Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Cadar yang Terlepas
Baru saja kaki Rina melangkah keluar dari gerbang pesantren, sebuah tarikan kasar di bahunya membuat ia hampir terjatuh. Seorang santriwati senior bersama dua temannya menghadang jalan Rina dengan wajah merah padam karena amarah. Suasana yang tadinya tenang seketika berubah mencekam.
"Eh, lo! Lo yang nyuri uang gue di tas, kan?!" bentak santriwati itu, suaranya melengking hingga mengundang perhatian santri lain yang berada di sekitar gerbang, termasuk para santri putra yang berada tak jauh dari sana.
Rina tersentak, tubuhnya gemetar hebat. Ia menggeleng cepat, suaranya bergetar menahan tangis. "Tidak, Mbak... Mbak salah orang. Saya tidak mengambil apa-apa."
"Alah! Jangan sok suci karena pakai cadar! Gue ingat postur tubuh lo, kayaknya lo yang tadi masuk ke kamar gue. Gue masih ingat wajah lo sekilas! Buka cadar lo sekarang! Gue mau mastiin!" teriak santriwati itu lagi sambil mencoba meraih tali cadar Rina.
Kerumunan mulai terbentuk. Rina merasa dunianya runtuh. Sejak SMP, ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga wajahnya di balik kain itu, bukan karena kecantikannya, tapi karena ia ingin merasa aman.
Air mata mulai membasahi cadarnya. "Tolong, Mbak... bukan saya. Jangan suruh saya buka..."
"Buka! Kalau lo nggak salah, kenapa takut?!" teriak provokasi dari santri lain yang mulai ikut campur.
Di tengah keributan itu, langkah kaki yang cepat dan berwibawa mendekat. Gus Azkar, yang kebetulan hendak menuju kantor depan, terhenti melihat kerumunan tersebut. Alisnya bertaut tajam. Namun, sebelum ia sempat membubarkan massa dengan suaranya yang galak, tangan santriwati senior itu sudah lebih dulu menarik paksa ikatan cadar Rina hingga terlepas.
Srak!
Kain abu-abu itu jatuh ke tanah. Rina spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak hebat. Namun, karena guncangan emosi yang kuat, tangannya perlahan turun. Saat itulah, waktu seolah berhenti berputar di gerbang pesantren Al-Hikmah.
Wajah di balik cadar itu kini terekspos. Kulitnya putih bersih seputih porselen, hidungnya bangir, dan bibirnya yang kecil tampak bergetar kemerahan karena menangis. Namun yang paling memikat adalah matanya; meski sembab, mata itu indah dengan bulu mata lentik yang basah oleh air mata. Kecantikannya begitu murni, sangat kontras dengan tuduhan keji yang baru saja diterimanya.
Gus Azkar yang berdiri hanya terpaut beberapa meter, mematung. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, jantung ustadz yang dikenal sedingin es itu berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Ada perasaan protektif yang tiba-tiba muncul di dadanya. Ia yang biasanya memandang wanita dengan datar, kini seolah tersihir oleh wajah yang selama ini tersembunyi itu.
Tak jauh dari sana, Ustadz Zidan—salah satu ustadz muda yang juga berada di lokasi—ternganga. Ia tak menyangka santriwati yang selama ini dianggap "biasa" karena pendiam, ternyata memiliki paras yang luar biasa cantik layaknya bidadari. Di saat itu juga, benih kekaguman muncul di hati Ustadz Zidan.
"Bukan dia..." suara santriwati yang menuduh tadi tiba-tiba mengecil. Ia melihat wajah Rina dengan saksama dan menyadari bahwa orang yang ia lihat di kamarnya memiliki tahi lalat di pipi, sedangkan wajah Rina bersih tanpa noda. "Eh... maaf, gue... gue salah orang."
Mendengar permintaan maaf yang santai itu setelah dipermalukan di depan umum, tangis Rina pecah lebih keras. Ia segera memungut cadarnya yang kotor terkena debu jalanan dan lari sekencang mungkin meninggalkan area pesantren tanpa memedulikan panggilan orang-orang.
Gus Azkar mengepalkan tangannya kuat-kuat. Matanya yang tajam kini menatap dingin ke arah santriwati yang menuduh tadi. "Kalian semua... ikut saya ke kantor pengasuh sekarang!" suaranya menggelegar, penuh amarah yang tertahan. Namun di dalam hatinya, bayangan wajah Rina yang menangis tadi terus menari-nari, mengusik ketenangannya yang selama ini ia jaga.