Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Kehadiran yang Terasa Asing
Angin dingin di puncak Pegunungan Kristal menderu, menerbangkan kelopak salju yang seolah ikut menangisi takdir sang Dewa pedang. Jian Wuyou berdiri terpaku hanya beberapa langkah dari wanita yang selama setiap malam ia tangisi. Namun, jarak beberapa langkah itu kini terasa lebih jauh daripada jarak antar dimensi.
Li Hua menatapnya dengan pandangan waspada, namun lembut—tatapan yang diberikan kepada seorang asing yang baru ditemui di jalanan. Tidak ada binar cinta, tidak ada kerinduan, bahkan tidak ada jejak pengorbanan yang pernah mereka lalui bersama.
"Kau... terlihat sangat sedih, Tuan," suara Li Hua membelah keheningan. "Apakah aku mengenalmu? Maafkan aku, kepalaku terasa sangat kosong, seperti ada bagian besar dari diriku yang dicuri."
Jian Wuyou mencoba tersenyum, namun bibirnya gemetar. Ia mengepalkan tangannya di balik jubah, kuku-kukunya menusuk telapak tangan hingga berdarah hanya untuk menahan isak tangis yang menyesakkan dada.
"Kau tidak mengenalku," bohong Jian Wuyou, suaranya parau dan pecah. "Aku hanyalah... seseorang yang bertugas menjagamu."
Ia merasakan jantungnya diremas. Mengakui dirinya sebagai orang asing bagi istrinya sendiri adalah hukuman yang lebih berat daripada siksaan ribuan iblis. Setiap kali Li Hua memanggilnya "Tuan", satu bagian dari jiwa Jian Wuyou hancur menjadi debu.
Malam itu, di dalam paviliun yang baru diperbaiki, Jian Wuyou mengamati Li Hua dari kejauhan. Li Hua tampak kebingungan dengan kemewahan tempat itu, ia menyentuh pilar-pilar giok dengan ragu.
"Kakak," Jiwu muncul di sampingnya, suaranya rendah dan penuh simpati. "Eksistensinya di masa ini adalah sebuah keajaiban yang dipaksa oleh paradoks. Jiwanya utuh, tapi benang takdir yang mengikat memorinya denganmu telah terbakar saat kita melompat melintasi waktu. Baginya, kau adalah orang asing yang memilik kekuatan dewa."
"Aku tahu," bisik Jian Wuyou. Ia menatap telapak tangannya. "Aku memiliki raganya, aku bisa menyentuh kulitnya... tapi wanita yang mencintaiku, Li Hua yang rela mati demi aku... dia sudah tidak ada di sini. Aku hidup dalam makam kenangan yang hanya aku sendiri yang tahu."
Mei Lian datang mendekat sambil membawa Jian Han. Bayi itu merangkak menuju Li Hua, namun Li Hua hanya menatap bayi itu dengan canggung. Ia tidak merasakan ikatan ibu-anak yang seharusnya ada. Melihat itu, Jian Wuyou memalingkan wajahnya, tak sanggup lagi menyaksikan kehampaan tersebu
"Ada satu hal lagi yang harus kuselesaikan," Jian Wuyou berdiri, auranya kembali menajam namun diselimuti kesedihan yang gelap. "Di garis waktu ini, di Alam Fana bawah sana... ada satu darah dagingku yang tertinggal."
"Jian An." gumam Mei Lian.
"Ya. Anak kandungku bersama Li Hua. Dia seharusnya baru berusia satu tahun sekarang," ucap Jian Wuyou. Mata merahnya menatap ke arah lapisan awan yang memisahkan Alam Atas dan Alam Fana. "Li Hua mungkin tidak mengingatku, tapi aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh tanpa mengenal wajah ibunya, meskipun ibunya tidak akan mengenalinya."
Jian Wuyou melangkah menuju tepi tebing. Ia akan turun kembali ke dunia manusia, tempat di mana ia pernah menghapus jejaknya sendiri. Ia berniat menjemput Jian An, buah cinta mereka yang sah, untuk dibawa ke puncak gunung yang dingin ini.
"Jiwu, jaga dia. Jangan biarkan dia tahu siapa aku sebenarnya untuk saat ini. Biarlah dia hidup tanpa beban kutukan namaku." pesan Jian Wuyou sebelum ia melesat jatuh seperti meteor menuju Alam Fana.
Setelah menembus atmosfer dengan kecepatan yang membakar, Jian Wuyou mendarat di pinggiran sebuah desa yang sunyi. Dengan indra dewa yang ia miliki, ia langsung merasakan getaran darahnya sendiri di sebuah gubuk kecil yang reot.
Di sana, di dalam ayunan bambu yang kasar, seorang bayi laki-laki berusia satu tahun sedang bermain dengan jarinya sendiri. Bayi itu memiliki mata yang persis seperti Li Hua—jernih dan penuh cahaya.
Jian Wuyou melangkah masuk, kakinya terasa berat. Ia mengangkat bayi itu, memeluknya dengan sangat erat hingga air matanya jatuh membasahi pipi mungil Jian An.
"Maafkan ayah, Nak..." bisik Jian Wuyou di tengah isak tangisnya yang pecah di gubuk sepi itu. "Ibumu sudah kembali... tapi dia tidak mengingat kita. Kita akan pulang ke tempat yang sangat tinggi, tempat di mana tidak ada yang bisa menyakiti kita lagi... meskipun kita harus hidup sebagai orang asing di depan matanya sendiri."
Bayi Jian An hanya tertawa polos, menarik-narik rambut ayahnya, tidak tahu bahwa di puncak gunung sana, seorang wanita yang melahirkannya akan menatapnya dengan tatapan kosong yang menghancurkan hati.