Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA KEJAR-KEJARAN DI TAMAN
“Hari ini kita harus merencanakan sesuatu yang seru untuk ulang tahun Ayah!” ujar Rafi dengan mata berbinar saat kita duduk di tempat rahasia kita. “Kita sudah membuat kue, sekarang butuh kejutan lain yang bisa membuatnya tersenyum!”
Aku berpikir sambil mengoceh pada daun yang sedang kupetik. “Apa kalau kita buat acara kejaran-kejaran di taman? Banyak anak-anak bisa ikut, dan Ayah bisa ikut bermain juga!”
Rafi mengangkat kedua tangan dengan senyum lebar. “Ide yang bagus sekali, Caca! Ayah jarang bermain seperti anak-anak lagi. Pasti seru banget!”
Kita segera membuat rencana rinci. Pertama, kita akan mengundang anak-anak dari kampung yang sering bermain di taman.
Kedua, kita akan menyiapkan berbagai macam permainan seperti kejaran-kejaran, tali melompat, dan lempar bola. Ketiga, kita akan menyembunyikan hadiah kecil di berbagai tempat di taman agar bisa dicari bersama.
“Tapi kita harus berhati-hati ya harus berhati-hati ya,” ujar Rafi dengan suara lebih serius. “Kita tidak boleh menyuruh terlalu banyak anak datang, dan harus menyuruh penjaga untuk mengawasi agar tidak ada yang salah terjadi.”
“Aku akan bantu mengundang anak-anak!” kataku dengan antusias. “Kakak Dedi, Adik Siti, dan teman-teman kelas ku pasti mau ikut!”
Keesokan paginya, aku mulai mengunjungi rumah-rumah anak-anak di kampung untuk mengundang mereka.
Semua sangat senang dan bersedia datang, terutama setelah aku bilang ada makanan dan hadiah yang akan diberikan.
“Tetapi ingat ya,” ujar aku pada mereka semua. “Kita harus sopan dan tidak boleh menyentuh apa-apa yang tidak boleh disentuh ya. Dan kalau ada orang berjubah hitam di sana, itu penjaga yang melindungi kita.”
Pada hari ulang tahun Pak Bara, taman kecil itu penuh dengan anak-anak yang riang gembira.
Mama Lila sudah menyiapkan makanan dan minuman yang banyak di sebuah tenda besar, sementara penjaga-penjaga berdiri di sudut-sudut taman dengan tetap menjaga jarak agar tidak mengganggu suasana.
“Pak Bara! Pak Bara!” seru anak-anak ketika melihat Pak Bara datang bersama Rafi dan aku. Dia mengenakan baju santai putih yang membuatnya terlihat lebih muda dan ramah.
“Apa ini semua untukku?” tanyanya dengan wajah yang penuh keheranan dan senyum.
“Ya, Pak!” jawabku dengan ceria. “Kita merencanakan kejutan untukmu! Sekarang kita mulai permainan kejaran-kejaran saja ya!”
Pak Bara melihat ke arah Mama Lila, yang hanya tersenyum dan mengangguk. Dia kemudian mengangguk pada kita dengan senyum lebar. “Baiklah! Aku siap untuk dikalahkan oleh kalian semua!”
Permainan mulai dengan sangat meriah. Rafi dan aku memimpin kelompok anak-anak untuk mengejar Pak Bara yang sengaja berlari lambat agar bisa ditangkap. Suara tawa dan teriakan bahagia memenuhi taman, membuat semua orang yang melihatnya ikut tersenyum.
Setelah kejaran-kejaran selesai, kita bermain tali melompat bersama. Pak Bara bahkan mencoba melompat juga, tapi karena tingginya dia sering tersandung dan membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.
“Sekarang waktunya cari hadiah!” seru Rafi dengan suara keras.
Anak-anak langsung berlarian ke segala arah untuk mencari hadiah yang sudah kita sembunyikan—permen, buku kecil, mainan kecil, dan berbagai macam cenderamata lainnya.
Pak Bara membantu anak-anak kecil yang kesusahan menemukan hadiah, dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan.
“Saya sudah lama tidak merasa seperti ini,” ujarnya pelan pada Mama Lila yang sedang berdiri di sisinya. “Terima kasih sudah merencanakan semua ini, sayang.”
“Itu bukan ide saya, Bara,” jawab Mama Lila dengan senyum. “Itu ide Rafi dan Caca. Mereka berdua yang merencanakan semuanya.”
Pak Bara melihat ke arah kami yang sedang bermain bersama anak-anak lain, lalu tersenyum dengan hati yang tulus. “Mereka benar-benar anugerah bagiku, Lila.”
Setelah semua hadiah ditemukan dan semua anak-anak sudah makan dengan kenyang, kita membawa kue yang sudah kita buat kemarin malam.
Anak-anak berbaris rapi dan menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara merdu. Pak Bara berdiri di depan kue dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
“Terima kasih banyak untuk semua ini,” ujarnya dengan suara yang penuh emosi. “Ini adalah ulang tahun terbaik yang pernah saya alami.”
Kita memotong kue bersama dan membagikannya kepada semua orang. Saat aku memberikan sepotong kue pada Pak Bara, dia menarik aku ke dekatnya dan menepuk kepalaku dengan lembut.
“Terima kasih, Caca,” katanya dengan suara pelan. “Kamu telah memberikan kebahagiaan yang tidak bisa saya dapatkan dari uang atau kekuasaan. Terima kasih sudah datang ke dalam hidup Rafi dan keluarga saya.”
“Aku senang bisa membantu, Pak,” jawabku dengan senyum. “Semoga tahun ini kamu selalu sehat dan bahagia ya!”
Malam itu, aku pulang dengan hati yang sangat penuh kebahagiaan. Mama sudah menungguku di depan rumah dengan senyum lebar.
“Kelihatannya acara itu sangat sukses ya, Caca,” katanya dengan senyum. “Pak Bara bahkan menghubungi Ayah untuk berterima kasih dan bilang kamu adalah anak yang luar biasa.”
Aku merasa sangat bangga dan langsung berlari ke kamarku untuk tidur. Saat aku sedang menggendong boneka Kiki, aku melihat gelang yang diberikan Mama Lila dan gelang dari Rafi di tanganku. Aku tersenyum karena tahu bahwa aku sudah punya keluarga kedua yang sangat mencintaiku.
Meskipun dunia mereka berbeda dengan dunia ku, tapi cinta dan kebahagiaan yang kita rasakan sama saja.