Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
BAB 33: Gema di Balik Tembok
Klinik Lapas pagi itu tidak sesunyi biasanya. Meskipun aroma karbol masih mendominasi, ada getaran aneh yang merayap di sepanjang koridor jeruji. Ahmad Alexander terbaring telentang, menatap langit-langit semen yang retak. Jahitan baru di rusuknya terasa kaku, seperti kawat yang ditarik kencang setiap kali ia mencoba menggeser posisi duduknya. Namun, rasa sakit fisik itu kini kalah oleh rasa tidak nyaman yang muncul dari luar pintunya.
Sejak subuh tadi, satu per satu narapidana—beberapa yang dulu adalah musuh bebuyutannya, beberapa yang dulu gemetar hanya melihat bayangannya—datang mendekat. Mereka tidak lagi membawa kepalan tangan. Mereka datang dengan kepala tertunduk, meletakkan sesuatu di atas meja kecil di luar jeruji klinik melalui celah petugas.
Sebuah apel yang mengkilap, biskuit kaleng yang sudah terbuka, hingga lintingan tembakau murah.
"Ahmad... ini buat tenaga lo," bisik seorang narapidana bertato macan di lehernya, yang dulu pernah dihajar Alek hingga patah hidung. Pria itu kini menatap Alek dengan pandangan yang aneh—perpaduan antara rasa takut dan takjub. "Gue liat lo semalam. Lo bisa bunuh si Bara, tapi lo nggak lakuin. Gue nggak pernah liat orang kayak lo di sini."
Alek hanya mengangguk pelan, suaranya masih tersangkut di tenggorokan. Ia merasa sangat asing dengan perlakuan ini. Di dunia jalanan Venom Crew, rasa hormat dibeli dengan ketakutan. Jika orang tunduk padanya, itu karena mereka takut akan dipatahkan tulangnya. Tapi sekarang, mereka tunduk karena sesuatu yang tidak Alek pahami. Mereka menghormati "kemuliaan" yang ia sendiri belum yakin memilikinya.
"Pak Bayu," panggil Alek saat sipir muda itu masuk untuk mengecek suhunya. "Tolong... ambilkan barang-barang itu. Berikan pada mereka yang lebih butuh di blok bawah. Saya tidak butuh semua ini."
Bayu tersenyum tipis, merapikan selimut Alek. "Mereka memberikannya karena cinta, Ahmad. Bukan karena perintah. Di penjara ini, tidak ada yang lebih berharga daripada melihat seorang singa yang memilih untuk menjadi pelindung daripada pemangsa. Kamu sudah jadi legenda dalam semalam."
Kata "legenda" itu justru membuat jantung Alek berdegup kencang karena cemas. Ia teringat nasihat ayahnya, Pendeta Daniel, tentang kerendahan hati—nasihat yang dulu selalu ia abaikan. Kini, ia menyadari bahwa pujian adalah jenis penjara yang lain. Jika ia tidak hati-hati, ia akan terjebak dalam rasa bangga diri yang baru, sebuah kesombongan "orang suci" yang mungkin lebih berbahaya daripada kesombongan "preman".
Tak lama kemudian, Syekh Mansyur melangkah masuk. Langkahnya ringan, namun kehadirannya selalu membawa ketenangan yang magis. Ia duduk di kursi kayu di samping ranjang Alek, menatap tumpukan pemberian para narapidana itu dengan senyum kecil yang penuh rahasia.
"Bagaimana rasanya menjadi orang besar, Ahmad?" tanya Syekh Mansyur, suaranya lembut namun tajam menghujam batin.
Alek menunduk, meremas ujung selimutnya. "Saya takut, Syekh. Saya merasa tidak pantas. Mereka melihat saya seolah-olah saya adalah orang suci, padahal tangan saya masih berbau darah Bagas. Saya merasa seperti penipu."
Syekh Mansyur mengangguk pelan. "Itu adalah tanda bahwa imanmu masih hidup. Hanya orang-orang yang sombong yang merasa pantas dipuja. Ketahuilah, ujian pedang dari Bara kemarin hanyalah pemanasan. Itu hanya melukai kulitmu. Tapi ujian yang ada di depan pintu klinikmu sekarang—pujian, pemujaan, rasa hormat—itu adalah ujian yang menyerang jantungmu. Jika kau merasa besar karena mereka menganggapmu besar, maka kau telah kalah sebelum berjuang."
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Syekh?"
