Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Suara Parau dan Papan Tulis yang Menulis Sendiri
Matahari pagi di Kotagede bersinar malu-malu, menyelinap di antara celah dedaunan pohon beringin yang rantingnya banyak patah akibat "badai" semalam.
Halaman rumah Joglo itu tampak seperti medan perang yang baru saja ditinggalkan pasukan. Rumput hangus, pot-pot bunga pecah berserakan, dan tanah yang becek bercampur sisa bubur emas yang mengering.
Namun, udaranya bersih. Sangat bersih. Tidak ada lagi bau anyir darah atau bau belerang. Hanya bau tanah basah dan embun pagi.
Alya sedang menyapu pecahan gerabah dengan sapu lidi. Badannya pegal linu di semua sendi, seolah dia baru saja lari maraton sambil memanggul beras.
Gulo, si monyet Bajang, membantu dengan caranya sendiri: dia memunguti sendok-sendok perak yang berserakan, mengelapnya dengan bulu perutnya, lalu menyusunnya rapi di teras (sambil sesekali berkaca di cekungan sendok).
Di pendopo, Seno duduk di kursi goyang rotan.
Dia memegang lehernya sendiri. Tenggorokannya terasa gatal dan kering, seperti ada pasir di dalamnya. Lima puluh tahun tanpa suara bukanlah waktu yang sebentar. Pita suaranya telah "tertidur" dan kaku.
"Tes..." Seno mencoba bersuara.
Suaranya keluar seperti bunyi engsel pintu karatan yang dipaksa membuka. Krek.
Alya berhenti menyapu. Dia menoleh sambil tersenyum lebar.
"Coba lagi, Pak. Jangan nyerah. A... I... U... E... O..."
Seno berdehem, mencoba melonggarkan otot lehernya. Dia mengambil gelas air hangat.
"A... Air..." katanya. Suaranya berat, dalam, dan serak (bariton), sangat kontras dengan penampilannya yang sederhana. Suara bapak-bapak berwibawa.
"Wah, suara Bapak deep banget," komentar Alya kagum. "Cocok jadi penyiar radio horor."
Seno terkekeh pelan. Dia merasakan getaran tawanya sendiri di dada. Sensasi yang asing tapi menyenangkan.
Dia menatap Alya. Tatapannya hangat.
"Te... rima... ka... sih," ucap Seno perlahan. Setiap suku kata diucapkan dengan penuh penekanan. "Al... ya."
Alya tertegun. Mendengar namanya dipanggil oleh Seno untuk pertama kalinya membuat matanya panas. Selama ini dia hanya dipanggil lewat tulisan kapur atau isyarat tangan.
"Sama-sama, Pak. Kita tim yang hebat, kan?"
Seno mengangguk mantap.
"Tim... hebat."
Mereka duduk berdua di pendopo, menikmati teh hangat dan pisang goreng (kali ini beli di warung tetangga, karena dapur mereka masih berantakan).
"Terus sekarang gimana, Pak?" tanya Alya sambil mengunyah pisang. "Kontrak Bapak udah lunas. Si Bos Hitam itu udah kenyang dan pergi. Berarti... Warung Tengah Malam tutup dong?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Tujuan hidup Seno selama 50 tahun adalah melunasi hutang itu. Sekarang hutangnya lunas. Dia bebas. Dia bisa pensiun, menjual rumah ini, dan hidup normal di desa.
Dan Alya... Alya bisa pulang ke rumahnya, menghadapi masalahnya dengan orang tua, dan kembali sekolah.
Seno terdiam. Dia menatap gerobak warungnya yang parkir di sudut halaman. Gerobak itu penuh kenangan.
Apakah dia ingin berhenti?
Tiba-tiba, terdengar suara kriet... kriet... dari arah gerobak.
Alya dan Seno menoleh.
Papan tulis menu yang tergantung di gerobak itu bergoyang sendiri.
Kapur tulis yang tergeletak di bawahnya melayang naik.
Kapur itu mulai menulis di atas papan hitam.
Sret... sret... sret...
Alya melongo. "Pak... Bapak pake tenaga dalem?"
Seno menggeleng bingung. "Bukan... saya."
Mereka berdua berjalan mendekati gerobak.
Tulisan di papan tulis itu tertulis dengan gaya huruf yang berbeda dari tulisan Seno. Hurufnya tegak bersambung, kuno, dan elegan.
MENU MALAM INI:
TEH BUNGA TELANG & KUE APEM KUAH KINCA
UNTUK JIWA YANG LUPA JALAN PULANG
Di bawahnya, ada tulisan kecil:
KOKI UTAMA: SENO (MANUSIA BEBAS)
ASISTEN: ALYA (PENJAGA PINTU)
Alya membaca tulisan itu dengan mulut terbuka.
"Asisten? Penjaga Pintu? Kok nama saya ada di situ permanen?"
Seno menyentuh papan tulis itu. Dia merasakan denyut energi yang halus. Bukan energi jahat Sang Penagih. Ini energi dari Warung itu sendiri.
