NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: tamat
Genre:Obsesi / Dosen / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:29.2k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Satu Nama seribu Kenangan

Hai masih ingat kan sahabat Kanaya yang bernama Zora? dan dosen ganteng Dimas. Menuruti kemauan kalian semua yang pengen tahu tentang Dimas dan Zora akhirnya bisa rilis juga 😭

So, gak lama-lama gas baca! Semoga kalian suka dengan cerita yang punya nuansa baru dan tulisan lebih rapi,daripada buku Jodoh untuk Kanaya ya.Aku bocorin itu novel waktu aku baru belajar nulis 😭😭😭

"Nay, aku pulang dulu ke Bandung, ya. Kamu jaga kandungan. Awas, nggak boleh capek-capek,” pamit Zora pada sahabatnya yang kini tengah berbadan dua.

“Iya, kamu juga hati-hati, ya, Zor. Kenapa nggak nunggu Mas Bumi aja sih? Biar dianterin sama dia?”

Zora tersenyum tipis.

“Nggak usah. Jakarta–Bandung juga nggak jauh, kok. Oh ya, bilang sama Nurul jangan kelamaan di sini. Senin harus sudah balik. Nanti toko nggak ada yang jaga.”

“Iya, iya, Bu Bos bawel,” goda Nay sambil tertawa. “Sana berangkat. Pak sopirnya udah nunggu tuh.”

Zora mengangguk.

“Baiklah, aku pulang. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Zora melangkah keluar, lalu masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan sebelumnya. Mobil itu segera melaju, meninggalkan rumah sahabatnya.

Perjalanan dari rumah Kanaya menuju stasiun ternyata tak semudah bayangannya. Jakarta atau setidaknya kota ini punya cara sendiri untuk menguji kesabaran. Pagi baru saja dimulai, namun aspal jalanan sudah lumpuh total oleh lautan kendaraan.

Zora berulang kali mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dadanya. Jemarinya mengetuk-ngetuk tas dengan gelisah. Bayangan wajah para pelanggan yang mungkin sudah mengantre di depan tokonya mulai menari-nari di kepala, menambah beban pikirannya.

"Pak, masih lama, ya?" tanya Zora, suaranya naik satu nada, tak mampu lagi menyembunyikan kecemasan.

Sang sopir melirik dari spion tengah, lalu menggeleng lesu. "Sebenarnya tinggal beberapa seratus meter lagi, Mbak. Tapi perempatan di depan ini macetnya memang minta ampun. Terkunci total."

Zora melirik jam tangannya. Jarum jam itu seolah berdetak lebih cepat dari biasanya, mengejeknya. Ia tidak boleh terjebak di sini lebih lama lagi.

"Ya sudah, Pak. Saya turun di sini saja. Saya lari, takut ketinggalan kereta," putusnya mantap.

"Oh, oke, Mbak."

"Ongkosnya sudah saya bayar lewat aplikasi, ya. Terima kasih, Pak!"

Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Zora menyampirkan tas selempangnya dengan gerakan cepat. Ia keluar dari mobil, menyambut hawa panas jalanan, dan mulai berlari menelusuri trotoar. Napasnya memburu, kakinya beradu cepat dengan paving jalan yang tidak rata, hanya punya satu tujuan: peron stasiun sebelum peluit keberangkatan berbunyi.

Begitu kakinya menginjak lantai stasiun dan melihat kereta masih terdiam di jalurnya, ia membungkuk sambil memegang lutut.

"Ah... leganya," gumamnya di sela napas yang tersenggal.

Begitu Zora mendaratkan tubuhnya di kursi kereta, aroma parfum maskulin yang familier tiba-tiba menyeruak, menyapa indranya. Ia menoleh dan seketika jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Sosok yang baru saja duduk di sebelahnya bukanlah orang asing.

"Lho, Pak Dimas?" tanya Zora, matanya membelalak tak percaya.

Laki-laki itu menoleh, sama terkejutnya. "Lho, Zora? Kamu mau pulang ke Bandung juga?"

