NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: tamat
Genre:Obsesi / CEO / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 30: Keputusan Berani

Tujuh hari.

Selama tujuh hari setelah pertemuan dengan Rara, Aluna menyimpan semuanya sendiri.

Tujuh hari berjalan di samping Arsen seolah tidak ada yang berubah. Tujuh hari tersenyum saat ia menyodorkan teh pagi. Tujuh hari membalas pelukannya dengan hangat yang ia paksakan terasa nyata.

Tujuh hari berbohong dengan tubuh dan senyum, sementara pikirannya tidak pernah berhenti berputar.

Di luar, ia tampak baik-baik saja.

Di dalam, ia sedang menghancurkan dan membangun ulang dirinya sendiri berkali-kali, setiap malam, dalam gelap.

Dan di hari kedelapan, Aluna bangun dengan satu kepastian yang berat seperti batu di dadanya.

Ia sudah membuat keputusannya.

Pagi itu berbeda dari pagi-pagi sebelumnya.

Aluna mandi lebih lama dari biasanya, berdiri di bawah air yang mengalir, membiarkan air hangat itu menyentuh setiap bagian dirinya seolah sedang mencuci sesuatu yang tidak bisa dicuci.

Lalu ia berpakaian dengan hati-hati. Memilih baju yang ia suka bukan yang Arsen pilihkan, bukan yang paling mahal dari lemari yang diisi Arsen untuknya. Hanya baju sederhana berwarna putih tulang yang sudah ada sejak sebelum semua ini.

Sebelum kontrak. Sebelum Arsen. Sebelum hidupnya berubah menjadi sesuatu yang ia tidak sepenuhnya kenali.

Ia duduk di meja rias, menatap wajahnya sendiri di cermin.

Siapa kamu sekarang, Aluna?

Gadis di cermin itu menatap balik dengan mata yang lebih tua dari usianya.

Aku adalah seseorang yang sudah memilih, jawab gadis itu tanpa suara. Dan sekarang aku harus hidup dengan pilihan itu.

Arsen ada di ruang makan saat Aluna turun duduk dengan kopi dan dokumen seperti biasa, kacamata bacanya bertengger di hidung, terlihat seperti pagi-pagi sebelumnya.

Tetapi sesuatu dalam postur Aluna membuat ia mengangkat kepala.

Matanya menatap Aluna dengan cermat. Menilai. Membaca.

"Duduk," ucapnya bukan sebagai perintah, tetapi sebagai pertanyaan yang dibungkus dalam satu kata.

Aluna duduk di kursi di seberangnya, meletakkan tangannya di atas meja terbuka, tidak tersembunyi.

"Aku perlu bicara sesuatu," ucapnya.

Arsen meletakkan dokumennya. Melepas kacamatanya. Memberikan seluruh perhatiannya.

"Aku mendengarkan."

Aluna menarik napas dalam.

"Aku tahu tentang pertemuan kamu dengan Rara."

Hening.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Wajah Arsen tidak berubah tetapi sesuatu di matanya bergerak. Sesuatu yang terlihat seperti kalkulasi, dan di baliknya, sesuatu yang terlihat seperti ketakutan.

"Aluna..."

"Biarkan aku selesai," potong Aluna dengan tenang. Suaranya tidak bergetar. Ia sudah berlatih untuk ini. "Aku tahu kamu mengancam bisnis Mama. Aku tahu apa yang kamu katakan padanya. Aku tahu semuanya."

Keheningan yang turun kali ini terasa berbeda lebih berat, lebih penuh.

Arsen tidak menyangkal. Tidak mencari alasan.

Hanya menatap Aluna dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya campuran antara malu yang ia tidak biasa rasakan, dan ketakutan yang ia tidak biasa akui.

"Aku tidak akan meminta penjelasan," lanjut Aluna. "Aku tidak perlu. Aku sudah mengerti mengapa kamu melakukannya."

"Aluna, aku..."

"Arsen." Satu kata. Caranya mengucapkan nama itu membuat pria di depannya berhenti. "Dengarkan aku."

Arsen menutup mulutnya. Menunggu.

Aluna menatap matanya mata kelam yang selalu bisa membacanya, yang sekarang ia baca balik dengan cara yang mungkin belum pernah ia lakukan sebelumnya.

"Aku menghabiskan tujuh hari terakhir mencoba memutuskan," ucap Aluna pelan. "Antara pergi atau tinggal. Antara memilihmu atau memilih keluargaku. Antara marah padamu atau..."

Ia berhenti sejenak.

"Antara mencintaimu dengan mata tertutup atau mencintaimu dengan mata terbuka."

Arsen tidak bergerak. Tidak bernapas.

"Dan aku sudah memutuskan," lanjut Aluna.

Jantung Arsen yang jarang ia rasakan berdegup karena takutnberdegup dengan keras dan tidak teratur.

