”
Tatapan Ardian tajam. “Siapa yang mengizinkanmu menyentuh ponselku?”
“Tadi ponsel Mas bunyi,” jawab Nadira pelan. “Aku cuma mau memastikan. Siapa tahu penting.”
“Lain kali jangan lancang,” potong Ardian dingin.
Nadira terdiam. Bibirnya terkatup rapat. ‘Bahkan aku tak pernah melihat isi ponselnya, saat aku menyentuh sedikit saja, suara Mas Ardian meninggi, Apa yang Mas Ardian sembunyikan dariku? Aku harus mencari tahu,’ batinnya.
...
Malam kian larut. Udara terasa lebih dingin, sunyi menyelip di sela suara serangga yang samar. Nadira duduk di halaman. Langit hitam membentang luas, bertabur cahaya kecil yang berkelip tenang.
Kling.
Nadira menoleh. Ponsel di atas meja kecil menyala. Ia meraih benda itu, matanya menyipit menatap nama yang muncul di layar.
“Gama” gumam Nadira. “Tumben sekali anak ini kirim pesan.”
Belum sempat layar kembali gelap, ponselnya bergetar lagi.
Gama calling.
Nadira menghela napas kecil. “Kali ini dia menelepon.”
Ia menggeser layar. Suara Gama langsung terdengar dari seberang.
“Halo, Mbak Nadira. Lagi sibuk nggak?”
“Enggak,” jawab Nadira. “Kenapa?”
“Urgent. Aku jemput ya, Mbak.”
Nadira duduk lebih tegak. “Jemput ke mana? Ini sudah malam, Gama.”
“Aku sudah di depan rumah Mbak. Cepetan keluar.”
Kening Nadira mengernyit. Ia berdiri dan melangkah mendekat ke pagar. Benar saja. Di balik gerbang, Gama berdiri sambil melambaikan tangan, motor menyala di sampingnya.
“Sejak kapan dia di situ?” gumam Nadira. Ia beranjak dan berjalan ke arah gerbang, lalu membuka gerbang dan melangkah keluar
“Gama,” ucapnya sambil menyilangkan tangan. “Bukannya belajar, malah keluyuran.”
Gama menyengir lebar. “Ini penting banget, Mbak. Ayo naik.”
Nadira terdiam. Pandangannya melirik ke arah rumah. Lampu kamar masih menyala.
“Tapi… Mas Ardian—”
“Kalau kebanyakan mikir, makin lama,” potong Gama ringan.
Nadira menghela napas, “yaudah buruan.” Ia naik ke motor.
Mesin menderu, roda berputar meninggalkan halaman rumah.
Angin malam menyapu wajah Nadira. Tapi ada aroma khas yang tercium dari jaket Gama. Maskulin, samar.
Hingga tak lama, motor berhenti. Nadira turun dan menatap sekitar. Sunyi, asing.
“Gama, ngapain kita ke sini?” Tanyanya.
Gama hanya menoleh sekilas, bibirnya terangkat, lalu melangkah lebih dulu.
“Gama?” Nada Nadira meninggi. “Kok malah ninggalin? Gama tunggu.” Ia menyusul.
Tak lama, langkahnya melambat saat Gama berhenti, berdiri membelakanginya. Jarak mereka tinggal beberapa langkah.
“Gama…” panggilnya pelan.
“Mbak,” ucap Gama tanpa menoleh. “Sebentar lagi aku wisuda.”
Kening Nadira Mengernyit, ia tahu itu. Gama akan wisuda sebentar lagi.
“Lalu?” tanyanya.
Gama berbalik dan menatap Nadira.
“Setelah itu aku ke luar negeri. Nerusin bisnis Ayah. Mungkin beberapa tahun baru bisa pulang,” ucapnya pelan. “Siapa tahu pas aku balik nanti, aku sudah punya keponakan.”
Kata-kata itu membuat dada Nadira mengencang. Tatapannya melekat pada wajah Gama, terlalu lama.
“Jadi… boleh ya,” lanjut Gama, sudut bibirnya terangkat samar, “sebelum aku pergi, ketemu sama Mbak Nadira terus?”
Nadira membuka mulut, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
“I—itu…”
“Aku bercanda, Mbak.” Gama terkekeh pelan, “Mbak Nadira sudah ada yang punya. Coba kalau gak ada.” Lalu mengalihkan pandangan ke atas. “Langitnya indah, ya.”
Nadira ikut mendongak. “Langitnya memang indah,” ucap Nadira akhirnya, suaranya lebih pelan.
Seketika angin berhembus lebih kencang, hingga mampu membuat pohon meliuk. Nadira mengusap kedua bahunya.
'Aku lupa bawa jaket.' ucapnya dalam hati.