Selama puluhan tahun menjadi tempat persinggahan arwah, gerobak dan tanah ini telah memiliki kesadarannya sendiri. Warung ini telah menjadi Titik Simpul (Nexus Point) antara dunia manusia dan dunia gaib.
Warung ini tidak mau tutup.
Dan dia baru saja "memperpanjang kontrak" karyawannya. Tapi kali ini bukan kontrak perbudakan dengan iblis. Ini adalah Panggilan Tugas.
Seno menatap Alya.
"Warung... memilih... kita," kata Seno pelan.
"Maksudnya kita jadi PNS Alam Gaib gitu?" tanya Alya skeptis.
Seno tersenyum tipis. "Mungkin... lebih... seperti... dokter."
Dokter bagi jiwa-jiwa yang sakit. Dulu Seno memasak karena terpaksa. Sekarang, dia ditawari untuk memasak karena cinta dan pengabdian.
"Kamu... mau... lanjut?" tanya Seno pada Alya. "Atau... pulang?"
Alya terdiam. Pulang?
Dia merogoh saku celananya. Mengeluarkan HP-nya yang sudah mati berhari-hari.
Dia menekan tombol Power.
Layar menyala.
Ratusan notifikasi masuk.
Pesan dari ibunya.
"Alya pulang, Nak. Mama janji nggak akan marahin kamu lagi."
"Ayah tirimu sakit, Al. Pulanglah."
Alya menatap layar itu lama.
Lalu dia menatap Seno, menatap Gulo yang sedang mainan sendok, dan menatap papan tulis menu itu.
Di sini, dia merasa berguna. Di sini, dia punya peran. Di sini, dia dihargai bukan karena nilainya di sekolah, tapi karena keberaniannya.
Alya mematikan HP-nya lagi.
"Nanti aja pulangnya," kata Alya mantap. "Lagipula, saya belum bisa bikin Kue Apem. Bapak harus ajarin saya dulu."
Seno tertawa lepas.
"Baik... Asisten."
Seno mengambil kapur tulis, menambahkan satu baris di bawah menu itu.
BUKA JAM 00.00.
MANUSIA DAN HANTU DIHARAP ANTRI.
Malam itu, Warung Tengah Malam buka kembali dengan suasana baru.
Tidak ada lagi ketegangan mencekam. Suasananya lebih santai.
Gulo bertugas sebagai penerima tamu (dan pengambil uang/daun). Alya bertugas mencatat pesanan. Seno memasak sambil bersenandung kecil—sesuatu yang dulu mustahil dia lakukan.
Pukul 01.00 dini hari.
Seorang pelanggan datang.
Bukan hantu menyeramkan.
Tapi seorang gadis muda yang cantik, mengenakan gaun putih modern. Dia terlihat seperti manusia biasa, kecuali fakta bahwa kakinya tidak menapak tanah dan tubuhnya agak transparan.
Gadis itu duduk di bangku panjang. Wajahnya bingung. Dia celingukan seperti orang hilang ingatan.
"Selamat malam, Mbak," sapa Alya ramah, buku menu di tangan. "Mau pesen apa?"
Gadis hantu itu menatap Alya dengan mata kosong.
"Aku... aku di mana? Aku siapa?" tanyanya lirih. "Aku... aku merasa ada janji yang harus kutepati, tapi aku lupa janji apa."
Alya menoleh ke Seno.
Seno mengangguk. Dia sudah menyiapkan Teh Bunga Telang.
Warna birunya pekat, berubah menjadi ungu saat Seno meneteskan jeruk nipis. Teh ini berkhasiat untuk menjernihkan memori.
"Minum dulu, Mbak," kata Alya menyodorkan gelas. "Disini tempat istirahat. Nanti ingatannya balik pelan-pelan."
Gadis itu meminumnya.
Begitu cairan ungu itu menyentuh bibirnya, matanya mulai berkedip. Ingatan mulai mengalir kembali.
Ini adalah kasus pertama di Era Baru Warung Tengah Malam.
Bukan menghadapi monster raksasa, tapi memecahkan misteri kepingan jiwa yang hilang.
Namun, di kejauhan, di balik bayangan pohon asam di seberang jalan, sepasang mata mengintai.
Bukan Jaka.
Tapi seorang pria tua berpakaian batik rapi, memegang tongkat kayu yang ujungnya berbentuk kepala naga. Manusia. Dukun sakti.
Dia melihat Alya yang sedang melayani hantu.
"Jadi itu anak yang memegang Keris Beras Wutah..." gumam pria tua itu. "Menarik. Energinya... murni. Cocok untuk tumbal proyek jalan tol."
Ternyata, musuh di Arc Kedua ini bukan dari dunia bawah.
Melainkan dari dunia manusia yang serakah, yang menggunakan dunia gaib sebagai alat.
Dan Alya, tanpa sadar, baru saja masuk ke dalam radar para praktisi ilmu hitam yang lebih licik daripada iblis manapun.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.