Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Api yang Tidak Padam
Tidak ada perayaan setelah kebakaran itu padam.
Istana kembali tenang, tetapi ketenangan tersebut terasa palsu—seperti kain tipis yang menutup luka bernanah.
Arvella tidak tertidur.
Tubuh bayinya memang terbaring diam di buaian khusus di ruang dalam, namun kesadarannya bergerak liar. Panas yang ia rasakan di gudang memang sudah menghilang, tetapi ada sesuatu yang tertinggal—jejak energi asing, dingin dan licin, bersembunyi di balik sisa bau asap.
Matanya terbuka perlahan.
Merah muda itu berkilau lebih tajam dari biasanya.
“Bayi ini… belum tidur?” gumam Liora pelan, menunduk dari sisi buaian.
Arvella menggerakkan jarinya, pelan, lalu mengepal. Ia tidak menangis, tidak merengek. Hanya menatap langit-langit dengan tatapan yang sama sekali tidak cocok untuk bayi seusianya.
Kael, yang berdiri di dekat jendela, langsung menyadarinya.
“Dia merasakan sesuatu,” katanya lirih.
Liora menelan ludah. “Sejak kebakaran tadi, aku juga merasa… tidak nyaman.”
Arvella mengeluarkan suara kecil—bukan ocehan, melainkan dengusan pendek yang terkontrol. Tangannya terangkat sedikit, menunjuk ke arah barat istana. Bukan ke gudang. Lebih jauh. Lebih dalam.
Kael mengeraskan rahangnya.
“Ruang penyimpanan lama,” ucapnya. “Yang sudah dikunci bertahun-tahun.”
Liora terkejut. “Tempat itu tidak pernah dibuka sejak era Adipati sebelumnya.”
Arvella menggerakkan jarinya dua kali, tegas.
Bukan permintaan.
Itu peringatan.
Lorong menuju ruang penyimpanan lama lebih dingin dari bagian istana lain. Dindingnya berlumut tipis, obor jarang menyala. Setiap langkah menggema terlalu keras, seolah tempat itu menolak kehadiran mereka.
Kael menggendong Arvella kali ini.
Bukan Liora.
Bayi itu menempel di dadanya, tenang, tapi matanya terus bergerak, memindai setiap sudut. Energi di tempat ini berbeda—bukan panas seperti api, melainkan beku, seperti sesuatu yang lama tertidur dan kini terusik.
“Tempat ini seharusnya kosong,” gumam Kael.
Arvella mendengus pelan, lalu menggenggam kain baju Kael dengan kuat.
Tidak kosong. Tidak pernah kosong.
Begitu pintu besi tua itu dibuka, bau lembap langsung menyeruak. Ruangan besar terbentang di depan mereka, dipenuhi peti kayu, rak dokumen tua, dan simbol-simbol aneh yang terukir samar di lantai batu.
Liora menutup mulutnya. “Aku tidak ingat simbol-simbol ini pernah ada.”
Arvella mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyala lebih terang. Jantung kecilnya berdetak cepat—bukan karena takut, melainkan karena mengenali.
Ini bukan pertama kalinya.
Dalam hidup sebelumnya, ia pernah melihat simbol semacam ini.
“Segel,” bisik Kael. “Seseorang pernah menyegel sesuatu di sini.”
Arvella menggerakkan tangannya, menunjuk ke salah satu peti di sudut ruangan.
Peti itu retak.
Bukan karena usia—melainkan dari dalam.
Kael melangkah perlahan, setiap ototnya tegang. Begitu ia mendekat, hawa dingin menusuk kulitnya. Peti itu bergetar pelan, hampir tak terdengar.
Liora mundur satu langkah. “Kael… kita seharusnya memanggil pengawal.”
Arvella menggenggam baju Kael lebih kuat.
Terlambat.
Retakan di peti itu melebar.
Dan suara keluar dari dalamnya.
Bukan suara makhluk, bukan pula suara manusia. Lebih seperti bisikan yang terlalu banyak, bertumpuk satu sama lain, membuat telinga terasa berdengung.
Kael mengangkat pedangnya.
“Siapa yang menyegelmu?” tanyanya keras.
Tidak ada jawaban.
Sebagai gantinya, simbol di lantai menyala redup.
Arvella menjerit.
Jeritan bayi itu menggema, memecah keheningan, membuat semua obor di ruangan menyala sekaligus. Energi merah muda meledak dari tubuh kecilnya, menyapu lantai seperti gelombang.
Peti itu berhenti bergetar.
Simbol-simbolnya retak.
Kael terhuyung, tapi tetap berdiri.
Liora menatap Arvella dengan wajah pucat. “Itu… itu bukan kekuatan bayi.”
Kael menunduk, menatap Arvella yang kini terengah pelan.
“Tidak,” jawabnya. “Itu kekuatan seseorang yang pernah mati.”
Arvella menatap balik Kael.
Dalam tatapan itu, tidak ada kepolosan.
Hanya peringatan.
Beberapa saat kemudian, pengawal tiba. Ruangan disegel ulang, kali ini dengan mantra baru. Peti itu tidak dibuka—belum.
Namun kerusakan sudah terjadi.
Di ruang pribadi, Arvella akhirnya tertidur, tapi tidurnya gelisah. Alis kecilnya berkerut, jarinya sesekali bergerak, seolah menulis sesuatu di udara.
Kael duduk di samping ranjang kecil itu, tidak melepas pandangan.
“Apa yang kau tahu tentang masa lalu istana ini?” tanya Liora pelan.
Kael menghela napas. “Lebih banyak dari yang seharusnya.”
Ia menatap tangan Arvella.
“Kebakaran itu bukan kecelakaan. Itu pemicu. Seseorang ingin memastikan segel lama melemah.”
“Siapa?”
Kael menggeleng. “Belum tahu. Tapi mereka tahu tentang Arvella.”
Liora merinding. “Jadi… bayi ini sudah jadi target?”
Kael menjawab tanpa ragu. “Sejak ia membuka mata untuk pertama kali.”
Di buaian, Arvella bergerak kecil.
Dalam mimpinya, ia melihat bayangan lama—wajah-wajah dari kehidupan sebelumnya, senyum palsu, darah di tangan seseorang yang ia kenal baik.
Dan suara itu kembali terdengar.
‘Kau terlahir kembali… tapi aku juga belum pergi.’
Jari Arvella mengepal.
Api memang sudah padam.
Namun sesuatu yang jauh lebih berbahaya baru saja terbangun.
Dan kali ini, ia tidak akan menunggu sampai dewasa untuk melawan.