Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan mempesona. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Dokter bergerak cepat sebelum ambulans tiba. "Pak Gerry, tolong bawa masuk Pak Ken ke ruang tunggu pasien. Tunggu saja di dalam." Bisik dokter kepada Gerry yang sedang memegang lengan Opah Ethan.
"Biarkan saya di sini. Saya mau lihat Ethan." Opah Ethan menolak dan tidak mau beranjak sebelum melihat Ethan.
"Pak Ken, mohon pengertiannya. Supaya kami bisa bergerak cepat menolong Pak Ethan..." Dokter menjelaskan panjang dan cepat, karena belum tahu kondisi Ethan dan khawatir Opah Ethan bisa shock melihatnya. Sehingga konsentrasi mereka akan terbagi antara Ethan dan Opahnya.
"Mari, Pak. Kita tunggu di dalam, supaya dokter bisa gerak cepat tolong Pak Ethan...." Gerry ikut menjelaskan, karena mengerti maksud dokter. Dia sendiri sangat khawatir kesehatan Opah Ethan.
"Kalau Pak Ken di sini, team medis akan sulit menangani Pak Ethan..." Pengacara Menaya ikut menenangkan Opah Ethan.
Dengan berat hati, Opah Ethan mengikuti saran dokter dan Gerry setelah melihat pengacara memberikan isyarat, agar tenang. Supaya mereka bisa cepat tangani Ethan dan maksimal.
"Baik. Pak Menaya, tidak boleh ada yang dekati Ethan. Siapa pun. Ingat yang saya bilang di mobil..." Opah Ethan serius mengingatkan.
"Iya, Pak. Saya mengerti. Pak Ken tenang." Pengacara Menaya berkata sambil mengangguk kuat.
Gerry merasa lega melihat Opah Ethan mau menurut. Sambil berjalan dia menelpon Rion untuk berbagi tugas. "Pak Rion, tiba di rumah sakit, tolong hadapi media. Saya temani Pak Ken..." Gerry menjelaskan, karena dia harus berada di dekat Opah Ethan.
"Iya, Pak. Ini saya sudah di belakang ambulance." Rion menjelaskan posisinya. "Ok. Good."
Ketika dalam perjalanan ke tempat kecelakaan, dia melihat mobil polisi dan ambulans. Sehingga dia minta sopir untuk mencari jalan balik. Dia yakin, itu adalah ambulans berisi bossnya.
Tidak lama kemudian, ambulans tiba di depan rumah sakit. Ketika ranjang darurat diturunkan dari Ambulans, dokter mendekat bersama perawat dan langsung mendorong masuk ke IGD. Rion berlari mengikuti ranjang darurat untuk mengetahui kondisi bossnya.
Dia terkejut melihat mata bossnya tertutup dan wajahnya sangat pucat. Walau tidak terlihat ada darah, Rion sangat takut melihat boss nya tidak bergerak. "Pak Ethan, saya sudah di sini dengan Opah. Bertahanlah." Bisik Rion sambil berlari di pinggir ranjang darurat.
"Pak, tunggu di sini. Kami akan tangani Pak Ethan." Dokter mencegah Rion, karena rekan dokternya sudah datang untuk membantu.
Rion berdiri mematung melihat bossnya didorong masuk ke ruangan. "Pak Rion, mari kita ke depan untuk lihat yang terjadi." Bisik pengacara Menaya.
"Oh, iya, Pak." Rion jadi ingat tugasnya untuk hadapi media.
~••~
Di tempat lain ; Mamah Ethan sedang panik di ruang keluarga karena tidak bisa menghubungi Ethan dan tidak berani telpon Opah Ethan untuk bertanya.
Ketika sedang memikirkan untuk menelpon asisten Opah Ethan, sopir Ethan berlari masuk bersama security ke ruang keluarga.
"Maaf, Bu. Pak Ethan alami kecelakaan." Ucap sopir dengan wajah pucat dan takut.
"Apa maksudmu? Kau tahu dari mana?"
"Ini, Bu. Ada banyak media memberitakan mobil yang alami kecelakaan di tol ke bandara. Saya yakin ini mobil Pak Ethan." Sopir menunjuk salah satu berita yang menunjukan mobil Ethan lebih jelas.
Mamah Ethan terhuyung melihat foto mobil Ethan. Sopir dan security tidak berani memegang Mamah Ethan yang mencari pegangan dengan wajah pucat.
Setelah menyadari keadaan, Mamah Ethan berlari menuju ruang kerja Papah Ethan. "Paaaa...." Teriak Mamah Ethan sambil berlari. "Kau bikin apa di situ?" Teriak Mamah Ethan yang melihat suaminya sedang duduk di kursi kerja sambil telpon. Papah Ethan segera mematikan telpon.