"Tetaplah merasa sebagai sebutir debu di hadapan Sang Pencipta. Saat mereka memujimu, kembalikan pujian itu kepada-Nya. Katakan pada hatimu bahwa yang mereka puji bukan Ahmad Alexander, tapi hidayah-Nya yang kebetulan sedang menumpang di tubuhmu yang fana ini," Syekh Mansyur mengulurkan tasbihnya, membiarkan Alek menyentuh butiran kayu yang halus itu.
Alek memejamkan mata, mencoba meresapi kata-kata itu. Di bawah bimbingan Syekh, ia mulai mencoba melakukan shalat sambil duduk. Gerakannya sangat terbatas, setiap rukuk membuat rusuknya berteriak, namun ia terus bertahan. Ia menangis dalam setiap sujud batinnya, memohon agar Tuhan tidak membiarkan hatinya membengkak oleh pujian manusia.
"Syekh..." bisik Alek setelah menyelesaikan doanya. "Hari ini jadwal kunjungan Ibu. Saya merasa... itu adalah satu-satunya hal yang bisa membuat saya benar-benar tenang. Melihat wajah Ibu, meskipun Ayah sudah membuang saya."
Syekh Mansyur hanya menatap jendela klinik yang jauh, di mana awan hitam mulai menggantung di atas tembok penjara. "Mintalah pada-Nya agar hatimu dikuatkan untuk apa pun yang akan muncul di balik pintu ruang besuk nanti, Ahmad. Karena sering kali, ujian yang paling berat datang dari orang-orang yang paling kita cintai."
Alek tidak mengerti maksud Syekh, namun ia mulai merapikan baju koko putihnya yang baru dicuci oleh petugas. Ia menyisir rambutnya, membersihkan sisa lebam di wajahnya dengan air dingin. Ia menunggu dengan penuh harap. Ia membayangkan aroma ayam arsik masakan ibunya, ia membayangkan pelukan hangat yang akan menghapus rasa sakit di rusuknya.
Ia menunggu satu jam. Dua jam. Hingga jam kunjungan hampir berakhir, pintu klinik itu tetap tidak terbuka untuk membawanya ke ruang besuk. Setiap bunyi kunci petugas membuat jantungnya melonjak, namun setiap kali pula harapan itu padam saat petugas hanya lewat begitu saja.
Alek tidak tahu bahwa di luar sana, ibunya sedang gemetar di pinggir jalan raya, sementara ia di dalam sini mulai merasa sunyi kembali—sebuah kesunyian yang sengaja diciptakan oleh dendam Bapak Rahardjo untuk menghancurkan sisa-sisa harapan Ahmad Alexander.
Hujan gerimis mulai membasahi aspal jalanan Bandung sore itu, menciptakan uap tipis yang menyesakkan. Di sebuah persimpangan sunyi beberapa kilometer dari gerbang Lapas, sebuah mobil Toyota tua berwarna biru pudar melambat. Di dalamnya, Ibu Maria duduk dengan tangan yang menggenggam kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di kursi sampingnya, sebuah rantang susun dibungkus kain serbet kotak-kotak masih mengeluarkan uap hangat. Aroma ayam arsik—dengan bumbu andaliman yang kuat—memenuhi kabin mobil.
"Tunggu Ibu, Lex," bisiknya pelan. "Ibu tidak peduli apa kata Ayahmu. Ibu hanya ingin kau makan enak hari ini."
Namun, saat ia hendak membelokkan setir, sebuah sedan hitam dengan kaca gelap pekat mendadak memotong jalannya, memaksa Ibu Maria menginjak rem sedalam mungkin. Tubuhnya terhentak ke depan. Rantang di sampingnya terguling, menumpahkan sedikit kuah kuning ke jok mobil.
Sebelum ia sempat memprotes, dua pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam turun dari sedan tersebut. Salah satunya mengetuk kaca jendela Ibu Maria dengan gerakan yang santai namun mengancam.
"Ibu Maria Panjaitan?" tanya pria itu saat Maria menurunkan kaca dengan tangan gemetar.
"I-iya. Ada apa ya? Saya sedang terburu-buru," jawab Maria, suaranya bergetar.
Pria itu tidak menjawab. Ia justru menyodorkan sebuah tablet digital ke depan wajah Maria. Di layarnya, terpampang foto suaminya, Pendeta Daniel, yang sedang berjalan keluar dari gereja. Namun yang membuat jantung Maria seolah berhenti adalah tanda laser pointer merah yang tepat membidik dada suaminya di dalam foto tersebut.
"Suami Ibu adalah orang terhormat. Jemaatnya banyak," suara pria itu dingin, sedingin AC mobil mewah. "Akan sangat disayangkan jika besok pagi berita utama di koran bukan soal khotbahnya, tapi soal kecelakaan tragis di depan gerbang gereja."
