"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 13: JEBAKAN DI RUMAH SAKIT
Suara di telepon itu seperti air es yang mengalir di tulang punggung Laras.
"Salah alamat, Bu Laras. Aku tidak di rumah sakit. Aku di belakangmu."
Laras berbalik cepat, matanya membelalak ke jendela belakang mobil. Kosong. Hanya jalanan sepi, pepohonan, dan pagar rumah sakit tua. Tapi perasaan didongkel itu nyata, menusuk.
"Bohong," gumamnya, berusaha tenang. "Kamu di dalam sana. Kamu coba buat panik."
Tawa kecil di telepon. "Cerdas. Tapi tidak cukup cerdas. Cek bagasi mobilmu."
Laras membeku. Bagasi. Arkana tidak ada di sana tapi Nadia? Tidak, Nadia bersama ibu mertuanya. Tapi... apa yang Rangga taruh di sana?
Dengan tangan gemetar, dia membuka pintu mobil, berjalan pelan ke belakang. Jantungnya berdegup kencang, setiap langkah terasa seperti berjalan di ranjau. Dia membuka bagasi.
Kosong. Hanya dongkrak dan ban serep.
Telepon berdering lagi. "Tenang, Bu. Aku hanya bercanda. Tapi sekarang... lihat ke atas."
Laras menengadah. Di lantai tiga rumah sakit tua itu, di jendela yang tepat di atas tempat Rafa, Aisha, dan Arka masuk tadi, seseorang berdiri. Siluet dengan tangan terangkat, seperti melambai.
Langsung, Laras menelepon Rafa. "Dia di lantai tiga! Jendela atas pintu masuk! HATI-HATI!"
---
Di dalam lobi rumah sakit tua, telepon Rafa berdering. Suara Laras panik membuat darahnya membeku. "Dia di lantai tiga! Jendela atas!"
Rafa menatap ke atas. Tapi koridor di depan mereka gelap, tangga menuju lantai atas seperti mulut gua. Rangga ada di atas. Dan mereka harus naik.
Arka menggenggam tangan Aisha lebih erat. "Bunda... kita harus naik?"
"Kita harus, sayang. Tapi kita bersama," bisik Aisha, meski suaranya gemetar.
Rangga di ujung koridor tadi sudah menghilang. Mungkin naik lewat tangga darurat. Atau... itu hanya ilusi?
"Polisi sudah di posisi?" tanya Aisha pada Rafa.
"Seharusnya. Tapi tidak ada tanda-tanda mereka."
Itu yang membuat mereka khawatir. Di mana polisi yang menyamar? Mengapa sepi sekali?
Mereka mulai naik tangga. Setiap langkah berdebam di keheningan yang mengerikan. Bau debu, disinfektan basi, dan sesuatu yang lain... bau obat-obatan. Bau yang akrab bagi Aisha bau rumah sakit tempat Arka dirawat dulu.
Di lantai dua, koridor lebih gelap. Lampu neon beberapa sudah mati, yang lain berkedip-kedip. Kamar-kamar dengan pintu terbuka, tempat tidur kosong berserakan, seperti tempat yang ditinggalkan dalam terburu-buru.
"Rafa..." bisik Aisha tiba-tiba. "Dia pilih rumah sakit ini bukan tanpa alasan. Dia tahu ini tempat yang membuat kita trauma. Tempat yang melemahkan kita secara emosional."
"Dan dia tahu obat-obatan Arka," tambah Rafa dengan suara datar. "Dia bisa saja mempersiapkan sesuatu di sini."
Arka berhenti, tidak mau melanjutkan. "Arka takut."
Rafa berlutut di depannya. "Ayah juga takut. Tapi terkadang kita harus menghadapi ketakutan. Dan kita menghadapinya bersama, ingat?"
Arka mengangguk, menelan ludah. "Buat ginjal Ayah bangga."
Kalimat polos itu membuat Rafa hampir menangis. Anak ini. Selalu mengaitkan segalanya dengan ginjal yang menyelamatkan nyawanya.
---
Di lantai tiga, suasana lebih suram. Di sini dulu adalah ruang isolasi pasien imunokompromais tempat Arka pernah dirawat dua minggu pasca transplantasi. Aisha langsung mengenalinya. Lorong ini. Kamar nomor 307 di ujung.
Dan di depan kamar 307, Rangga berdiri dengan santai, bersandar di pintu yang terbuka. Dia memegangi sesuatu di tangan sebuah suntikan kecil.
"Selamat datang di museum kenangan kalian," ucap Rangga, senyum tipis. "Aisha, kamu ingat kamar ini? Di sinilah kamu menangis setiap malam, merawat Arka sendirian. Dan Rafa... kamu tidak pernah di sini, kan? Karena kamu tidak tahu."
"Sudah cukup, Rangga," kata Rafa, suaranya menggelegar di koridor kosong. "Apa yang kau inginkan? Katakan langsung."
"Oh, sederhana. Aku ingin kalian menderita. Seperti aku menderita sepuluh tahun melihat kalian bahagia, lalu melihat Aisha menghilang, lalu melihat kalian bahagia lagi sekarang."
"Ini bukan kebahagiaan! Ini bertahan hidup!"
"Tampak seperti kebahagiaan dari luar," sergah Rangga. "Dan itu cukup untuk membuatku sakit."
Aisha melangkah maju, melindungi Arka di belakangnya. "Kamu yang menyembunyikan suratku dulu. Kamu yang menyebabkan semua ini. Dan sekarang kamu menyalahkan kami?"
"Kamu tidak pernah melihatku, Aisha! Kamu hanya melihat Rafa! Dan ketika kamu hamil, kamu malah lari! Kamu tidak pernah memberi aku kesempatan!"
"KAU PACAR TEMAN AKU!" teriak Rafa. "AKU TIDAK PERNAH TAHU KAU SUKA PADA AISHA!"
"Karena kau tidak pernah memperhatikan! Kau sibuk dengan kuliah, dengan organisasi, dengan jadi bintang! Dan aku? Aku hanya Rangga, si pendiam, si pendengar setia saat Aisha curhat tentangmu!"
Jadi itu masalahnya. Dendam yang terpendam sepuluh tahun. Cinta yang ditolak tanpa pernah diungkapkan. Dan sekarang, meledak dalam bentuk teror.
Arka, dari belakang Aisha, bersuara kecil: "Kamu sedih karena tidak dicintai?"
Rangga menatapnya, ekspresinya berubah sebentar seperti tersentuh oleh polosnya pertanyaan anak itu. "Iya, nak. Sangat sedih."
"Tapi kalau kamu jahat, makin tidak ada yang cinta kamu."
Diam. Koridor menjadi sunyi. Bahkan Rangga terlihat terkejut dengan logika sederhana anak delapan tahun itu.
Lalu, tawa Rangga pecah tawa pahit, getir. "Anakmu pintar, Aisha. Tapi dia salah. Aku tidak butuh dicintai lagi. Aku hanya ingin kalian merasakan sakitku."
Dia mengangkat suntikan itu. "Ini insulin. Dosis tinggi. Jika disuntikkan pada Arka, dengan kondisi ginjal transplantasinya... akan memicu komplikasi fatal. Ginjalnya akan rusak. Dan ginjal itu adalah ginjalmu, Rafa. Jadi kau akan kehilangan ginjal dan anak."
Rafa dan Aisha membeku. Ancaman nyata. Rangga membawa senjata.
"Tapi aku tidak akan menyuntikkannya," lanjut Rangga tiba-tiba, melempar suntikan itu ke lantai. "Karena itu terlalu cepat. Aku ingin kalian menderita perlahan."
Dia mengeluarkan ponsel, menekan sesuatu. Di ujung koridor, sebuah proyektor portable menyala, memproyeksikan gambar di dinding.
Foto-foto. Bukan foto Aisha dan Rafa, tapi foto-foto Arkana. Bayi itu di taman, di mobil, di rumah. Dan foto-foto Nadia. Dan foto Ibu Hani. Dan foto tetangga mereka. Rangga sudah mengamati semua orang yang mereka cintai.
"Ada dua puluh orang dalam daftarku," kata Rangga dingin. "Jika kalian tidak menuruti permintaanku, satu per satu akan kusakiti. Dimulai dari yang termuda Arkana."
Laras yang masih mendengarkan via komunikasi tersembunyi di telinga Aisha, berteriak: "TIDAK! JANGAN!"
Tapi teriakannya hanya terdengar oleh Aisha.
"Permintaan apa?" tanya Rafa, suara hancur.
"Pertama, Aisha harus meninggalkan kota ini. Selamanya. Tidak boleh kontak dengan Arka lagi. Kedua, Rafa, kamu harus mengumumkan di media sosial bahwa kamu menyesal telah menghancurkan hidupku dulu. Ketiga..." Rangga menatap Arka. "Kamu, nak, harus menulis surat bahwa kamu benci pada ginjal ayahmu. Dan kamu ingin mengembalikannya."
Permintaan gila. Tidak mungkin dipenuhi.
"Kamu sakit, Rangga," kata Aisha, air mata mengalir. "Kamu butuh pertolongan."
"Aku sakit? AKU? Kalian yang membuatku sakit!"
Dia mengambil suntikan lagi dari saku ternyata ada cadangan. "Pilih. Lakukan permintaanku, atau aku mulai dari Arkana. Aku tahu di mana dia sekarang. Dengan ibumu, Rafa. Di rumah saudaramu di Bogor, kan? Alamatnya Jalan Melati No. 45."
Dia tahu. Dia tahu semuanya.
Rafa merasa lututnya lemas. Ibu. Arkana. Nadia. Semua dalam bahaya.
Tapi tiba-tiba, suara langkah kaki berderap di tangga. Banyak. Cepat.
Rangga menoleh, kaget. Polisi. Mereka datang dari dua arah tangga utama dan tangga darurat.
"Tidak mungkin! Aku sudah lumpuhkan alarm kalian!" teriak Rangga.
Seorang polisi penyamar yang tadi berpura-pura sebagai petugas kebersihan mengarahkan pistol. "Rangga, serahkan senjatanya! Ini sudah berakhir!"
Tapi Rangga cepat. Dia menyambar Arka yang berdiri paling dekat, menariknya, dan menekan suntikan ke leher anak itu. "MUNDUR! ATAU AKU SUNTIK!"
"TIDAK!" Aisha berteriak, maju, tapi Rafa menahannya.
Arka terisak, ketakutan. "Ayah... Bunda..."
"Lepaskan dia, Rangga," kata Rafa, suara bergetar tapi berusaha tenang. "Lepaskan, dan kita bicara."
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan! Kalian menghancurkan hidupku! Sekarang giliranku!"
Tapi saat itu, sesuatu terjadi pada Arka. Wajahnya pucat, tangannya memegangi perut. "Sakit... ginjalnya sakit..."
Apakah sugesti? Atau memang ada sesuatu?
Rangga melihat Arka yang tiba-tiba lemas, bingung. "Jangan pura-pura! Aku belum menyuntik!"
"Tapi... benar sakit..." Arka melengkungkan badan, napasnya tersengal.
Aisha tahu ini bukan pura-pura. Dia mengenali ekspresi itu ekspresi saat ginjal Arka bermasalah dulu. "Dia butuh obat! Obat anti penolakan! Dia harus minum sekarang!"
Rangga ragu. Ini tidak ada dalam rencananya. Dia ingin menyiksa, bukan membunuh langsung. Apalagi di depan polisi.
Di saat keraguan itulah, Rafa melompat.
Bukan ke arah Rangga, tapi ke arah suntikan di lantai yang tadi dilempar. Dia mengambilnya, lalu berdiri. "Kamu ingin insulin? INI! SUNTIK AKU! GINJALKU SATU LAGI DI TUBUH ARKA! RUSAKKAN YANG SATU LAGI DI TUBUHKU!"
Rangga terkejut. "Apa"
"SUNTIK AKU! JADI AKU YANG MERASAKAN SAKITNYA! BUKAN ANAKKU!"
Taktik itu bekerja. Rangga bingung. Fokusnya teralihkan.
Dan itu cukup untuk seorang polisi sniper yang sudah berada di atap bangunan seberang. Satu tembakan. Tidak mematikan. Tepat di bahu Rangga yang memegangi suntikan.
Rangga menjerit kesakitan, tangannya melepaskan Arka. Polisi lain langsung menerjang, memborgolnya.
Arka terjatuh ke pelukan Aisha. "Bunda... sakit..."
"Obat, sayang! Rafa, bawa obatnya!"
Rafa sudah mengeluarkan pil darurat dari saku—selalu dibawanya sejak transplantasi. Mereka memberikannya pada Arka dengan air mineral yang dibawa Rafa.
Sementara itu, Rangga meronta-ronta di lantai, bahunya berdarah, tapi masih berteriak: "INI BELUM SELESAI! AKU MASIH PUNYA ORANG LAIN! MEREKA AKAN MELANJUTKAN!"
Polisi mengangkatnya. "Sudah cukup. Kamu akan menghadapi hukum."
