Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNTUKKU YANG MANA ?
Rico bangun lebih awal dari Deya, gadis itu masih asyik bergelung di bawah selimut yang membungkus tubuhnya. Iya, mereka tidur di atas tempat tidur yang sama. Namun, di letakkannya guling sebagai pembatas. Itu tak masalah bagi Rico.
Malam itu Deya tidak bisa tidur dengan nyenyak ia takut pada Rico yang ada di sampingnya, padahal nyatanya laki-laki itu hanya tidur tanpa menganggu. Hingga menjelang Subuh dengan mata yang sudah tak lagi bisa menahan kantuk, ia memilih untuk tidur dan Subuhnya kesiangan. Rico merasa enggan untuk membangunkannya, takut-takut Deya akan marah. Jadi dia memilih untuk berolahraga ke luar hotel. Sepulang Rico, ia melihat Deya masih saja begelung di atas tempat tidur dengan mukenahnya.
“De.” Panggil Rico yang masih berkeringat, dan menyentuh lengan Deya yang terbalut kain itu.
Deya menggeliat tanpa membuka mata dan mengubah posisi tidurnya.
“De, ini sudah pagi, ayo bangun. Kita harus cek out nih.” Peringat Rico yang siap-siap untuk mandi.
“Hmm, sebentar lagi.” Ucap Deya dengan suara parau khas orang bangun tidur.
“Ya sudah.” Balas Rico pasrah dan menutup pintu kamar mandi dari dalam.
Benar saja, beberapa saat setelah Rico membawa dirinya ke kamar mandi, Deya bangun dari tempat tidur dan merapikan dirinya. Ia memilih untuk menikmati pagi dengan segelas teh hangat dengan beberapa kudapan yang telah di sediakan. Tak lupa juga secangkir latte untuk Rico.
Mata perempuan itu tertuju pada area sekitar, hembusan nafas berat terdengar. Waktu berlalu seperti tak terasa. Kini ia sudah menjadi istri orang, menjadi tanggung jawab seseorang yang bahkan sama sekali belum lama di kenalnya dan hingga kini cinta belum tumbuh untuk sang suami.
“Aku bahkan tak pernah membayangkan ini semua akan terjadi, aku menginginkan orang yang menjabat tangan ayah itu kamu, tapi ternyata orang lain.” Bisiknya pada angin di tengah sunyi pagi yang sepi itu.
Dari dalam kamar, suara pintu kamar mandi yang dibuka memecahkan lamunan Deya, di liriknya Rico hanya mengenakan handuk yang melilit hingga pinggang. Perut dengan otot yang membentuk roti sobek, surai hitam legam yang terkena air, garis wajah yang tegas serta tulang rahang yang menjadi bingkai wajah laki-laki itu, juga hidung bangir yang semakin mempertegas wajahnya.
“Ha, serius Rico seperti ini ? Seganteng ini ?” Batinnya yang masih memperhatikan Rico yang juga menatapnya heran.
“Kamu kenapa ? Ada yang salah dengan aku sekarang.” Rico bertanya dan mengikis jarak antara mereka.
Deya terlonjak kaget dan segera berpaling “Maaf, maaf.” Ucapnya singkat.
Rico hanya menggelengkan kepalanya dan hendak beralih ke lemari, namun ternyata di atas tempat tidur sudah tersusun rapi pakaian nya yang telah di siapkan oleh Deya.
Senyum lebar menghiasi wajah laki-laki itu, dengan segera ia berganti pakaian dengan pilihan sang istri.
“Nggak mau mandi ?” Tanya Rico yang menyusul Deya ke balkon.
“Nanti dulu, masih mager.” Jawabnya ringan.
Rico mengambil secangkir latte di atas meja dan menuju Deya, di kecupnya puncak kepala sang istri dengan lembut.
“Jam sepuluh kita cek out ya. Atau masih mau disini dulu ? ” Kata Rico pelan dan memeluk pinggang Deya.
Nafas Deya tercekat, ia seperti lupa cara bernafas, karena terlalu kaget dengan yang di lakukan Rico. Mungkin ia harus terbiasa dengan hal itu.
“Mau pulang ke rumah ku atau ke rumah mu ?” Tanya Deya dengan susah payah.
“Rumah kita lah, besok masih cuti kan ?”
“Rumah kita ? Kayak udah punya rumah aja.” Jawab Deya asal.
“Ih, nggak percaya lagi.” Timpal Rico dan mencubit ringan pinggang Deya.
