NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

​Malam itu, kamar Mori terasa lebih sunyi dari biasanya, namun kepalanya justru sangat bising. Mori berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram. Bayangan kejadian di parkiran tadi sore terus berputar seperti kaset rusak.

​"Karena gue cemburu, oke?!"

​Suara serak Lian saat mengucapkan kalimat itu seolah masih menggema di telinganya. Mori memiringkan badannya, memeluk guling erat-erat. Wajah Lian yang basah karena hujan, tatapan matanya yang intens tanpa senyum miring yang menyebalkan—itu adalah visual Gabriel Guevara yang paling jujur yang pernah Mori lihat.

​Drrt... drrt...

​Ponsel di atas nakas bergetar. Mori melirik. Nama Lian muncul di layar.

​Lian (21:05): Mor, udah tidur?

Lian (21:10): Pipi lo masih sakit nggak? Sori soal tadi sore.

Lian (21:15): Gue beneran soal yang di parkiran tadi.

Lian (21:30): Woi, dibales kek. Minimal di-read doang juga nggak apa-apa, asal gue tau lo baik-baik aja.

​Mori hanya menatap layar itu tanpa niat untuk membalas. Jantungnya masih terlalu berisik setiap kali membaca nama cowok itu. Dia takut kalau dia membalas, pertahanan yang dia bangun selama ini akan benar-benar runtuh.

​Perhatian sang Ketua OSIS

​Baru saja Mori hendak meletakkan ponselnya, sebuah notifikasi lain muncul. Kali ini dari Vano.

​Kak Vano OSIS (21:45): Mori, maaf ya kalau tadi sore suasananya jadi nggak enak. Aku harap kamu sampai rumah dengan aman.

Kak Vano OSIS (21:46): Besok pagi aku ada rapat koordinasi lagi, kalau kamu butuh bantuan soal konsep kelas, kabari aku ya. Istirahat yang cukup, Mori.

​Mori menghela napas. Chat dari Vano terasa seperti oase—tenang, sopan, dan tidak menuntut. Tapi anehnya, chat itu tidak membuat jantungnya berdegup sekencang saat membaca chat singkat dari Lian. Mori membalas singkat, "Iya Kak, makasih ya. Aku aman kok."

​Kedamaian itu tidak bertahan lama. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan yang membuat suhu tubuh Mori mendadak dingin. Begitu dibuka, foto profilnya adalah Alina.

​Alina (22:00): Heh, cewek kampung. Lo pikir dengan naik motor bareng Lian tadi sore, lo udah menang?

Alina (22:01): Denger ya, Lian itu cuma kasihan sama lo. Dia itu tipe cowok yang suka mainin perasaan cewek kayak lo buat seru-seruan doang.

Alina (22:03): Jauhin Lian atau lo bakal ngerasain yang lebih parah dari kejadian di toilet kemarin. Gue nggak main-main, Mori. Gue bisa bikin lo ditendang dari sekolah ini.

​Mori mematikan layar ponselnya dengan kasar. Dia muak. Kenapa urusannya dengan Lian selalu menyeret drama yang melelahkan seperti ini? Ancaman Alina adalah pengingat keras bahwa Lian adalah paket lengkap dengan segala masalahnya.

​"

​Ting! Ting! Ting!

Bunyi notifikasi beruntun dari grup WhatsApp-nya dengan Jessica, Nadya, dan Alissa membuat ponselnya nyaris meledak.

​GROUP: PMR (Penjaga Mori Rebutan) 🚑

​Jessica: MORIIIIIII!!!! NGAKU NGGAK LO!!!

Alissa: Gila gila gila! Tadi sore gue balik paling terakhir karena ada urusan ekskul, eh pas lewat parkiran gue liat pemandangan cinematic!

Nadya: Pemandangan apa woy?! Jangan gantung!

Jessica: Gue liat Mori sama Lian ujan-ujanan di parkiran! Terus mereka deket bangeeet, kayak lagi syuting film romantis! Lian megang bahu Mori, terus mereka tatap-tatapan intens!

Alissa: Iya! Gue juga liat! Gue mau nyapa tapi nggak berani karena atmosfernya kayak lagi 'confess' gitu! Terus Mori akhirnya naik motor Lian kan? CIEEEEE!

Nadya: DEMI APA?! Mori yang katanya benci Red Flag akhirnya luluh juga?!

​Mori menutup wajahnya dengan bantal, berteriak tertahan. Dia lupa kalau sekolah itu punya banyak mata.

​Mori: Kalian salah liat! Tadi itu cuma bahas soal tugas pensi!

​Jessica: Halah! Bahas tugas kok ampe pegang-pegangan dan ujan-ujanan? Terus muka Lian tadi serius banget, nggak kayak biasanya. Mor, lo harus cerita besok! Nggak ada rahasia di antara kita!

​Mori kembali menatap chat dari Lian yang masih belum dibalas. Dia melihat foto profil Lian—sebuah foto hitam putih Lian yang sedang menatap ke arah samping, sangat maskulin dan misterius.

​Tiba-tiba, ada satu pesan masuk lagi dari Lian.

​Lian (23:15): Mor, gue tau lo belum tidur. Tuh status WA lo barusan 'online'.

Lian (23:16): Gue cuma mau bilang... jangan dengerin apa kata orang. Terutama Alina. Gue tau dia bakal ganggu lo.

Lian (23:17): Gue nggak main-main sama perasaan gue. Besok gue jemput. Jangan nolak.

​Mori melempar ponselnya ke ujung kasur. Dia tidak bisa tidur. Perkataan Lian, perhatian Vano, ancaman Alina, dan godaan sahabatnya bercampur aduk menjadi satu.

​Di dalam hatinya, Mori tahu dia sedang berada di persimpangan jalan. Ke arah Vano adalah jalan yang lurus, aman, dan tanpa drama. Ke arah Lian adalah jalan yang penuh duri, warna merah peringatan, tapi entah kenapa terasa jauh lebih menantang dan membuat jantungnya merasa hidup.

​"Lian... lo bener-bener bencana," gumam Mori sebelum akhirnya ia terlelap dengan sisa-sisa debaran jantung yang belum juga reda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!