Tapi ancaman itu menggantung. Apakah Rangga bekerja sendirian? Atau ada orang lain?
---
Di luar, Laras berlari masuk, wajahnya basah oleh air mata. "Arkana! Nadia! Ibu! Aku sudah telepon, mereka baik-baik saja! Tapi... ada orang mencoba masuk ke rumah saudaramu, Raf! Polisi setempat sudah tangkap!"
Jadi Rangga tidak bohong. Dia punya kaki tangan. Atau setidaknya, dia menyewa orang.
Ambulans datang untuk membawa Arka ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan darurat. Dan Rangga dibawa ke kantor polisi.
Tapi di dalam ambulans, saat Aisha memegangi tangan Arka yang masih gemetar, anak itu berkata: "Bunda... Arka bohong tadi. Ginjalnya tidak sakit. Arka cuma pura-pura supaya dia kasihan."
Aisha terkejut. "Kenapa?"
"Karena Arka lihat di film... orang jahat kadang kasihan kalau lihat orang sakit. Dan Arka ingat, waktu di rumah sakit dulu, perawat-perawat selalu kasihan dan lebih baik sama Arka."
Kecerdikan anak yang pernah menderita. Menggunakan pengalaman sakitnya sebagai senjata.
Rafa memeluk Arka. "Kamu pemberani. Tapi jangan pernah lakukan lagi. Itu terlalu berisiko."
"Tapi berhasil kan?" Arka tersenyum lemah.
Ya. Berhasil. Tapi dengan harga yang mahal.
---
Di rumah sakit, pemeriksaan menunjukkan Arka baik-baik saja. Hanya stres, tapi ginjalnya stabil. Dokter memberi obat penenang ringan, dan Arka akhirnya tertidur.
Di ruang tunggu, ketiga orang dewasa itu duduk Rafa, Aisha, Laras. Kelelahan. Trauma.
"Apakah ini benar-benar berakhir?" tanya Laras, suara kosong.
"Rangga akan dipenjara," kata Rafa. "Tapi ancamannya tentang orang lain..."
"Kita akan hadapi nanti," potong Aisha. "Sekarang, yang penting anak-anak kita aman. Dan kita... kita masih bersama."
Laras memandangi Aisha, lalu Rafa. "Dia benar tentang satu hal. Kita memang keluarga. Meski aneh. Meski sakit. Tapi kita keluarga."
Mereka saling memandang. Tidak ada lagi rasa bersalah yang mendominasi. Tidak ada lagi kecurigaan. Hanya kelegaan bahwa mereka selamat.
---
Tapi di kantor polisi, Rangga yang sedang diinterogasi tersenyum aneh pada penyidik.
"Kalian pikir ini berakhir? Aku hanya pion. Ada orang lain yang lebih membenci mereka. Dan dia... lebih kejam dariku."
"SIAPA?" tanya penyidik.
Rangga hanya tertawa. "Dia akan muncul sendiri. Saat mereka paling tidak menduganya."
---
Malam itu, di rumah sakit tempat Arka dirawat untuk observasi, Aisha duduk di samping tempat tidurnya. Arka terbangun sebentar.
"Bunda, kita menang ya?"
"Kita selamat, sayang."
"Arka senang. Tapi... Arka masih takut. Takut ada orang jahat lain."
Aisha membelai rambutnya. "Kita akan lebih waspada. Dan kita akan lebih kuat. Karena kita tahu, kita bisa menghadapinya bersama."
Arka tertidur lagi. Aisha menatapnya, lalu melihat ke luar jendela. Bulan purnama bersinar terang. Seperti malam-malam dulu saat ia berjaga sendirian. Tapi kali ini, ia tidak sendirian.
Dia mendapat pesan dari Rafa: "Laras mengajakmu makan besok. Katanya, sudah waktunya kita makan sebagai keluarga semuanya. Kamu mau?"
Aisha membalas: "Mau."
Mungkin keluarga mereka tidak konvensional. Mungkin penuh dengan luka dan kesalahan masa lalu. Tapi itu keluarga mereka. Dan mereka akan melindunginya, apapun yang terjadi.
---
(Di suatu tempat, jauh dari rumah sakit, seorang wanita paruh baya sedang melihat foto lama foto Aisha muda dan Rafa muda. Matanya penuh kebencian yang lebih dalam daripada Rangga. Dia merapikan gaun perawatnya, lalu berbisik: "Aisha... akhirnya kita akan bertemu lagi.")