Deya berusaha untuk menghindar, namun lagi-lagi Rico menahannya dan masih saya mencubit ringan pinggang perempuannya.
“Ih geliii.” Ucap Deya dengan pasrah.
“Atau mau dicubit keras lagi ?” Tanya Rico dengan wajah yang mengesalkan bagi Deya.
Pagi itu terlihat sangat menyenangkan bagi Rico, ia melupakan sejenak, bahwa perempuan yang sedang ada dalam dekapannya saat ini tak mencintainya, tapi setidaknya dia bisa menghabiskan waktu bersama dengannya.
***
Rico membawa mobil yang mereka tumpangi memasuki salah satu area perumahan yang berada ditengah kota.
Pandangan Deya hanya menatap sekitar tanpa berucap apa-apa, ia masih berusaha mencerna ucapan Rico pagi tadi yang dikiranya hanya sebuah lelucon.
“Ini beneran kamu punya rumah disini ? Kan setau ku ini baru, trus katanya lumayan mahal. Jangan ih, mending ngekos aja dulu.” Sarannya pada Rico.
“Ngekos gimana sih De. Ini kita ke rumah.” Papar Rico yang masih fokus dengan kemudinya.
“Kamu serius ?” Tanyanya kembali.
Rico tak menjawab Deya dan lebih memilih untuk membuka pintu untuk perempuan itu.
“Ayo masuk.” Ajak Rico.
Lagi-lagi menatap Rico dengan pandangan heran tak percaya. “Ini beneran ?” Tanyanya kembali.
“Iya beneran, masa aku ngajak kamu ke rumah orang sih.” Timpalnya dan menggandeng tangan Deya.
Rumah yang bergaya klasik modern memenuhi pandangan Deya, dengan taman mini juga kolam ikan di depannya. Suara gemercik air membuat yang mendengar semakin tenang. Rico membuka pintu rumah dan mengucapkan salam.
Di liriknya Deya namun tak berada di sampingnya, ternyata perempuan itu sibuk mengagumi isi kolam.
Rico tersenyum gemas dan segera menghampiri sang istri. “Deee, ayo masuk dulu sayang.”
Panggilan sayang dari Rico membuat Deya kaku, ia kembali lagi mendengar orang lain memanggilnya sayang selain kedua orang tuanya dan seseorang beberapa tahun yang lalu.
Deya begitu terkesima dengan furniture yang ada di dalamnya, tersusun rapi dan begitu serasi. Tak ada yang mencolok namun saling melengkapi.
“Ini yang nge dekor siapa ? Kamu ?” Tanya Deya lagi dengan penasaran.
Rico hanya mengangguk, “rumah ini ku beli beberapa bulan yang lalu. Dengan tabungan yang ku kumpulkan bertahun-tahun. Kamu tak perlu cemas memikirkan angsurannya setiap bulan.” Ucap Rico dengan bangga.
“Pantes depannya beda sama yang lain yah, sudah di renov juga ternyata.” Timpal Deya dan mengikuti Rico dari belakang.
“Aku sengaja memilih rumah disini, karena biar dekat dengan kantor mu, rumah kedua orang tuamu dan orang tua ku.” Jelas Rico kembali.
Rupanya laki-laki itu memikirkan sampai hal sedetail itu tentang, sungguh Deya kau sungguh beruntung.
Deya hanya mengangguk paham, dan masih sibuk mengagumi setiap sudutnya.
“Kok nggak ngomong apa-apa sih De, nggak suka ya rumahnya. Atau mau cari rumah di tempat yang lain ?” Tanya Rico yang membaca raut wajah datar Deya.
“Haa, nggak kok, aku suka. Suka banget malah.” Jawab Deya. “Kayak mau beli jajan aja beli rumah.” Lanjutnya.
“Naaa, ini kamar utamanya.” Ucap Rico sambil membuka pintu kamar yang lebih luas dari yang lain.
Deya hanya menjawab dengan cengiran, “He he he, ini ya. Terus kamar ku yang mana ?” Deya bertanya dengan mata yang menatap Rico mantap.
“Kamar mu ?”
“Iyaa, aku nggak mau kita sekamar.” Jawab Deya singkat dan menuruni anak tangga.
Rico merasakan badannya luruh seketika, begitu sesak dirasanya. Perempuan yang dinikahinya tak ingin sekamar dengannya, lalu semalam apa ? Kebahagian yang dirasanya pagi tadi itu apa ?
MIMPI kah ?