"Perpisahan kita bukan salah siapa2. Bukan sepenuhnya salahmu, salah ku , salah dia ataupun salah waktu. Kita adalah dua orang yg tepat, tapi tepat disini bukan sebagai pasangan melainkan sebagai pembelajaran untuk kita menjadi lebih dewasa"
Nada Ageta Putri
"Jika kesalahan ini sebagai pembelajaran. Bisakah aku tetap belajar bersama mu sehingga kita bisa dewasa bersama"
Juna Genio Lin
"Apakah perasaan cinta sebuah kesalahan? Jika memang iya, aku tak ingin perasaan ini. Perasaan ini terus menggerogoti kewarasan ku dan membuat ku menjadi jahat yang menyakiti orang di sekeliling ku"
Senar Anggriani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moms F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Bab 8
Di sisi lainnya, seorang wanita cantik yang duduk disamping sang suami menghela nafasnya sambil bergeleng kepalanya kepada suaminya setelah telponnya di tutup oleh putrinya.
Melihat sang suami yang tampak sedih sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Wanita cantik merangkul bahu suaminya.
"Aku Ayah yang buruk, Aku telah membuat hati putri kecilku terluka. Dan sampai sekarang ia bersikap dingin kepadaku"
"Hanya demi reputasi, dan persahabatan. Aku mengabaikan kebahagiaan putriku"
"haha,, aku telah melanggar janjiku"tawanya lirih
" Saat putri yang ku nanti-nantikan lahir. Aku berjanji akan memanjakannya. Memberikan dunia padanya. Aku akan menghajar siapapun yang membuat nya bersedih, apalagi kalau itu laki-laki, aku akan menghancurkan lelaki itu jika berani membuat air mata putri ku terjatuh" ucapnya melihat sang istri
"tapi lelaki itu aku, aku lelaki yang membuat air matanya jatuh. Aku Ayah yang buruk"lirihnya sambil menarik rambutnya.
Sang istri yang melihat itu tak tega dan langsung memeluk suaminya.
Sedangkan lelaki muda didepan mereka tak tahan melihat orang tuanya bersedih dan memilih pergi kearah kamarnya.
"Segitu bencinya kamu sama Abang, dek" lelaki itu sambil memandangi foto gadis cantik dengan senyum manis.
"maafkan abang, dek. Tolong maafkan abang, Abang salah. Tolong maafkan abang" lirihnya sambil mengelus foto tersebut. Tanpa ia sadari airmata yang kini tak terbendung jatuh ke atas foto tersebut.
Sungguh ia sangat menyesal, jika ia tak egois menyimpan rahasia itu. Dan membuat persahabatan nya hancur. Jika ia terlebih dulu memberitahu adiknya. Mungkin Ia tak akan kehilangan senyum manis adik perempuannya. Mungkin ia masih mendengar suara merdu adiknya yang memanggil Abang setiap saat. Ia masih bisa memanjakan adiknya dan menjahili adiknya hingga sekarang. Dan mungkin masih ada suara tawa dan canda yang mengisi rumah yang sekarang terasa dingin sejak satu tahun ini.
Tapi semua itu hanya sebatas jika. Kini sudah setahun lamanya ia kehilangan semua itu. Dan sampai sekarang adik perempuan yang selalu ia jaga tak kunjung memaafkan nya.
Jangan kan memaafkan, hanya untuk bertemu atau menelepon untuk mendengarkan suaranya agar bisa mengobati rasa rindunya. Ia harus melalui mamanya, jika ia nekad langsung. Pasti sang adik akan semakin membenci nya. Dan memblokir nomornya.
...----------------...
Tampak lelaki yang sedang memandangi foto seorang gadis dengan senyuman manisnya. Jika ia lelah, ia hanya memandang foto di tangannya. ia bertanya-tanya dalam hati. Apa yang sedang dilakukan gadis ini. Bagaimana keadaannya sekarang. Apa ia masih menangis di sudut ruang. Apa ia masih mengingat janjinya. Apa ia masih bersedih karena lelaki itu, ia sangat merindukan gadis kecilnya.
Ingin sekali rasanya ia mendatangi gadis kecil itu dan memeluk nya dengan erat dan memberi tahunya. Bahwasanya ia akan selalu ada untuknya. Bahwasanya ia tak akan pernah menyakiti nya. Bahwasanya ia tak akan membiarkan air matanya terjatuh.
Ia rela mengorbankan apapun agar gadis itu bisa tersenyum .
Kring
Kring
"Halo" jawab lelaki itu dengan suaranya yang serak
"hmm,, baiklah. Saya akan segera kesana" jawabnya setelah mendengarkan suara di ujung telpon.
......................
Seminggu telah berlalu....
Tampak di kamar, dua gadis sibuk dengan urusannya dan sesekali mereka berdebat hal-hal kecil.
"Ody,, kamu serius ini kan" tanya Nada menatap melody yang sibuk menyusun pakaiannya ke dalam tas.
"Iya dong, aku kesini kan ngikutin kamu biar kamu ngak kesepian. Jadi kalau kamu pergi, aku juga akan pergi dong"
"Lagian aku sudah setengah tahun yang lalu ngak ketemu Abang ganteng . Aku juga harus ikut. Tahu ngak Nad, wajah Abang mu jadi mood booster buat aku" kekeh Melody yang membayangkan wajah dingin Enzo dan wajah kesalnya karena sering di goda oleh nya.
