Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Luapan Amarah.
"Bukan urusanmu! Kau urus saja jal*angmu itu!"
Deg.
Rangga terdiam mendengar ucapan tajam Rania, dia menatap wanita itu dengan sayu, sementara Rania langsung berbalik dan pergi meninggalkannya.
"Hah!" Rangga mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian menyusul langkah Rania yang sudah masuk ke dalam kamar mereka.
Rangga berdiri di ambang pintu seraya memperhatikan Rania yang sedang membuka lemari dan mengeluarkan beberapa pakaian, kemudian wanita itu juga menurunkan koper membuatnya langsung menarik tangan Rania agar wanita itu menghentikannya.
"Lepaskan aku!" teriak Rania seraya menghempaskan tangan Rangga, dia langsung mengelap tangannya yang bekas di pegang oleh laki-laki itu karena merasa sangat jijik.
Rangga menggeram kesal melihat tingkah Rania. "Apa yang kau lakukan, Rania?" tanyanya dengan tajam. "Kenapa kau mengeluarkan pakaianmu?" Suaranya mulai meninggi.
Rania terus mengabaikan Rangga dan fokus memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Sepanjang perjalanan pulang tadi, dia sudah memikirkan apa yang harus dilakukan dalam rumah tangganya.
Rania tidak mau lagi bersama dengan Rangga yang telah mengkhianati cintanya, menghancurkan kepercayaannya, bahkan laki-laki itu berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, melakukan hal menjijikkan di depan matanya, sungguh sangat menginjak-injak harga dirinya.
Biarlah Rania yang pergi, biarlah dia yang mengalah, membiarkan suami dan sahabatnya bersama. Lagi pula dia sudah tidak sudi lagi berhadapan dengan mereka, tidak sudi untuk bicara, dan tidak sudi memiliki hubungan apapun lagi dengan pengkhianat seperti mereka.
"Hentikan, Rania!" ucap Rangga, dia menarik koper Rania dengan paksa sampai koper itu jatuh membentur lantai.
Brak.
Suara benturan keras memenuhi seisi kamar, untung saja kamar itu kedap suara, jadi tidak mengganggu Dafa yang tengah tertidur lelap.
"Aku bilang hentikan, dan dengarkan aku!" bentak Rangga yang sudah mulai habis kesabaran. Dia menarik lengan Rania dan memaksa wanita itu untuk berhadapan dengannya.
Rania menatap Rangga dengan sinis, kedua matanya berkilat penuh kemarahan, tubuhnya bergetar, kedua tangannya mengepal kuat sampai membuat kuku-kukunya memutih.
"Aku tidak mau mendengar apapun dari mulut kotormu itu!" desis Rania. Dia memalingkan wajah, tetapi Rangga memegang kedua lengannya dengan kuat dan memaksanya untuk menatap.
"Aku tau aku salah, Rania. Aku khilaf, aku mohon maafkan aku," ucap Rangga lemah.
Rania langsung tertawa. "Khilaf?" suaranya bergetar. "Kau tidur dengan sahabatku sendiri, dan kau bilang itu khilaf?!" Napasnya mulai tersengal, sesak dan sakit secara bersamaan.
Rangga menggigit bibir, tidak bisa membantah ucapan Rania. "Maaf," ucapnya lemah, dia menunduk.
Rania kembali tertawa. Bukan menertawakan Rangga, tapi menertawakan diri sendiri yang telah sangat bodoh mencintai laki-laki bajing*an sepertinya.
"Sudahlah, persetan dengan kalian!" kata Rania dengan tajam. "Sekarang lepaskan aku dan pergilah padanya, dia yang bisa memuaskan napsu bej*atmu itu," sambungnya.
Rangga menggeleng kuat. "Tidak, Sayang. Aku mohon maafkan aku," pintanya kembali. "Aku, aku benar-benar khilaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji!" Dia memeluk Rania, tubuhnya bergetar, mulai terisak.
Rania memberontak dan mencoba untuk melepaskan pelukan Rangga, tetapi laki-laki itu memeluknya dengan sangat erat, bahkan sampai membuatnya susah bernapas.
"Cukup!" bentak Rania. "Aku tidak mau mendengar apapun lagi!" Dia menggeliatkan tubuh, berharap pelukan Rangga terlepas. "Lepaskan aku!" Dia lalu menggigit pundak Rangga dengan kuat membuat laki-laki itu menjerit kesakitan.
"Aargh!" Rangga memekik sakit hingga melepaskan pelukannya, tentu saja hal itu membuat Rania langsung menjauh darinya. "Rania, kau-"
"Cukup, sudah cukup!" potong Rania, dia benar-benar sudah tidak sanggup lagi. Melihat wajah Rangga saja langsung membuat ingatan menjijikkan itu berputar dalam kepalanya.
"Aku mohon cukup, Mas, cukup," ucap Rania lemah. Padahal dia sudah berusaha untuk kuat, tetapi semua ini benar-benar membuatnya gila.
Rania meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri dengan gemetaran, membuat Rangga terdiam kaku. "Selama ini aku diam walau kau selalu menolakku, aku tetap menunggumu dengan sabar, aku berusaha untuk menjadi seperti apa yang kau inginkan, aku terus memperbaiki diri dan berpikir mungkin saja akulah yang masih kurang. tapi ternyata, ternyata kau malah mengkhianati aku. kau, kau melakukan itu dengan sahabatku sendiri. Huhuhu." Tangisnya pecah tak tertahan.
"Kenapa, kenapa kau tega melakukan ini padaku?Kenapa?!" teriak Rania histeris. Dia benar-benar tidak mau seperti ini, dia tidak mau memperlihatkan kerapuhannya—kehancurannya pada Rangga, tapi kenapa dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri?
Rangga hanya diam dengan tubuh gemetar, lidahnya terasa keluh untuk berucap, merasa bersalah dan penuh dosa. Dia menyesal telah tergoda, dia menyesal karena telah menyakiti Rania, dia menyesal karena telah membuat wanita itu hancur seperti ini.
"Maaf, maafkan aku, Rania," ucap Rangga dengan terisak.
Rania menggelengkan kepala, merasa tidak terima dengan semua yang telah suaminya perbuat. Pengkhianatan itu sangat jelas di matanya, berputar-putar seperti kaset rusak dalam kepalanya. Setiap dessahan dan errangan yang dia dengar, serasa mengoyak-ngoyak jiwanya, menghancurkan sisi kewan*itaannya, dan mencabik-cabik harga dirinya.
"Tidak! " Rania kembali menggeleng. "Aku tidak mau." Dia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menatap Rangga yang berada tidak jauh darinya. "Aku tidak mau lagi."
Deg.
Rangga tersentak mendengar ucapan Rania, dia bergegas menghampiri wanita itu yang menatapnya dengan tatapan kosong. "Kau, kau bicara apa, Rania?" Dia mengguncang tubuh Rania, lalu ditepis dengan kasar oleh istrinya itu.
Rania mendongak, menatap wajah Rangga. Wajah dari laki-laki yang sangat dia cintai, sangat dia percayai. Namun, wajah itu jugalah yang melemparkannya ke dalam jurang penderitaan.
"Kita pisah saja, Rangga."
Deg.
Tubuh Rangga menegang sempurna. "A-apa?" Dia menatap tidak percaya, rahangnya mulai mengeras.
"Aku mau cerai!"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda