Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Retakan Pertama
Pagi turun perlahan di rumah itu, menyelimuti ruang makan dengan cahaya pucat yang tampak tenang. Elena duduk di kursinya seperti biasa, punggung tegak, wajah menghadap lurus ke depan. Kain hitam masih menutup matanya, menjaga ilusi yang selama ini mereka percayai. Di seberangnya, Marcus membaca berita di tabletnya, berpura-pura santai.
“Kau terlihat lelah,” kata Marcus akhirnya, terlalu cepat, terlalu dibuat-buat. “Tidurmu tidak nyenyak?”
Elena tersenyum kecil. “Aku hanya banyak berpikir.”
Jawaban itu sederhana, tapi cukup membuat jemari Marcus berhenti bergerak sesaat. Elena menangkap jeda napasnya. Dulu, ia mungkin akan mengabaikannya. Sekarang, tidak lagi. Ia menyimpan setiap detail kecil seperti senjata.
Pintu ruang makan terbuka. Selene masuk dengan langkah ringan, mengenakan gaun pucat dan senyum yang rapi. “Maaf aku terlambat,” katanya. “Jalanan macet.”
Elena menoleh ke arah suara itu. “Tak apa. Kita semua punya alasan masing-masing.”
Selene tertawa kecil, tapi matanya menyempit sepersekian detik. Ia merasa ada sesuatu dalam nada Elena yang tidak bisa ia sentuh, namun cukup untuk membuatnya tidak nyaman.
Sarapan berlangsung dalam keheningan yang dibungkus percakapan basa-basi. Marcus dan Selene berbicara tentang hal-hal ringan—agenda, rencana, nama-nama yang tidak berarti. Elena mendengarkan. Ia tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang gelisah, siapa yang terlalu berhati-hati. Semua itu terdengar jelas.
Setelah selesai, Elena berdiri. “Aku ingin ke ruang kerja ayah,” katanya pelan. “Ada beberapa dokumen lama yang ingin kubaca.”
Marcus langsung menoleh. “Untuk apa?”
“Nostalgia,” jawab Elena singkat.
Ia melangkah pergi sebelum ada yang sempat menahannya. Lorong rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah dinding-dinding ikut menyimpan rahasia. Di ruang kerja lama yang jarang dibuka, Elena membuka laci terdalam. Dokumen berdebu, laporan keuangan, kontrak lama—semuanya tersusun rapi. Hingga ia menemukan satu map cokelat.
Nama Selene tercetak di sana.
Transaksi kecil, berulang, nyaris tak terlihat. Tapi Elena tahu arti pola. Ia menutup map itu perlahan. Tidak ada amarah, tidak ada kejutan. Hanya satu kepastian dingin. Ia tidak ingin membalas hari ini. Ia ingin memastikan kejatuhan mereka sempurna.
Langkah kaki terdengar di luar. Elena menyimpan kembali map itu, merapikan semuanya seperti semula. Saat pintu terbuka, Marcus berdiri di ambang, berusaha terlihat tenang.
“Kau menemukannya?” tanyanya.
“Menemukan apa?” Elena membalas lembut.
Untuk sesaat, Marcus kehilangan kata. Senyumnya kembali beberapa detik kemudian, dipaksakan. “Aku hanya khawatir.”
Elena mendekat, jarak mereka menyempit. “Aku tahu,” katanya pelan. “Kau selalu khawatir.”
Ia melewatinya tanpa ragu. Di dalam dadanya, tidak ada lagi keraguan. Permainan ini sudah jelas. Mereka percaya masih memegang kendali, padahal tali itu sudah lama berada di tangannya—dan ia tahu persis kapan harus menariknya.
Elena berhenti sejenak di ujung lorong. Ia mendengar Marcus berbicara pelan di belakangnya, suaranya turun, terputus-putus—bukan pada siapa pun, melainkan pada dirinya sendiri. Ketakutan selalu berbunyi seperti itu: ragu, tidak utuh.
Ia melanjutkan langkah dengan tenang.
Di dalam dirinya, satu garis sudah ditarik. Tidak ada lagi ruang untuk belas kasihan, tidak ada tempat untuk mundur. Semua potongan kini berada di tangannya, dan ia tahu—orang seperti Marcus akan membuat kesalahan ketika merasa paling aman.
Elena tersenyum tipis.
Ia akan memberi mereka waktu.
Cukup waktu untuk percaya.
Cukup waktu untuk jatuh lebih keras.
Jika kamu sampai di sini, berarti kamu melihat apa yang selama ini mereka abaikan.