"Aku memilih tinggal."

Tiga kata.

Tiga kata yang seharusnya terdengar seperti kemenangan.

Tetapi di mulut Aluna, tiga kata itu terdengar seperti sesuatu yang jauh lebih kompleks dari sekadar menang atau kalah.

"Tetapi bukan karena aku tidak melihat apa yang kamu lakukan," lanjut Aluna sebelum Arsen sempat bernapas lega sepenuhnya. "Bukan karena aku tidak tahu bahwa kamu salah. Bukan karena aku tidak tahu bahwa ancaman itu menyakitkan bukan hanya untuk Rara, tetapi untuk aku juga."

Matanya tidak berpaling.

"Aku memilih tinggal karena aku mencintaimu. Dengan semua gelapmu. Dengan semua kesalahanmu. Dengan semua bagian darimu yang menakutkan dan egois dan posesif."

Ia menarik napas.

"Tetapi aku memilih tinggal dengan satu syarat."

Arsen akhirnya menemukan suaranya, meski terdengar lebih pelan dari biasanya.

"Apa syaratnya?"

"Kamu tidak pernah mengancam keluargaku lagi," ucap Aluna dengan jelas. "Tidak Mama. Tidak Rara. Tidak siapa pun yang aku cintai. Kamu boleh mempertahankanku dengan caramu tetapi bukan dengan menjadikan orang-orang yang aku sayangi sebagai sandera."

Arsen menatapnya.

"Dan yang kedua," lanjut Aluna, "aku akan menghubungi Mama dan Rara. Aku tidak akan memutuskan hubungan dengan mereka, Arsen. Itu bukan pilihan yang bisa kamu buat untukku. Aku boleh memilihmu tetapi aku tidak akan melepas mereka."

Keheningan panjang.

Aluna menunggu. Tidak mundur. Tidak berkedip.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya Arsen Mahendra yang tidak pernah tunduk, yang tidak pernah mundur, yang selalu menjadi pihak yang paling berkuasa di setiap ruangan yang ia masuki menundukkan kepalanya.

Pelan. Berat. Seperti sesuatu yang sangat sulit tetapi tidak bisa tidak dilakukan.

"Baik," ucapnya dengan suara yang rendah.

Satu kata. Tetapi bobotnya luar biasa.

Aluna menatapnya, mencari kebohongan di balik kata itu. Tidak menemukan.

Hanya menemukan pria yang duduk di seberangnya dengan bahu yang sedikit turun bukan karena kalah, tetapi karena untuk pertama kalinya membiarkan seseorang menetapkan batasnya.

"Aku minta maaf," ucap Arsen kemudian, suaranya masih rendah. "Tentang Rara. Tentang ancaman itu. Aku..."

Ia berhenti, mencari kata-kata yang tidak biasa ia cari.

"Aku takut kehilanganmu. Dan aku menangani ketakutan itu dengan cara yang salah."

"Iya," angguk Aluna. "Sangat salah."

"Aku tahu."

"Kamu tidak bisa mengulanginya."

"Tidak akan."

Aluna menatapnya satu detik lebih lama, lalu mengangguk bukan sebagai tanda bahwa semua sudah selesai, tetapi sebagai tanda bahwa percakapan ini sudah cukup untuk sekarang.

Ia bangkit dari kursinya.

"Aku mau menelepon Rara sekarang," ucapnya. "Aku minta privasi."

Dan Arsen untuk pertama kalinya tanpa pertanyaan, tanpa syarat mengangguk.

"Tentu."

Aluna berdiri di teras belakang, memandang taman yang terawat rapi di bawah cahaya pagi, ponsel di tangannya.

Ia menekan nama Rara.

Nada sambung. Dua kali. Tiga kali.

"Luna?"

Suara Rara terdengar kaget, waspada.

"Kak," ucap Aluna. Tenggorokannya terasa sesak. "Aku sudah bicara dengan Arsen."

Hening di ujung telepon.

"Dan?" tanya Rara pelan.

"Aku tetap memilihnya," jawab Aluna. "Tapi aku tidak memilih untuk melepas kalian. Aku tidak mau kehilangan Kak Rara. Aku tidak mau kehilangan Mama."

Helaan napas panjang dari ujung telepon.

"Luna..." suara Rara retak. "Kamu yakin?"

"Tidak ada yang namanya yakin seratus persen dalam hal seperti ini," jawab Aluna jujur. "Tapi ini pilihan yang aku buat dengan mata terbuka. Dan aku akan bertanggung jawab atas pilihan ini."

Keheningan yang panjang. Lalu suara yang terdengar seperti tangis yang ditahan.

"Bisnis Mama aman?" tanya Aluna dengan suara lebih kecil.

"Aman," jawab Rara. "Arsen tidak melakukan apa pun setelah aku pergi. Mungkin dia tahu batasnya juga."

