Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 (Part 1) Tuksedo di Rumah Kecil dan Restu yang Mahal
Sore itu, kota kecil Marisa menyaksikan pemandangan yang tak biasa: sebuah sedan sport mahal berwarna hitam mengkilap diparkir di depan sebuah rumah kayu sederhana. Dalend, sang pewaris Angkasa Raya, keluar dari mobil itu dengan membawa tas ransel kecil dan penampilan yang sedikit kotor setelah perjalanan panjang.
"Jangan coba-coba markir mobil di depan rumah, Dalend," Marisa sudah memperingatkan. "Aku nggak mau tetangga curiga, atau lebih buruk, Mama kamu mengirim mata-mata ke sini."
"Baik, Tunangan. Aku parkir di ujung jalan. Tapi ini pertama kalinya aku jalan kaki sejauh ini tanpa bodyguard, " canda Dalend, wajahnya berseri-seri.
Marisa membawanya masuk ke rumahnya yang kecil. Rumah itu bersih, rapi, dan dipenuhi aroma masakan rumahan yang hangat-kontras total dengan apartemen Dalend yang steril dan kosong.
"Selamat datang di rumah aku," kata Marisa, sedikit gugup. "Jangan berharap ada pemanas air, king size bed, atau kopi impor."
Dalend meletakkan ranselnya di lantai kayu ia menoleh meraih tangan Marisa, dan mencium punggung tangan Marisa dengan lembut.
"Ini lebih baik dari estate Papa. Ini terasa seperti rumah," Dalend berbisik, tatapannya tulus.
"Jangan menggombal, Manajer Operasional Properti. Kita harus menghadap Ibu ku."
...
Marisa masuk ke kamar ibunya.
"Bu, Marisa pulang," kata Marisa, ceria. "Dan Marisa bawa teman lama dari Jakarta. Dia yang dulu banyak membantu Marisa di sana.
Marisa mempersiapkan ibunya secara mental. Dalend masuk, melepas jaketnya. Dan langsung berlutut di samping kursi dimana Ibu Marisa duduk.
"Selamat sore, Tante. Saya Dalend," Sapa Dalens suaranya sopan dan tulus, tanpa ada jejak kesombongan metropolitan.
Ibu Marisa mengamati Dalend. Ia sudah melihat sekilas berita skandal itu di koran lokal, meskipun Marisa selalu mengalihkan pembicaraan.
"Anak muda yang tampan. Terima kasih sudah membantu anak saya. Tapi saya lihat di koran... kamu bukan orang sembarangan. Kamu pewaris besar, Nak," kata Ibu Marisa, nadanya penuh kewaspadaan.
Dalend tersenyum. Ia tahu ini adalah ujian terberatnya "Benar, Tante. Saya pewaris yang bodoh, Tante," Dalend mengakui. "Tapi sekarang saya belajar. Saya belajar bahwa semua uang itu tidak ada artinya kalau sya tidak punya value diri. Marisa yang mengajarkan saya hal itu." Dalend mengeluarkan cincin safir biru sama dengan yang kini melingkar di jari manis Marisa.
"Saya datang ke sini bukan sebagai teman Marisa, Tante. Tapi sebagai pria yang ingin meminta izin untuk mencintai putri Tante. Tapi perasaan saya pada Marisa itu nyata. Dia menolak harta keluarga saya demi sebuah janji. Wanita seperti itu tidak ada di Jakarta. Tante, izinkan saya membawa Marisa kembali ke Jakarta, bukan untuk sandiwara, tapi untuk pernikahan."
Ibu Marisa terdiam lama, mengamati mata Dalend. Ia melihat ketulusan, bukan rayuan. Ia melihat luka, bukan kesombongan.
"Nak, Marisa sudah banyak menderita. Ibu tidak mau dia sakit hati lagi. Jika kamu benar-benar mencintainya, pastikan kamu bisa melindunginya dari keluarga besarmu yang tampak mengerikan itu," kata Ibu Marisa.
"Saya janji, Tante," kata Dalend. "Saya sudah memenangkan pertempuran pertama dengan Ayah saya. Saya sudah membuktikan bahwa saya serius bekerja. Sekarang, saya akan buktikan bahwa saya serius dengan Marisa. Saya akan melindungi Marisa dari badai apa pun di Jakarta."
Ibu Marisa tersenyum lembut. "Baiklah, Nak. Marisa adalah anak yang keras kepala. Jika dia sudah memilih, Ibu tidak bisa melarang. Tapi jangan pernah sakiti dia. Jika kamu sakiti dia, Ibu akan ke Jakarta, dan Ibu akan menjual semua asetmu."
Dalend tertawa, lega. "Saya terima ancaman itu, Tante Terima kasih."
Restu telah didapatkan. Dalend merasakan beban yang jauh lebih berat daripada Divisi Properti Angkasa Raya kini terangkat dari bahunya .
...
Malam itu, Marisa menyiapkan makan malam sederhana: nasi goreng (Dalend nerhasil mendapatkan nasi goreng spesial yang ia inginkan) dan teh manis hangat. Mereka makan di teras kecil, di bawah kerlip bintang yang jauh lebih jelas daripada polusi cahaya Jakarta.
Setelah makan malam, Marisa membantu ibunya kembali ke kamar. Dalend duduk di teras, merenungkan kedamaian yang ia rasakan.
Marisa kembali, duduk di samping Dalend. Jarak mereka kini tak lagi terasa canggung.
"Mama suka suka kamu," bisik Marisa. "kamu berhasil menggombal dengan sangat meyakinkan."
