Sinopsis.
David Lorenzo CEO perusahaan Switch Company. Dia mempunyai banyak kepribadian yang berbeda akibat trauma masa lalu.
Dia bertemu dengan Michelle, yang berkerja di perusahaannya, pertemuan mereka tidak di sengaja dan banyak kesalahpahaman.
Lambat Laun mereka semakin dekat, dan perlahan saling menyembuhkan luka.
Banyak tingkah lucu dan kocak di antara mereka.
penasaran jangan lupa baca, like dan komen.
Update setiap hari Senin.
Follow Ig: @Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryy Heryy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Malam itu David sampai di rumahnya dengan diantar oleh Yuda. Mobil berhenti di depan gerbang rumah besar miliknya, dan David langsung membuka pintu mobil dengan susah payah.
"Boss, kenapa jalan kamu ngangkang kayak gitu ya? Ada apa denganmu?" tanya Yuda dengan suara penuh rasa ingin tahu.
meskipun sebenarnya dia sudah bisa menebak penyebabnya.
"Haisss, diam saja kamu Yuda! Jangan banyak tanya!" ucap David dengan kesal.
Menahan rasa sakit yang masih menyengat di area sensitifnya saat berjalan keluar dari mobil.
"Kalau begitu saya pergi dulu ya Boss... Oh ya Boss, kamu lucu banget kalau jalan ngangkang kayak gitu , ha,haa,haa!" ucap Yuda dengan sedikit tertawa sebelum segera masuk ke dalam mobilnya lagi, takut bosnya akan semakin marah.
"Sialan kamu! Cepat pergi sekarang juga!" teriak David.
Dengan suara yang penuh kemarahan, melihat mobil Yuda yang segera melaju pergi meninggalkannya sendirian di depan rumah.
"Sakitnya luar biasa..." bisik David pelan sambil berjalan ngangkang menuju pintu masuk rumahnya.
Setiap langkahnya membuat rasa sakit semakin terasa, membuat wajahnya tetap memerah karena kesakitan dan kemarahan.
"Sial dasar wanita itu... kenapa wajahnya tampak tidak asing bagi ku ya?" gumamnya pelan saat memasuki kamarnya yang luas.
Pikirannya kembali terbang ke kejadian sore tadi ketika wanita karyawan itu secara tidak sengaja menendang bagian vital nya, dan juga momen-momen sebelumnya yang dia rasakan pernah melihat wajahnya namun tidak bisa mengingat kapan dan di mana.
Untuk mencari jawabannya, David langsung berjalan ke arah meja kerjanya dan membuka sebuah dokumen elektronik yang berisi data seluruh pekerja di perusahaan Switch Company.
Dia cepat-cepat mencari bagian yang berisi data karyawan baru, khususnya dari bagian administrasi.
Tak lama kemudian, dia menemukan informasi yang dia cari.
"Michelle Putri... usia 27 tahun... rupanya dia hanya karyawan kontrak ," baca David dengan suara yang dingin dan penuh kemarahan.
Dia menatap foto profil Michelle di layar komputer dengan tatapan yang tajam, sambil masih memegang area tubuhnya yang masih sakit.
"Awas saja kamu Michelle! Nanti akan ku balas apa yang kamu lakukan padaku!" ucapnya dengan penuh tekad.
Saat hendak menutup komputer, pandangannya tiba-tiba jatuh pada sebuah rak di sudut kamarnya yang penuh dengan mainan robot baru yang beragam jenis dan ukuran.
Dia melihatnya dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Kapan aku membeli semua mainan baru ini ya? Aku tidak ingat sama sekali pernah membeli mainan seperti ini," ucapnya pelan dengan wajah yang penuh kebingungan.
Tanpa berpikir panjang, David segera mengambil ponselnya dan menelpon Yuda yang baru saja sampai di rumahnya.
"Yuda! Kapan aku membeli semua mainan baru yang ada di kamarku itu? Kamu tahu kan tentangnya?" tanya David langsung tanpa basa-basi saat telepon diangkat.
"Ia Bos' ada apa ? oh ia Bos', maaf Boss... Saya benar-benar lupa memberi tahu. Hari itu saat Bos' baru kembali dari luar negeri, kepribadian Bos' berubah jadi anak-anak seperti biasanya ? Saat itu Bos' memaksa saya untuk mengantar ke toko mainan dan pergi ke supermarket membeli semua mainan robot yang ada di sana!" jelas Yuda dengan suara yang sedikit khawatir, tahu bahwa bosnya mungkin akan marah karena tidak diberitahu.
"Oh ya Boss... Malam ini saya juga lupa mengatakan. Mobil Bos' yang kemarin di di bawa ke bengkel yang sedikit penyok di bagian depan, itu karena di tendang oleh nya, dan coretan lipstik itu juga dia yang melakukan nya. Ternyata dia adalah orang yang sama karyawan baru bagian administrasi. Michelle Putri," tambah Yuda lagi, memberitahu informasi penting yang belum sempat dia sampaikan.
