Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Kau membawa gadis itu?" tanya Naya sang manager.
"Ya, memangnya kenapa?" Fero dengan sok polosnya balik bertanya. Dia paling suka ketika membuat managernya ketar-ketir akan pemberitaan tentang dirinya.
"Jangan gila, Fero! Karirmu bisa dalam masalah." Naya memijit pelipisnya merasa pening.
"Kakak jangan khawatir. Ini tidak seperti dalam pemberitaan. Perkenalkan, Aku Felicia. Aku adalah adik sepupu Kak Fero." Felicia tersenyum sembari menyodorkan tangannya, memperkenalkan dirinya dengan ramah.
Naya menyipitkan matanya menatap Felicia. Kemudian pandangannya beralih pada Fero yang kini menaik turunkan kedua alisnya.
Naya menyambut tangan Felicia. "Jadi ini Felicia yang sering Kau ceritakan itu, Fero?" tanya Naya ingin memastikan.
Fero mengangguk. "Tentu saja. Memangnya Felicia yang mana lagi?" Fero meraih tangan Felicia, mengajaknya berjalan menuju sofa untuk mendudukkan tubuhnya.
Naya menghela napas sejenak sebelum akhirnya mengikuti mereka duduk di sofa.
"Kalau begitu kalian tidak perlu khawatir. Aku akan menyuruh seseorang untuk menghapus berita itu secepatnya." Naya berkata dengan nada sedikit berat. Dia tahu jika Fero pasti tak ingin membuat Felicia dalam kesulitan.
"Itu yang ku suka darimu, Nay. Kau memang selalu bisa ku andalkan." Fero tersenyum manis. Naya hanya membalasnya dengan tatapan jengahnya.
"Aku minta maaf padamu, Kak. Jika saja Aku tak mengajakmu keluar, ini tidak akan terjadi. Aku sudah membuat Kak Fero dalam masalah," ucap Felicia menyesal.
"Jangan meminta maaf. Kau tidak salah, Felicia. Aku tidak perduli dengan pemberitaan di luar sana mengenai diriku sendiri. Bahkan Aku rela melepas profesiku untuk melindungimu. Aku hanya tidak ingin Kau dalam masalah jika berita ini tersebar."
Felicia menatap Fero dengan mata berbinar. Dia sungguh tak menyangka jika Fero sangat perduli dengannya. Fero selalu berkata dengan candaan padanya selama ini. Jadi, Felicia tidak pernah menganggap serius setiap ucapan Fero. "Kak Fero, terimakasih. Kau memang yang terbaik."
"Tentu saja. Tapi sayangnya Kau lebih memilih pria lain untuk di jadikan suami. Padahal di sini ada Aku yang selalu menunggumu," ucap Fero dengan wajah lesunya.
"Kak Fero, jangan mulai lagi!" Felicia memutar bola matanya mendengar ucapan Fero. Lagi-lagi Felicia menganggap ucapan itu hanya sebatas candaan semata.
Naya yang melihatnya merasa kasihan melihat Fero. Seharusnya pria itu berkata jujur sejak dulu pada gadis yang di sukainya.
"Fero, sebentar lagi syuting akan di mulai. Bersiaplah!" ucap Naya.
Fero mengangguk. Kemudian dia menatap Felicia dengan senyum. "Apa Kau tidak ingin melihatku berakting, Felicia?"
"Aku sudah sering melihat kak Fero di depan layar."
"Tapi Kau belum melihat ku di belakang layar. Tunggulah Aku hingga selesai dalam beberapa take, setelah itu Aku akan mengantarmu pulang," bujuk Fero.
Felicia berpikir sejenak. Dia kembali teringat akan suaminya yang tersenyum pada Cintia tadi pagi. Dan itu membuatnya enggan untuk pulang sekarang ini.
"Baiklah. Aku akan menunggu Kak Fero. Aku ingin melihat, apakah akting kakak sebagus di depan layar."
Fero sangat senang. Seperti ada tambahan energi yang memicunya untuk lebih bersemangat hari ini.
"Kau pasti akan terpesona dengan aktingku nanti. Ayo!" Fero membawa Felicia ke lokasi syuting untuk siang ini.
"Tunggu Aku di sini. Aku akan segera menyelesaikannya." Fero meninggalkan Felicia, berjalan menuju kru dan lawan mainnya yang tak jauh dari sana.
Felicia memperhatikan dari tempatnya. Menyipitkan matanya ketika melihat lawan main Fero yang sangat cantik.
Hingga beberapa jam berlalu. Jantung Felicia malah terpacu begitu cepat ketika di depan sana Fero dan lawan mainnya melakukan adegan kissing.
"Aaaa...! Mataku ternodai!" Felicia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Pipinya memerah melihat adegan kissing yang dilakukan oleh Fero.
Sementara di depan sana, Fero membayangkan jika lawan mainnya itu adalah Felicia. Sehingga dia begitu menghayati perannya itu.
