NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Di dapur.

Rania melihat sekeliling bagaimana dapur ini menjadi saksi dirinya hanya duduk melihat sang ibu, tanpa mau membantu memasak.

"Rania ayo buat masakan," ujar sang ibu.

"Kamu sekarang sudah menikah, jadi kamu harus masak."

Lena sang ibu bicara demikian kepada putrinya dan Rania hanya menganggukkan kepalanya menuruti permintaan sang ibu.

"Ibu hari ini mau masak apaan?" tanya Rania.

"Ini lihat saja bahan masakannya apa," jawab Lena sambil memotong sayuran.

"Mau masak pastel?" tanya Rania yang heran.

"Iya buat ayah ama suamimu, biarkan mereka bicara di taman belakang."

"Iya nanti jam delapan Bi Rusti datang," kata Lena, mendengar nama pembantu membuat Rania heran.

"Sejak kapan Ibu ngasih kerjaan ke pembantu?" tanya Rania.

Lena sambil membuat adonan pastel berbicara dengan putrinya, sementara Rania merebus kentang agar dapat di olah menjadi hidangan pastel.

Lena menjelaskan jika Karto baru saja mempekerjakan pembantu kemarin hanya sekedar bersih-bersih, seperti mencuci piring, menyetrika, dan mencuci pakaian.

Karto Wiratama amat tak mau jika Lena menikmati masa tua dalam mengerjakannya seorang diri, di tambah Rania sudah menikah.

"Oh."

Rania kembali memotong wortel dan menyiapkan telur rebus buat bahan isian pastel, "dan Bi Rumi orang mana?" tanya Rania.

"Dia tinggal di perkampungan belakang sana, anaknya udah pada nikah semua...Dia tinggal sendirian. Dan butuh kerjaan," ujar Lena.

"Lah emang anak-anaknya nggak pada ngirim uang?" tanya Rania dengan heran.

Lena menjelaskan jika di masa tuanya, Bi Rumi tak mau mengandalkan uang dari anaknya. Yah meskipun anaknya setiap bulan mengirimkan, tapi wanita itu mau memiliki penghasilan tambahan.

"Oh masa tuanya semangat juga ya," ujar Rania.

Rania mengakat kentang yang sudah matang dan memotongnya lalu akan di oseng dengan wortel untuk bagian dalam isi pastel.

"Pakai sarung tangan plastik biar bersih," titah Lena.

Rania menuruti keinginan sang ibu keduanya membuat Pastel untuk cemilan Karto dan Arga yang sedang berbincang di gazebo taman belakang.

"Bu, Rania heran deh kenapa ya, Ayah tuh tipenya kadang tegas kadang lembut," kata Rania.

"Begitulah ayahmu," sahut Lena.

Tak lama Bi Rusti masuk dan membantu menggoreng pastel-pastel itu.

"Rumi kalo sud matang, angkat taruh di piring."

"Baik Bu," jawab Rusti.

Sementara Rania juga membantu meletakkannya pastel yang sudah matang di piring, saat Rania mau mengantar Pastel ke suami dan ayahnya malah dihentikan oleh Lena.

"Bi Rusti anter Pastelnya ke gazebo, dan nanti kamu setrika aja. Soalnya saya mau ngomong bentar ama Rania," pinta Lena nadanya lembut.

"Baik Bu," patuhnya.

Rusti membawa pastel di atas piring membawanya ke gazebo, sementara Lena bicara pada putrinya mengenai rumah tangganya dengan Arga.

"Rania, Ibu sudah tahu permasalahan kamu ama Arga," ujar Lena menatap putrinya.

"Iya, masalah mau punya anak 'kan?" tanya Rania.

"Eyang dan mertua ko sibuk sangat...kenapa rupanya ee?" tanya Lena.

"Yah begitulah Bu, nanti aja soal anak gampang."

Rania menghela napas lelah lantaran dirinya belum siap memiliki anak bersama Arga.

"Ibu sudah izinkan Ko membawa alat fotomu, beruntung ko Rania dapat suami ngerti ko," jelas Lena melanjutkan memasak.

"Yah emang ayah nggak pengertian?" tanya Rania sambil membantu sang ibu membumbui ayam.

"Belum tahu ko watak ayah ko," kata Lena sambil mencuci sayuran untuk sarapan.

"Ko dan Arga pengantin baru, ajaklah Arga ke hutan atau ke tempat alam mumpung su libur," lanjutnya.

Lena berusaha memberikan pengertian pada putrinya, untuk mengajak sang suami aktivitas alam seperti yang Rania lakukan.

"Aku nggak berani Bu bilangnya, iya sih Arga baik tapi gengsi," ungkap Rania yang sudah membumbui ayam.

"Ah Su cemen, nanti biar Ibu yang bilang sama Suami Ko," ujar Lena yang berbicara dengan logat timur.

"Ibu seriusan?" tanya Rania.

"Kalo sa tak serius, sa tak akan memesan layanan trip pribadi ke Bandung!" kata Lena.

Rupanya Lena dua langkah lebih maju di depan Eyang Kartika dan Dian Prananda.

"Hah!" Rania langsung kaget dan heran.

"Ke Bandung?" tanya Rania.

"Ya habiskan waktu di kawah putih, kebun teh dan aktivitas alam yang sering sa lakukan," kata Lena berbicara dengan putrinya.

"Nanti ibu yang berbicara sa Arga, dan Ko tinggal terima jadi!" ujar tegas Lena.

Biaya pernikahan keluarga Prananda yang mengeluarkan----untuk tiket bulan madu dengan inisiatif penuh Lena yang mengeluarkan, karena sebagai besan harus saling membantu.

"Sudah lah Rania lupakan saja, soal Su di bully ama pacee, dia mirip dengan ayah Ko," ujar Lena.

Rania merasa heran, apa yang mirip----Arga berdarah sumatra dan Jawa sementara ayahnya Karto darah Jawa asli, mukanya juga beda.

"Maksud Sa sifatnya, coba ko perhatikan. Jarang laki-laki mau ngurus rumah tangga macam ayah ko dan Arga," kata Lena.

"Iya Ibu nanti Rania akan kasih sprei malam pertama," ujar Rania nampak frustasi dengan tingkah keluarganya yang terlalu memaksa dirinya menerima Arga.

Lena juga menambahkan nikmati waktu selama Arga libur karena bekerja di tambang itu waktu liburnya sedikit, Arga bekerja dua bulan dan libur hanya sebulan.

"Waktu libur Arga hanya seminggu, Nikmatilah."

Setelah mengatakan itu Lena mengambil Pastel untuk di berikan kepada Rusti, dan membawakannya air putih.

"Ibu mau ngatar ini ke Bi Rusti, Su bisa goreng ayam?" tanya Lena.

"Bisa Ibu...Manis, kece," puji Rania.

"Baguslah," ujar Lena di sertai senyum manis.

Rania menatap punggung sang ibu yang sudah pergi, gadis ini hanya menghela napas.

Kakek di Manokwari masih memegang hukum adat, dan tak membiarkan putrinya masuk ke pergaulan bebas. Jadi wajar saat menikah Lena Kagoya masih menjaga kesuciannya.

"Ibu...Astaga kenapa lagi pake acara beli tiket bulan madu ke Bandung," dengus Rania.

*

*

*

1
DewiKar72501823
kak putri cerita mu bagus sekali..the best 👍🏻🥰
Putri Sabina: makasih kakak udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!