Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 31 : Titik Balik
(*Recap cerita sebelumnya*)
Semenjak tertundanya keputusan juri untuk dua peserta finalis, setiap orang yang terlibat terus menunggu dalam ketidakpastian dan rasa penasaran yang nyaris tak terbendung.
"Oppa?" panggil Eun Chae, untuk ketiga kalinya.
Entah mengapa, Chef Do yang biasanya cepat menjawab kini hanya berdiri membelakangi Eun Chae tanpa bergeming.
Secara naluriah, berbagai pertanyaan pun muncul dalam benak Eun Chae.
"Oppa. Apa yang sedang kau lihat?" tanya Eun Chae, seraya menjinjitkan kaki agar dapat mengintip ke layar ponsel lawan bicaranya.
"Oh.. Bukan apa-apa," dalih Chef Do, dengan gesit mematikan layar ponselnya.
Lagi-lagi, reaksi Chef Do hanya membuat Eun Chae penasaran dan cemas.
"Sungguh?" ulang Eun Chae, memastikan.
Pria itu mengangguk-angguk, lalu tersenyum singkat. Walau Eun Chae dapat dianggap sebagai salah satu orang terdekat bagi Chef Do saat ini, wanita itu menyadari bahwa masih sangat banyak yang tak diketahuinya mengenai kekasih pertamanya.
"Eun Chae-ya. Sebaiknya, kau memberi makan Bam. Sebentar lagi, aku akan keluar untuk menemui seseorang," ujar Chef Do.
"Oh iya, benar juga," respon Eun Chae, tersadar akan keteledoran yang tak disengajanya.
"Kucing pintar. Lihat, dia sudah terduduk di bawah kakimu," alih Chef Do, sebelum beranjak ke lantai dua untuk bersiap.
"Bam-a, ini makanlah. Terima kasih sudah bersabar padaku," kata Eun Chae, sambil mengisi penuh wadah makanan kucingnya.
Meong.
Kucing itu makan dengan lahap, seolah berfokus pada makanan hingga mengabaikan majikannya.
"Hehe, dalam hal makan kamu memang mirip denganku. Karena itulah, kamu dan aku mampu bertahan hingga sejauh ini," imbuh Eun Chae, sembari membelai kucingnya dengan sayang.
Dalam dua menit, Bam telah menghabiskan makanannya hingga tak tersisa sedikit pun, kemudian hewan itu menghangatkan tubuh dalam gendongan Eun Chae.
"Bam-a, kau tahu bukan? Sekarang, aku tidak sendirian lagi. Kamu tidak perlu takut, jikalau terjadi sesuatu padaku. Di saat susah maupun senang, kamu boleh mengikuti Yu Hyeon oppa. Dia orang yang sangat baik bagiku, jadi dia takkan mungkin menolakmu," ulas Eun Chae ceria.
Meong. Meong.
Dengan aktif, kucing itu membalas ucapan Eun Chae.
"Kamu ini, benar-benar kucing cerdas yang menggemaskan sekali. Aku sayang padamu, Bam-a," kata Eun Chae cekikikan.
Saat beralih ke ruang tamu dan duduk di sofa untuk menonton TV bersama Bam, perhatian Eun Chae langsung tertuju pada liputan berita terkini.
Berbeda dari sebelumnya, sehari setelah babak semi-final, keputusan juri dinyatakan telah diumumkan melalui seluruh warta dan media sosial. Belum lagi, dua orang juri yang sempat berperan penting dalam kompetisi dikabarkan tengah dijatuhi gugatan secara hukum.
Pemirsa. Berikut hasil putusan lomba memasak nasional pada tahap semi-final kemarin.
Peringkat pertama dengan nilai 95, diraih oleh Chef Lee Ik Jun. Diikuti oleh Chef Hwang Min Ho, dengan nilai 92. Mari kita dukung keberhasilan kedua orang peserta berbakat ini. Sekali lagi, mari kita ucapkan selamat! Terakhir, yakni perihal informasi tambahan untuk hari ini. Dikarenakan oleh kendala di balik kasus pribadi dua orang tokoh terkemuka selaku juri dalam acara, para tergugat dinilai kurang pantas meneruskan peran dan akan digantikan oleh pihak lain yang berwenang.
"Apa-apaan ini?" desah Eun Chae terkejut, hingga pikirannya mulai kacau.
Praang!
Sejenak, terdengar suara bantingan benda hingga terpecah belah. Dengan tergesa, Eun Chae menaiki anak tangga, lalu berhenti di depan pintu kamar satu-satunya di lantai atas rumah itu.
