Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Viral
Lampu-lampu kota Jakarta yang biasanya terasa dingin dan menekan, malam ini seolah bersinar lebih ramah di mata Tia. Di dapur apartemennya yang kini telah menjadi jantung dari Crumbs & Clouds, Tia berdiri dengan penuh konsentrasi. Di atas meja kerja stainless steel-nya, barisan brownies yang baru keluar dari oven mengeluarkan aroma cokelat pekat yang beradu dengan aroma manis buah yang segar.
Tia baru saja kembali dari Merbabu dua hari yang lalu, namun jiwanya masih tertinggal di antara samudera awan Puncak Kenteng Songo. Tangannya dengan lincah mengoleskan lapisan ganache berwarna oranye cerah yang ia ciptakan dari campuran cokelat putih dan ekstrak jeruk aprikot pilihan. Ini adalah "Merbabu Sunrise", menu yang lahir dari dinginnya puncak gunung dan hangatnya sinar matahari pertama.
Tepat pukul sembilan malam, sesuai saran Idris mengenai waktu puncak aktivitas media sosial, Tia duduk di sofa sambil memangku laptopnya. Idris duduk di sampingnya, memberikan dukungan moral yang ia butuhkan sejak awal perjalanan mereka.
"Siap, Sayang? Sekali klik, dan duniamu mungkin berubah lagi," bisik Idris sambil memegang tangan Tia.
Tia menarik napas panjang. Ia mengunggah serangkaian foto yang mereka ambil di puncak Merbabu. Foto pertama adalah close-up potongan brownies Merbabu Sunrise dengan latar belakang matahari terbit yang dramatis. Lapisan oranye di tengah cokelat hitam pekat itu terlihat seperti sinar matahari yang membelah kegelapan malam.
Caption-nya ditulis dengan hati:
> "Terinspirasi dari ketinggian 3.142 MDPL. Saat kaki lelah mendaki dan udara dingin menusuk, matahari terbit memberikan janji bahwa perjuangan tak pernah sia-sia. Hadir untuk kalian, potongan kecil dari langit Merbabu: The Merbabu Sunrise Edition."
Hanya dalam hitungan menit, keajaiban digital terjadi. Foto yang estetis, kontras warna yang memukau, ditambah dengan narasi perjuangan seorang mantan karyawan yang mendaki gunung demi sebuah resep, menyentuh algoritma dan hati netizen.
"yakkkk! Lihat ini!" seru Idris, matanya tak lepas dari ponselnya sendiri. "Baru sepuluh menit, share-nya sudah lebih dari seribu! Akun pendaki besar baru saja me-repost fotomu!"
Ponsel Tia mulai bergetar tanpa henti. Notifikasi Instagram berubah menjadi angka yang tak terhitung. Komentar mulai membanjiri unggahan tersebut:
* "Gila, ini definisi estetik sesungguhnya! Brownies di atas awan!"
* "Perjuangan bawa kue ke puncak demi foto itu nggak main-main. Pasti rasanya juara!"
* "Mantan karyawan Pak Baskoro ya? Keren banget pilihannya sekarang!"
* "Kak, kirim ke Bandung bisa nggak? Mau ngerasain sunrise dalam satu gigitan!"
Tia menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. "Mas, ini... ini lebih besar dari yang aku bayangkan."
"Kamu berhak mendapatkannya, Tia," ujar Idris sambil merangkul bahunya.
"Orang-orang nggak cuma beli brownies. Mereka beli ceritanya. Mereka beli keberanian kamu buat ninggalin kantor dan naik ke puncak Merbabu cuma buat cari rasa ini."
Tia menoleh ke arah Idris. "Tapi Mas, kalau mereka semua pesan sekarang, gimana aku bisa bikin semuanya? Aku baru punya satu oven besar!"
Idris tertawa kecil, mencoba menenangkan Tia. "Tenang, Sayang. Kita kerjakan pelan-pelan. Besok aku bakal cuti buat bantu kamu packing. Dan mungkin, ini saatnya kita mikir buat sewa ruko kecil atau nambah asisten. Kamu sudah nggak bisa terbang sendirian lagi."
"Kamu benar," jawab Tia sambil mulai membalas pesan-pesan pesanan yang masuk. "Aku butuh tim. Tapi aku mau siapa pun yang kerja di sini nanti, mereka punya semangat yang sama. Semangat buat nggak takut sama tantangan setinggi apa pun."
...----------------...
Keesokan paginya, apartemen Tia berubah menjadi pusat distribusi yang sibuk. Aroma jeruk dan cokelat memenuhi setiap sudut ruangan. Sebanyak seratus paket pertama Merbabu Sunrise harus segera dikirimkan.
Idris benar-benar menepati janjinya. Ia datang pagi-pagi sekali, mengenakan celemek cadangan milik Tia yang berwarna pink (satu-satunya yang tersisa), dan bertugas menempelkan stiker segel.
"Mas Idris, itu stikernya jangan miring, nanti nilai estetikanya hilang!" tegur Tia sambil mengeluarkan loyang panas dari oven.
"Siap, Bos! Ini sudah presisi tingkat tinggi, setara dengan kemiringan Tanjakan Setan kemarin," canda Idris sambil terus bekerja.
Saat mereka sedang sibuk, bel pintu berbunyi. Itu Maya, rekan kerja lama Tia yang kini menjadi pelanggan setianya. Maya datang bersama dua orang lainnya dari kantor.
"Tia! Ya ampun, kantor heboh banget gara-gara postingan kamu!" seru Maya sambil membawa buket bunga. "Bahkan Pak Baskoro tadi pagi nanya, 'Masih ada sisa brownies Merbabu itu nggak?'. Kami mau pesan tiga puluh box buat meeting direksi besok!"
Tia tersenyum lebar. "Maya, buat kalian selalu ada. Tapi antre ya, ini pesanan dari Instagram bener-bener gila."
"Oke boss!".
Sore harinya, setelah gelombang pengiriman pertama selesai, Tia dan Idris duduk di balkon apartemen. Mereka berdua tampak sangat lelah, namun ada sinar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
"Mas," panggil Tia pelan. "Tadi pas aku lagi ngaduk adonan, aku kepikiran sesuatu. Kalau dulu kita nggak ketemu di jogja dan nggak nekat paralayang di Jogja, apa mungkin kita bakal ada di titik ini?"
Idris menggeleng pasti. "Nggak mungkin.Kalau kita nggak ketemu waktu itu kurasa kita tidak akan bisa berpetualang seperti sekarang.Btw Paralayang itu yang ngerobohin tembok ketakutan kamu. Merbabu itu yang ngebangun fondasi kepercayaan diri kamu. Dan brownies ini... ini adalah jembatannya."
Tia menatap sisa-sisa matahari terbenam di balik gedung-gedung Jakarta. Warnanya jingga, persis seperti lapisan jeruk di brownies Merbabu Sunrise-nya. "Dunia itu luas ya, Mas. Dulu aku pikir duniaku cuma meja kantor dan laporan bulanan. Ternyata dunia itu adalah seluas apa kamu berani untuk melangkah."
Idris menggenggam tangan Tia. "Dan duniamu sekarang sudah melampaui puncak gunung, Tia. Kamu sudah jadi inspirasi buat banyak orang yang takut buat keluar dari zona nyaman mereka."
Viralnya Merbabu Sunrise bukan hanya soal angka penjualan yang melonjak atau akun Instagram yang kini diikuti puluhan ribu orang. Bagi Tia, ini adalah pembuktian bahwa rasa takut adalah gerbang menuju keajaiban.
Kini, setiap kali Tia merasa lelah atau menghadapi tantangan bisnis yang berat, ia hanya perlu melihat foto di dinding dapurnya—foto dirinya dan Idris di puncak Merbabu, memegang brownies cokelat di bawah sinar matahari pertama.
Jakarta masih tetap berisik, macet, dan penuh tekanan. Namun di lantai dua belas itu, ada seorang wanita yang telah menemukan cara untuk membawa kedamaian puncak gunung ke dalam setiap kotak kue yang ia kirimkan.
"Terima kasih sudah jadi angin di bawah sayapku, Mas," bisik Tia sebelum mereka kembali masuk ke dalam dapur untuk mempersiapkan batch selanjutnya.
"Sama-sama, Sayang. Ayo, pesanan untuk besok masih menunggu. Langit kita masih luas," jawab Idris dengan senyum yang selalu menjadi rumah bagi Tia.
Crumbs & Clouds kini bukan lagi sekadar toko kue. Ia adalah sebuah narasi tentang terbang, mendaki, dan mendarat dengan manis di hati banyak orang. Perjalanan dari Gunung Kidul hingga Merbabu telah usai, namun bagi Tia dan Idris, matahari baru saja benar-benar terbit.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada