Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.2
-Flashback Sebelum Tiba Di Desa Tujuan.-
Bus tua berwarna hijau kusam itu belum benar-benar berhenti sempurna ketika kegelisahan mulai merayap pelan di antara para penumpangnya. Setelah melewati gapura kayu tua dan lorong pepohonan yang terlalu rapat untuk sekadar disebut hutan biasa, perjalanan terasa seperti berlangsung di luar waktu. Jam tangan beberapa orang mati. Ponsel yang sempat menyala kini hanya jadi benda reflektif tanpa fungsi.
Di lorong sempit bus itulah, satu per satu watak mulai terlihat. Bukan lewat pengakuan, tapi lewat reaksi.
Udin berdiri di lorong bus, satu tangan memegang sandaran kursi, satu tangan lagi memegang map biru bertuliskan “PROGRAM KERJA KKN”. Tubuhnya tinggi sedang, sekitar 170-an, bahunya agak bidang, wajahnya terlihat serius, terlalu serius untuk ukuran mahasiswa yang baru saja salah naik bus dua jam lalu.
Rambutnya rapi, kemejanya dimasukkan ke celana, dan dari cara dia berdiri, jelas sekali, ini orang mau terlihat bijak. Map biru itu sebenarnya kosong. Isinya cuma kertas fotokopian proposal yang bahkan belum tentu relevan dengan desa tujuan. Tapi cara Udin memegangnya seolah itu kitab suci pengabdian. Setiap kali bus terguncang, map itu didekap lebih erat, bukan karena penting, tapi karena gengsi.
Profil Udin:
Uldan Ferdiansyah (Udin)
Ketua kelompok KKN. Sok bijak, sering salah ambil keputusan. Kalau ada suara aneh, kalimat pertamanya selalu, “Tenang, itu angin.”
Padahal sering kali, anginnya tidak ada.Takut gelap, tapi gengsi mengakuinya.
“Teman-teman,” kata Udin dengan suara mantap.
“Kita sebentar lagi sampai. Ingat, kita ke sini untuk mengabdi.”
Bus terguncang keras.Guncangan itu membuat beberapa kepala hampir saling berbenturan, dan satu tas ransel jatuh dari bagasi atas dengan bunyi gedebuk yang terlalu keras untuk ukuran siang hari.
“Dan… membangun desa,” lanjutnya cepat, seolah guncangan barusan adalah bagian dari rencana.
Dari kursi belakang terdengar suara berbisik,
“Desanya dulu yang masih ada apa nggak…”
Udin pura-pura tidak dengar. Ia memilih menatap lurus ke depan, ke kaca bus yang buram oleh debu dan bekas hujan lama. Dalam hatinya, ia mengulang kalimat yang sama sejak pagi. Ini cuma KKN. Ini cuma desa. Nanti juga biasa. Masalahnya, sejak kapan “biasa” terasa seaneh ini?
Palui duduk sambil memangku tas kecil di dadanya. Tangannya sibuk membuka dompet, menutup lagi, lalu menghitung uang dengan sangat serius—seolah dia sedang audit dana negara.
Gerakannya cepat, teliti, dan penuh kecurigaan. Bahkan bus berguncang pun tidak membuat fokusnya buyar. Jari-jarinya menghitung ulang dengan pola yang sama, seolah berharap jumlahnya tiba-tiba bertambah karena belas kasihan semesta. Isi dompetnya: dua lembar sepuluh ribu,Itu saja. Namun cara Palui memperlakukan uang itu seperti sedang menjaga warisan keluarga.
Profil Palui:
Pallui Pradipta (Palui)
Bendahara KKN. Pelit tingkat dewa.
Uang sedikit, gaya ngitungnya kayak auditor profesional. Kalau hantu muncul, teriaknya bukan minta tolong, tapi, “Saya nggak bawa uang tunai!!”
“Din,” bisik Palui sambil mendekat,
“Ini bensin bus kita patungan nggak sih?”
Nada suaranya serius, seolah pertanyaan itu menentukan hidup dan mati.
“Itu bukan urusan kita, Luy,” jawab Udin sok tenang.
Palui mengangguk pelan, lalu memeluk dompetnya lebih erat.
“Alhamdulillah…”
Kalimat syukurnya terdengar tulus. Bukan karena keselamatan. Tapi karena uang dua puluh ribunya masih utuh.
Juned berdiri setengah jongkok di kursi, ponselnya sudah menyala sejak lima menit lalu. Kamera mengarah ke jendela, ke pepohonan, ke wajah teman-temannya satu per satu. Ia bergerak lincah, meski ruang sempit dan bus terus berguncang. Seolah dunia nyata hanyalah latar untuk kontennya. Setiap sudut dianggap penting. Setiap ekspresi layak diabadikan. Tubuhnya kurus atletis, lebih tepatnya kurus karena kurang tidur. Tingginya sekitar 172 cm. Rambutnya acak-acakan seperti tokoh anime yang hidupnya penuh deadline. Kacamata bulatnya sering melorot tiap kali bus berguncang.
