Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Athalia dan Alea mempercepat langkah, agar segera menghilang dari lobby. "Kenapa dia muncul lagi? Bukannya waktu itu, kau ngga mau ditraktir lunch?" Bisik Alea.
"Kemarin pulang kerja, dia bertemu denganku di lobby, lalu tawarin mau antar pulang...." Athalia menceritakan kejadian bertemu dengan Hendry.
"Oh, jadi dia baru tahu kau pindah ke admin?"
"Kemarin baru tahu, karna aku pulang telat. Jadi kelihatan jelas..." Athalia meneruskan. "Eh, Lea. Berarti bukan dia yang pindahkan kita ke admin. Secara dia ngga tahu aku di bagian mana. Malah dikira sudah keluar dari sini."
"Benar juga. Coret dari daftar orang baik. Dan jangan tanggapi dia. Ngapain ngotot mendekatimu terus? Apa dia kerja di bagian proyek?"
"Ngga tahu. Kenapa?"
"Keseringan lihat orang bangun tembok, jadi muka tembok. Sudah jelas kau ngga mau."
"Ah, aku lagi serius mikir. Biarkan dia. Kita harus hadapi tembok di admin."
"Oh, iya. Semoga mereka berdua belum datang, supaya aku bisa bernafas dalam ruangan sebelum ada virus."
"Harapanmu ngga terkabul. Mereka berdua sudah pelototi kita." Bisik Athalia yang melihat Marci dan Sita sudah duduk dan melihat ke arah mereka.
"Selamat pagi semua." Sapa Athalia dan Alea riang sambil tersenyum.
"Pagi, pagi, pagi..." Jawab semua karyawan, kecuali Marci dan Sita. Hal itu membuat Tony menggerakan kepala supaya mereka duduk dan tidak usah tanggapi.
Athalia dan Alea berjalan cepat ke meja mereka, lalu menyiapkan yang mau dikerjakan. "Mba Marci, yang jadi rebutan kemarin, heppiii beneerrr." Ucap Sita karena wajah Athalia terlihat happy.
"Gimana gak happy? Rebutan tiga..." Marci tidak bisa meneruskan karena dipotong oleh Tony.
"Yang tidak direbutkan, jangan asem. Semangat. Mungkin besok jadi rebutan." Ucap Tony sambil mengetuk mejanya. Karyawan yang lain jadi tersenyum, mesem. Kecuali Marci dan Sita.
"Mas Tony, bisa minta tolong?" Tanya Athalia pelan, cendrung berbisik. Tapi dijawab Tony menggunakan suara bariton. "Mau minta tolong apa, Talia." Semua karyawan kembali tersenyum, tetapi Marci dan Sita melotot, karena mengira Athalia mulai berani meledek mereka. Padahal Athalia serius, sedang alami kesulitan.
"Ini, Mas. Dari kemarin ngga ketemu filenya." Athalia menunjuk layar komputer.
"Sebentar, aku lihat." Tony jadi serius. Tadinya, dia mengira Athalia mau balik meledek Marci dan Sita.
Athalia segera berdiri dan memberikan kursinya kepada Tony. "Itu sudah. Filenya hanya ngumpet di semak-semak." Ucap Tony sambil berdiri. "Makasi, Mas." "Yap."
"Aduuuh... Kenapa aku rasa enek, ya." Ucap Sita dengan mimik mual melihat interaksi Tony dan Athalia.
"Ada yang bawa tespek? Tolong kasih ke Sita." Ucap Tony sambil angkat tangan. Refleks Sita melemparnya dengan bola kertas.
"Lagian, bukannya kerja. Hanya usil sama kerjaan orang. Kalau aku jadi pimpinan di sini, sudah kugiring kalian berdua ke pentri. Biar kalian usilin panci dan teko, sampe panci dan teko bosan lihat kalian."
"Memangnya kami bebek? Enak saja digiring." Marci jadi emosi.
"Makanya, kalau bukan bebek, kerja yang benar. Nanti Pak Cano minta laporan, langsung pucat." Ucap Tony serius. Karena sering alami, jika diminta laporan mendadak oleh supervisor.
"Eh, kalian tidak tahu sedang korupsi waktu? Kerja seharusnya 8 jam, 2 jam buat recokin or ang..." Tony berhenti, karena melihat supervisor akan masuk ke ruangan.
"Pagi..." Sapa supervisor dan disambut oleh semua karyawan.
"Masih ada yang belum masuk?" Tanya supervisor sambil melihat kursi kosong.