Beberapa kru dan sutradara menjadi heran. Karena sebelumnya Fero tidak akan pernah mau jika ada adegan kissing. Biasanya pria itu akan mengakalinya dengan sebuah trik. Namun, kali ini tidak.
Syuting kali ini membuat sutradara begitu puas.
Fero langsung mengganti pakaiannya. Di dalam ruang ganti, Fero merutuki dirinya sendiri. Felicia pasti melihat adegan kissing tadi. Dan itu pasti akan membuat Felicia menduga jika dirinya sering melakukan adegan seperti itu.
"Apa Aku terlalu lama?" Dengan canggung Fero bertanya.
Felicia mengerucutkan bibirnya. "Kak Fero kenapa tidak bilang kalau akan ada adegan seperti tadi? Tahu begitu tadi Aku langsung pulang saja. Kak, Fero sudah membuat otak suci ku ini tercemari," omelnya.
"Maaf." Fero merasa sangat bersalah. Dia takut Felicia akan berpikir buruk padanya karena adegan tadi. Padahal itu di sebabkan karena pikiran Fero yang tercemari oleh Felicia, Felicia, dan Felicia.
"Kenapa harus meminta maaf? Adegan seperti itu, pasti sudah sering Kak Fero lakukan, bukan? Sudahlah, sebaiknya sekarang cepat antarkan Aku pulang! Ini sudah hampir malam." Felicia berjalan lebih dulu sehingga Fero hanya bisa menurutinya.
"Sebenarnya Aku bisa pulang sendiri. Kak Fero pasti lelah, sebaiknya Kak Fero pulang dan istirahat saja!" ucap Felicia tak enak.
"Aku tidak lelah, Felicia. Ini sudah malam dan tidak baik jika Aku membiarkanmu pulang sendirian. Suamimu pasti akan mencincang ku nanti." Fero bersikeras.
'kurasa Arion tidak akan khawatir padaku. Mungkin saat ini dia masih bersama Cintia,' gumam Felicia dalam hati.
"Tapi bagaimana nanti Kak Fero akan pulang?" tanya Felicia yang menyadari Fero mengantar menggunakan mobilnya.
"Kau tenang saja. Sopirku akan mengikuti kita dari belakang," papar Fero. Felicia hanya mengangguk tanda mengerti.
Di dalam mobil, suasana berubah menjadi hening. Felicia memikirkan apakah Arion masih bersama Cintia saat ini atau tidak.
Sementara itu, Fero tak hentinya memikirkan gadis di sampingnya. Jahat kah jika dirinya berharap pernikahan Felicia yang tidak bahagia, sehingga ada celah dirinya untuk masuk kedalam kehidupan Felicia? Tidak! Fero tidak ingin melihat Felicia bersedih nantinya. Melihat Felicia yang terlihat begitu mencintai suaminya, perlahan membuatnya tersadar jika perannya dalam cinta Felicia hanya sekedar seorang Kakak bagi Felicia.
Fero harus menekan perasaannya untuk Felicia.
Tanpa terasa saat ini mobil Felicia telah sampai di depan gerbang rumah Arion yang masih terbuka. Fero keluar dan membukakan pintu untuk Felicia.
"Terimakasih, Kak." Felicia tersenyum dan di balas senyum juga oleh Fero.
"Tidurlah! Ini sudah malam. Sampaikan salamku pada suamimu," ucap Fero lembut. Felicia mengangguk.
"Ehem...!" Terdengar suara deheman yang tidak jauh dari keduanya. Felicia dan Fero menoleh ke arah suara.
Terlihat Arion yang sudah berdiri tak jauh dari mereka dan menatap Fero dengan tatapan tak bersahabat.
"Kau seorang istri. Tidak seharusnya Kau keluar hingga selarut ini! Apalagi membawa pria asing!" suara Arion terdengar tegas namun terasa begitu dingin. Membuat Felicia menelan ludahnya susah.
"Arion, Dia...."
"Masuk!" Bentak Arion penuh penekanan.
Felicia terlonjak dan menundukkan kepalanya. Dia tidak pernah melihat tatapan menakutkan seperti itu dari suaminya. Apalagi selama ini Felicia tak pernah mendengar Arion yang berbicara dengan nada tinggi padanya.
Arion berjalan menghampiri Felicia dan menarik tangannya.
"Hei, Kawan! Aku tahu Kau khawatir. Tapi tak seharusnya Kau membentak istrimu seperti itu!" tegur Fero tak terima.
Arion menatap Fero dengan dinginnya. "Siapa Kau? Ini bukan urusanmu karena ini adalah pernikahanku! Kau hanya bisa membawa istriku dalam masalah. Sebaiknya Kau pulang dan jangan temui Felicia lagi!" tegas Arion.
Fero tidak membalas ucapan Arion karena yang di ucapkan Arion memang benar. Dia tidak berhak mencampuri rumah tangga mereka.
Arion langsung menarik Felicia masuk kedalam rumah dan meninggalkan Fero.