Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Satu Nama seribu Kenangan
Hai masih ingat kan sahabat Kanaya yang bernama Zora? dan dosen ganteng Dimas. Menuruti kemauan kalian semua yang pengen tahu tentang Dimas dan Zora akhirnya bisa rilis juga 😭
So, gak lama-lama gas baca! Semoga kalian suka dengan cerita yang punya nuansa baru dan tulisan lebih rapi,daripada buku Jodoh untuk Kanaya ya.Aku bocorin itu novel waktu aku baru belajar nulis 😭😭😭
"Nay, aku pulang dulu ke Bandung, ya. Kamu jaga kandungan. Awas, nggak boleh capek-capek,” pamit Zora pada sahabatnya yang kini tengah berbadan dua.
“Iya, kamu juga hati-hati, ya, Zor. Kenapa nggak nunggu Mas Bumi aja sih? Biar dianterin sama dia?”
Zora tersenyum tipis.
“Nggak usah. Jakarta–Bandung juga nggak jauh, kok. Oh ya, bilang sama Nurul jangan kelamaan di sini. Senin harus sudah balik. Nanti toko nggak ada yang jaga.”
“Iya, iya, Bu Bos bawel,” goda Nay sambil tertawa. “Sana berangkat. Pak sopirnya udah nunggu tuh.”
Zora mengangguk.
“Baiklah, aku pulang. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Zora melangkah keluar, lalu masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan sebelumnya. Mobil itu segera melaju, meninggalkan rumah sahabatnya.
Perjalanan dari rumah Kanaya menuju stasiun ternyata tak semudah bayangannya. Jakarta atau setidaknya kota ini punya cara sendiri untuk menguji kesabaran. Pagi baru saja dimulai, namun aspal jalanan sudah lumpuh total oleh lautan kendaraan.
Zora berulang kali mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dadanya. Jemarinya mengetuk-ngetuk tas dengan gelisah. Bayangan wajah para pelanggan yang mungkin sudah mengantre di depan tokonya mulai menari-nari di kepala, menambah beban pikirannya.
"Pak, masih lama, ya?" tanya Zora, suaranya naik satu nada, tak mampu lagi menyembunyikan kecemasan.
Sang sopir melirik dari spion tengah, lalu menggeleng lesu. "Sebenarnya tinggal beberapa seratus meter lagi, Mbak. Tapi perempatan di depan ini macetnya memang minta ampun. Terkunci total."
Zora melirik jam tangannya. Jarum jam itu seolah berdetak lebih cepat dari biasanya, mengejeknya. Ia tidak boleh terjebak di sini lebih lama lagi.
"Ya sudah, Pak. Saya turun di sini saja. Saya lari, takut ketinggalan kereta," putusnya mantap.
"Oh, oke, Mbak."
"Ongkosnya sudah saya bayar lewat aplikasi, ya. Terima kasih, Pak!"
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Zora menyampirkan tas selempangnya dengan gerakan cepat. Ia keluar dari mobil, menyambut hawa panas jalanan, dan mulai berlari menelusuri trotoar. Napasnya memburu, kakinya beradu cepat dengan paving jalan yang tidak rata, hanya punya satu tujuan: peron stasiun sebelum peluit keberangkatan berbunyi.
Begitu kakinya menginjak lantai stasiun dan melihat kereta masih terdiam di jalurnya, ia membungkuk sambil memegang lutut.
"Ah... leganya," gumamnya di sela napas yang tersenggal.
Begitu Zora mendaratkan tubuhnya di kursi kereta, aroma parfum maskulin yang familier tiba-tiba menyeruak, menyapa indranya. Ia menoleh dan seketika jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Sosok yang baru saja duduk di sebelahnya bukanlah orang asing.
"Lho, Pak Dimas?" tanya Zora, matanya membelalak tak percaya.
Laki-laki itu menoleh, sama terkejutnya. "Lho, Zora? Kamu mau pulang ke Bandung juga?"
Zora mengangguk, refleks menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum manis yang dulu sering ia sembunyikan di balik buku teks. "Iya, Pak. Bapak sendiri mau ke Bandung juga?"
"Iya, tugas kampus sudah menunggu," balas Dimas dengan nada suara rendah yang masih sama berwibawanya seperti dulu.