"Kau tidak bisa mengetok?" Papah Ethan jadi marah melihat istrinya masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu dan membentaknya.
"Kau hanya duduk tanpa mencari Ethan?"
"Kau tidak lihat aku sedang telpon?"
"Kau telpon siapa, sampai tidak tahu Ethan alami kecelakaan?"
"Ethan kecelakaan?" Papah Ethan langsung berdiri dan berlari mendekati istrinya.
"Kau tahu dari mana? Siapa yang kasih tahu?"
"Cari tahu sendiri." Mamah Ethan berlari keluar menuju kamarnya. Papah Ethan jadi panik dan ikut berlari keluar dari ruang kerja.
"Ada apa? Di mana Pak Ethan?" Tanya Papah Ethan kepada sopir dan security yang sedang menunggu perintah.
"Pak Ethan alami kecelakan, Pak..." Sopir kembali menjelaskan seperti yang dijelaskan sebelumnya kepada Mamah Ethan.
Beberapa saat kemudian, Mamah Ethan keluar dari kamar sambil menangis, karena tidak bisa menghubungi Opah Ethan dan Gerry. "Rion, Pak Ethan ada di mana?" Tanya Mamah Ethan sambil berjalan keluar tanpa menghiraukan suaminya yang sedang menunggu.
"Ada di rumah sakit...." Rion mengatakan nama rumah sakit dan menjelaskan kondisi Ethan. Namun dia segera mematikan telpon melihat isyarat dari pengacara Menaya.
Mamah Ethan langsung berlari menuju mobilnya yang sudah disiapkan sopir. Papah Ethan tidak menunggu, langsung masuk di mobil istrinya.
"Kau tidak telpon kasih tahu Papah?" Papah Ethan mengingatkan setelah mobil keluar dari gerbang.
"Kau tidak mengganggap yang dikatakan Papah. Sekarang mereka sudah di rumah sakit." Mamah Ethan tidak bisa mengendalikan perasaannya yang bingung dan sedih, juga panik mengetahui Papahnya sudah di rumah sakit tanpa memberitahukan mereka.
Papah Ethan sangat terkejut mendengar yang dikatakan istrinya. "Jadi Papah sudah tahu?" Papah Ethan seakan bertanya pada dirinya sendiri.
"Papah sudah tahu dan tidak kasih tahu kita?" Papah Ethan bertanya lagi.
"Kau tidak mengenal Papah? Kau anggap yang Papah bilang tadi tidak berarti? Ada apa denganmu?"
"Jangan bicara lagi. Tadi aku sudah bilang menyusul Papah, kau malah sibuk telpon." Bentak Papah Ethan, marah.
"Aku telpon mencari anakku. Kau sendiri tidak sibuk telpon? Bukannya kau yang bikin masalah dengan Ethan dan Papah?" Mamah Ethan balik memarahi.
"Anak lagi alami kecelakaan, sibuk sendiri dan saling menyalahkan." Mamah Ethan yang sedang panik, jadi emosi.
"Sudah, diam. Aku sedang berpikir." Bentak Papah Ethan.
Mamah Ethan jadi emosi, tapi harus ditahan. Bayangan suram dan takut hadapi Papahnya, jika terjadi sesuatu dengan Ethan. Hal yang sama dipikirkan Papah Ethan dalam diam. Jantungnya berdetak tiga kali lipat, mengetahui Opah Ethan tidak memberitahukan mereka soal kecelakaan Ethan.
Setelah tiba di rumah sakit, Mamah Ethan berjalan cepat sambil telpon Rion untuk menanyakan tempat Ethan. "Maaf, Bu. Silahkan bicara dengan Pak Memaya." Ucap Rion cepat.
"Apa maksudmu?" Jantung Mamah Ethan berdetak kuat. "Mengapa harus bicara dengan Pak Menaya?" Suara Mamah Ethan jadi tinggi mendengar harus bicara dengan pengacara keluarga.
Rion tidak menjawab, tapi berikan ponsel kepada pengacara Menaya. "Hallo, Bu Judith. Saya Menaya. Anda tidak bisa menemui Pak Ethan."
Mamah Ethan jadi emosi dan mencari pegangan. "Apa maksudmu? Ethan anak saya. Mengapa saya tidak bisa temui dia?" Mamah Ethan berusaha menggunakan otoritasnya untuk menekan pengacara Menaya.
"Ini perintah langsung dari Pak Kendrick. Perjanjian kalian dengan beliau dieksekusi hari ini."
...~•••~...
...~•○♡○•~...
. menyelesaikan solusi masalah