Adven Mahardhika Alkhatiri, seorang lelaki yang penuh rahasia dalam hidupnya. Bahkan keberadaan anaknya juga menjadi rahasia dan teka teki tersendiri untuk keluarga Alkhatiri yang begitu terpandang.
Rahasia besar apakah yang selama ini dia simpan? dan mampukah dia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya terhadap seorang perempuan bernama Sukma Paramitha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 ( Rahasia lagi )
"Sepertinya mereka juga sama dengan kita Mitha, mencari bukti kejahatan Monica yang menurut Tsania di simpan di rumahnya" bisik Adven memundurkan mobilnya supaya tidak di ketahui Luis dan anak buah Monica.
"Mas benar, lihat mereka mengacak acak rumah itu" jawab Paramitha
"Untung aku meminjam mobil David, jadi mereka tidak akan curiga pada kita"
"Bagaimana kalau mereka menemukan bukti itu sebelum kita mas?" tanya Paramitha khawatir
"Kamu tenang saja, kata Daddy bukti itu ada di tempat yang tersembunyi, semoga saja mereka tidak menemukannya" jawab Adven
Akhtar sudah bicara dengan Tsania di dalam penjara, dia begitu kecewa pada mantan menantunya itu karena sudah menipu keluarganya selama bertahun tahun bahkan mencuri aset keluarga milik Adam dan menjualnya tanpa sepengetahuan Adam.
Tsania juga sudah menyesali perbuatannya dan bersedia menandatangani surat perceraian, bahkan Tsania yang sakit hati pada Monica juga mengatakan kalau dia punya bukti kejahatan Monica, dan siapa saja yang bisa di jadikan saksi kejahatan Monica yang sudah membunuh kedua orang tua angkat Paramitha, bahkan menabrak Paramitha saat dia keluar dari rumah sakit.
"Munir, dia saksi semua kejahatan Monica dan satu temannya yang sekarang sedang di cari Daddy" ungkap Adven
"Semoga mereka mau bersaksi ya mas" ungkap Paramitha
"Identitas kamu juga tetap sebagai Sukma Paramitha karena semua data kamu sudah di ganti Monica, dan kita harus melakukan ijab kabul ulang supaya pernikahan kita sah dengan nama baru kamu" ungkap Adven.
"Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau aku tidak mengingat semuanya mas, dokter bahkan bilang kalau kemungkinan aku bisa mengingat masa laluku itu kecil dan aku hanya perlu menjalani hidup baruku setelah sadar dari koma" ungkap Paramitha
"Kamu tahu tidak mas, air susuku saat sadar dari koma begitu deras, kata mama dan papa mungkin itu efek dari obat yang aku minum, aku percaya saja dengan mereka tapi aku juga penasaran dengan luka operasi Caesar yang ada di perutku, mereka tidak mengatakan apapun tentang Axel makanya seiring waktu aku juga melupakan semua rasa penasaranku" ungkapnya lagi
"Saat aku membawa Axel ke rumah Daddy, dia terus menangis, mungkin karena dia tidak mau minum susu formula, dua hari dia baru mau minum susu formula itupun sambil di dekap mommy yang harus berpura pura menyusui Axel" jawab Adven
"Aku hanya sibuk mencari kamu untuk menuntut balas, bahkan Monica juga berpura pura jadi malaikat dengan cara membujukku supaya aku bisa kembali bangkit dengan terus bekerja dan melupakan kamu, tapi tidak bisa, aku tidak pernah bisa melupakan kamu setiap kali aku melihat Axel" ucapnya lagi
"Maafkan aku karena saat itu aku begitu bodoh mas, aku percaya pada kak Monica yang menunjukkan surat undangan pernikahan kalian, aku pergi bahkan masih dengan pakaian rumah sakit" ungkap Paramitha memeluk Adven yang juga memeluknya erat.
"Sekarang fokus kita adalah untuk menjadi orang tua yang baik untuk Axel dan memenjarakan Monica, dia sudah merugikan banyak orang, bahkan Kak Adam yang jika lebih cepat tau tentang Anita dia tidak akan merasa bersalah sampai sebesar sekarang" jawab Adven
Adven kembali melihat ke arah rumah Tsania, Luis terlihat kesal karena sepertinya dia tidak menemukan apapun dan pulang dengan tangan kosong , bahkan anak buah Monica juga terlihat sedang menelpon seseorang yang mungkin itu adalah Monica.
