Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
"Dirga... Bayu..." ucap Ares pelan. Wajahnya semakin menegang. Kepalanya dipenuhi kebingunan, bagaimana mungkin Elina tahu ia hendak menelepon mereka berdua?
Tidak. Mustahil.
Ares menggeleng kepala cepat, seolah menepis pikiran buruk yang mulai merayap.
"Mereka yang kamu maksud, Mas?" tanya Elina dengan senyum miring. "Yang akan menjelaskan kalau surat kamu itu resmi?"
"Dirga! Bayu!" bentak Ares panik. "Jelaskan pada mereka! Kalau surat saya resmi, kan? Jangan buat saya malu! Saya sudah membayar kalian mahal!"
Elina tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah para tamu.
"Tamu hadirin," ucapnya lantang, "kalian dengar sendiri. Tuan Ares terhormat ini membayar mereka dengan mahal hanya untuk merebut perusahaan saya."
Seisi ruangan langsung bergemuruh. Para tamu menatap Ares dengan sinis. Bisik-bisik yang menghina dan penuh hujatan kembali memenuhi udara.
Ares mengepalkan tangannya erat. Wajahnya merah padam. Maya, Amelia, dan Arman pun tak kalah kaku, malu, terpojok, dan tak berkutik.
“Elina! Keterlaluan kamu!” bentak Amelia sambil melangkah maju dengan wajah merah padam.
Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, dua orang pengawal langsung menariknya kembali.
“Lepaskan saya!” teriak Amelia memberontak.
“Diam!” bentak salah satu pengawal dengan tegas.
“Mama mertua,” ucap Elina dingin tanpa menoleh, “lebih baik diam saja.”
“Dasar menantu durhaka!” teriak Amelia penuh amarah.
“Jaga omongan kamu, Amelia!” potong Aurelia tajam. Tatapannya menusuk, penuh wibawa.
“Memang benar!” balas Amelia semakin histeris. “Anak kamu menantu durhaka dan istri durhaka! Dia telah mempermalukan suaminya sendiri!”
“Anakku tidak mempermalukan siapa pun.”
Nada suaranya tegas, penuh keyakinan.
“Yang mempermalukan diri sendiri adalah orang yang mencoba mencuri… lalu gagal di depan umum.”
Beberapa tamu saling pandang.
Bisik-bisik berhenti.
Aurelia melirik sebentar ke arah Ares, lalu kembali menatap Amelia.
"Dan soal durhaka," katanya dingin, "seorang istri yang membela haknya sendiri bukan durhaka."
Ia melangkah setengah langkah lebih dekat.
"Durhaka itu," Aurelia berhenti sejenak, memberi tekanan, "menipu keluarga pasanganmu, mempermainkan hukum, lalu menyalahkan korban ketika rencanamu terbongkar."
Nada Aurelia tetap stabil, nyaris tanpa getar. "Jadi sebelum kamu menunjuk orang lain," lanjutnya pelan, "pastikan tangan keluarga kamu sendiri bersih."
Ia menoleh sedikit, suaranya kini terdengar ke seluruh ballroom.
"Karena ruangan ini," ucap Aurelia dingin, " yang berdiri dengan martabat utuh... hanya satu pihak."
Amelia yang mendapat semprotan dari besannya langsung terdiam. Wajahnya menegang, menahan malu yang membakar dada. Tatapan para tamu terasa seperti jarum, menusuk tanpa ampun.
"Mah, sudah!" ucap Arman cepat, meraih lengan istrinya. "Nanti Ares tambah malu dengan sikap Mama."
Amelia hanya berdecih kesal. Semua yang selama ini ia bayangkan—jalan-jalan ke luar negeri, belanja tanpa batas, salon mewah, kehidupan sosialita—lenyap seketika.
Hancur bahkan sebelum sempat ia genggam.