"Masih, Pak." Jawab salah satu karyawan wanita, lalu menyebut beberapa rekannya yang belum masuk.
"Baik." Ucap supervisor lalu masuk ke ruang kerjanya.
Setelah sudah waktunya jam kerja, supervisor keluar dan melihat satu persatu karyawan. Hatinya lega, melihat semua sudah masuk.
"Bagus. Kalian semua sudah lengkap. Silahkan buat laporan kerja masing-masing. Saya tunggu sampai istirahat siang." Wajah Marci dan Sita langsung pucat. Tony langsung menunduk, menahan tawa.
Athalia dan Alea jadi bingung, karena baru pindah. "Athalia dan Alea, berikan laporan yang sudah dikerjakan saja." Ucapan supervisor membuat Athalia dan Alea mengurut dada. Marci dan Sita tidak berani protes, karena laporan mereka belum selesai.
"Tony dan Vicky, hari ini lembur. Bantu saya rangkum laporan bagian kita."
"Siap, Pak." Jawab Tony dan rekannya, cepat.
"Akan ada evaluasi besar-besaran kali ini. Jadi yang kerja asal-asalan, siap-siap terima kartu kuning atau merah." Ucap supervisor lagi, sebelum masuk ke ruangannya.
Ruangan administrasi langsung sepi. Semua karyawan langsung bekerja, tidak ada canda, sindiran atau percakapan. Semuanya konsentrasi bekerja menyiapkan laporan.
~••~
Di sisi lain ; Ethan yang sudah masuk kerja sejak pagi, berbicara serius dengan Rion di ruang kerjanya. "Kau sudah info mau adakan evaluasi?"
"Sudah, Pak. Saya sudah info ke semua bagian sejak tadi malam...." Rion menjelaskan yang dia lakukan sejak bossnya telpon tadi malam.
"Ok. Kau sudah dapat info tentang karyawan yang bernama Hendry?" Tanya Ethan lagi.
"Sudah, Pak. Dia staff konstruksi di pembangunan fisik, ada di lantai dua." Jawab Rion sambil membaca catatan.
"Berikan CV nya." Ethan minta untuk memastikan, bahwa orang yang dijelaskan Rion sama dengan yang dia maksudkan.
"Ok. Cek lagi, apa hubungannya dengan manager pengembangan."
"Siap, Pak." Rion bekerja cepat, karena melihat bossnya sangat serius.
"Dia ditempatkan HRD atas permintaan manager pengembangan, Pak."
"Ok. Minta bagian pengembangan di pusat berikan laporan kinerjanya di lapangan."
"Siap, Pak." Rion segera melaksanakan yang diminta.
Setelah melihat fotonya di CV, Ethan jadi yakin. Hendry yang dijelaskan Rion, sama dengan orang yang dia maksudkan.
Ethan tidak mau minta laporan dari kantor cabang, karena melihat hubungan, keterikatan dan kekerabatan dengan manager pengembangan.
"Minta staffmu lembur, kalau semua bagian sudah kirim laporan." Ucap Ethan lagi.
"Saya sudah briefing sejak pagi, Pak. Mereka sudah siap...." Rion menjelaskan. "Oh, iya, Pak. Nanti siang mau makan di sini, atau di luar?" Rion melanjutkan, setelah melihat anggukan bossnya.
"Di sini, saja." Ethan tidak jadi mengajak Athalia makan siang, karena yakin semua karyawan sedang sibuk menyiapkan laporan, termasuk Athalia.
Ketika waktu istirahat tiba, tidak ada karyawan ramai di lobby untuk keluar istirahat siang. Hanya beberapa orang karyawan yang ada di lobby untuk mengambil pesanan makan siang.
~••~
Menjelang pulang, Ethan mengirim pesan kepada Athalia untuk menunggunya. Dia mengiyakan dan menarik nafas panjang 'Untung aku sudah selesai bikin laporan.' Athalia membatin, setelah membalas pesan Ethan.
Seperti yang dikatakan Ethan, menjelang waktu bubar kantor, dia justru menunggu di lobby. "Lea, maaf, ya. Aku sudah ditunggu." Ucap Athalia saat melihat Niel sudah menunggu.
"Oh, pantesan mereka berdua ngiri dan bilang kau jadi rebutan. Secara yang mau rebut Hendry dan ini lagi..." Alea tidak teruskan komentar, karena pria yang sedang menunggu Athalia sangat tampan, walau sederhana.
Tapi Alea curiga dengan penampilannya yang sederhana dan tatapannya yang dalam. Bukan seperti Hendry.
...~•••~...
...~•○♡○•~...