Belum sempat ia bergerak, ada kehangatan menyentuh pundaknya. Nadira tersentak, lalu menoleh. Sebuah jaket kulit kini melingkari bahunya.
Ia menatap Gama. “Gama, kamu ngapain?”
“Biar Mbak nggak kedinginan,” jawabnya ringan. “Aku yang ngajak. Aku yang tanggung jawab.”
Nadira terdiam. Tatapannya tertahan sesaat di wajah Gama, lalu buru-buru turun. Jarinya menggenggam ujung jaket itu pelan.
'Enggak Nadira, ini salah. Kamu masih punya suami, gak pantas kamu membandingkan suamimu dengan laki-laki lain, apalagi yang lebih muda darimu.'
“Mbak, sebenarnya aku sudah lama menyukai seorang perempuan,” ucap Gama.
Nadira mendongak. “Benarkah?” katanya pelan. “Siapa? Perempuan itu pasti beruntung.”
Bibir Gama terangkat tipis. “Tapi aku yang nggak beruntung, Mbak.”
Kening Nadira berkerut. “Kok bisa?”
“Karena perempuan yang aku suka,” ucap Gama, suaranya turun, “sudah jadi milik orang.”
Udara terasa lebih berat. Ia mendekat, tangannya menyentuh bahu Gama dan menepuknya pelan.
“Mungkin memang bukan jodohmu, Gama,” katanya. “Masih banyak perempuan lain yang—”
Gama menggeleng. Ia menatap Nadira. Terlalu lama. “Kalau aku nggak bisa melepaskannya gimana, Mbak?”
Jantung Nadira berdetak tak beraturan.
‘Kenapa tatapan Gama terasa asing? Seperti bukan Gama yang aku lihat, atau hanya perasaanku saja,’ batinnya.
“Aku nggak akan nikah sama perempuan lain,” lanjut Gama lirih. “Selain dia.”
Nadira terkekeh kecil, hambar. “Kamu mau jadi pebinor?”
Gama ikut tertawa. “Namanya juga terlalu cinta.”
Hening jatuh di antara mereka. Angin kembali berembus, menggoyang dedaunan di atas kepala. Nadira membuka mulut, tapi suara Gama lebih dulu menyela.
“Mbak,” katanya pelan, “boleh aku peluk Mbak?”
Nadira menelan ludah. “Gama, aku—”
Terlambat.
Tubuh Gama sudah memeluknya. Hangat. Erat. Nadira membeku.
“Hanya terakhir kali, sebelum aku pergi,” bisik Gama di dekat telinga Nadira.
Pelukan itu mengencang, seakan tak ingin berakhir. Nadira memejamkan mata.
...
Motor itu akhirnya melambat, lalu berhenti tepat di teras rumah. Mesin dimatikan.
“Gama, kenapa malah masuk?” bisiknya cepat. “Bagaimana kalau Mas Ardian—”
Belum sempat kalimat itu selesai, sebuah suara menyela.
“Kenapa kamu lama sekali membawa istriku pergi, Gama?”
Nadira menoleh. Ardian berdiri di ambang pintu. Tatapannya dingin, menusuk.
Gama tersenyum santai. “Ah, urusannya panjang, Mas,” ujarnya ringan. “Iya kan, Mbak Nadira?”
Nadira tercekat. Lidahnya terasa kaku.
“Eh… i-iya,” jawabnya gugup.
Ardian mendengus pelan. “Ya sudah. Pulang sana.”
“Siap,” sahut Gama. Ia menyalakan motor, lalu melirik Ardian sekilas. “Oh iya, Mas. Dua hari lagi wisuda. Kalau Mas nggak bisa datang, diwakili Mbak Nadira juga nggak apa-apa.”
Ardian hanya berdeham.
“Mbak, yang tadi rahasia kita berdua ya?” bisik Gama sambil mengedipkan sebelah matanya.
Nadira tidak membalas.
Tak lama, motor itu melaju menjauh. Nadira berdiri diam, menatap punggung Gama hingga bayangannya lenyap di balik gerbang.
“Ayo masuk,” ucap Ardian datar.
Nadira tersentak. Ia mengangguk kecil, lalu melangkah mengikuti suaminya ke dalam rumah.
Di kamar, Nadira merebahkan diri. Pandangannya menempel pada langit-langit. Napasnya pelan, tapi pikirannya tak berhenti berputar.
Pelukan itu kembali terlintas. Erat. Hangat.
‘Gama, kenapa kamu malah bikin aku begini?’ batinnya. Nadira menghela napas panjang, lalu melirik ke samping.
Ardian masih terjaga.
Nadira mendekat, mencari kehangatan seperti biasa.
Dingin.
Tak ada balasan.