Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog : Di sisi lain cakrawala
Enam bulan telah berlalu sejak badai di dermaga lama meluluhlantakkan dua raksasa yang mencoba mengatur takdir kami. Nama Laksmana kini hanya menjadi catatan kaki dalam buku sejarah bisnis hitam Jakarta, sementara Madam Syaza tengah menjalani proses hukum yang panjang di balik jeruji besi. Kota itu tetap bising, tetap kejam, namun bagi kami, suaranya kini terdengar sangat jauh.
Sore itu, aroma cengkih dan udara laut yang bersih menyambutku saat aku melangkah keluar dari teras rumah kecil kami di pesisir Jawa Tengah. Ini bukan rumah mewah dengan dinding kaca, melainkan sebuah rumah kayu peninggalan keluarga jauh Biru yang kami renovasi perlahan dengan tangan kami sendiri.
Aku menemukan Biru di sana, duduk di atas pasir yang masih hangat oleh sisa matahari, sedang membersihkan lensa kamera tuanya. Ia tidak lagi mengenakan kemeja kaku. Hanya kaus oblong putih tipis dan celana pendek, dengan rambut yang sedikit lebih panjang dan kulit yang lebih gelap karena sering terpapar matahari.
"Naskahmu sudah selesai?" tanya Biru tanpa menoleh, seolah ia bisa mengenali langkah kakiku bahkan di atas pasir sekalipun.
"Baru saja kukirim ke penerbit independen di Jogja," jawabku sambil duduk di sampingnya, membiarkan jemari kakiku terkubur di dalam pasir. "Kali ini bukan tentang konspirasi atau pengkhianatan. Hanya tentang perjalanan pulang."
Biru meletakkan lensanya dan menatapku. Matanya yang dulu selalu tampak gelisah dan sarat akan rahasia, kini begitu tenang, jernih seperti air laut di hadapan kami. Ia merangkul bahuku, menarikku mendekat hingga kepalaku bersandar di pundaknya yang kokoh.
"Terima kasih sudah memilih jalan yang sulit ini bersamaku, Na," bisiknya lembut.
"Sulit?" aku terkekeh pelan. "Melihatmu setiap pagi tanpa takut ada preman yang mendobrak pintu itu menurutku adalah jalan yang sangat mudah, Biru."
Kami terdiam sejenak, menikmati simfoni alam; suara ombak yang memecah pantai dan kicauan burung yang kembali ke sarang. Kebersamaan kami kini terasa sangat organik, tidak lagi diburu oleh tenggat waktu atau ancaman pembunuhan. Kami belajar untuk saling mengenal kembali—bukan sebagai "Editor Aruna" atau "Fotografer Biru", tapi sebagai dua jiwa yang pernah hancur dan memilih untuk saling memungut kepingan masing-masing.
Biru kini mengelola sebuah komunitas fotografi untuk anak-anak nelayan di desa ini. Ia tidak lagi mencari objek foto yang menderita untuk memuaskan ego seni; ia memotret tawa, memotret jaring yang penuh ikan, memotret kehidupan yang terus berdenyut. Sementara aku, aku menemukan kembali kecintaanku pada kata-kata melalui perpustakaan desa yang kami bangun bersama.
"Tadi Maira mengirim surat," kataku, memecah keheningan. "Dia sudah melahirkan. Bayinya laki-laki. Dia bilang dia memberinya nama 'Fajar'. Dia ingin kita datang berkunjung ke tempat persembunyiannya yang baru suatu saat nanti."
Biru tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang tidak lagi menyimpan kepahitan terhadap masa lalunya. "Nama yang bagus. Aku senang dia menemukan kedamaiannya sendiri."
Matahari mulai menyentuh garis air, mengubah warna langit menjadi palet jingga, ungu, dan merah yang luar biasa indah. Biru meraih kameranya, namun kali ini ia tidak mengarahkannya ke arah matahari. Ia memutar lensa itu ke arahku, menangkap binar mataku yang merefleksikan cahaya senja.
Klik.
"Kenapa memotretku lagi?" protesku, meski aku tidak benar-benar keberatan.
"Karena setiap kali aku melihatmu, aku diingatkan bahwa kemenangan terbesar kita bukan saat buku itu meledak di pasaran," Biru meletakkan kameranya dan menggenggam tanganku erat, menyatukan jemari kami. "Tapi saat kita bisa duduk seperti ini, tanpa perlu menoleh ke belakang karena takut bayangan masa lalu mengejar kita."
Aku menatap tangannya yang menggenggamku. Ada bekas luka di sana, saksi bisu malam di gedung lama itu, namun bagiku, luka itu kini adalah medali kehormatan.
"Kamu tahu, Biru? Dulu aku pikir fajar adalah sebuah akhir dari kegelapan," kataku sambil menatap cakrawala. "Tapi sekarang aku tahu, fajar hanyalah sebuah awal. Perjalanan kita yang sebenarnya baru dimulai di sini."
Biru mencium keningku lama, sebuah janji tanpa kata-kata bahwa ia tidak akan pernah melepaskan genggaman itu. Di bawah langit yang kian menggelap, kami tidak lagi membutuhkan proyektor atau lampu panggung untuk merasa hidup. Kami adalah cahaya bagi satu sama lain.
Saat bintang pertama mulai muncul di langit pesisir, kami bangkit dan berjalan menuju rumah kami yang hangat, meninggalkan jejak kaki di atas pasir yang akan segera dihapus oleh ombak. Namun tidak apa-apa, karena esok pagi, kami akan kembali ke sini untuk membuat jejak yang baru.
Di dunia yang penuh dengan kepalsuan dan ambisi, kami telah menemukan kebenaran kami sendiri: bahwa pada akhirnya, cinta bukan tentang siapa yang paling kuat bertahan, melainkan tentang siapa yang paling jujur untuk tetap tinggal.
SELESAI.
Aku akan coba memberikan beberapa spesial chapter, untuk melengkapi setiap langkah mereka bersama...
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...