Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebiasaan yang Tumbuh Perlahan
Setelah Yeye sampai di Australia, hubungan kami tidak berubah menjadi lebih rumit seperti yang sering dibayangkan orang tentang jarak.
Justru sebaliknya, semuanya terasa cukup lancar. Perbedaan waktu kami hanya sekitar dua jam, jadi kami tidak perlu saling menunggu terlalu lama atau mengorbankan jam tidur. Pagi tetap pagi, malam tetap malam. Dunia kami terasa masih sejajar.
Kami sering menelepon hampir setiap hari. Kadang di pagi hari sebelum masing-masing memulai aktivitas, kadang di malam hari setelah semua selesai. Tidak ada jadwal khusus, tapi ada kebiasaan yang pelan-pelan terbentuk. Mengucapkan selamat pagi, menanyakan kabar, memastikan satu sama lain baik-baik saja.
Aku sering mengatakan padanya bahwa aku beruntung memilikinya. Kalimat itu tidak pernah terasa dibuat-buat. Itu keluar karena aku benar-benar merasa demikian. Di tengah hidupku yang berjalan seperti biasa, kehadirannya memberi rasa ditemani. Dia tidak pernah menertawakan atau menghindari kalimat itu.
Kadang dia hanya tersenyum dan berkata,
“I’m happy too,”
atau,
“I’m glad we talk every day.”
Setiap hari, Yeye selalu menceritakan pekerjaannya padaku.
Tentang apa yang dia kerjakan hari itu, tentang rasa lelah yang datang pelan-pelan, tentang cuaca yang sering hujan.
Dia bercerita dengan cara yang sederhana, tanpa drama, seolah ingin aku tetap tahu bagian hidupnya di sana.
Bahkan sering kali, dia menelepon sambil bekerja. Dia memvideokan sekelilingnya—tempat kerjanya, alat-alat yang dia gunakan, suara orang-orang di latar belakang.
“This is my work,” katanya suatu kali.
Aku melihat layar ponselku dengan penuh perhatian, mendengarkan ceritanya, merasa ikut dilibatkan meski hanya lewat layar kecil.
Aku menyukai caranya bercerita.
Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat. Hanya jujur. Kadang dia terlihat capek, kadang matanya tampak berat, tapi dia tetap menelepon. Dan itu membuatku merasa dihargai.
Kami juga sering membicarakan hal-hal kecil.
Tentang makanan yang dia makan hari itu, tentang rokok yang dia hisap saat istirahat, tentang hal-hal sepele yang justru membuatku merasa dekat. Percakapan kami jarang berat. Justru sederhana, seperti dua orang yang saling mengisi hari.
Aku pun bercerita tentang hidupku.
Tentang pekerjaanku, tentang capekku, tentang hari-hari yang kadang terasa biasa saja. Dia mendengarkan. Kadang sambil tiduran, kadang sambil duduk bersama teman-temannya. Tapi dia tetap mendengarkan.
Karena perbedaan waktu kami tidak jauh, komunikasi kami terasa natural. Kami tidak perlu menunggu lama. Tidak perlu merasa bersalah karena menelepon terlalu pagi atau terlalu malam. Semuanya mengalir.
Ada hari-hari ketika aku merasa sangat dekat dengannya. Seolah jarak hanya formalitas. Tapi ada juga hari-hari ketika aku diam-diam bertanya pada diriku sendiri, ke mana semua ini akan berjalan. Aku tidak pernah bertanya langsung padanya. Aku memilih menyimpannya sendiri.
Aku belajar untuk tidak menuntut. Tidak memaksa. Tidak menggantungkan harapan terlalu tinggi. Aku hanya menikmati apa yang ada—panggilan yang datang, cerita yang dibagikan, kehadiran yang konsisten.
Dan selama waktu itu, aku merasa ditemani.
Tidak ada janji besar yang diucapkan berulang-ulang. Tidak ada kata-kata manis yang berlebihan.
Tapi ada usaha. Ada kebiasaan. Ada kehadiran yang nyata.
Aku tidak tahu bagaimana semuanya akan berakhir. Aku tidak mencoba menebaknya. Aku hanya menjalani hari demi hari, panggilan demi panggilan, dengan rasa syukur kecil setiap kali namanya muncul di layar ponselku.
Karena terkadang, yang paling berarti bukan jarak yang berhasil ditembus, tapi seseorang yang memilih untuk tetap ada—setiap hari, dengan caranya sendiri.