Nada hanya geleng kepala melihat kelakuan sahabat nya. Yang tak henti-hentinya mengganggu abangnya. Biasanya orang-orang pada takut melihat abangnya. tapi tidak dengan Melody, ia terus menerus menggangu abangnya. Dan jika di tanya Melody takut tidak dengan abangnya. Jawabannya tidak, karena gangguin orang dingin lebih menantang katanya.
"Tapi yang ngurus perusahaan disini siapa Ody"
"Ya kan ada Santi yang ngawasin. Lagian kan kita bisa ngontrol dari jauh sih Nad. Lagian kalau ngak bisa di handel. Tinggal pindahan saja kesana." ujar Melody
"Tapi kan kita baru juda setahun mulai. Masa mau di pindahkan. Terus pelanggan kita gimana? " kesal Nada melihat sahabatnya yang masa bodoh.
"kan bisa nyuruh mereka kesana sih. Gitu aja repot" jelas Melody yang mengangkat kedua bahunya.
"Terserah mu aja, masa bodoh" kesal Nada yang melihat kelakuan Melody yang sangat santai.
"Nanad" panggil Melody
"hmm"
" kamu yakin nih nerima saran kak Enzo, nyoba ngambil proyek itu " ucap Melody ngak yakin
"Emang kenapa" tanya Nada menaikan alisnya
"ya,, Ya kan secara..."
"kamu takut kalau aku kesana aku bakal sedih lagi gitu?" kekeh Nada yang ngak ambil pusing
"Kamu sendiri yang bilang sama aku, aku harus berdamai kan? jadi apa salahnya nerima tawaran bang Enzo dong" ujar Nada mengangkat kedua bahunya tak peduli
Setelah mendengar Melody, Nada memikirkannya semalaman. Dan kebetulan Abang pertamanya meminta tolong padanya untuk mengambil proyek dari perusahaan besar di sana. Kebetulan Nada yang tak ada kegiatan mengiyakan ajakan tersebut.
"Oia Ody, nanti kalau sampai sana. Aku mau pulang kerumah dulu. Kamu juga pulang sana. Tante Cici berkali-kali nelpon aku, ngadu sama aku. Katanya Om Bima kangen sama kamu. Sampai nangis malam-malam karena kangen sama anak gadisnya. Anak gadisnya ngak ingat rumah" kekeh Nada membayangkan Om Bima yang memiliki badan yang kekar menangis memeluk bantal Melody karena rasa kangen pada anaknya.
Maklum saja, Melody anak tunggal. Anak yang sudah di nantikan oleh Bima di umurnya yang tak lagi muda. Jadi tentu saja Melody menjadi anak emas Bima. Semua keinginan melody pasti diturutin oleh Bima.
Menurut cerita Tante Cici. Sewaktu kecil. Melody ingin tinggal di Afrika agar bisa bermain dan tinggal sama bintang buas. Jika saja Om Bima tidak takut sama Tante Cici. Pasti Om Bima bakal menurutinya dan memboyong keluarganya pindah ke Afrika. Sungguh kasih sayang ayah tak terkira bukan.
Makannya Melody menjadi anak yang periang dan tak takut apapun di bawah perlindungan Bima.
"Kamu serius Nad" ucap Melody. Nada hanya menaikkan alisnya tanpa mengerti
"Maksudnya, kamu sudah berdamai gitu aja dengan mereka" jelas Melody yang terkejut. Bukannya seminggu yang lalu mamanya nelpon dan dia lagi dalam suasana hati yang sedih. Baru lewat seminggu suasana hatinya sudah membaik.
Nada hanya mengangkat bahunya "Entah ya, mendengar ucapan mu. Aku berfikir, timbang aku terus menerus sembunyi. Lebih baik ku hadapin bukan"
"Lagian kamu benar. Berdamai adalah pilihan terbaik. Aku tak mungkin terus menerus lari. Aku ingin membuka lembaran baju. Aku juga ingin bahagia" ucap Nada menampilkan senyum di bibirnya yang sudah lama tak di lihat oleh Melody.
"hahaha,, bagus. Ini baru Nanad ku" tawa Melody yang merasa bahagia melihat perubahan sahabat nya.
"Apapun keputusan mu. Apapun jalan yang kamu ambil. Ingat aku selalu mendukungmu"
Mendengar itu Nada merasa terharu. Dengan mata berkaca-kaca Nada menubruk ke pelukan Melody.
"Aaa,, Ody ku. Kamu baik banget, aku jadi sayang banget sama Kamu" seru Nada dengan airmata yang tak jatuh di senyum yang tersungging di bibirnya.
"Etsss, aku masih normal ya. masih suka roti sobek dan terong ya" jelas Melody berpura-pura melepaskan pelukan Nada merasa geli sendiri.
"Ishhh,, Odyyy" seru Nada yang tak mau melepaskan pelukannya.
Nada bersyukur memiliki sahabat seperti Melody. Saat terpuruknya, Melody selalu berada di samping nya. Memberikan dukungan untuk nya. Memeluk tubuh dan hatinya yang hancur. Nada tak tahu, jika melody tak ada. Mungkin Nada bakal depresi akibat berita bertubi-tubi yang ia terima setahun yang lalu. Nada sangat bersyukur akan melody yang datang di hidupnya.
#TBc
semangat nada!!!💪💪💪
ini othor nya yang keren nih bisa memainkan emosi para pembaca nya.... good job,Thor ...🫰🫰🫰🫰
lari lah sejauh mungkin.... tinggalkan sumber rasa sakit itu & cari kebahagiaan mu ditempat yang baru...
semoga setelah patah hati karena tiga orang ini, nada bisa bangkit lagi melupakan kesakitannya, bila mungkin jauhkan nada dari orang2 yang kejam ini Thor