Profil Juned:
Junaidra Mahendra (Juned)
Dokumentator. Hidupnya rekaman. Ke mana pun pergi, HP menempel kayak organ tambahan. Kalau ketemu hantu, refleksnya bukan kabur, tapi zoom in. Ketakutan terbesarnya: memory card penuh.
“Halo, halo,” bisik Juned ke kamera.
“Kita OTW ke lokasi KKN paling terpencil se-Indonesia. Doain sinyal ya, guys.”
Lampu bus berkedip sekali, Bukan mati. Bukan hidup, Hanya berkedip. Juned langsung menurunkan kamera.
“Cut. Ambil aman.”
Tangannya gemetar sedikit. Bukan karena takut, tapi karena refleks profesionalnya mengatakan, kalau lampu kedip, jangan rekam.
Anang duduk sambil memangku tas ransel besar. Dari dalamnya terdengar bunyi botol, plastik, dan sesuatu yang jelas bukan barang biasa dibawa KKN. Tas itu terlalu penuh. Terlalu berat. Dan terlalu berisik setiap kali digeser sedikit saja. Tubuhnya kekar sedang, kulitnya sawo matang, wajahnya selalu kelihatan percaya diri. Bau bawang putih samar-samar tercium setiap kali dia bergerak.
Profil Anang:
Anangvaro Putra (Anang)
Juru masak kelompok. Masakannya enak, tapi selalu ada unsur kejutan. Bisa dikejar pocong sambil tetap mikir kompor. Ketakutan terbesarnya: gas elpiji habis.
Palui melirik tas Anang.
“Itu isinya apa?”
“Bumbu,” jawab Anang santai.
“Siapa tahu lapar.”
“Kita baru berangkat…”
“Justru itu.”
Anang tersenyum puas. Bagi dia, dunia boleh hancur, asal dapur tetap hidup.
Paijo duduk di dekat jendela, melambai ke setiap orang yang mereka lewati, meskipun kebanyakan orang itu cuma petani yang bengong melihat bus lewat. Tidak peduli dibalas atau tidak. Melambai adalah panggilan jiwa. Tubuhnya ramping, wajahnya ramah alami, senyumnya gampang keluar. Aura akrabnya bikin orang merasa sudah kenal lama, padahal baru ketemu lima detik.
Profil Paijo:
Prajio Naradhipa (Paijo)
Tukang cari informasi dari warga.
Ramah kebangetan, gampang akrab bahkan sama yang tidak kelihatan.
Sering salah manggil nama orang.
Takut kalau dipanggil, “Mas, sini dulu…” sama emak-emak.
“Nanti aku ngobrol sama warga ya,” kata Paijo semangat.
“Biar cepet nyatu.”
Udin mengangguk.
“Asal jangan nyatu beneran.”
Paijo tertawa, meski tidak sepenuhnya yakin itu bercanda.
Surya bersandar santai, kakinya panjang, posturnya tinggi sekitar 178 cm. Wajahnya ganteng alami, jenis yang bikin ibu-ibu warung langsung senyum. Rambutnya rapi, kausnya pas badan.Tampang cool, Mental… tidak ikut.
Profil Surya:
Surya Maheswara (Surya)
Cowok ganteng kelompok tapi cemen.
Sok cool, jiwanya rapuh. Kalau lihat bayangan, refleksnya denial. Trauma rambut panjang sejak ketemu kuntilanak.
“Ini desa kok sunyi banget,” katanya sok santai. “Bikin ngantuk.”
Moren menoleh.
“Lu keringetan.”
“Itu… panas.”
Padahal udara dingin. Surya menarik kerah kausnya, berusaha bernapas biasa. Ia tidak takut. Ia hanya sangat tidak nyaman dengan semua hal yang tidak bisa dijelaskan pakai logika.
Morenzio Saputra (Moren)
Moren duduk dengan ponsel, power bank, kabel, dan alat-alat aneh yang tidak jelas fungsinya. Wajahnya penuh keyakinan palsu bahwa teknologi bisa menyelesaikan segalanya. Ia menyusun alat-alat itu di pangkuannya seperti ritual kecil. Kabel disambung, dilepas, lalu disambung lagi. Layarnya menyala, mati, lalu menyala kembali tanpa alasan.
Profil Moren:
Morenzio Saputra (Moren)
Ahli teknologi sok jago.
Semua masalah dianggap bisa diselesaikan pakai alat. Pernah bikin pendeteksi hantu dari senter rusak.Takut baterai HP di bawah 10%.
“Tenang,” katanya.
“Kalau ada apa-apa, aku ada alat.”
“Apa?” tanya Juned.
“Belum jadi.” jawabnya acuh tak acuh
...🍃🍃🍃...
BERSAMBUNG....