"Itu bukan gombal, Marisa. Itu pernyataan fakta. Bagaimana bisa aku hidup enam bulan tanpa kekayaan dan fasilitas, kalau bukan karena janji untuk kembaki padamu?" Dalend membalas, memeluk Marisa, menghirup aroma rambut Marisa yang wangi sabun sederhana yang menenangkan.
"Kita harus jujur, Dalend. Kita akan kembali ke Jakarta. Keluarga Lo akan tahu kita kembali bersama. Marisa akan menyerang lagi, " kata Marisa, nadanya khawatir.
Dalend mengangkat wajah Marisa, memegang dagunya. " Biarkan mereka menyerang. Aku sudah punya posisi di perusahaan." mendekat, pandangannya terkunci. "Aku kangen kamu, Marisa. Sangat kangen." C1uman itu dimulai dengan lembut, penuh kerinduan, lalu menjadi lebih dalam dan intens. Setelah enam bulan penantian, semua ketegangan yang terpendam di antara mereka meledak. C1uman di jalanan pasca pesta pertunangan hanyalah perpisahan, tetapi ini adalah permulaan mereka yang sesungguhnya.
Ciuman itu terlepas dengan penuhi kecintaan. Mereka sama-sana terlihat tidak rela untuk berpisah namun jika diteruskan entahlah apa yang akan terjadi pada kedus belah pihak yang saling rindu.
Marisa berdehem dengan muka merah padam. "Em sudah malam ayo masuk,"
Sudut bibirnya berkedut lalu Dalend tersenyum. Ia mengangguk dan berdiri, melangkah mengikuti Marisa-Nya.
Sampai di ruang tamu, Marisa-Nya menyuruh Dalend menunggu. Ia masuk kedalam kamarnya untuk mengambil sesuatu. Tak lama kemudian ia keluar.
Sambil menatap "Maaf, aku cuma ada ini. Tapi kasur ini nyaman. Ini kasur lipat punya Almarhum Ayah. Favoritku juga," kata Marisa, memberinya bantal dan selimut bersih.
"Aku tidak keberatan, tunanganku," goda Dalend, sengaja menekankan kata itu. "Aku bisa tidur di mana saja, asalkan di bawah atap yang sama denganmu."
Marisa mencubit lengannya pelan. "Berhenti menggodaku. Tidur. Kita punya hari yang panjang besok."
Dalend berbaring. Kasur lipat itu berbuat dari kapuk terasa empuk, namun tidak sehalus memory foam di apartemennya. Dia memejamkan mata, menciba menemukan kenyamanan di antara suara jangkrik dan kendaraan yang lewat.
Marisa tersenyum lalu memilih masuk kekamar.
Saat hampir terlelap Lalu, datanglah musuh.
Ngiing... ngiing...
Awalnya satu, lalu dua, kemudian seolah-olah seluruh armada nyamuk Jawa Timur memutuskan untuk mengadakan pertemuan di atas kepalanya. Dalend, yang terbiasa tidur dalam keheningan ber-AC dan terlindungi dari serangga, merasa frustrasi.
Dia mencoba menutupi dirinya dengan selimut, tetapi hawa di luar sudah cukup panas. Dia menepuk-nepuk kakinya, lengannya, bahkan wajahnya dalam hati, dari dia tertawa-inilah harga yang harus dibayar untuk cinta sejati dan experience hidup sederhana.
Setelah hampir setengah jam berkutat, Dalend menyerah. Dia bangkit dari kasur, menggaruk lengannya, dan berjalan pelan ke pintu kamar Marisa.
Dia mengetuk pelan. "Marisa? Kamu sudah tidur?"
Pintu terbuka sedikit. Marisa menyembulkan kepalanya, matanya sedikit bengkak karena mengantuk. Dia mengenakan kaus oversize yang tampak sangat nyaman.
"Ada apa, Dalend? Ada gempa?" Bisik Marisa, khawatir.
"Lebih buruk," balas Dalend, berbisik dramatis. "Aku sedang diserbu. Mereka tidak mau membiarkan Manajer Operasional Properti Angkasa Raya tidur."
Marisa mengerutkan kening, lalu menyadari. "Nyamuk?"
"The whole battalion, " Dalend menghela napas. "Maaf tapi Aku belum pernah seperti ini seumur hidupku. "
Marisa tertawa pelan, menahan suaranya agad tidak membangunkan ibunya. "Tunggu sebentar."
Marisa menutup pintu sebentar, lalu keluar membawa kotak kecil dan sebuah pemantik. Itu adalah obat nyamuk bakar dengan aroma bunga.
"Obat nyamuk bakar. Tradisional, tapi ampuh, " katanya, menyalakan ujungnya. "Kamu di Jakarta pasti tidak tahu benda ini."
Dalend memegang obat nyamuk itu saat Marisa mencari wadah asbak. Tiba-tiba, mata Dalend terpaku pada Marisa yang berdiri sangat dekat. Lampu kamar mandi yang menyala di belakang Marisa memberikan halo di rambutnya.
"Terima kasih, Marisa," ucap Dalend, suaranya sedikit serak.
"Sama-sama. Tidurlah, Dalend. Kamu harus mengemudi jauh besok lusa," kata Marisa, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Dalend.
Dalend menggeser tubuhnya sedikit, memblokir jalan Marisa kembali ke kamar. Ekspresi serius Dalend tiba-tiba berubah menjadi nakal.
"Tapi, kenapa kamu tidak menawarkan solusi yang lebih baik?" Tanyanya, suaranya kembali menjadi godaan yang lembut.