Zora mengangguk, refleks menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum manis yang dulu sering ia sembunyikan di balik buku teks. "Iya, Pak. Bapak sendiri mau ke Bandung juga?"

"Iya, tugas kampus sudah menunggu," balas Dimas dengan nada suara rendah yang masih sama berwibawanya seperti dulu.

Zora tersenyum simpul. Memorinya mendadak berputar ke belakang, ke masa 4 tahun lalu saat ia masih duduk di barisan depan kelas pria ini, menyimak setiap materi yang disampaikan sang dosen dengan penuh kekaguman.

"Masih banyak yang tebar pesona nggak, Pak, di kampus?" goda Zora, mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku.

Dimas menaikkan sebelah alisnya. "Menurutmu?"

"Sepertinya Pak Dimas masih sangat populer, sih," kekeh Zora.

Dimas mengernyitkan dahi, seolah berpikir keras. "Apa dulu waktu kamu kuliah, saya terlihat seperti itu?"

Zora mengangguk mantap tanpa ragu. "Banyak sekali yang naksir Bapak. Hampir satu fakultas, mungkin?"

"Apa kamu juga termasuk salah satunya?" tanya Dimas tiba-tiba, menatap lurus ke dalam netra Zora.

Pertanyaan itu seperti serangan mendadak. Bukannya menjawab, pipi Zora justru memanas dan merona merah. Ia membuang muka, mencoba mencari objek lain untuk dilihat, namun ia tahu Dimas menyadari perubahan itu. Ada kilat geli di mata sang mantan dosen melihat reaksi Zora.

Tak terasa, perjalanan beberapa jam itu menguap begitu saja. Kereta akhirnya berhenti sempurna di Stasiun Bandung. Mereka berdua melangkah keluar menuju lobi stasiun yang ramai.

"Mau bareng? Kebetulan mobil saya parkir di sini," tawar Dimas saat mereka sampai di pintu keluar.

"Apa itu tidak merepotkan, Pak?" Zora merasa sungkan, namun dalam hati ia berharap tawaran itu nyata.

Dimas kembali tersenyum,sebuah senyuman tipis yang dulu selalu sukses membuat para mahasiswi meleleh di tempat. "Ayo."

Hanya dengan satu kata itu, Zora kehilangan pertahanannya. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, ia hanya bisa mengekor di belakang langkah tegap Dimas menuju area parkir, membiarkan dirinya ditarik kembali ke dalam gravitasi pria itu.

Mesin mobil akhirnya mati di depan sebuah pusat perbelanjaan kain terkemuka di Bandung. Dimas menatap deretan ruko megah itu dengan dahi berkerut. Ia sempat merasa heran saat Zora memintanya menepi di sana, bukan di depan sebuah rumah atau kafe.

"Kamu mau belanja kain?" tanya Dimas, tangannya masih bertumpu pada kemudi.

Zora menoleh, jemarinya bergerak lincah membuka sabuk pengaman. "Saya mengelola beberapa toko di sini, Pak," jawabnya tenang.

Alis Dimas terangkat, guratan terkejut tampak jelas di wajahnya. "Oh, ya?"

Zora mengangguk bangga. "Iya, Pak. Saya membangunnya bersama Kanaya. Kami bekerja sama sejak lulus kuliah sampai sekarang."

Mendengar nama Kanaya disebut, atmosfer di dalam mobil mendadak berubah dingin. Dimas merasakan sesuatu yang tajam menusuk tepat di ulu hatinya,sebuah rasa sakit lama yang sudah lama ia bungkus rapi. Nama wanita itu pernah ia kunci di sudut hatinya yang paling gelap, sebuah rahasia yang tak pernah sempat terucap karena takdir lebih dulu menarik garis pemisah di antara mereka.

"Kalian... hebat," balas Dimas akhirnya. Suaranya sedikit serak, ada getaran samar yang ia coba sembunyikan.