Zora tersenyum simpul. Memorinya mendadak berputar ke belakang, ke masa 4 tahun lalu saat ia masih duduk di barisan depan kelas pria ini, menyimak setiap materi yang disampaikan sang dosen dengan penuh kekaguman.
"Masih banyak yang tebar pesona nggak, Pak, di kampus?" goda Zora, mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku.
Dimas menaikkan sebelah alisnya. "Menurutmu?"
"Sepertinya Pak Dimas masih sangat populer, sih," kekeh Zora.
Dimas mengernyitkan dahi, seolah berpikir keras. "Apa dulu waktu kamu kuliah, saya terlihat seperti itu?"
Zora mengangguk mantap tanpa ragu. "Banyak sekali yang naksir Bapak. Hampir satu fakultas, mungkin?"
"Apa kamu juga termasuk salah satunya?" tanya Dimas tiba-tiba, menatap lurus ke dalam netra Zora.
Pertanyaan itu seperti serangan mendadak. Bukannya menjawab, pipi Zora justru memanas dan merona merah. Ia membuang muka, mencoba mencari objek lain untuk dilihat, namun ia tahu Dimas menyadari perubahan itu. Ada kilat geli di mata sang mantan dosen melihat reaksi Zora.
Tak terasa, perjalanan beberapa jam itu menguap begitu saja. Kereta akhirnya berhenti sempurna di Stasiun Bandung. Mereka berdua melangkah keluar menuju lobi stasiun yang ramai.
"Mau bareng? Kebetulan mobil saya parkir di sini," tawar Dimas saat mereka sampai di pintu keluar.
"Apa itu tidak merepotkan, Pak?" Zora merasa sungkan, namun dalam hati ia berharap tawaran itu nyata.
Dimas kembali tersenyum,sebuah senyuman tipis yang dulu selalu sukses membuat para mahasiswi meleleh di tempat. "Ayo."
Hanya dengan satu kata itu, Zora kehilangan pertahanannya. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, ia hanya bisa mengekor di belakang langkah tegap Dimas menuju area parkir, membiarkan dirinya ditarik kembali ke dalam gravitasi pria itu.
Mesin mobil akhirnya mati di depan sebuah pusat perbelanjaan kain terkemuka di Bandung. Dimas menatap deretan ruko megah itu dengan dahi berkerut. Ia sempat merasa heran saat Zora memintanya menepi di sana, bukan di depan sebuah rumah atau kafe.
"Kamu mau belanja kain?" tanya Dimas, tangannya masih bertumpu pada kemudi.
Zora menoleh, jemarinya bergerak lincah membuka sabuk pengaman. "Saya mengelola beberapa toko di sini, Pak," jawabnya tenang.
Alis Dimas terangkat, guratan terkejut tampak jelas di wajahnya. "Oh, ya?"
Zora mengangguk bangga. "Iya, Pak. Saya membangunnya bersama Kanaya. Kami bekerja sama sejak lulus kuliah sampai sekarang."
Mendengar nama Kanaya disebut, atmosfer di dalam mobil mendadak berubah dingin. Dimas merasakan sesuatu yang tajam menusuk tepat di ulu hatinya,sebuah rasa sakit lama yang sudah lama ia bungkus rapi. Nama wanita itu pernah ia kunci di sudut hatinya yang paling gelap, sebuah rahasia yang tak pernah sempat terucap karena takdir lebih dulu menarik garis pemisah di antara mereka.
"Kalian... hebat," balas Dimas akhirnya. Suaranya sedikit serak, ada getaran samar yang ia coba sembunyikan.
"Ini semua juga berkat ilmu yang Bapak ajarkan di kelas dulu," sahut Zora tulus, tidak menyadari perubahan raut wajah pria di sampingnya. "Mau mampir dulu, Pak? Melihat-lihat toko kami?"
Dimas terdiam sejenak, menatap pintu masuk pusat perbelanjaan itu seolah sedang menimbang apakah ia siap menghadapi kenangan yang mungkin muncul. "Apa boleh?"
"Tentu saja boleh, Pak."
Bagaimana reaksi Dimas selanjutnya setelah melihat toko yang Zora kelola?
Bersambung..
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