Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter ¹⁴ — Calon Ibu Tiri.
Di rumahnya di kota, Malvin mengakhiri panggilan itu. Tanpa sadar, senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Baru ketika ia mendongak, ia menyadari ada tatapan penuh selidik yang tertuju padanya.
“Kamu bicara dengan siapa?” tanya seseorang. “Lastri siapa? Kenapa nada bicaramu lembut sekali?”
Malvin tersentak. Ia baru ingat, saat menerima panggilan Lastri, ia tengah duduk bersama keluarga di meja makan. Saat pandangannya berkeliling, semua mata menatapnya dengan rasa ingin tahu yang sama.
“Dia rekan pendamping proyek di desa tempat perusahaan berinvestasi,” jelas Malvin singkat. “Baru saja melaporkan perkembangan proyek.”
“Ck!” Alya—adik perempuannya, menyeletuk. “Kukira Bang Malvin sudah dapat cewek di sana, buat calon ibu tiri Alexa. Abang masih belum move on dari mendiang kakak ipar, ya?”
“Eh, emangnya hubungan Bang Malvin sama Mbak Fahira itu sebenarnya gimana? Kirain kalian mau nikah,” sambung adik laki-laki Malvin, tak kalah penasaran.
“Kami hanya berteman, nggak lebih,” ujar Malvin tegas. “Lagipula, aku dan dia sudah lama tidak berkomunikasi. Jangan mengarang yang aneh-aneh, aku nggak punya perasaan apa pun pada Fahira.”
“Hm, padahal Fahira itu cocok untukmu,” sahut sang ibu. “Pendidikannya luar negeri, keluarganya terpandang, dan hidupnya terlihat bersih.”
“Cih, bersih apanya. Mama saja nggak tahu, dia itu ratu dugem,” celetuk Alya nyinyir.
“Sudah, cukup!” Potong Tuan Sanjaya, ayah Malvin. “Kalian ini selalu saja mengusik kakak sulung kalian.”
Sekejap, meja makan itu sunyi. Tak ada lagi yang bersuara, dan mereka kembali menyantap hidangan masing-masing.
Namun ketenangan itu tak benar-benar singgah di benak Malvin. Sendok di tangannya bergerak pelan, nyaris tanpa rasa. Kata-kata keluarganya berlalu, tapi satu nama justru menetap... Lastri.
Ia teringat suara perempuan itu barusan di seberang telepon. Lastri tidak berusaha mengesankannya, tapi dia malah terkesan. Sebuah kehadiran yang sederhana, namun entah bagaimana mampu menembus lapisan pertahanannya yang selama ini kokoh.
Malvin menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang kembali muncul. Kali ini, ia tahu betul alasannya. Ia... sedang jatuh cinta.
Belum lama suasana kembali normal, bel rumah berbunyi. Seorang asisten rumah tangga bergegas membukakan pintu. Beberapa detik kemudian, sosok Fahira muncul di ambang ruang makan. Wanita itu berjalan masuk, dengan senyum yang selalu tampak siap dipamerkan.
“Om dan Tante belum selesai makan?” sapanya ringan, seolah kehadirannya sudah lama dinantikan.
Malvin mendongak sekilas. Tatapannya datar, sopan sekadarnya. “Kami hampir selesai.”
Fahira tidak terlihat terusik dengan sikap Malvin. Ia melangkah dengan percaya diri, lalu pandangannya tertuju pada seorang anak kecil yang duduk di kursi khusus, sibuk memainkan sendoknya sendiri.
“Alexa,” katanya lembut, lalu berjongkok agar sejajar. “Apa kabar, sayang?”
Beberapa detik Alexa mengamati Fahira, lalu tersenyum kecil. “Tante wangi.”
Fahira tertawa pelan, jelas senang. Ia mengeluarkan boneka kecil dari tasnya. “Ini buat kamu.”
Alexa menerimanya dengan antusias, memeluk boneka itu tanpa ragu. Tawa kecil anak itu memenuhi ruang makan—ringan.
Malvin memperhatikan dari kejauhan. Wajahnya tetap tenang, tapi ada jarak yang sengaja ia jaga. Ia tak ikut tersenyum, tak pula menegur. Hatinya terasa asing melihat pemandangan itu, karena pikirannya justru melayang pada sosok lain. Lastri, dengan kesederhanaannya. Dengan caranya yang tidak berusaha merebut perhatian siapa pun.
Fahira berdiri, lalu menatap Malvin. “Aku cuma ingin main sebentar sama Alexa. Anak-anak cepat besar, kan.”
“Iya, tapi jangan terlalu lama.” Nada suara Malvin dingin, seolah sebuah garis tak kasatmata ia tarik jelas di antara mereka.
Fahira mengangguk, namun senyumnya tak pudar. Ia tahu Malvin menjauh, tahu pria itu menjaga jarak. Tapi ia juga tahu satu hal—selama masih ada Alexa, ia belum sepenuhnya kalah.
Dan meski menyadari keinginan Fahira, Malvin tak berniat mengubah sikap dinginnya. Hatinya sudah tertambat di tempat lain. Pada seorang perempuan yang mungkin tak hadir di rumah besar ini, namun diam-diam telah menetap di tempat paling dalam di hatinya.
Sementara di desa...
Surya mulai kehilangan kesabaran. Ia mengeluarkan instruksi baru, lebih kasar dan lebih terbuka. Petugas desa dikirim untuk mengukur ulang parit. Surat edaran dipasang di papan pengumuman, semua kegiatan non-resmi diminta menghentikan aktivitas sementara.
Masalahnya, tidak ada yang berhenti.
Parit tetap digali.
Pelatihan tani tetap berjalan.
Koperasi tetap buka, meski lebih senyap.
Dan yang paling menyebalkan bagi Surya, warga mulai saling melindungi.
“Pak, itu hanya bersih-bersih parit lama.”
“Kami kerja gotong royong, bukan proyek.”
“Tidak ada pungutan.”
Saat orang suruhannya melaporkan, Surya membanting map di mejanya. “Mereka pikir aku nggak berkuasa lagi?!”
Ia keluar dari kantor dengan emosi, berniat pergi untuk menemui Lastri dan warga. Ia ingin bertatapan langsung, ingin menunjukkan bahwa ia masih kepala desa yang berkuasa.
Saat Surya tiba, banyak warga tengah bekerja. Lastri juga ada di sana, berdiri di antara mereka.
“Lastri!” panggil Surya dengan suara keras.