Maria menutup mulutnya dengan tangan, air mata seketika merebak. "Apa... apa mau kalian? Kami tidak punya uang sebanyak itu!"
"Kami tidak butuh uang Anda, Bu Maria," pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Bapak Rahardjo hanya ingin Ibu pulang. Sekarang. Jangan pernah temui Alexander lagi. Jangan kirimi dia makanan, jangan kirimi dia surat. Anggap dia sudah mati, seperti halnya dia menganggap Bagas sudah mati."
"Tapi dia anakku! Dia sedang terluka di dalam sana!" tangis Maria pecah.
Pria itu mendekat, membisikkan kalimat yang menghancurkan pertahanan terakhir sang ibu. "Pilih mana, Bu? Menjenguk anak 'murtad' yang sudah merusak nama keluarga Anda, atau melihat suami Anda pulang dalam peti mati malam ini? Bapak Rahardjo tidak suka mengulang perintah."
Maria tergugu. Bahunya berguncang hebat. Di dalam kepalanya, bayangan wajah Alek yang lebam beradu dengan bayangan suaminya yang bersimbah darah. Ia melihat ke arah gerbang Lapas yang sudah terlihat di kejauhan. Begitu dekat, namun terasa jutaan mil jauhnya.
Dengan tangan yang lemas, Maria memutar kemudi. Ia melakukan putar balik di tengah jalan yang sepi itu. Di spion tengah, ia melihat sedan hitam itu tetap membuntutinya, memastikan ia benar-benar pulang.
Sementara itu, di dalam penjara, jam dinding di atas meja sipir menunjukkan pukul 16.00 WIB. Jam kunjungan telah resmi berakhir.
Ahmad Alexander masih duduk tegak di pinggir ranjang kliniknya. Baju koko putihnya yang rapi kini tampak menyedihkan. Ia sudah menunggu selama enam jam tanpa bergerak. Setiap kali pintu bangsal terbuka, jantungnya melonjak, berharap melihat sosok wanita paruh baya dengan senyum teduh itu masuk membawa rantang. Namun yang masuk hanyalah Bayu dengan wajah yang sulit diartikan.
"Ahmad..." Bayu mendekat, meletakkan tangannya di bahu Alek. "Jam kunjungan sudah tutup. Petugas gerbang bilang... tidak ada nama Maria Panjaitan di daftar tamu hari ini."
Alek terdiam. Keheningan yang menyusul kata-kata Bayu terasa lebih menyakitkan daripada tusukan sikat gigi Bara. Ia menunduk, menatap tangannya yang kosong.
"Mungkin Ibu sakit, Pak Bayu," bisik Alek, mencoba mencari alasan untuk menenangkan hatinya yang mulai retak. "Atau mungkin macet... Bandung sedang hujan, kan?"
Bayu tidak tega menjawab. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres di luar sana, tapi ia tidak punya bukti.
Alek memejamkan matanya rapat-rapat. Ia merasakan setetes air mata jatuh ke punggung tangannya. Inilah ujian yang dibicarakan Syekh Mansyur. Di saat para narapidana memujanya seperti pahlawan, keluarganya justru membuangnya seperti sampah. Di saat ia merasa paling dekat dengan Tuhan, ia merasa paling jauh dari manusia yang paling ia cintai.
"Pak Bayu," suara Alek kini terdengar sangat kosong. "Boleh saya minta tolong? Tolong simpan baju putih ini. Berikan saya seragam tahanan yang lama saja."
"Kenapa, Ahmad? Kamu terlihat pantas memakai ini."
"Baju ini terlalu bersih untuk hati saya yang masih penuh sisa harapan pada manusia," jawab Alek pahit.
Malam itu, Alek tidak makan. Ia hanya duduk bersila di atas ranjang, memegang tasbih kayu dari Syekh Mansyur. Ia mulai menyadari bahwa jalan cahaya yang ia pilih bukan hanya menuntut darah dan keringat, tapi juga menuntut pengorbanan perasaan yang paling dalam.
Di luar, Bapak Rahardjo menyesap wiski mahalnya sambil menatap layar monitor. Ia tersenyum puas melihat laporan bahwa Ibu Maria telah pulang. "Satu per satu akarmu akan kupotong, Alexander. Sampai kau tidak punya alasan lagi untuk bernapas," gumamnya pada kegelapan.
Dendam itu belum usai. Justru, ini baru saja dimulai.
Bab 33 Selesai.
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg