Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Alicia
Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan terus terjadi di hutan dan wilayah perbatasan. Leonidas dan Angelo bahkan belum kembali sejak malam itu. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa sekelompok Drex dan monster kecil lainnya mulai bermunculan. Sementara kelompok Estevan sibuk menelusuri dan mencari setiap lubang galian monster yang muncul.
Beatrice sendiri justru kedatangan Alicia hari ini. Wanita cantik berambut blonde itu—yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua darinya, tampak berjalan dengan tenang.
"Marchioness Kyron? Apakah kamu ada perlu denganku hari ini?" tanya Beatrice dengan nada datar.
Beatrice sedang menikmati secangkir teh di gazebo halaman belakang setelah makan siang bersama ibunya.
Alicia melepaskan jubah bertudungnya dan melangkah lebih dekat. Tampak jelas bahwa ia datang diam-diam ke sini.
"Lady Tricia, maaf mengganggu waktu santai Anda hari ini," ujarnya dengan sedikit rasa bersalah.
"Tidak, tidak." Beatrice menjawab cepat. "Aku juga tidak punya kegiatan apa pun hari ini. Duduklah dan minum teh bersama aku."
"Terima kasih." Alicia tak lagi berusaha menjaga jarak, dan duduk dengan anggun di seberang Beatrice.
Erica dengan cekatan menuangkan secangkir teh untuk Alicia. Sadar bahwa ada percakapan pribadi yang akan terjadi, Erica memilih untuk menunggu di luar gazebo.
Alicia menyesap teh hangat yang cukup manis itu kemudian memecah keheningan. "Saya telah bercerai dengan Marquis Kyron sekarang. Jadi saya bukan lagi seorang Marchioness," katanya dengan tenang.
Beatrice terkejut. "Bercerai? Semudah itu?" tanyanya.
Perceraian di zaman ini bukanlah hal yang mudah, bukan?
Beatrice tentu berharap agar Alicia bisa melepaskan diri dari Charls. Namun dia tak menyangka prosesnya akan secepat itu. Dalam benaknya, dia bertanya-tanya apakah dengan berjalannya waktu, Julio dan Alicia akan kembali bersama—atau justru ada hal lain yang terjadi.
"Semuanya berkat bantuan dari dukungan keluarga saya, sehingga semuanya berjalan lancar. Charls dan ibunya punya utang pada banyak keluarga bangsawan. Keluarga saya memanfaatkan situasi ini untuk mendorong perceraian," jelas Alicia dengan nada yang lebih ringan. "Dan saya juga senang mendengar Anda sudah sembuh, Lady Tricia."
"Terima kasih," jawab Beatrice.
"Ada rumor yang beredar bahwa Grand Duke ingin melanjutkan pertunangan dengan Anda. Kapan rencana pertunangan resmi akan diadakan?" tanya Alicia dengan rasa penasaran.
"Grand Duke ingin menunggu hingga perjanjian pertunangan antara kedua keluarga disetujui oleh kaisar." Beatrice menjawab sekenanya. "Mungkin memakan waktu sebulan lagi."
Alicia mengangguk, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Ini juga bagus. Dengan begitu, pernikahan akan lebih mudah dilaksanakan. Ingatlah untuk mengundang saya jika itu pantas," candanya.
"Kenapa tidak pantas?" Beatrice tertawa. "Aku pasti akan meminta ayahku untuk mengundang Duke Vort. Kalau begitu, kalian harus menempuh perjalanan jauh dari wilayah Western."
"Tak masalah. Anggap saja jalan-jalan," Alicia menjawab sesantai mungkin. "Ngomong-ngomong, ada alasan kenapa saya datang ke sini."
Beatrice menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Apa itu?"
Alicia mengatur napas sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan. "Apakah Anda masih ingat dengan pertengkaran yang terjadi pada malam jamuan Duke Vassal?"
"Malam ulang tahun ayahku?" Beatrice berusaha mengingat banyak kejadian yang terlintas dalam pikirannya. "Ya, tentu saja. Kenapa memangnya?"
"Anda bilang bahwa Paula memiliki seorang gadis yang bisa meniru tulisan tangan orang lain. Saya ingin tahu lebih banyak tentang orang itu," kata Alicia yang langsung mengungkapkan tujuannya.
Beatrice terdiam, tak menyangka jika masalah si peniru tulisan tangan ini akan menarik perhatian Alicia.
Sebenarnya, Beatrice sudah lama memiliki kesan tentang si peniru tulisan tangan yang ada di bawah kendali Paula. Dalam cerita aslinya, Paula yang terlahir kembali itu memanfaatkan orang tersebut untuk berbagai tujuan pribadi. Salah satunya adalah untuk mendekati putra mahkota.
Dengan bantuan Charls yang cinta buta padanya, Paula berhasil mendekati putra mahkota dengan informasi yang dia dapatkan dari kehidupan sebelumnya. Bahkan Alicia yang cerdas sekali pun, sering kali tersingkir oleh rencana Paula yang licik.
Setiap kali Alicia akan bertemu satu sama lain, entah itu secara kebetulan atau karena perencanaan Tuhan, Paula selalu muncul sebagai bom waktu. Dia tak hanya membuat hidup Alicia menderita di dalam keluarga Marquis Kyron, tapi juga berusaha membuatnya terlihat berselingkuh dengan putra mahkota.
Charls tentu saja marah besar dan mengurung Alicia. Pria itu sama sekali tak tahu bahwa Paula yang ia cintai itu hanya memanfaatkannya untuk mendekati putra mahkota.
Baru setelah Paula berhasil mendapatkan kepercayaan putra mahkota, dia mulai merencanakan untuk menyingkirkan Charls dari hidupnya. Dan tentu saja dengan bantuan putra mahkota, itu bukan hal yang sulit dilakukan.
"Lady Tricia?" Alicia memanggilnya beberapa kali, melihat Beatrice yang tampaknya sedang melamun.
"Oh ... ya, maaf. Aku terdiam sebentar." Beatrice tersadar dan cepat-cepat mengesampingkan pikiran tentang plot asli itu. "Kenapa kamu ingin tahu soal dia?"
Alicia yang sedang memegang cangkir teh, menatap sisa air teh yang mulai mendingin. "Saya ingin merebutnya dari tangan Paula."
"Kamu ingin membawa dia ke sisimu?"
"Benar. Saya ingin mengambilnya dari Paula. Dia yang menjebak saya dulu dan memaksa saya menikah dengan Marquis Kyron. Saya yakin dia yang jadi otak di balik semua itu. Jadi sekarang, saya ingin mengambil apa yang dia anggap berharga."
"Seberapa yakin kamu bisa melakukannya?" Beatrice mengujinya. "Orang itu sangat setia pada Paula karena dijanjikan uang dan status yang lebih tinggi di masa depan. Kecuali kamu bisa menawarkan sesuatu yang lebih menarik, situasinya mungkin tidak akan berubah," jelas Beatrice.
"Jangan khawatir. Saya yakin bisa meyakinkannya," jawab Alicia dengan senyum percaya diri, matanya bersinar penuh tekad.
Mendengar nada percaya diri Alicia dan melihat cahaya tekad di matanya, Beatrice merasa pikirannya tiba-tiba kosong.
Alicia adalah wanita yang tangguh, penuh percaya diri dan tidak pernah ragu ketika dia sudah bertekad. Tak heran dalam cerita aslinya, karakter Alicia begitu kuat dalam perspektif Paula di kehidupan sebelumnya.
Paula, di sisi lain, hanya tokoh utama wanita yang jahat, menikmati kemuliaan yang didapat dari penderitaan orang lain yang telah ditakdirkan.
Beatrice akhirnya memutuskan untuk tidak menyembunyikan informasi ini dari Alicia. "Namanya Vivienne. Dia tinggal di panti asuhan yang tak jauh dari wilayah Baron Perrone."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian, Beatrice merasa benar-benar kesal saat harus ikut ke panti asuhan bersama dua bersaudara keluarga Vort. Dia membayangkan Alicia berhasil membujuk si peniru tulisan tangan itu, lalu akhirnya bisa melawan balik Paula. Namun, siapa yang tahu, saat menjelang sore, Alicia datang bersama Bernard.
“Mengapa aku masih harus ikut ke sini? Kamu ingin aku memastikan semuanya?” tanya Beatrice, menatap Bernard dengan kesal.
Pria itu hanya tampak khawatir jika Beatrice punya niat lain, takut akan menipu Alicia dan menjadikannya kambing hitam. “Hanya ikuti kami saja, tidak sulit, kan?”
Beatrice memutar bola matanya. Tidak sulit matamu! pikirnya kesal. Sebenarnya, dia hanya merasa sedikit tidak enak badan hari ini.
Alicia hanya bisa meminta maaf dengan wajah menyesal. “Maaf sudah merepotkan Anda lagi, Lady Tricia. Kakak saya memang seperti ini.”
Beatrice tidak bisa menyalahkan Alicia. Lagi pula, dia memang ingin kehidupan Alicia berjalan dengan baik, seperti yang ia lihat dalam penglihatan Paula di kehidupan sebelumnya.
Ketiganya tiba di panti asuhan dan bertemu dengan pengurusnya, seorang wanita paruh baya yang agak gemuk dengan riasan tebal, tapi tampaknya sangat ramah.
“Saya Beth yang mengurus rumah panti ini. Ketiga tamu ini ...?” Wanita itu menyapa mereka dengan hangat.
Beatrice langsung melangkah maju untuk memperkenalkan diri. “Namaku Beatrice dari Kastil Duke Vassal. Panggil saja Lady Tricia.”
“Ah ... Lady Tricia?” Nyonya Beth terkejut dan tampak berpikir keras.
Memang pernah ada rumor bahwa Duke Vassal memiliki anak perempuan yang sakit-sakitan sebelumnya. Dan anak perempuan ini sangat disayangi oleh seluruh keluarga Duke.
Ada juga desas-desus bahwa Beatrice dan Grand Duke Carlitos akan segera bertunangan. Mungkinkah gadis yang ada di depannya ini adalah orang yang dimaksud?
Jika dipikir-pikir, Beatrice memang mirip dengan Duchess Vassal yang berasal dari Benua Timur.