Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 PUNCAK YANG MENGHILANG
Fajar terakhir di Tebing Kehendak seharusnya menjadi momen kemenangan, namun semesta memiliki cara yang lebih kasar untuk menguji seorang manusia yang telah berani membakar sejarahnya. Abimanyu berdiri di sebuah langkan batu yang begitu sempit, di mana setiap embusan napasnya seolah mampu mengguncang keseimbangan antara hidup dan ketiadaan. Tubuhnya, yang kini telah mengeras dan tidak lagi mengenal kelembutan kain tweed cokelat, menatap ke arah tempat yang seharusnya menjadi titik akhir pendakiannya.
Namun, di depannya, Gunung Kehendak yang selama ini menjulang dengan puncak tajam yang mengiris langit, tiba-tiba lenyap.
Bukan karena ia telah sampai, melainkan karena sebuah gumpalan awan hitam yang masif dan pekat turun dari langit tertinggi, menelan seluruh bagian atas gunung dalam kepekatan yang tak tertembus. Puncak itu tidak lagi terlihat. Koordinatnya menghilang. Tujuan yang selama ini menjadi "kompas" bagi setiap langkah berdarah Abimanyu kini telah menjadi mitos yang tak terbukti.
Abimanyu berhenti. Kesunyian di sini berbeda dengan kesunyian meditasi di kaki gunung. Ini adalah kesunyian yang mencekik, sebuah kekosongan yang seolah-olah berbisik bahwa seluruh penderitaannya—mulai dari pembakaran buku hingga penyeberangan jurang ketiadaan—adalah sebuah lelucon kosmik yang tak bermakna.
"Di mana tujuanmu sekarang, Sang Pendaki?" suara itu kembali muncul, namun kali ini ia tidak lagi menyerupai Kurcaci Gravitasi atau bayangan Profesor Danu. Suara itu adalah suara kedinginan itu sendiri. "Kau telah membakar 'Manusia Kertas' di lembah karena mereka memuja angka. Sekarang, kau sendiri kehilangan angka terakhirmu: ketinggian puncak. Kau mendaki menuju ketiadaan."
Abimanyu teringat pada ruang-ruang rapat universitas di Lembah Nama. Di sana, segala sesuatu memiliki "Capaian Pembelajaran" yang jelas, sebuah target yang bisa diukur dan diverifikasi oleh juri akreditasi. Mereka memberimu peta, dan mereka menjanjikan bahwa di ujung jalan ada sebuah garis finish yang sah.
Di sini, di tengah awan gelap, tidak ada sertifikat yang menanti. Tidak ada puncak untuk dipotret dan dipamerkan pada dunia yang telah ia tinggalkan.
"Apakah aku mendaki karena aku ingin 'sampai', atau karena aku 'mau' mendaki?" Abimanyu bertanya pada dirinya sendiri, suaranya parau terkena madu pahit yang masih membekas di lidahnya.
Ia teringat akan transformasinya menjadi Anak Kecil. Seorang anak tidak bermain untuk menyelesaikan permainan, ia bermain karena permainan itu sendiri adalah hidupnya. Jika ia mendaki hanya demi sebuah puncak yang statis, maka ia sebenarnya tidak berbeda dengan Profesor Danu yang mengejar jabatan Dekan atau gelar yang dibingkai. Ia hanya sedang memindahkan "target pasar" dari lembah ke gunung.
"Puncak yang menghilang adalah berkah terakhir," gumam Abimanyu sambil menyentuh cadas yang kini basah oleh uap awan hitam. "Ia membebaskanku dari berhala terakhir: Berhala Hasil Akhir."
Ia menyadari bahwa selama ini ia masih menjadi tawanan dari logika "jika-maka". Jika aku mendaki, maka aku harus sampai. Namun di atas Tebing Kehendak, hukum yang berlaku adalah hukum "Aku Mau".
Tanpa jaminan bahwa ada tanah padat di balik kabut hitam itu, Abimanyu kembali mengangkat kakinya. Ia tidak lagi melihat ke atas untuk mencari cahaya matahari, karena cahaya sejati kini harus ia ciptakan sendiri dari dalam rongga dadanya.
Ia melangkah masuk ke dalam awan gelap itu. Jarak pandangnya menyempit hingga hanya beberapa sentimeter di depan hidungnya. Seluruh dunia fisik seolah-olah telah dihapus. Yang tersisa hanyalah sensasi kasar batu di jemarinya dan detak jantungnya yang stabil—sebuah ritme perkusi dari kehendak yang telah memenangkan kedaulatannya.
"Aku tidak membutuhkan puncak untuk membuktikan bahwa aku mendaki!" teriaknya ke dalam kegelapan. "Aku adalah puncak itu sendiri! Setiap langkahku adalah tujuan! Setiap rasa sakitku adalah mahkota!"
Di dalam kegelapan itu, Abimanyu menemukan keberanian yang paling murni. Ia tidak lagi mendaki karena "tugas" atau "ambisi", melainkan sebagai sebuah perayaan atas kekuatannya sendiri yang mampu terus bergerak saat segala arah telah hilang. Ia telah benar-benar melampaui "Manusia Kertas" yang butuh jaminan keselamatan sebelum melangkah.
Awan hitam itu tidak kunjung menyingkir, namun Abimanyu terus bergerak ke atas. Ia merasa jiwanya kini seringan angin, namun sekuat granit. Ia telah melampaui rasa takut akan kegagalan, karena baginya, satu-satunya kegagalan adalah jika ia berhenti bergerak.
Di titik tertinggi yang bisa ia capai—meskipun ia tidak tahu apakah itu puncak yang sebenarnya atau bukan—Abimanyu berdiri tegak. Ia tidak lagi mencari pengakuan dari bintang-bintang atau matahari perak. Dalam ketiadaan pandangan itu, ia menemukan kedaulatan mutlak. Ia bukan lagi "objek" dari sistem atau "poin" dalam data kependudukan.
Ia adalah sang Pendaki yang telah melampaui gunungnya sendiri.
Abimanyu berdiri di tengah awan hitam yang pekat, tertawa dengan tawa seorang Anak yang baru saja menemukan bahwa dunia ini adalah sebuah permainan tanpa akhir. Ia telah membakar masa lalunya, menolak berhala-berhala dingin, dan kini ia telah menaklukkan tujuannya sendiri.