"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Pesta
Dimas baru saja duduk di kursi kerjanya, matanya dialihkan oleh sebuah kertas berwarna biru di atas meja tepat di samping komputernya.
Dimas lantas membuka kertas itu. Sebuah undangan pernikahan. Fahri dan Maya, nama yang tertera disana. Rekan kantor Dimas.
"Wiiih! Sold out juga temen kita yang satu itu." Ucap Dimas yang kebetulan ada Tony di sana yang baru saja tiba.
"Ada berita apa, Bro?"
"Si Fahri mau kawin."
"Alhamdulillah. Akhirnya! Satu yang nikah eh yang lain pun ketularan. Semoga abis ini si Angga juga nyusul." Ucap Tony membuat Angga yang baru juga tiba mengucapkan amin paling kencang.
"Aamiin! Aamiin!!" Balas Dimas dan Tony bersamaan.
***
Pukul tiga sore,
Mobil Dimas terdengar masuk ke garasi. Naina berlari kecil untuk menyambut Dimas pulang. Ia tersenyum sumringah saat Dimas turun dari mobil.
"Aku bantu bawain, ya, Mas." Ucap Naina mengambil tas kerja dari tangan Dimas. Kegiatan itu sudah menjadi rutinitasnya sekarang. Mereka berjalan beringinan masuk ke dalam rumah.
Seperti biasa. Dimas selalu saja keheranan dengan sikap Naina yang seolah tidak terjadi apa-apa, padahal semalaman Dimas sengaja tidak keluar kamar untuk mengindarinya. Pernyataan ingin punya anak itu membuat Dimas berada dalam dilema yang semakin membuatnya tertekan.
Dimas membiarkan Naina berjalan masuk ke ke kamarnya untuk meletakkan tas kerja. Sementara, ia mengikuti dari belakang. "Biar cinta ini belum tumbuh, setidaknya aku akan berusaha," batin Dimas sembari menatap tiap langkah kaki Naina.
"Gadis sepolos dan sebaik ini harus merasakan sakit akibat keegoisan ku. Rasanya sangat tidak adil." Sambung Dimas. Hari ini ia berusaha untuk bersikap baik pada Naina, sebagai tebusan rasa bersalahnya kemarin sore dan tadi malam.
*****
"Nai, minggu depan ada undangan pernikahan temen kantor. Kamu ikut, ya."
"Emang boleh, Mas?"
"Kenapa enggak? Teman kantor kan tau aku sudah menikah. Kalau aku datang sendiri yang ada mereka malah bertanya-tanya."
Naina tersenyum, "aku mau, Mas."
"Kita perginya malam, soalnya siang khusus untuk keluarga mempelai."
"Kalo di kota agak beda, ya, Mas acaranya. Kalo di desa ku dari pagi sampai malam untuk umum full nyanyi sama biduan."
"Biduan?" Tanya Dimas.
"Iya. Penyanyi nya."
Dimas memicingkan alis. "Udah lama gak denger kata biduan."
Naina tertawa, "kalo di desa ku itu wajib undang biduan."
"Apa ajalah. Yang jelas nanti kita cari baju yang sesuai untuk malam acara."
Naina mengangguk. Ia seperti tidak sabar untuk menghadiri pestanya orang kota.
***
"Bun, ada telepon, tuh." Ucap Tony memanggil Sofia yang sedang bermain dengan Mahrez. Sofia segera mengambil handphone nya yang terletak tak jauh dari Tony yang sedang sibuk dengan beberapa helai kertas di meja sudut ruangan.
"Assalamu'alaikum. Halo, Nai." Ucap Sofia
"Waalaikumsalam. Halo, Mbak."
"Ada apa, Nai."
"Apa Mbak juga ikut pergi ke pesta, Mbak?"
"Oh, acaranya nikahannya temen kantor mas Tony dan mas Dimas? Enggak, sayang. Susah Mbak perutnya gede." Sofia terkekeh.
"Iya juga, ya. Aku bingung nanti disana tidak ada temannya."
"Kan ada mas Dimas. Tenang aja, teman-teman kantor pada baik-baik."
"Iya, Mbak. Maklum baru pertama kali pergi-pergi pesta." Naina tertawa kecil.
"Selamat bersenang-senang, ya. Semoga kamu happy."
"Iya, Mbak. Terimakasih."
*****
Malam ini terasa seperti lembaran kain sutra yang ditutupi bintang-bintang. Cahaya lampu kelap kelip di atap ruangan memantul ke segala arah, menciptakan kilauan yang melayang-layang.
Musik jazz yang lembut dari band di pojok ruang terdengar dengan lembut, berpadu dengan suara tamu yang sedang mengobrol dan ada juga yang sedang tertawa bersenda gurau. Ramai, semua berpadu.
Naina dan Dimas melangkah beriringan memasuki ruang tempat pesta sedang berlangsung. Naina tampak anggun menggunakan gaun selutut berwarna biru muda, beberapa manik-manik kecil memancarkan sinar ketika terkena cahaya. Begitu juga Dimas, ia terlihat gagah dan berwibawa dengan jas hitam yang ia kenalan.
Mata Naina tertuju pada pasangan-pasangan yang sedang berdansa. Gerakan mereka yang lues, membuat Naina takjub. Seketika ia membayangkan kalau dirinya yang berdansa di sana. "Aaahh! Apa jadinya~~~"
Bau wangi bunga mawar dari meja hias bercampur dengan aroma hidangan lezat yang baru saja dikeluarkan dari dapur. Semua tertata rapi.
Mata Naina bergerak kesegala arah. Terlihat kebingungan dan canggung, untuk pertama kali ia datang ke pesta yang seperti ini.
Dimas mengaitkan tangan Naina kelengannya. "Tetap pegangan seperti ini, gak boleh di lepas." Ucap Dimas, yang di balas anggukan oleh Naina.
"Kadang di situasi seperti ini ada beberapa orang yang kehilangan kesadaran karena minuman. Usahakan kamu selalu di dekat ku." Sambung Dimas.
"Iya, Mas." Naina terlihat sangat senang. Dari penampilan sampai sikap dimas malam ini membuatnya semakin jatuh cinta.
***
Dimas menghampiri Fahri dan Maya yang sedang mengobrol dengan beberapa tamu yang juga baru datang. Tampak orang-orang sedang memberikan selamat pada pria itu begitu juga Dimas dan Naina, menyalami dan memberikan selamat.
"Samawa, ya." Ucap Dimas
"Thanks, Bro."
"Nikmati pestanya dan selamat bersenang-senang." Ucap Fahri.
*
Dimas menggandeng Naina menuju sudut ruang yang terdapat kursi kecil untuk mereka duduk. Disana tersedia beberapa kue-kuean yang terlihat sangat lezat, serta beberapa minuman.
"Kamu mau makan, Nai?" Tanya Dimas. Naina menggeleng.
"Kamu terlihat tegang sekali." Dimas tersenyum kecil memperhatikan raut wajah Naina.
"Lampunya membuat kepalaku pusing." Jawaban polos Naina berhasil membuat Dimas tertawa geli.
Dimas menuang segelas anggur dan menenggaknya. Naina hanya diam memperhatikan. Aroma minuman itu mencuat masuk ke hidung membuat Naina semakin gelisah dengan suasana malam itu.