Atau mungkin dia tahu bahwa melakukannya hanya akan memperburuk segalanya, pikir Aluna. Atau mungkin, di balik semua itu, masih ada bagian kecil darinya yang tidak ingin benar-benar menghancurkan orang-orang yang aku cinta.

Ia memilih untuk percaya yang terakhir.

"Aku mau ketemu Mama," ucap Aluna. "Tidak sekarang. Tapi segera. Aku tidak mau ini berlarut terus."

"Aku akan bicara dengan Mama," ucap Rara pelan. "Tidak bisa janji dia akan menerima dengan tangan terbuka. Kamu tahu Mama."

"Aku tahu." Aluna tersenyum tipis meski matanya panas. "Tapi aku juga tahu bahwa Mama mencintaiku. Dan itu sudah cukup untuk mulai."

Saat Aluna kembali ke dalam, Arsen masih duduk di tempat yang sama.

Dokumennya belum dibuka lagi. Kopinya belum disentuh.

Ia hanya duduk, menunggu.

Aluna berdiri di ambang pintu, menatapnya dari jarak itu pria yang mencintainya dengan cara yang terlalu besar, terlalu gelap, terlalu penuh untuk ditampung dengan normal.

Pria yang akan menjadi monster untuknya.

Pria yang baru saja, untuk pertama kalinya, memilih untuk tidak menjadi monster karena ia yang memintanya.

Apakah ini cukup? tanya suara kecil itu lagi.

Tidak tahu,* jawab Aluna dalam hati. *Tapi ini permulaan.

Ia berjalan mendekati Arsen, duduk di kursinya kembali.

"Selesai," ucapnya.

Arsen menatapnya.

"Bagaimana?"

"Masih panjang prosesnya," jawab Aluna jujur. "Mama belum tentu mau langsung menerima. Rara pun butuh waktu. Tapi pintu sudah terbuka lagi."

Arsen mengangguk pelan.

Lalu, dengan gerakan yang lebih hati-hati dari biasanya lebih bertanya daripada mengambil tangannya bergerak ke tangan Aluna di atas meja.

Aluna tidak menarik tangannya.

Tetapi kali ini, ia yang menggenggam tangan Arsen balik bukan sebagai penyerahan, tetapi sebagai pernyataan.

*Aku di sini. Tapi aku juga milik diriku sendiri.*

"Arsen," ucapnya pelan.

"Iya?"

"Jika kamu melanggar kata-katamu tadi," ucap Aluna dengan suara yang tenang tetapi jelas, "aku yang akan pergi. Bukan karena keluargaku yang memintaku. Tapi karena aku yang memilih."

Arsen menatap matanya.

Di sana tidak ada gertakan. Tidak ada drama. Hanya wanita yang berdiri di atas pilihannya sendiri dengan kaki yang lebih kokoh dari sebelumnya.

"Aku mengerti," ucap Arsen.

Dan untuk pertama kalinya dalam hubungan yang penuh dengan kekuasaan yang tidak seimbang ini mereka duduk di meja yang sama, dengan tangan yang saling menggenggam, dalam posisi yang terasa sedikit lebih setara.

Bukan sempurna.

Bukan sembuh.

Tetapi berbeda dari kemarin.

Malam itu, Arsen berdiri di depan jendela ruang kerjanya menatap kota yang bersinar di bawah sana.

Ia menang.

Aluna memilihnya. Aluna tetap tinggal.

Tetapi kemenangan ini tidak terasa seperti yang ia bayangkan.

Tidak ada kepuasan absolut. Tidak ada lega yang sempurna.

Hanya ada satu kalimat Aluna yang terus berputar di kepalanya.

"Jika kamu melanggar kata-katamu, aku yang akan pergi. Bukan karena keluargaku yang memintaku. Tapi karena aku yang memilih."

Untuk pertama kalinya, Arsen menyadari bahwa ia tidak benar-benar menang.

Ia hanya diberi kesempatan.

Dan kesempatan itu bisa dicabut kapan saja bukan oleh orang lain, bukan oleh keluarga Aluna, bukan oleh ancaman dari luar.

Tetapi oleh Aluna sendiri.

Apakah aku bisa menjadi pria yang layak mendapat kesempatan itu?

Ia tidak tahu jawabannya.

Tetapi untuk pertama kalinya untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang selalu dipenuhi dengan kontrol dan kepastian Arsen Mahendra memilih untuk tidak mencari jawaban malam ini.

Ia memilih untuk hanya berdiri di sini. Membiarkan pertanyaan itu ada. Membiarkan ketidakpastian itu hidup.

Dan besok mungkin ia akan mencoba menjadi sedikit lebih baik dari hari ini.

Hanya sedikit.

Tapi itu sudah lebih dari yang pernah ia lakukan sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!