"Sayang mereka sudah pergi, aku akan menyelinap ke sana, kamu awasi dari mobil ini saja, kalau ada orang kamu langsung telepon aku ya" bisik Adven dan Paramitha mengangguk
"Hati hati mas"
Adven keluar setelah orang orang itu di pastikan pergi, dia masuk rumah itu lewat halaman samping karena rumah Tsania tidak memiliki pagar besi, hanya pagar dari tanaman yang bisa di lewati Adven dengan mudah.
Dia juga membuka jendela kamar Tsania dengan hati hati, karena Adven ingin langsung mencari bukti itu yang menurut Tsania ada di kamarnya, dia sembunyikan di antara keramik di dekat ranjang miliknya.
Trak.
"Keramik di dekat ranjang" gumam Adven segera mencari keramik yang memiliki tempat rahasia di bawahnya.
Srak.
"Ini dia" kaget Adven saat menemukan plastik hitam berisi banyak foto lama Monica dan handphone lama Monica yang sengaja di curi Tsania, bahkan ada rekaman CCTV lalu lintas tempat kecelakaan kedua orang tua angkatnya Paramitha dan kejadian saat Paramitha di tabrak.
"Kamar ini juga bahkan mengkhianati kak Adam, sama sekali tidak ada foto kak Adam di sini" gumam Adven yang melihat sekeliling kamar itu hanya di penuhi foto Tsania dan Munir.
Dulu Adven pernah ke rumah itu saat Adam menikahi Tsania, tapi rumah itu dulu sama sekali tidak ada foto Munir, entah foto itu belum di buat atau di sembunyikan Tsania, tapi yang pasti Adven tahu setiap tempat di rumah itu dengan baik.
"Tolong...."
Terdengar suara meminta tolong dari arah luar kamar Tsania, itu suara seorang perempuan dan Adven langsung waspada.
"Tolong Om Luis buka pintunya Tara terkunci di sini!" teriak perempuan itu yang bernama Tara.
"Tara, dia siapa" gumam Adven memilih untuk keluar kamar Tsania dan mencari arah suara.
Adven berjalan di antara tempat yang begitu berantakan itu dengan hati hati, kursi sudah tidak pada tempatnya, barang barang berserakan di bawah bahkan lemari di ruang keluarga sudah pecah kacanya dan banyak kertas berserakan.
Brak. Brak.
"Tolong!"
"Saya kebetulan lewat dan mendengarkan teriakan, kamu siapa?" tanya Adven berpura-pura
"Saya pemilik rumah ini, saya adiknya kak Tsania tolong saya, saya di kunci Om Luis di sini!" teriak Tara
"Tsania punya adik, bukannya dia anak tunggal ya" gumam Adam terkejut
"Tunggu, saya akan dobrak pintunya, kamu mundur" ucap Adven
Brak. Brak.
Pintu itu akhirnya terbuka, Adven melihat seorang gadis muda sedang menunduk di dekat lemari dan wajahnya memang terlihat mirip dengan Tsania, tapi Adven tidak pernah mengenal perempuan itu sejak Tsania menikah dengan Adam.
"Kamu tinggal sendiri di sini?" tanya Adven
"Tidak, saya tinggal dengan kak Munir, tapi kak Munir katanya di tangkap polisi jadi saya tinggal sendiri sekarang" jawabnya
"Lalu kenapa rumah ini bermatakan dan sejak kapan kamu tinggal di sini? saya sering lewat di sini tidak pernah melihat rumah ini berpenghuni" ucap Adven
"Saya baru dua tahun pulang dari pesantren dan tinggal di sini, Kak Munir bilang kak Tsania bekerja di luar kota jadi rumahnya dia yang jaga" jawabnya
"Tadi Om Luis ke sini mau mencari sesuatu tapi bawa orang orang jahat yang memukuli kak Munir tempo hari, jadi saya di kunci di dalam" jawabnya lagi
"Baiklah, saya harus pergi, ini semoga bisa membantu kamu untuk meminta bantuan polisi atau tetangga untuk membereskan rumah ini" ucap Adam memberikan uang yang ada di dalam dompetnya.
"Tidak perlu pak, saya punya uang ko, terima kasih sudah membantu"
"Saya harus pergi, Istri saya sudah menunggu di luar, ini kamu simpan saja untuk membantu keperluan kamu" pamit Adven memberikan uang itu dan tidak mengatakan kalau dia mengenal Tsania.