NovelToon NovelToon
PELAKOR UNTUK MADU-KU

PELAKOR UNTUK MADU-KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:77.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.

Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.

Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.

Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.

Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Rini Menuntut Keadilan

.

Di dalam kamar, Rini menangis sesenggukan sambil memeluk tubuh Gilang erat, membenamkan wajahnya pada perut Gilang. "Apa salah saya?" tanya Rini, seolah pada dirinya sendiri. "Saya hanya mencintai Bapak, apa itu dosa?" tanyanya lagi, suaranya bergetar. "Padahal seandainya saya menikah dengan Bapak, saya tidak mengharap apa-apa..."

Mendengar suara tangisan Rini yang begitu pilu, Gilang merasa hatinya tercabik-cabik. Rasa kasihan dan hasrat bercampur aduk menjadi satu. Apalagi wajah Rini yang menempel di perutnya. Meski masih terhalang oleh baju, itu membuat sesuatu dalam dirinya berdesir. Gilang memejamkan matanya rapat, menahan ular kobra meronta ingin keluar dari sarang.

Pria itu memeluk tubuh Rini erat dan mengusap punggungnya dengan lembut.

"Jangan khawatir," ucapnya menenangkan. "Aku akan menegur Lila. Dan aku juga akan mencari cara supaya kita bisa segera menikah."

“Benarkah?” Rini mengangkat wajahnya menatap pria itu penuh harap. Gilang menjawab dengan senyum dan anggukan kepala.

“Terima kasih, Mas. Ehh… itu… maaf, maksud saya… terima kasih, Pak." Rini gelagapan seolah merasa salah sebut.

Hati Gilang semakin berbunga-bunga mendengar sebutan Mas dari Rini. "Kamu boleh kok manggil aku ‘Mas’,” ucapnya.

"Saya gak berani, Pak. Mbak Lila pasti semakin mengamuk,” ucap Rini menundukkan kepala.

Gilang menghela napas kasar. "Biarkan saja," ucapnya. "Ya sudah, kamu istirahat dulu. Aku harus segera pergi kerja. Aku tidak mau dipecat, setelah kemarin diturunkan jabatan.”

“Seandainya saja saya sudah jadi istri Bapak, saya pasti akan bantu Bapak cari nafkah. Saya merasa kasihan melihat Bapak capek cari uang seorang diri," ucap Rini menampilkan wajah prihatin. “Dada saya rasanya sakit, Pak."

Hati Gilang semakin terperosok dalam lubang hitam yang digali oleh Rini. Semakin merasa Rini bukan hanya bisa jadi tempat melampiaskan hasrat tapi juga bisa meringankan beban. Pria itu semakin yakin ingin segera menikahi Rini.

Gilang mengangguk lalu keluar dari kamar Rini. Begitu pintu tertutup, Rini menghapus air matanya dengan kasar. Senyum menyeringai terukir di bibirnya yang basah. "Kena kamu," ucapnya, lirih namun penuh kemenangan.

Gilang kembali tiba di ruang makan dan melihat Almira sudah berada di sana, duduk dengan tenang sambil menikmati sarapannya.

"Ada apa sih tadi? Kenapa ribut-ribut? Mas, jujur saja, sejak kedatangan istri keduamu, aku merasa tak ada lagi ketenangan di rumah ini," ucap Almira dengan suaranya yang dingin.

Lila, yang masih diliputi emosi, langsung menyambar ucapan Almira. "Salahkan saja suamimu itu!" seru Lila, dengan nada sinis. "Dia berselingkuh dengan pembantu kita, Rini!"

“Apa?" tanya Almira berpura-pura terkejut. "Gilang berselingkuh dengan Mbak Rini? Jangan asal ngomong kamu! Mbak Rini itu orang kepercayaan Sifa. Dia tidak mungkin berbuat seperti itu!”

”"Itu benar, Mbak!" balas Lila marah karena Almira tidak mempercayainya.

"Benar begitu, Gilang?” mata Almira melotot tajam ke arah Gilang.

Gilang menelan ludahnya kasar pria itu menoleh ke arah Lila dengan wajah kesal. Kenapa juga istri keduanya itu harus mengadu pada Almira?

"Tentu saja itu benar, Mbak,” teriak Lila tidak terima. "Untuk apa Mbak Mira tanya sama dia? Tentu saja dia tidak akan mengaku.” lanjutnya.

“Kamu sudah gila ya?“ teriak Almira di depan wajah Gilang. "Mbak Rini itu orang kepercayaan Sifa. Berani kamu macam-macam sama dia, kamu pasti akan dikebiri sama Sifa!” Almira mengeluarkan ancaman. Nafasnya memburu.

"Tidak, Mira,” bantah Gilang. "Jangan dengarkan Lila. Dia itu ngelindur. Omongannya ngawur.”

"Jadi, mana yang benar? Kamu atau Lila?” Mata Almira menoleh ke arah lila dan Gilang bergantian. “Ingat, Gilang! Punya istri dua saja kamu sudah keteteran dalam mencari nafkah, bahkan bulan ini saja kamu tidak memberikan aku jatah bulanan. Jangan pikir aku akan diam saja. Aku catat semua itu.”

Lila menatap ke arah Gilang dengan senyum mengejek. Baru kali ini ia sependapat dengan kakak madunya.

"Mira, mari kita hentikan perdebatan ini. Aku sudah harus berangkat kerja,” ucap Gilang tak ingin Almira mengulik tentang nafkah lahir yang lupa Ia berikan.