"Apa?! Jadi dia orangnya ?! Lalu apa dia menyadari tingkah ku yang aneh saat itu?" tanya David dengan suara yang semakin keras.
Merasa bahwa semua kejadian buruk yang dia alami baru-baru ini ternyata berkaitan dengan satu orang wanita yang sama.
"Sepertinya tidak Boss. Saat itu dia hanya terkejut dan kemudian marah-marah saja. Kayaknya dia tidak menyadari kalau itu adalah Bos' yang sedang dalam kondisi tidak normal," jawab Yuda dengan jujur.
"Bagus! Jangan sampai ada seorang pun yang tahu tentang kondisi ku ini Yuda! Kamu harus menjaga rahasia ini dengan baik!" ucap David dengan suara yang tegas dan penuh perintah sebelum langsung mematikan teleponnya.
Dia merenung sejenak, menatap foto Michelle di layar komputer dengan ekspresi wajah yang semakin berat.
David kemudian memutuskan untuk beristirahat lebih awal agar rasa sakit di tubuhnya bisa cepat hilang.
Dia mencopot pakaian kerjanya dan mengenakan pakaian tidur yang nyaman, lalu langsung terbaring di tempat tidur yang besar. Tak lama kemudian, dia tertidur dengan nyenyak karena kelelahan yang luar biasa.
Paginya, mata David perlahan terbuka.
Namun ekspresi wajahnya yang biasanya serius dan tegas kini sudah berubah total, dia melihat sekeliling kamar dengan mata yang penuh rasa ingin tahu dan kegembiraan seperti anak kecil yang baru saja bangun tidur.
"Duh-duh-duh! Mau ke taman hiburan! Mau ke taman hiburan!" teriaknya dengan suara yang riang sambil melompat-lompat di atas tempat tidur.
Tanpa berpikir panjang, dia mengambil ponselnya dan menelpon Yuda yang masih sedang tertidur pulas di rumahnya.
"Paman Yuda! Paman cepat datang ya! Aku ingin pergi ke taman hiburan sekarang juga! Ayo dong paman, jangan lama-lama ya!" ucap David dengan suara yang merengek dan penuh semangat, sama sekali tidak seperti sosok CEO perusahaan besar yang dikenal oleh banyak orang.
Yuda yang baru saja terbangun dari tidurnya dengan susah payah mengangkat teleponnya.
"Ahh... Boss? Apa lagi nih? Tadi malam baru saja pulang ngurus kamu, sekarang apa lagi, pagi-pagi begini lagi?" ucapnya dengan suara yang masih mengantuk dan penuh kesal.
Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, dia langsung mematikan telepon dan menjerit kesal ke arah langit-langit apartemennya.
"Ahh, Boss sialan! Aku mau tidur sampai siang aja kan hari ini adalah hari libur ku! Sekarang malah harus mengurus anak kecil yang sudah berumur 30 tahun! Mengapa nasibku sial banget sekali ya?!" teriaknya dengan penuh kesal.
Yuda menepuk bantal di bawah kepalanya dengan keras sebelum akhirnya terpaksa bangun dari tempat tidurnya.
Dia segera pergi ke kamar mandi untuk mandi dan menyegarkan diri, kemudian berganti pakaian menjadi yang lebih santai, kaos oblong dan celana pendek yang nyaman untuk bepergian.
"Hah... Sudah lah, ini adalah tugasku sebagai asisten pribadi. Tidak ada pilihan lain kan?" gumamnya pelan sebelum mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari apartemennya.
Setelah berkendara selama sekitar tiga puluh menit, Yuda akhirnya sampai di rumah David yang besar.
Dia masuk ke dalam rumah dan langsung pergi ke kamarnya, melihat David yang masih mengenakan pakaian tidur putihnya dan sedang bermain dengan mainan robot yang ada di kamarnya.
"Boss, sekarang kamu harus ganti baju dulu ya kalau mau pergi ke taman hiburan. Tidak bisa pergi dengan pakaian tidur kan?" ucap Yuda dengan suara yang penuh kesabaran, mendekati David dengan hati-hati.
Namun David hanya menoleh ke arahnya dengan wajah yang penuh harapan.
"Paman Yuda... tolong pakaikan baju ku ya! Aku tidak bisa sendiri!" ucapnya dengan suara merengek seperti anak kecil yang belum bisa berpakaian sendiri.
"HAAAA!"
Yuda menjerit kesal dan menepuk kepalanya dengan kedua tangan.
Dia merasa sangat kelelahan dan tidak percaya dengan apa yang harus dia lakukan sekarang.
Memakaikan pakaikan seorang pria dewasa yang sudah berusia 30 tahun seperti anak kecil yang masih berusia 5 tahun.
"Kalau bukan bos' ku, aku ingin sekali memukul kepala mu, dasar bos gila !" ucap Yuda dengan perasaan kesal dalam hatinya.
Bersambung....