Walau ragu sejenak, Eun Chae memutuskan untuk mengetuk pintu. Namun, tidak ada respon dan hanya terdengar suara gemerisik.
Tidak mampu lagi bersikap tenang menghadapi situasi yang sedemikian, Eun Chae menekan ganggang pintu, lalu perlahan melangkah masuk.
"Oppa?" panggil Eun Chae, sebelum sorot pandangannya berubah seketika.
Melihat sosok Chef Do dengan darah menetes pada bagian kening, hingga menodai pecahan kaca cermin yang berserakan di lantai, kedua bola mata Eun Chae membelalak terkejut dan jantungnya terasa sesak.
"Oppa!" jeritnya panik, lalu terduduk di sisi pria itu.
Baru kali ini, Eun Chae menyaksikan perubahan perilaku, serta ekspresi Chef Do yang penuh kekecewaan.
Dia bahkan tidak menoleh atau memanggil nama Eun Chae, seperti yang biasa dilakukannya saat bersama dengan wanita itu.
"Rencanaku tidak berjalan sesuai harapan. Semuanya berantakan," ucapnya.
"Oppa. Sebenarnya, apa yang terjadi? Tolong jangan membahayakan dirimu sendiri. Bukannya ada aku di sisimu?" isak Eun Chae, seraya menyentuh wajah Chef Do dengan tangannya yang gemetaran.
Darah segar yang menetes pada tangan Eun Chae membuat wanita itu menangis tersedu. Walau pedih, Chef Do akhirnya menatap wajah Eun Chae yang sama terlukanya dengan rupanya sendiri.
"Eun Chae-ya," lirih Chef Do, lalu mendekatkan diri pada wanita itu.
"Oppa.. Bersemangatlah. Semuanya pasti akan baik-baik saja," bujuk Eun Chae, dengan air mata yang masih membasahi wajahnya.
"Apa kau masih ingin bersamaku? Setelah semua yang terjadi-- bahkan, di media sosial?" tanya pria itu, dengan nafasnya yang berat.
Eun Chae menganggukkan kepala, lalu menatap mata Chef Do.
"Tentu saja. Aku tidak peduli dengan berita palsu yang beredar. Aku tidak bisa hidup tanpamu, oppa. Aku--," jelas Eun Chae terbata sambil menangis, lalu terhenti oleh ciuman lembut pada bibirnya.
Chef Do menarik tubuh Eun Chae hingga saling bersentuhan dengan tubuhnya yang kekar, kemudian jemarinya membasuh air mata pada wajah wanita itu.
"Kenapa kau begitu terpikat padaku?" bisik Chef Do pada telinga Eun Chae, yang memerah seketika merasakan nafas pria itu.
"Kenapa? Memangnya tidak boleh?" balas Eun Chae gundah, hingga wajahnya memucat.
Reaksi Eun Chae sedikit tidak terduga dan terdengar begitu manis bagi Chef Do. Tanpa sadar, pria itu tertawa pelan.
Mendadak, Eun Chae menutupi wajah dengan kedua tangannya, lalu menangis dengan lebih kencang.
"Eun Chae-ya?" panggil Chef Do tertegun, sembari memeluk erat wanita yang disayanginya itu.
Saking syok dan khawatirnya, Eun Chae tidak mampu berkata-kata.
"Eun Chae-ya, jangan menangis. Maafkan aku. Seharusnya, aku lebih memperhatikan perasaanmu," ucap Chef Do tulus, sembari mengencangkan dekapannya.
Kini, sebuah keyakinan kembali mengisi hati keduanya.
"Ya sudah. Cepat berdiri, kita harus ke dokter sekarang juga. Berjanjilah untuk tidak mengulangi perbuatan seperti ini lagi, oppa!" gerutu Eun Chae.
Chef Do pun mengiakan perkataan Eun Chae, lalu bangkit dari keterpurukan sementaranya.
Di sisi lain, Lee Seong Woon yang berdiam diri dalam ruang kantornya baru saja mendapatkan sebuah amplop berisikan dokumen rahasia, yang diantarkan oleh salah seorang bawahannya.
"Surat dari pengadilan? Lalu, gugatan yang ditujukan padaku? Hmp, konyol sekali," kata Seong Woon angkuh, seraya melemparkan benda berlapis tebal itu hingga bertebaran di balik punggungnya.
Belum puas meremehkan peringatan dari seorang yang tak terbayangkan olehnya, Seong Woon menginjak-injak dan lekas membuang surat tersebut.
"Shin Sae Mi? Rupanya, kau merasa hebat setelah bertahun-tahun mempermainkanku," tawanya mengejek.
- Bersambung -