“Jangan mencoba kabur kamu, Mas!” pekik Lila. " kita selesaikan masalah ini sekarang juga. Dan Mbak Mira, aku minta Mbak Mira pecat Rini. Dia tidak layak bekerja di rumah ini.”

Mata hilang terbelalak mendengar permintaan Lila. Jika Rini benar benar dipecat maka rencananya untuk menikahi Rini akan buyar.

Namun, sebelum Gilang sempat membantah ucapan Lila, tiba-tiba Rini muncul di belakangnya. Wajahnya tampak sedih dan terluka, namun matanya memancarkan keberanian.

"Itu tidak benar, Bu," sahut Rini, dengan suara yang bergetar. "Itu hanya tuduhan sepihak dari Mbak Lila. Saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan Mbak Lila."

Lila terkejut melihat kedatangan Rini. "Apa yang kamu lakukan di sini?!" seru Lila, marah. "Beraninya kamu ikut campur urusan kami!"

Rini tidak menghiraukan ucapan Lila. Ia menatap Almira dengan tatapan yang penuh harap. "Saya mohon, Bu, percayalah pada saya. Saya tidak pernah berbuat macam-macam dengan Bapak Gilang."

Almira menatap Rini Sambil tertawa dalam hati. Mbak Rini benar-benar bisa diandalkan.

Rini menoleh ke arah Lila dengan tatapan yang penuh amarah. "Saya tidak terima, Mbak Lila menghina saya seperti itu! Saya memang hanya seorang pembantu, tapi saya punya harga diri! Apa yang diucapkan oleh Mbak Lila semua itu fitnah!”

Rini mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, lalu menatap Almira. Karena itu saya meminta keadilan, Bu," ucap Rini, dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan. "Karena Mbak Lila telah menuduh saya berselingkuh dengan Bapak Gilang, maka saya akan mewujudkan tuduhan itu."

Mata Lila melotot tajam mendengar ucapan Rini. "Apa maksudmu?!" tanya Lila marah.

Rini tidak menghiraukan Lila. Ia tetap menatap Almira. "Saya menuntut untuk dinikahi oleh Pak Gilang," ucap Rini, dengan suara lantang dan jelas.

Suasana di ruang makan itu langsung menjadi hening senyap. Gilang, Lila, dan Almira terpaku di tempat masing-masing. Begitupun dengan Bu Rosidah dan Riana yang mulutnya terbuka lebar. Ucapan Rini bagaikan petir di siang bolong, menyambar, menghancurkan semua rencana dan harapan.

Gilang menatap Rini dengan jantung berdebar kencang. Dia saja tidak berani bicara seperti itu di depan Almira, tapi malah Rini berani. Tentu saja kalau Almira benar-benar mengabulkan keinginan Rini itu menjadi anugerah besar baginya.

Lila menatap Rini dengan tatapan yang penuh amarah dan kebencian. Ia merasa dikhianati oleh Rini, yang selama ini selalu ia pandang rendah. Ia tidak menyangka, Rini akan berani merebut Gilang darinya.

“Dasar pembantu kurang ajar," teriak Lila.

"Kamu gila ya?" teriak Almira sambil menahan tawanya agar tidak menyembur.

Rini menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Saya tidak gila, Bu," jawab Rini. "Saya hanya ingin mendapatkan keadilan. Saya tidak mau difitnah dan dihina.”

"Tapi, kamu tahu Gilang sudah punya dua istri!" balas Almira, dengan nada yang semakin tinggi. "Kamu tidak mungkin bisa menikah dengan Gilang!”

"Saya tidak peduli,” ucap Rini. “Saya rela menjadi istri ketiga. Saya tidak menuntut apa pun dari Pak Gilang, selain status yang jelas."

Lila menatap ke arah Almira sambil menggelengkan kepalanya.

1
Cindy
lanjut
mery harwati
Kami adalah pembeli rumah Ibu Almira 😛
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Joyful//Joyful//Joyful/
total 2 replies
Hary Nengsih
terusir dr rumah nih
dewi rofiqoh
🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 Ada-ada aja si rini.
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣
astr.id_est 🌻
ngakak 🤣🤣🤣
tyta betyta
Itu meriam tembakannya paten banget brat bret brot🤣🤣🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
total 1 replies
Cindy
lanjut
〈⎳ FT. Zira
duhh.. miii.../Facepalm//Facepalm/

Sambil berdiri semua pengang perutnya... ini gimana konsepnyaa/Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
Rini ngapainn... astaga/Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
salah sendiiri lupa daratan/Smug/
〈⎳ FT. Zira
ada kta yg kurang nih mi..

"kali ini aku akan membiarkan pria lain...." kata tidak nya mana🧐🧐
Irma
jiyah sii rini emang paling bisa sungguh di luar dugaan 🤣🤣🤣 semangat thor
Nar Sih
hahaha rini,,pinter bnr ya ,serangan kentut brett.. yg bikin gilang kaburr😂😂
juwita
meni brat Bret brot si rini saking takutnya di mp🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
juwita
jurus mematikan itu rin. harusnya smpe pingsan si galangnya🤣🤣🤣
ora
Perkara kentut gagal lagi deh/Facepalm/
ora
Ada-ada aja🤣🤣🤣
Ummee
karma on the way
Ummee
ngakak akuu🤣🤣🤣
Sunaryati
Cerdik Rini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!