Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Ujian di Balik Resi
BAB 7: Ujian di Balik Resi
Pagi itu, udara di tahun 2026 terasa lebih lembap dari biasanya. Nayla berdiri di depan teras rumahnya yang kini penuh dengan tumpukan kardus cokelat. Di setiap kardus, tertulis alamat yang berbeda-beda, namun yang paling besar adalah tujuan Bandung—pesanan Pak Hendra. Sebanyak 500 bungkus Basreng Matahari telah siap dengan segel hologram terbaru yang berkilau saat terkena sinar lampu.
"Nay, yakin ini aman?" tanya ayahnya sambil menunjuk tumpukan kardus itu. "Jarak ke Bandung memang tidak jauh, tapi kalau kurirnya kasar, basrengmu bisa jadi remah-remah di dalam plastik."
Nayla menarik napas panjang, lalu menekan isolasi bening dengan kuat di atas lipatan kardus terakhir. "Nayla sudah kasih lapisan bubble wrap di dalam kardus, Yah. Nayla juga sudah minta kurir untuk menempelkan stiker Fragile. Kalau kita mau besar, kita harus berani kirim-kirim begini."
Pukul sepuluh pagi, mobil kurir ekspedisi datang. Nayla memperhatikan setiap kardus yang diangkut dengan perasaan campur aduk. Di dalam kardus-kardus itu bukan hanya ada makanan pedas, tapi ada reputasi yang ia bangun dengan air mata dan kurang tidur. Setelah kurir memberikan resi pengiriman, Nayla menggenggam kertas kecil itu seolah-olah itu adalah tiket menuju masa depan.
"Resi pertama untuk ekspansi besar," gumam Nayla.
Namun, ketenangan Nayla tidak bertahan lama. Baru dua hari setelah pengiriman, ponselnya berdering di tengah malam. Itu dari Pak Hendra di Bandung.
"Halo, Mbak Nayla? Saya baru saja bongkar kirimannya," suara Pak Hendra terdengar datar, membuat jantung Nayla mencelos. "Ada sekitar tiga puluh bungkus yang pecah segelnya, dan basrengnya remuk parah. Sepertinya kardusnya tertindih barang berat di gudang ekspedisi."
Nayla terdiam sejenak. Ia merasa lemas. Kerugian pertama. Jika ia mengganti 30 bungkus itu, artinya keuntungannya untuk pesanan Bandung akan berkurang drastis. Namun, ia teringat prinsipnya: Kepuasan pelanggan adalah investasi.
"Saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Pak Hendra. Saya akan kirimkan 30 bungkus pengganti besok pagi, gratis ongkir dari saya. Saya juga akan evaluasi cara pengemasannya," ujar Nayla dengan suara yang tetap stabil meski hatinya perih.
"Mbak mau ganti?" suara Pak Hendra terdengar kaget. "Biasanya pedagang lain akan menyalahkan pihak ekspedisi dan lepas tangan."
"Bagi saya, Pak Hendra bukan sekadar pembeli, tapi mitra. Saya ingin Basreng Matahari sampai ke tangan pelanggan dalam kondisi sempurna," jawab Nayla yakin.
Sikap profesional Nayla ini ternyata membuahkan hasil luar biasa. Pak Hendra sangat terkesan. Bukan hanya ia tetap bekerja sama, Pak Hendra bahkan mengunggah foto Basreng Matahari di grup komunitas pengusaha kuliner Bandung, memuji kejujuran dan layanan Nayla. Takdir kembali bekerja lewat cara yang tak terduga.
Keesokan harinya, Nayla pergi ke bank. Ia mengenakan pakaian terbaiknya—kemeja rapi dan sepatu yang sudah ia semir. Di tangannya, ada amplop berisi uang cicilan pertama utang koperasi ibunya.
Saat duduk di depan petugas bank, Nayla merasa kepalanya tegak. Tidak ada lagi rasa malu atau takut seperti saat penagih utang datang ke rumahnya.
"Pembayaran cicilan atas nama Ibu Rahma, ya, Mbak?" tanya petugas bank dengan ramah.
"Benar, Mbak. Ini uangnya," jawab Nayla.
Saat mesin penghitung uang berbunyi krrrttttt, Nayla merasa beban di pundaknya terangkat satu per satu. Keluar dari bank, ia melihat matahari tepat di atas kepala. Sinar itu tidak lagi terasa membakar, melainkan terasa seperti pelukan hangat.
Namun, di tengah kesuksesan yang mulai merangkak naik, tantangan baru muncul. Saat melewati minimarket di dekat rumahnya, Nayla melihat seseorang sedang menjajakan makanan dengan kemasan yang sangat mirip dengan miliknya. Warnanya kuning jingga dengan logo matahari yang hampir identik.
Nayla mendekat untuk melihat lebih jelas. Namanya: "Basreng Surya".
"Mari, Mbak, basrengnya! Pedas gurih, harga lebih murah seribu dari yang viral itu!" seru pedagang itu tanpa tahu siapa yang ia ajak bicara.
Nayla mengambil satu bungkus dan membacanya. Tidak ada nama produsen yang jelas. Ia mencoba membeli satu bungkus dan mencicipinya saat sampai di rumah.
"Ini cuma bumbu bubuk instan," gumam Nayla setelah satu gigitan. "Asinnya berlebihan, tidak ada aroma daun jeruk, dan teksturnya keras karena baksonya terlalu banyak tepung."
Meskipun kualitasnya jauh di bawah Basreng Matahari, Nayla tahu bahwa pesaing ini berbahaya karena harganya yang lebih murah dan logonya yang menipu mata pembeli awam.
"Nay, orang-orang mulai tanya, apa kita buka cabang di pasar?" tanya ibunya saat Nayla sampai di rumah. "Katanya ada yang jual basreng kita tapi kok rasanya beda."
Nayla menghela napas. "Itu peniru, Bu. Mereka mau numpang tenar di nama besar kita."
"Kita harus laporkan, Nay!" sahut Kak Sari emosi.
"Belum bisa, Kak. Kita belum punya izin merek resmi," jawab Nayla. "Ini kesalahan Nayla. Nayla terlalu fokus jualan sampai lupa melindungi nama dagang."