Kembali ke podium…
“Dasar memalukan…” gumam Elina pelan, menatap tingkah Amelia dengan ekspresi dingin bercampur jijik.
Jangan tanya bagaimana keadaan Ares saat itu. Malu, kesal, panik—semuanya bercampur jadi satu. Dadanya terasa sesak. Ia menghela napas berat, lalu menatap Dirga dan Bayu dengan sorot mata memaksa.
“Jelaskan pada mereka semua!” bentak Ares. “Kalau perusahaan ini telah sah menjadi milik saya!”
Bayu dan Dirga saling berpandangan.
Dirga dan Bayu melangkah maju bersamaan.
Tidak ada gugup.
Tidak ada panik.
Justru wajah mereka tenang, seolah semua ini sudah diprediksi sejak awal.
Bayu berdiri tegak, menatap ke arah para tamu dan kamera, lalu sedikit membungkuk sopan.
“Izinkan saya menjelaskan,” ucapnya tenang.
“Saya Bayu, kepala divisi legal Anderson Group Internasional.”
Beberapa tamu langsung saling pandang.
Nama itu tidak asing.
Dirga menyusul, suaranya sama stabilnya. "Dan saya Dirga, notaris internal perusahaan."
Ares mengernyit.
"Apa yang kalian lakukan? Bukankah—"
Bayu memotong dengan sopan, tapi tegas. "Mohon maaf, Tuan Ares. Seluruh tindakan kami sejak awal dilakukan instruksi langsung dari Nona Elina, baik yang terlihat di depan publik maupun yang berlangsung di belakang layar."
Kalimat itu seperti tamparan keras.
Wajah Ares menegang.
Maya dan Amelia spontan saling pandang.
"Sialan! Kalian menipu saya!" bentak Ares dengan mata menyala.
Bayu dan Dirga hanya saling pandang singkat, lalu kembali menatap lurus, tanpa gentar, tanpa rasa bersalah.
Bayu melanjutkan, kini menatap layar besar.
"Dokumen yang Tuan Ares tunjukkan barusan memang menyerupai surat pengalihan."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi hanya di permukaan."
Ia mengeluarkan tablet, menekan beberapa tampilan.
Tampilan sistem resmi muncul di layar ballroom.
“Secara hukum,” lanjut Bayu tenang,
“tidak pernah ada pengalihan saham, tidak pernah ada persetujuan dewan, dan tidak pernah ada pencatatan negara.”
Dirga mengangguk.
“Dengan kata lain,” ucapnya lurus,
“Dokumen itu tidak pernah memiliki kekuatan hukum.”
Ares mundur satu langkah tanpa sadar.
Rahangnya mengeras, napasnya memburu.
Matanya menatap layar besar itu, seolah berharap tulisan di sana berubah hanya dengan tatapannya.
“Tidak… ini tidak mungkin,” gumamnya lirih.
Tangannya mengepal begitu keras sampai ruas-ruas jarinya memutih.
Lalu tiba-tiba ia mengangkat kepala, suaranya meledak.
“Kalian semua sudah bersekongkol!” bentaknya keras.
Ia menatap Bayu dan Dirga satu per satu, lalu beralih ke Elina.
“Ini permainan kotor! Kamu sengaja menjebak saya!”
“Apa kamu bilang permainan kotor?” ucap Elina dingin, suaranya menggema jelas di seluruh ballroom. “Terus kamu apa, hah? Kamu ingin mengalihkan kepemilikan atas namamu ke perusahaan yang dibangun oleh ayahku, membuat rekening pribadi, menyalurkan semua keuntungan perusahaan ke rekeningmu sendiri, merebut seluruh asetnya—itu namanya apa, hah?!”
Deg!
Ares terperanjat. Jantungnya berdegup kencang. Dari mana Elina tahu semua rencananya? Hal-hal yang seharusnya hanya diketahui segelintir orang kini berucap begitu gamblang di depan publik.