"Ini semua juga berkat ilmu yang Bapak ajarkan di kelas dulu," sahut Zora tulus, tidak menyadari perubahan raut wajah pria di sampingnya. "Mau mampir dulu, Pak? Melihat-lihat toko kami?"

Dimas terdiam sejenak, menatap pintu masuk pusat perbelanjaan itu seolah sedang menimbang apakah ia siap menghadapi kenangan yang mungkin muncul. "Apa boleh?"

"Tentu saja boleh, Pak."

Bagaimana reaksi Dimas selanjutnya setelah melihat toko yang Zora kelola?

Bersambung..

1
Ila Aisyah
penggelapan uang perusahaan, pembunuhan berencana ayah dimas
Shifa Burhan
inilah enak pemeran utama wanita, berbuat salah tapi segampang itu dimaafkan dan kesalahan hal sepele

zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan

thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,

buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,


adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
Shifa Burhan: dan thor jangan sepelekan kesalahn zora karena ini adalah kesalahan yang berulang2, zora bukan belajar dari kesalahan sebelum nya tapi malah makin jadi seenak karena dia merasa author membela dia dengan membuat dimas selalu jadi budak cinta yang Terima saja diperlakukan seperti apa saja

thor adil terhadap sang wanita dan sang pria, berlalu netral lah, author harus berdiri adil, buang jauh2 sudut pandang wanita saja
total 1 replies
Dodoi Memey
Dimas maen cium aja cepet banget nyosornya
Dodoi Memey
Thor keren banget dimasnya calon suami siaga
Dodoi Memey
sepertinya Dimas blom pernah berdekatan sama cewek
shadirazahran23: dia pernah naksir sahabatnya Zora lo 🤣
total 1 replies
Dodoi Memey
tambah seru lanjutkan
Dodoi Memey
asyiikkk seru
Wiwi Sukaesih
kebiasaan Zora kalau ad apa" g pernh nanya lngsung
g bljr dr msalt kemarin
Rahayu Ayu
Kalau Zora srkalu berasumsi buruk senditi tanpa bertanya dan mendengarkan apapun alasan dari Dimas,
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
Acih Sukarsih
mulai konflik
Tamirah Spd
Thor kalau ingin menciptakan konflik Dimas dan Zora, kenapa hrs ada akta dlm dompet yg tertera namae Wulan anak Wulan dan Dimas ....?.yg sama sama nama Dimas beda nama belakang .Kan Janggal Dimas menyimpan akta sahabat nya dlm dompet mereka hanya sahabat.walau kesannya jadi salah paham dikira Dimas punya anak dgn Wulan.Tetap gak etis nyimpan akta org lain dalam dompet apa lagi anak nya Wulan panggil papa..... wesss angelllll.
Rahayu Ayu
Aq kira yg datang mengganggu Nesa atau Wulan, ternyata malah Mira si biang kerok, mungkin harapan Mira bisa bekerja di perusahaan Dimas, agar bisa mendekati Dimas lagi,
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
Rahayu Ayu: Ga terlalu penasaran amat sih kak.
yg penting jangan ada lagi gangguan buat RT mereka.
total 2 replies
Rahayu Ayu
Antara Nesa atau Wulan
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
Rahayu Ayu
Posesif boleh, itu menandakan kalau kamu adalah orang yg sangat mencintai dan menjaga pasangan mu,
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
Ila Aisyah
loooo,,, iku yg membuat merinding disko 😛,,,
Wiwi Sukaesih
nah Lo ad LG penggemar zora.😁
Wiwi Sukaesih
ahh dkra spa yg bela Zora dh parno aj
ternyata paksu Dimas 😍
shadirazahran23: Matanya Dimas kaya Elang
total 1 replies
Marini Suhendar
Bos Dimas 🤭
Acih Sukarsih
dimas
Wiwi Sukaesih
pelajaran untuk Zora klw bertanya itu jgn dlm hati y sung tny k.orgny.jgn suudzon...
y Dimas persiapan 👍
shadirazahran23: Ia betul.Setelah ini Insya Allah Zor lebih dewasa dalam bersikap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!