Para tamu kembali dibuat tak percaya. Bisik-bisik menggema, sebagian menutup mulut, sebagian lain mengangkat ponsel lebih tinggi.
"Elina, jangan berkata sembarangan." teriak Ares, suaranya meninggi karena panik. "Tanpa adanya bukti."
Suasana ballroom kembali memanas. Ketegangan antara pasangan suami istri itu terasa menyesakkan, seolah udara di ruangan mendadak habis.
"Bukti?" Elina menyinggung senyum tipis berbahaya. "Kamu minta bukti?"
Ia mengangguk kecil. "Baiklah, pengawal putarkan semua buktinya."
Perintah itu langsung dijalankan.
Layar besar di ballroom menyala, menampilkan satu persatu bukti kejahatan Ares—rekaman percakapannya dengan Bayu tentang rencana pengalihan nama aset perusahaan, chat dengan Dirga yang membahas penyaluran dana perusahaan ke rekening pribadinya dengan nama samaran, data penggelapan dana, aliran uang proyek bangunan yang ia ambil diam-diam... hingga akhirnya, potongan rekaman perselingkuhannya dengan Maya.
Satu ruangan terdiam.
Wajah-wajah para tamu memucat, mata mereka terpaku pada layar. Kejutan demi kejutan jatuh tanpa ampun. Perselingkuhan dengan sahabat istrinya sendiri saja sudah cukup menjijikkan—namun yang lebih parah, kedua orang tua Ares terlihat jelas mendukung perbuatannya.
Ruangan itu membeku.
Tidak ada lagi bisik-bisik.
Tidak ada lagi suara sendok beradu atau langkah kaki gelisah.
Yang terdengar hanya napas tertahan—dan detak kehancuran yang tak lagi bisa disembunyikan.
Wajah Ares pucat pasi.
Bukan marah.
Bukan sombong.
Melainkan ketakutan yang telanjang.
“Matikan! Matikan itu!” teriaknya parau sambil menunjuk layar.
“Ini fitnah! Semua ini direkayasa!”
Namun layar terus berjalan tanpa ampun.
Rekaman suara Ares terdengar jelas, dingin, penuh perhitungan.
Rencana demi rencana dibuka satu per satu, rapi, sistematis, dan kejam.
Beberapa tamu spontan berdiri.
Ada yang menutup mulut tak percaya.
Ada yang menggeleng pelan, jijik.
“Ya Tuhan…” gumam seseorang lirih.
Maya gemetar.
Wajahnya memucat, bibirnya bergetar tak mampu berkata apa pun.
Saat layar menampilkan potongan percakapan mesra mereka, sorot mata para tamu langsung mengarah padanya—tajam, menghakimi.
“Jadi ini sebabnya…”
“Dia selingkuh dengan sahabat istrinya sendiri?”
“Tidak tahu malu.”
Maya mundur satu langkah.
Lalu dua.
Hingga punggungnya membentur meja.
Amelia terduduk lemas di kursinya.
Tangannya gemetar, napasnya tersengal.
Arman menatap lurus ke depan, wajahnya kaku tak sanggup menatap siapa pun.
Plak! Plak!
Dua tamparan mendarat telak di pipi Ares dari Aurelia.
Ares terhuyung setengah langkah, rahangnya mengeras, pipinya memerah, bukan hanya oleh tamparan, tetapi oleh rasa malu yang menghantam tanpa ampun.
“Kami menerima kamu sebagai keluarga,” kata Aurelia pelan namun tajam, setiap katanya menusuk,
“bukan untuk menghancurkan apa yang dibangun dengan darah dan keringat. Dan kamu tega mengkhianati putri saya, dasar brengsek kamu, Ares!”
“Apa salah aku sama kamu, Mas?” bentak Elina, akhirnya meluapkan semua yang selama ini ia tahan. “Sampai kamu tega main di belakang aku, hah! Aku rela menantang kedua orang tuaku hanya untuk bersama kamu, tapi ini balasan kamu?!”
Sorot matanya mengeras saat ia menoleh pada Maya.
“Dan kamu juga, Maya. Aku sudah menganggap kamu sahabatku, tapi ini balasan kamu? Kamu sama seperti perempuan murahan di luar sana!”
Deg!
Ucapan Elina membuat Maya terdiam. Tangannya mengepal, tapi tak satu pun kata mampu keluar.
Ares melangkah mendekat. “Elina, ini tidak seperti yang kamu pikirkan—”
“Stop! Jangan mendekat!” potong Elina tegas. “Sekarang kamu, Maya, dan keluarga kamu keluar dari sini!”
Ia menatap Ares tanpa emosi.
“Dan kamu, Mas… Aku pecat!”
Deg!
“Elina, jangan bawa masalah kita ke dalam lingkungan kerja!” protes Ares, tak terima.
“Setelah apa yang kamu lakukan pada perusahaan saya, kamu masih berani berkata begitu?” sahut Albert dingin. “Tidak ada bantahan. Keluar kalian dari sini.”
Para pengawal segera bergerak, menyeret Ares, Maya, Amelia, dan Arman keluar dari ballroom.
“Lepaskan saya! Elina, aku akan balas kamu!” teriak Ares.
Elina menghembuskan napas panjang. Dadanya terasa lebih ringan. Drama ini akhirnya berakhir, sesuai rencananya, meski ada sedikit rasa perih karena semuanya terpublikasi ke media sosial.
Ia melangkah ke podium.
“Para tamu hadirin yang saya hormati, saya mohon maaf atas kekacauan malam ini. Bukan tanpa sebab saya melakukan semua ini…”
Ia menarik napas sejenak. Bukan gugup, melainkan menguatkan diri.
“Saya melakukan ini,” lanjutnya, “bukan untuk mempermalukan siapa pun, tetapi untuk menghentikan pengkhianatan yang sudah terlalu lama bersembunyi di balik topeng keluarga dan kepercayaan.”
Ruangan tetap sunyi. Tak satu pun tamu berani memotong.
“Elina Aurelia Anderson,” katanya tegas, “tidak akan pernah membiarkan warisan ayah saya dijadikan alat keserakahan, bahkan oleh orang yang pernah saya sebut suami.”
Beberapa tamu mengangguk pelan. Yang lain menatapnya dengan rasa hormat baru.
“Mulai malam ini,” lanjut Elina, “struktur kepemimpinan Anderson Group Internasional tetap berada di bawah kendali keluarga Anderson sepenuhnya. Tidak ada pengalihan. Tidak ada kompromi.”
Ia menoleh ke arah Bayu dan Dirga. “Kepada tim legal dan manajemen yang tetap setia, saya ucapkan terima kasih.”
Bayu dan Dirga membungkuk hormat. Tepuk tangan mulai terdengar, pelan, lalu semakin ramai.
Elina mengangkat tangannya, meminta perhatian kembali.
“Dan untuk kalian semua yang hadir,” katanya, “saya berjanji… perusahaan ini akan tetap berdiri dengan integritas, bukan intrik.”
Tepuk tangan memenuhi ballroom. Bukan sekadar formalitas. Itu pengakuan.
Elina menunduk sopan, lalu melangkah turun dari podium.
Aurelia mendekatinya, menggenggam tangan putrinya erat. “Kamu kuat,” ucapnya lirih. “Lebih kuat dari yang Bunda bayangkan.”
Elina tersenyum tipis. “Karena aku belajar dari Bunda.”
Albert berdiri di sisi mereka. “Malam ini,” katanya tenang, “kamu bukan hanya menyelamatkan perusahaan… tapi juga dirimu sendiri.”
Elina menoleh sekilas ke pintu ballroom, tempat Ares diseret keluar tadi. Tidak ada air mata. Tidak ada penyesalan.